Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 23



System, Virus dan deep.


Rasy mengajarkan banyak hal kepada saya menggenai system dan software komputer.


Sebagai bonus dari ilmu yang saya dapat dari dia. Saya memberikannya bonus waktu penggunaan yang lebih lama dari sebelumnya. Tentu saja itu di ambil dari gaji saya.


Pada awalnya, Tuan Aldo sedikit menolak dengan keberadaan anak itu. Tapi, setelah saya memberikan potongan gaji saya dengan ikhlas, ia mulai tersenyum dan ramah kepada kami.


"Rasy? apakah ada virus?" Aku bertanya dengan gugup.


Rasy mengangguk, “Ada benar-benar virus di sini, namun virus ini tidak akan membuat layar biru. Aku yakin jika laptopmu telah di sabotase, dan seluruh data telah di curi oleh seseorang." Ucapnya dengan mata yang terfokus kepada layar laptop.


"Mh... sepertinya, seseorang telah menanam virus di dalam laptop anda. Bisaku simpulkan sebagai bentuk kejahatan 'Malware'."


"Apa itu?"


Rasy tak menjawabnya. Malahan, ia menyodorkan sebuah ponsel miliknya ke pada saya.


Ponsel itu masih menyala dan sebuah informasi masih tergambar dengan jelas di layar ponselnya.


Malware adalah nama menyeluruh untuk berbagai jenis virus seperti 'trojan' dan 'spyware'. Malware sering kali dilakukan melalui berbagai virus yang akan masuk ke komputer dan menyebabkan malapetaka, dengan merusak komputer, tablet, ponsel, sehingga pelakunya dapat mencuri detail kartu kredit dan informasi pribadi lainnya.


"Anda cukup beruntung jika kartur kredit anda tidak di bobol."


"Percuma saja... saya tak pernah menggunakannya"


Rasy mengganguk perlahan. Kemudian, ia sedikit tersenyum sambil memiringkan kepalanya dengan tengil.


"Baiklah... sebagai gantinya, aku akan mencoba mencuri informasi dari si hacker."


Aku mengganguk perlahan, meski sebenernya, saya tidak begitu mengerti dengan apa yang Rasy katakan.


Saya bangkit dari kursi untuk membiarkan Rasy melihatnya dengan lebih jelas. Rasy mengeluarkan pen drive dan memasukkannya ke port USB.


Dia kemudian menyalin perangkat lunak anti-virus yang dapat ditemukan di pasar dan melakukan pemeriksaan rutin yang biasa. Namun, layar biru yang di ciptakan oleh si hacker, bukanlah virus. Dia hanya menggunakan kerentanan sistem.


Dengan teknologi yang digunakan oleh Rasy, tidak peduli seberapa hebatnya itu, masih tidak mungkin untuk mendeteksi apa dan siapapun.


Sambil sibuk dengan upaya membetulkan Laptop, saya bertanya dengan gugup ke pada Rasy yang tengah melihat monitor dengan serius.


"Apa kau bisa menggajariku cara meretas seperti apa yang sering kamu lakukan?"


Rasy sedikit mendogakan kepalanya, ia melirik ke arahku yang duduk di sampingnya.


"Memangnya? Apa yang ingin anda bobol pak?"


"Ada beberapa.... tapi fokus utamaku adalah mencarinya."


Orang yang saya maksud adalah si hacker yang menanam virus pada sebuah website rahasia.


Rasy menatap saya dengan serius, kedua bola matanya mengecil dan ia tau apa yang saya maksud.


"Baiklah... kalau begitu.... bagaimana dengan ini?"


Rasy menunjuk sebuah layar computernya yang menyala.


"Titik kordinat?"


"Ba.... bagaimana bisa anda mendapatkannya?"


Saya terkejut dengan kejeniusan dan kealihannya dalam bidang ini.


"Rumit... tapi... singkatnya, para pembobol yang berasal dari suatu situs, pasti akan meninggalkan jejak, entah dia sudah menghapus atau merubahnya website itu, tapi tetap saja, nol koma lima persen akan tetap ada sebuah jejak yang tertinggal."


