Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 25



11 September, cuacanya bagus pada hari itu.


Pada bulan September, cuaca adalah yang terpanas di suasana Kota, juga dengan keramaian kota seperti biasanya.


Pada jam 10 pagi, matahari yang bersinar terang itu membuat udara di sekitarnya super panas.


Saya perlahan berjalan menuju supermarket dengan sebotol air mineral.


Meneguk sebotol air mineral di bawah panasnya cuaca di hari itu. Kemudian melemparkannya ke tempat sampah umum.


Pergi meninggalkan toko untuk membeli barang-barang yang di perintahkan oleh tuan Aldo.


Barang-barang itu sama seperti keperluan sehari-hari; sayur-mayur, mie, tissue, spaghetti, beberapa butir telur dan yang paling tidak masuk akal adalah ketika tuan Aldo menyuruh saya untuk membeli kaos kaki dan perekat untuk bagian dalamnya.


Di tengah perjalanan dalam kota yang ramai dengan karyawan kantor yang sibuk, saya melihat begitu banyak pekerja yang mengantri di halte bus kota.


Berharap tidak bertemu dengan orang-orang yang mengenal saya. Berjalan dengan tenang dan berusaha tidak lihat oleh orang-orang di sekeliling saya.


20 menit. Itu sekitar 1,5 km jika berjalan menurut pandangan map di ponsel saya.


Aku sempat menabrak seseorang ketika sedang sibuk memerhatikan map di ponsel saya. Kejadian berada tepat di lalu lintas penyebrangan jalan yang ramai.


"Maaf... saya tidak melihat...."


Saya menjatuhkan berkas-berkas milik orang yang saya tabrak. Membantunya menggambilkan barang-barang penting yang terjatuh di tangannya.


Tak sempat bagiku untuk melihat siapa orang itu dan seperti apa wajahnya, tapi di lihat dari hak sepatunya yang tinggi. Saya yakin ia adalah seorang wanita kantor seperti lainnya.


Wanita itu memekik dan mengeram dalam kesakitan serta kekesalan terhadap saya.


Ketika saya berhasil mengambil semua benda yang jatuh di antara kerumunan antrian orang-orang. Saya langsung menggulurkan lenganku untuk menyerahkannya.


Tapi, betapa terkejutnya saya ketika wanita pekerja yang sibuk di depan saya, menatap dengan sinis itu, merupakan bawahan di kantor lama saya.


"Siapa sih!?"


Si wanita dengan ciri-ciri; rambut hitam panjang yang berponi, menggenakan setelan kemeja putih, memilik mata elang yang tajam, dan bibir yang lebar.


Menatap saya dengan perasaan kesal. Kedua penglihatannya langsung terbelalak membesar ketika ia melihat saya.


Bukan perasaan jatuh cintah. Namun, itu adalah respon awal ketika seorang manusia saling menggenal dan menggigat muka masing-masing.


"Kamu? Bukankah anda adalah tuan Remy?"


Wanita itu terkekeh dan menatap saya dengan aneh.


Saya bergumang pelan di dalam bantin saya ketika melihat wanita muda itu, "El.... elma?"


Saya menjadi kikuk, binggung dan takut harus berbuat apa.


mati rasa. Saya berkeringat, yang membuatnya lembab dan sangat kotor di bawah terik dari keringat musim panas.


Kakiku pecah sebelum aku sempat berpikir. Aku berlari melewati kerumunan, tanpa melihat ke belakang.


Setiap kali saya menabrak seseorang, mereka memaki saya, "Itu menyakitkan, sialan!"


"Pergi ke neraka!"


"Perhatikan jalanmu orang aneh!"


Aku berlari melewati sisi sebuah gang. Perlahan-lahan, suara-suara itu memudar ke kejauhan.


"Eh.... tunggu...."


Terlambat, saya sudah pergi dari sana...


Saya tidak bermaksud menghindar dari orang-orang yang saya kenal sebelumnya. Tapi, bagiku semua orang telah menggecewakan saya, dan saya sudah menebak dengan kata-kata umpatan apa yang akan mereka keluarkan ketika melihat saya ada di depan hadapan mereka.


