
Saya berjalan di antara lorong rak buku yang menjulang tinggi di samping kami. Lalu aku membawa Rasy hingga ketitik dimana ia dapat melihat suatu kursi perpustakaan yang bisa ia duduk.
Setelah itu, aku berjalan pergi meninggalkan Rasy yang duduk di kursi untuk menungguku menggambil suatu buku.
Kebetulan, aku menggigat setiap detail buku yang ada di perpustakaan ini—kurang lebihnya, buku-buku yang pernah kubaca, selalu aku ingat dimana letaknya.
(Buku khusus ilmu Komputer dan Keuangan.)
Saya memiliki buku di antara rak-rak buku yang terisi dengan sepuluh hingga lima belas buku.
Lalu, kemudian saya beteriak dengan suara yang agak pelan.
"Ini dia..." Ucapku yang menarik buku dari antara buku-buku ilmu penggetahuan tentang komputer lainnya.
Lalu, dengan keras aku membanting buku itu ke meja di perpustakaan itu.
"Stttt!!!"
Bantingan buku yang keras di meja polos yang ada tepat di depan penglihatan Rasy, membuat anak-anak muda yang tampak seperti mahasiswa kampus itu memberi isyarat 'berisik' kepada kami.
"Pak? Apa kau yakin mereka tidak terganggu dengan pakaian kita yang compang camping ini?"
"Hiraukan saja...."
Ucap kami yang berbicara dengan nada suara yang sangat pelan.
Saya membuka buku yang lumayan tebal itu, sampulnya bewarna biru dengan tumpukan uang yang menjadi cover buku.
"Ini..."
Saya memberikan buku yang terbuka itu, halaman 70, pembahasan menggenai teori-teori dasar yang tepat.
"Kau yakin dengan ini?"
"Hm.... tentu saja. Kita harus mempelajari ini, setelah itu bergerak cepat di dunia saham."
"Tapi aku kurang yakin dengan uang digital yang kita miliki."
"Haruskah kita tambah jumlahnya lagi? Tapi bagaimana?"
Rasy menatap saya sejenak, kemudian menundukan kepalanya di meja perpustakaan untuk berpikir.
Menggetuk meja dengan jari jemarinya yang panjang, sambil menempelkan kepalanya dengan meja.
Saya menatap anak itu dengan aneh, "Nak? Kau tak apa?"
"Hah? Ya... tentu saja... saya hanya sedang berpikir sejenak."
Saya mencoba mengabaikan anak itu, mengalihkan perhatian pada tulisan-tulisan pada buku tebal perpustakaan.
Tiba-tiba, Rasy memukul meja dan seketika kepalanya terangkat dengan suara gemercik kesal para mahasiswa yang duduk di sekitar.
"*Buk!* Pak.... saya punyak ide!"
"Ishhh!!!! Tolong diam!"
Ucap seorang mahasiswa yang terlihat sudah sangat marah.
"Pelakan suaramu... ada apa?"
"Tunggu di sini sebentar, jangan kemana-mana, saya akan kembali dengan cepat.
"Mau kemana?"
"Sudah tunggu saja di sini..."
Rasy berlari keluar dengan cepat meninggalkan saya di antara lirikan kesal para anak muda yang kutu buku.
Selama dia pergi, saya hanya fokus membaca dengan serius. Beberapa kali saya juga merintis dalam kesakitan di bagian hidung saya yang perih.
Ketika waktu mendekati 13:30, saya menutup buku yang telah selesaiku baca. Kemudian, akhirnya saya berhenti.
Aku berdiri dan meregangkan pergelangan tangannya yang malas.
Di saat yang bersamaan, saya melihat dari balik gemercik suara pintu perpustakaan yang di buka oleh Rasy.
Ia menggengam sebuah tas laptopnya.
"Darimana saja kau?"
"Menggambil ini...." ucap Rasy yang memperlihatkan tas laptopnya kepada saya.
Ia menarik kursi ke samping saya, mencolok kabel charge ke stock kontak, lalu menyalakan laptopnya dengan sedikit tegang.
