
Saya melangkah turun dari gerbang kereta bersamaan dengan langkah kaki orang-orang. Aku berjalan secara perlahan. Tanpa sadar, saya tiba di halaman rumah saya yang cukup luas dengan rumput-rumput liar yang panjang.
Setelah menggalami hari panjang yang buruk, aku mulai merasa jika tubuhku terasa lengket tanpa mencuci badan dan mengganti pakaian.
Aku melepas pakaian ku, sebelum tubuhku benar-benar merasakan uap hangat tubuh, aku meringkuk di lantai, tepat di samping pintu kamar mandi ku.
Tanpa sadar, air mataku menggalir perlahan. Aku menggusap bekas air mata ku yang telah menggalir dan setelah itu, aku melompat ke shower dengan kecepatan setara hewan kukang yang lambat, air hangat perlahan menetes melalui kepala shower.
Aku mengusap rambut keriting ku dengan busa sabun bagian kepala. Pikiran buruk mulai berhamburan di dalam pikiranku, sambil menutup mata dan merasakan sentuhan lembut air hangat di kulit kepalaku.
Aku membuka mata, pupil hitam gelap di mataku menatap balik dari cermin yang ada di hadapanku.
Entah mengapa, aku merasa jika perasaanku hancur, dan ada sebuah lubang kesalahan yang ku buat. Bahkan, aku rasa itu akan terus membekas.
Lelah dengan keadaanku yang kacau, aku pergi membilas seluruh tubuhku yang bahas dengan handuk kering. Kemudian, aku menggenakan baju piyamaku sebelum pada akhirnya, tubuhku berbaring di atas kasur nyaman yang terasa lembut dan rileks.
Memejamkan mata, menghilangkan beban pikiran. Setelah itu, kesadaran saya mulai memudar begitu saja.
Pagi hari.
Aku terbangun seperti biasa, membilas tubuh dengan air jernih yang bening dan menyegarkan, kemudian mengeringkannya dengan handuk putih yang lembut, saya menggenakan kemeja dan tak lupa untuk menggigat dasi merah saya seperti biasa.
Pikiran-pikiran buruk yang mengacaukan saya mulai memudar dan menghilang dari bagian terdalam pikiran saya.
Di tengah kesibukanku pada pagi hari, saya menelpon seketaris kantor, siapa tau ia bisa menghilangkan dan menenangkan saya dari kekacauwan kemarin.
"Halo? Vin? Apa kau sudah sampai di kantor?" Ucap ku di telepon.
Namun, vin terdengar menggumpatku dengan kata-kata emosi yang meledak. "Apa kau bilang!? Bekerja!? Perusahaan telah bangkrut! Dan itu semua karena kecerobohan anda! Dasar gila!"
Setelah menggatakan hal itu, ia langsung menutup teleponnya. Sedangkan aku terdiam kaku di depan pintu kamar mandi ku.
Pada bagian terdalam hati saya, sebuah pertanyaan-pertanyaan mulai beterbangan.
"Apa? Bagaimana bisa? Bukannya... semua masih baik-baik saja?"
Terdengar suara dari sambungan telepon yang terputus, aku tidak membuat pergerakan yang berarti, terdiam di sana selama waktu yang lama. Tatapan ku kosong, aku juga melamun di depan sana.
Tanpa ku sadari, air mataku mulai menggalir kembali, suara dari pekikan ku yang merintis, bersamaan dengan air mataku yang turun.
Saya sadar, jika aku adalah pria dewasa yang tidak harus menanggis seperti layaknya bayi yang baru di lahirkan di dunia.
lebih tepatnya, saya terlihat seperti seorang pecundang yang tak memiliki tujuan hidup yang pasti.
Tapi, didalam hati saya berpikir. Apa yang harus saya lakukan hari itu? Saat itu? Dan di detik itu?
Apa saya harus memberi respon diam kikuk? Marah? Kecewa? Sedih? Atau apa?
Tbc