Aku bersembunyi selama beberapa menit di gang sempit jalan yang bau dengan lelehan aspal.


Menyelinap dan memotong jalan yang lebih jauh dari yang di tentukan map.


-


Angin sepoi-sepoi pendingin ruangan di supermarket. Rasanya cukup nyaman dan menenangkan hati saya begitu ada di dalam sana untuk bersembunyi.


Kulit saya yang gosong oleh sinar sebelumnya mulai terasa kembali normal.


Seperti biasa, saya mengambil beberapa barang yang masuk ke dalam list barang yang harus saya beli.


Tak memakan waktu yang cukup lama bagiku untuk menggumpulkan itu semua. Dalam waktu lima menit, saya sudah berada di depan kasir dengan barang-barang yang sudah di pesan.


Setelah itu, saya berjalan dengan sangat berhati-hati di parkiran supermarket.


Membawa tas keranjang yang di isi dengan acak. Berjalan kembali ke toko dengan rute yang sama.


Berpikir jika semua kejadian tadi hanya halusinasi belaka.


Sebuah moment yang tidak menggenakan kembali menghantui saya.


"Permisi." Tiba-tiba, seseorang menepuk bahu saya, dan saya berbalik untuk melihat dua orang bertubuh kekar yang tinggi sekitar 1. 7 m dan satu temannya yang berkali-kali lipat lebih tinggi, sekitar



9 m dengan ganas menatap saya.



Saat kedua pria berkepala pelontos dan gondrong itu mengenakan seragam jacket yang kekar itu, mereka tampak gagah. Berdiri di sana.


"Hei? Kau...."


"Hah…?"


Tanpa alasan yang jelas, kedua pria itu langsung menarik saya ke dalam gang sepi yang tak dapat di jangkau oleh orang-orang.


"Apa mau kalian!?"


Wajahku menjadi pucat.


"Kau! Akhirnya! Kami telah mencarimu selama beberapa minggung belakang ini!"


Aku mendengar teriakan mereka yang keras di depan wajahku.


"Bayar! Atau bos kami akan memasukanmu ke dalam penjara!!"


"Kalian....? Penagih hutang?"


"Ya! Dan kami bekerja keras untuk mencarimu di dalam dan luar kota! Tapi, aku tak menyangkah jika kau tak pergi terlalu jauh."


"Katakan pada bos kalian! Saya tak punyak uang untuk membayarnya! Dan bukankah kalian telah mengambil rumah saya!?"


"Ya..! Benar... tapi anda harus bertangung jawab atas jebakan sialan yang anda buat di area bekas rumah anda! Salah satu teman kalian terluka karena itu!"


"Salahkan dia yang bodoh! Mengapa itu menjadi salah saya!?"


Pria tinggi dan kekar itu mencekik leher saya. Kemudian, ia mengangkat tubuh saya hingga sejajar dengan kepalanya, Saat saya melangkah mundur, kedua kaki saya terangkat dari tempatnya.


Kemudian, saya melihat tinju tebal yang masuk, tanpa bisa menangkis atau menangkap kepalan jari-jari yang besar, ia meninju saya berkali-kali hingga hidungku patah.


Seluruh tubuhnya segera diseret ke depan tanpa perlawanan. Si pria kemudian memukul saya menggunakan lututnya  dengan sempurna, tepat di bagian dada kanan saya.


Menderita rasa sakit yang parah, saya jatuh ke tanah dan terus berteriak saat tubuh saya berguling di atas aspal yang panas.


Adapun tiga orang yang melintas dan melihat seorang raksasa sudah memukuli dan membuat tubuhku ambruk di atas tanah dalam satu gerakan, hati mereka secara tidak sadar membuat mereka mundur.


Kedua pria berjacket hitam macam geng motor itu, pergi berlari setelah tiga orang pejalan kaki yang lewat memergoki mereka.


Saya dapat terselamatkan, meski saya pingsan di bawah sinar matahari yang terik.


Tbc