Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 16



Mencari tempat yang baik untuk tinggal dan bekerja.


Aku bergegas masuk ke dalam rumah. Angin kuat menembus tubuhku yang sedang berjalan, membuat jacket saya sedikit terhempas ke belakang.


Saya memasukan kunci ke dalam lobang pintu, lalu memutarnya sebelum memegang gagang pintu dan masuk ke dalam rumah.


Di dalam, saya tidak berniat takut atau bersembunyi di dalam rumah seperti apa yang sering saya lakukan. Melainkan, aku berjalan ke kamar, membuka tas koper yang besar, memasukan beberapa; pakaian, celana, uang tabungan dan tak lupa dengan laptop rusak milik saya.


Aku membuka kulkas dan lemari laci kecil di dapur untuk menggambil beberapa makanan yang sempat saya beli di supermarket, memasukannya sebagai persediaan bahan makanan.


Sebagai tambahan, saya juga mengambil sebungkus paku payung untuk di taburi di tempat tak terduga seperti di depan pintu masuk bagian dalam. Saya bermaksud membuat jebakan kecil untuk orang-orang itu ketika akan menerobos masuk.


Beberapa hari yang akan datang, mereka pasti akan sadar jika aku telah meninggalkan rumah ini.


Sebagai balasan atas apa yang mereka lakukan selama sebulan penuh, menggetuk rumah saya tanpa ada rasa bersalah, memaki saya dengan kasar, dan mempengaruhi pikiran-pikiran buruk menggenai saya kepada tentangga sekitar.


Saya menggunci pintu, dan pergi meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan dengan sampah dan interior rumah yang ku buat berserakan di lantai.


Aku berjalan di tengah matahari panas, tanpa tujuan yang jelas dan pasti.


Berkeruman dan berbaur dengan pejalan kaki sibuk lainnya.


Bau percikan api yang berasal dari gesekan ban kendaraan dengan aspal jalan yang kasar dan panas.


Saya langsung teringat dengan kejadian nostalgia ketika pertama kali aku datang ke kota.


Berasal dari desa kecil, pergi meninggalkan keluarga, menemui suasana buruk kota, orang-orang galak yang pemarah, dan pergi berkuliah dengan biaya yang di beri dari hasil menjual lahan pertanian.


Setelah menyelesaikan perkuliahan, aku bekerja dan lalu sukses sebelum pada akhirnya saya kembali ke titik terendah saya.


Tak punyak uang dan tempat tinggal. Apakah saya akan kembali ke desa kelahiran? Tentu tidak.


Aku akan balas dendam dan meraih kesuksesaan yang sama kembali.


Selama saya belum mendapatkan tempat tinggal, saya terombang ambing di jalan-jalan dekat gedung pencangkar langit kota.


Duduk dan berirstrirahat di depan pintu apartement atau rumah seseorang.


Membaca hasil foto dari buku-buku perpustakaan yang saya curi waktu itu. Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah membaca ilmu-ilmu penting itu sebelum saya menghapusnya dari ipadku.


Tak jarang juga ada orang yang menggusir dan meminta saya pergi dari depan tembok tempat saya beristrirahat.


10 km. Kurang lebih, itu adalah total jarak yang saya habiskan untuk melihat-lihat seluruh isi dari gedung-gedung dan kendaraan transportasi kota yang lewat.


Saya menuju ke tempat di mana saya pernah menyewa sebuah mesin pencarian yang ramai dan berisik dengan orang-orang.


Sebenarnya itu hanya memakan waktu beberapa meter dari rumah, tapi aku tak terlalu terpikirkan untuk pergi ke tempat ini.


Tempat itu masih sama seperti sebelumnya.


Papa grosir dengan tulisan design orange yang menarik, kata-kata promosi yang memancing orang-orang, gambar-gambar animasi dari charakter video game online, kemudian game fps yang menantang dan beragam orang-orang yang suka dengan hal-hal berbau 'game'.


Aku terteguk sambil terkejut ketika melihat selembar kertas yang di tempel pada pintu masuk. Kertas itu berbunyi "Lowongan kerja sebagai co-admin."


Itu menarik perhatianku. Aku menarik pintu kaya yang tebal, membawa masuk tubuhku dan koper besar itu ke dalam sana.


Seperti biasa, tempat itu sangat ramai dengan orang-orang yang tengah menjelajahi dunia internet.


Aku sedikit canggung ketika sedang berdiri di depan meja resepsionis milik Admint.


Melalui tenggorokanku yang terasa kering, saya mulai berbicara kepada pria berkacamata yang gemuk. Kali ini, ia memakai baju hijau dengan garis putih.


"Per... permisi...."


"Ah? Kau? Mau sewa lagi?"


"A.... tidak.. aku ingin bekerja... apakah lowongannya masih di buka?"


Si pria pemiliki tempat penyewaan komputer itu, langsung melirik ke arah selembaran kertas yang di tempel pada pintu masuk.


"Ah... jadi? Maksud anda ingin bekerja di sini?"


"Hm... ya.... tentu saja."


Aku mengganguk sambil memberi senyum tipis sebagai alasan untuk di terima.


Saya tau jika bekerja sebagai asisten pembantu sekaligus memegang wewenang sebagai wakil GM (Game Master) di tempat untuk menyewa komputer itu, tak perlu memiliki gelar. Setidaknya, anda memiliki penggetahuan dan keahlian dalam komputer.


Aku pikir, selama beberapa waktu kebelakang ini, saya sudah berhasil mempelajari beberapa bagian-bagian penting dalam komputer.


Si pria gemuk berkacamata yang belum menyebutkan namanya itu kepada saya. Melihat saya dari ujung sepatu saya hingga ke atas rambut saya yang lebat dan panjang.


Aku menggikuti ke arah wajahnya yang tengah melihat diriku dengan fokus. Hingga beberapa detik kemudian, si pria menggulurkan tanganya sambil berkata dengan penuh semangat.


"Selamat.... anda saya terima...."


Saya senang sekaligus heran ketika mendengar ucapan selamat itu.


Senang karena saya baru saja di terima. Tapi, saya juga heran karena si pria langsung menerima saya tanpa ada tes-tes atau melihat kemampuan saya di depan komputer.


Karena tak punyak pilihan, aku jadi ikut menggulurkan tangan untuk berjabat tangan dengannya, sambil menggeluarkan senyum dan kata-kata emosional seolah sedang menerima.....


Saya melakukan itu agar si pria yang akan menjadi boss ku itu, tak kecewa pada reaksi berlebihan yang ia keluarkan.


Aku berusaha bertanya sekali lagi untuk meyakinkan dirinya.


"Apakah anda serius?"


"Hm... ya... tentu..."


Tbc