Saya memanggutkan kepala sambil menggusap dagu saya perlahan, "Lalu? Apa yang harus kita lakukan sekarang? Menelpon dan melaporkan kejadian ini kepada polisi digital atau semacamnya?


"Rumit, mereka tak ada langsung menangkap seseorang jika hanya ada satu kasus laporan. Malah, mereka hanya akan memberi peringatan tanpa ada hukuman yang berarti kepada si hacker."


"Tapi....? Bukankah akan semakin buruk jika banyak korban seperti yang pernah saya alami ini?"


"Bagus... lebih baik, kita biarkan saja si hacker ini melakukan kegiatannya sampai muncul laporan-laporan yang banyak kepada kantor digital. Malah, jika perlu data yang di curi berasal dari orang kaya raya."


"Tunggu-tunggu? Bisa kamu jelaskan lebih detail?"


Rasy mengangkat kepalanya yang kecil, memperlihatkan lehernya yang ramping dan berbicara lebih serius, "Beginih, mudahnya, akan lebih baik jika data yang di curi berasal dari suatu perusahaan besar yang berpengaruh dan jika perlu, biarkan si hacker mencuri dan membobol uang digital dan kartu kreditnya."


"Apa kau yakin jika ide itu akan baik? Maksudku mengorbankan orang lain dan memberiarkan si pelaku berbuat bebas dan seenaknya?"


"Hm... itu lebih baik.... melaporkan kejadian ini kepada pihak bewajib tak akan membuatnya di masukan ke dalam jeruji besi penjara."


Saya mendegar semua ide-ide dan rencana yang ia sampaikan kepada saya. Pada hati bagian terdalam, saya tidak seratus persen menerima saran itu. Tapi, akan lebih baik jika saya mempercayai anak remaja ini.


"Bagaimana dengan hardisk lama saya?"


Saya mengangkat sebuah lapisan plastik tipis yang memiliki colokan usb di bagian ujungnya.


Rasy menggambilnya dari tangan saya, mencoba memasukannya ke dalam port usb.


Setelah beberapa saat, perangkat lunak yang disiapkan oleh Rasy. segera mendeteksi virus.


Melalui analisis kode, peran virus ini adalah untuk mensimulasikan kekurangan daya dari USB. Ketika umpan balik diterima oleh host komputer, ia kemudian memberikan hasil perangkat tidak dapat dikenali oleh komputer.


Rasy melakukan operasi penghapusan virus secara manual, virus itu sendiri sangat sulit untuk di hilangkan dari perangkat laptopku. Kemudian dia mengisi ulang pendrive kembali ke port USB.


"Sudah tak bisa di gunakan. Sebaiknya buang saja, hacker itu telah merubah semua system datanya."


Kata Rasy yang melempar USB itu ke pada saya.


Kemudian, dia beranjak dari kursi putarnya, lalu berjalan pergi, "Serahkan sisanya kepadaku, jika ada kabar terbaru, saya akan memberitahumu pak."


"Hmm... Baiklah..."


Rasy berjalan menuju pintu kaca toko, memegang gagang besinya, lalu memutarnya dan mendorongnya.


Sebelum benar-benar pergi, dia berkata kepadaku, "Oh ya... jangan lakukan hal-hal yang tedengar gegabah, di tambah lagi, saya percaya dengan anda pak.... aku pasti akan menolongmu... percayalah...."


Setelah menggatakan kata-kata indah yang menyentuh hatiku, Rasy berjalan pergi dan menghilang di antara para pejalan kaki yang lewat di depan toko.


Saya masih tersentuh, tak pernah diriku mendengar kata-kata yang begitu lembut dan percaya kepadaku selama beberapa saat.


Mungkin yang terakhir di ucapkan oleh Tuan Eric beberapa bulan sebelum dia memecatku–atau lebih tepatnya, beberapa bulan sebelum perusahaan bangkrut.