Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 26



3 hari kemudian.


Saya terbangun, mata saya terbuka perlahan dengan tatapan yang buram.


Saya mencoba memfokuskan penglihatanku agar kembali normal. Aku mendapati diriku berada di sebuah ruangan yang memiliki pendingin ruangan, kasur rumah sakit yang panjang, tumpukan bunga di atas meja, hidung yang di perban dan suasana rumah sakit yang tercium dari selimut lembabnya.


Saya lupa, apa yang terjadi pada saya beberapa hari yang lalu? Kemudian? Dimana saya?


Aku mencoba mengiggat-inggat dengan jelas di dalam kepalaku.


Aku melihat ke sekelilingku, dan dari penglihatan saya, aku mendapat sebuah kesimpulan sederhana.


Matahari terik yang panas, kalender yang menunjukan musim panas yang ekstrim dan saya mendapati jika rambutku agak basah dengan air.


Tunggu? Kenapa hidung saya harus di perban? Awhh.....!


Aku mengekis kesakitan begitu memegangnya.


Itu terasa sangat sakit. Tiba-tiba, di balik pintu, seseorang beteriak dengan sangat marah dan kesal.


aku menekan keinginanku untuk menguap dan memaksa membuka matanya yang mengantuk, saya penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


Lalu, pria yang tengah berbicara itu membanting pintu dan memaksa masuk ke dalam ruangan saya berada.


"Apa-apaan ini! Kenapa bisa semahal itu!!"


"Maaf pak.... bisa anda tenangkan suara anda.... itu bisa menggangu pasien yang ada..."


"Saya tak peduli! Sekali lagi saya katakan itu terlalu mahal!! Dimana keadilan untuk rakyat kecil! Saya memang seorang boss, tapi aku juga bukan orang kaya raya!"


Suara yang muncul dari kemarahan seseorang itu, berasal dari tuan Aldo yang mendobrak pintu dengan marah.


"Ahh... anda sudah bangun tuan?"


"Dimana saya?"


Tuan Aldo berjalan ke arahku, lalu tepat di atas ranjang rumah sakit itu, ia mencekik dan menarik kerah baju bewarna hijau dan biru milik rumah sakit.


"Apa...?? Apakah kau tidak sadar bahwa komamu di rumah sakit ini telah membakar seluruh uang saya!?"


Saya melirik ke kiri dan kanan dengan pikiran binggung, "Apa maksud anda pak?"


Tuan Aldo tak menjawab. Malahan, ia melepas cengkraman tangannya dari area leherku. Lalu, ia melepaskan kacamatanya dan kedua tangannya secara otomatis menggusap wajahnya dengan perasaan sedih yang ia keluarkan di hadapanku.


Saya benar-benar tak begitu ingat dengan kejadian yang terjadi beberapa hari belakang ini selama saya jatuh dalam koma.


Pada saat saya sadar, seolah kejadian itu berjalan begitu saja. Bahkan hingga saya keluar dan di nyatakan sembuh total oleh rumah sakit.


Dokter mengatakan bahwa hidung saya patah dan bagian gigi saya ada beberapa yang mirip dan copot dari tempatnya.


Beberapa polisi jadi sering mendatangi saya di toko, bertanya tentang kejadian yang terjadi di tempat kejadia, para pelaku yang memukuli saya sedang di buru.


Meski saya masih di terimah bekerja di tempat penyewaan komputer, tapi hubungan saya dan tuan Aldo tidak berjalan baik selama beberapa hari kedepan.


Ia tidak marah terhadap saya, tapi ia kesal dengan biaya rumah sakit yang mahal dan merugikannya.


Karena itu, saya berusaha dengan keras untuk bekerja lebih giat, meski saya merasa sakit selama bekerja.


Bagaimana tidak? Tubuhku terasa sakit sebab beberapa hasil pukulan yang saya terima. Luka di sekujur tubuh dan wajahku masih berbekas.


Tapi saya rasa itu semua akan hilang dalam waktu dekat dan hanya akan menyisakan bekasnya saja. Paling tidak, luka yang akan terus aku rasakan sakit adalah di bagian hidungku yang patah atau retak.


Tbc