Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 5



Langit sore yang sedikit gelap dan sesak oleh asap polusi.


Sore itu, saya masih terdiam di kantor perusahaan. Berusaha bersembunyi dari amarah yang meledak-ledak dari Tuan eric.


Terkadang, saya mendengar beberapa gosip yang dibuat karyawan menggenai boss. Dikatakan jika boss masih pingsan dan lemas.


Saya cukup khawatir dengan berita itu, aku sadar jika perbuatan saya sangat berdampak buruk bagi perusahaan.


Saya membuka jendela manajer perangkat. Mencari opsi flashdisk di tab manajemen perangkat, dimana saya memilih tindakan untuk memulai perangkat lagi.


Tetapi bahkan setelah aku melakukannya, komputer masih tidak dapat mengidentifikasi perangkat.


Agar situasi seperti itu terjadi, pada dasarnya ada dua kemungkinan umum.


Pertama, flashdisk mengalami kerusakan perangkat keras. Misalnya, terkena air, menyebabkan kerusakan pada sirkuit internal, atau alasan lain.


Namun, probabilitas untuk kegagalan perangkat keras sangat kecil!


Ditambah fakta bahwa di dalam flashdisk, ada berkas-berkas perusahaan yang sangat penting. Orang secara alami akan sangat memperhatikannya.


Akibatnya, itu harus menjadi alasan kedua—infeksi virus. Infeksi kemudian membuat pendrive tidak dapat diidentifikasi dan rusak.


Aku tidak menggunakan perangkat lunak anti-virus yang diinstal pada komputer.


Meskipun pada tahun 2006, Rising Antivirus masih menjadi pilihan utama, kemampuan perangkat lunak ini hanya biasa.


Menghubungkan pendrive-nya sendiri, saya langsung mengaktifkan perangkat lunak analisis virus dalam pendrive-nya dan mulai memindai pendrive ke tempat yang aman.


Tapi itu tedengar mustahil dan buang-buang waktu.


...***...


Pukul sekitar lima sore.


Saat dimana saya akan hendak meninggalkan kantor dan pulang kerumah.


Ketika masih di depan pintu kantor gedung, aku masih merasa cemas. Tanpa tersadar, sehingga saya menabrak orang di depan pintu.


"Maaf," gumamku, ketika laki-laki tua yang ditabraknya terhuyung nyaris jatuh. Sesaat kemudian baru aku menyadari, jika laki-laki yang ku tabrak itu adalah boss ku di tempat perusahaan saya bekerja.


Pria berambut putih yang pendek, setelan jas dan leher pendek yang bersatu dengan tak bisa saya lihat.


Dia kelihatannya sama sekali tidak marah setelah ditabrak sampai hampir jatuh.


Sebaliknya, dia malah nyengir lebar dan berkata dengan suara melengking yang membuat orang-orang yang lewat menoleh, "Jangan minta maaf nak, karena tak ada yang bisa membuatku marah hari ini! Bergembiralah, karena Kau-Tahu-Siapa yang sebentar lagi akan pergi pada akhirnya! Bahkan orang yang ku percaya seperti Anda pun harus ikut merayakan hari yang amat sangat membahagiakan ini!"


Dan laki-laki tua itu memeluk pinggang ku, lalu pergi.


Bagaimana tidak....


Aku baru saja di peluk oleh boss ku yang terlihat sudah tak wajar dan normal. Apa yang ku lakukan di hari ini, sepertinya itu adalah masalah besar.


Aku masih berdiri di sana sebentar, menatap wajah Boss ku. Aku tau dengan kulit Pak Suga yang kering, dan rambutnya memiliki beberapa rambut putih di beberapa bagian sana-sini kepalanya.


Hingga detik ini, saya selalu menginggat warna abu-abu di rambut Pak Suga Waktu itu, ia berumur sekitar enam puluh dua.


Kemudian, aku pergi menuju ke stasiun kereta dengan kepala ku yang tertunduk lesu.


Di dalam gerbong kereta yang saling berhempitan, aku mendengar beberapa orang yang saling berbicara dengan santainya.


Obrolan mereka, tedengar seperti:


"Tebak! Kita hampir sampai di stasiun berikutnya! Dengar, kapan kita bisa hang out lagi?"


"Ayo lihat. Bagaimana dengan lusa? Aku ada latihan, tapi aku akan bebas di sore hari."


"Ya! Saya menemukan kafe dengan ulasan bagus tentang Tabelog yang ingin saya kunjungi. Mungkin aku akan membuat reservasi!"


Saat itu sore, dan saya telah mendengarkan percakapan manis yang memuakkan itu di gerbong kereta untuk sementara waktu. Suara-suara itu berasal dari orang-orang yang berdiri di belakang ku.


Aku telah menatap ke luar jendela; Aku merasa sedikit canggung melihat kembali mereka. Namun, amarah yang ku pendam, seakan meledak.


Aku beteriak dan menggeluarkan kata-kata dengan penuh amarah, "bisakah kalian diam! Tutup mulut kalian dan berhenti berbicara seperti seekor anjing!"


Kata-kata itu terucap begitu saja, seolah itu keluar tanpa sengaja. Orang-orang di dalan gerbong terdiam, beberapa ada yang merasa takut.


Dan saat aku melihat tetesan air mengalir mundur dalam pola yang rumit, anehnya aku terkesan: Jadi apakah seperti ini rasanya bebas berekspresi?


Tetapi, setelah itu, aku langsung menampar wajah ku. Seolah pikiran ku yang tengah kacau, membuat aku sadar jika apa yang baru saja ku lakukan adalah sebuah kesalahan.


Dan aku tak dapat memafkan sikap ku yang tidak sopan. Dengan cepat, aku berbalik, lalu menundukan kepala ku hingga sembilan puluh derajat.


Menarik nafas dalam sambil mengatakan, "maaf... saya hari ini cukup kacau."


Tepat di gerbong kereta yang berhempitan itu, aku meminta maaf atas apa yang baru saja ku lakukan kepada orang-orang yang ada di gerbong.


Aku mulai sedikit gugup ketika berdiri di antara orang-orang yang kumaki barusan.


Ding-dooong. Suara bel elektronik berbunyi, dan pintu dari gerbong kereta otomatis terbuka.


Tbc