"Apa yang mau kau lakukan?"
Rasy mendekatkan mulutnya ke telingga saya, kemudian ia berkata, "mencari uang...."
"Hey... kau tau akan melakukan DDOS atack atau semacamjya bukan?"
Rasy tersenyum tipis, "Tidak... lebih tepatnya kita akan mengambil uang kotor yang di hasilkan dari iklan ilegal."
"Caranya?"
Secara tidak pasti, saya juga penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh anak ini.
"Mudahnya.... sebuah iklan ilegal akan di taru secara acak di sebuah situs tanpa di ketahui oleh pihak pembuat. Dengan begitu, maka iklan yang muncul, akan menjatuhkan uang ke tangan pihak ketiga. Nah, dengan itu, seseorang akan menyimpan uang digital itu di sebuah kartu kredit online."
"Lalu?"
"Dengan itu, maka kita akan mencurinya tanpa di ketahui."
"Bagaimana bisa hacker itu tak menyadarinya?"
Rasy menjelaskan sambil menekan keyboard pencariannya.
"Mudahnya, seorang hacker akan menaruh iklan rahasia di berbagai situs. Mereka tak akan sadar jika uangnya telah kita ambil sedikit."
"Bisa kau jelaskan lebih detail."
Tatapan Rasy jauh lebih tajam da serius di bandingkan sebelumnya, "Pertama, gunakan botnet untuk mencari kode pin kartu kredit, lalu melakukan serangan phishing yang memberikan akses ke komputer atau ponsel tempat mereka menyimpan uang virtual. Cukup dengan dua cara itu."
"Kau yakin itu akan aman? Kita berada di tempat umum."
"Tidak... kita butuh internetnya."
Rasy menunjuk sebuah tulisan menarik yang berbunyi. "Free wifi."
"Akan lebih bagus jika kita dapat memalsukan lokasi kita dan yang terpenting mereka tak mendapatkan informasi tempat kita tinggal."
Itu tak memakan waktu lama hingga ia menemukan korban yang tepat.
Setelah itu, ia mulai menjalankan semua tugasnya dengan baik, "Baiklah.... biarkan aku fokus terlebih dahulu."
Tatapan Rasy menjadi jauh lebih kecil dengan fokusnya yang menajam seperti lensa kamera. Dahi Rasy di penuhi dengan keringat dingin. Dalam beberapa nafas kemudian, tatapannya menjadi kembali normal.
Setelah alat pemindaian dengan cepat dipindai melalui server LAN, ia dapat dengan lancar menemukan lubang atau cela dalam keamanan server.
Rasy dengan cepat menyelesaikan pembaruan penyimpanan program alokasi asrama dan kemudian membersihkan jejaknya menggunakan akun Old An.
Kemudian, alat pemindaian juga dihapus. Tidak hanya itu, bahkan log sistem Windows yang digunakan untuk merekam penggunaan, semua dihapus dari hard drive. Akhirnya, ia mencabut kabel data dan bersama-sama dengan teleponnya, ia menyimpannya di sakunya.
Membuat sebuah kloningan kartu kredit. Sang pemilik tak akan sadar jika ada dua kartu kredit yang bersamaan dengan jumlah uang yang masuk.
"Selesai..."
"Kerja bagus..."
Saya jatuh dalam ketakjubkan skill yang hebat dalam bidangnya. Dia bukannya tanpa keahlian. Hanya saja keahliannya, sangat tajam dalam menembus!
Aku menatap jam dinding yang terus berdetak di setiap detik sambil berkata, "Kita bahasa ini kapan-kapan, aku harus kembali sebelum tuan Aldo memaki saya di tempat umum. Oh ya... soal ilmu-ilmu dasar saham, telah saya kuasai sepenuhnya. Sisanya bisa kamu tanyakan pada saya."
Rasy mengganguk dalam diam, saya bangkit dan berkata dengan cepat. Tanpa sadar, suara saya yang bergema membuat orang-orang yang tengah belajar menjadi sangat marah terhadap saya.