
Perkenalan dengan anak remaja yang unik.
Anak yang saya kira baru selesai dari masa sekolahnya itu, telah menarik dan membawa tubuh saya ke sebuah bangunan terbengkalai yang kosong di dekat sebuah stasiun yang sudah tidak beroperasi, tepat di seberang rel.
Di tengah lalu lintas yang sibuk, gedung serba guna itu berdiri sendiri, berwarna cokelat dan reyot. Hampir tidak ada suara dari jalan yang mencapai kami di dalam; hanya suara samar Jalur pesawat dan motor trail yang terdengar begitu jauh oleh kami. Seolah-olah kami dari dunia lain.
Ruangan tempat kami berada mungkin pernah menjadi semacam restoran; bangku dan meja berkarat serta piring dan peralatan masak berserakan di antara rerumputan yang tumbuh di sela-sela lantai yang pecah menjadi beberapa bagian.
Setelah kami menghabiskan sedikit waktu untuk mengatur napas dan detak jantung kami agar kembali normal, pria itu memecah kesunyian kami.
"Ini... gunakanlah di bekas luka anda..."
"Terimah kasih..."
Aku menggambil plester dan obat alkohol yang dapat saya gunakan sebagai penambal luka-luka di pipi dan bagian ujung bibir.
"Aihh...."
Rasa sakit yang saya rasakan ketika menempelkan obat alkohol pada bagian permukaan luka di bibir saya.
Setelah saya sudah selesai dengan menyembuhkan luka-luka dan menutupnya dengan pleset antiseptik.
Saya bertanya kepada si anak yang terlihat bimbang itu.
"Katakan... siapa mereka?"
Si pria menggelengkan kepala sambil berkata.
"Aku tak tau siapa mereka... tapi kelihatannya, mereka adalah seorang anggota mafia yang beroprasi di dunia maya."
Setelah aku mendengar penjelasan dari si pria bertubuh kurus yang tinggi. Aku menundukan kepala untuk waktu yang lama, hingga aku mendonggakan kepala untuk bertanya.
"Sebelum itu... siapa namamu? Dan di mana kau tinggal?"
"....Hm.. namaku adalah rasy.... aku tinggal di dekat pasar swalayan kota..."
"Pasar swalayan? Itu berada dekat dengan distrik mall wanmart bukan?"
Ia mengganguk perlahan, kemudian pria yang telah saya ketahui namanya itu, Rasy bertanya kembali kepada saya.
"Panggil saja aku Remy. Lalu, soal tempat tinggal cukup rumit. Mungkin untuk saat ini saya tinggal di toko penyewaan komputer yang ramai itu."
Rasy menundukan kepalanya perlahan, ia berhenti untuk melanjutkan pertanyaanya.
Rasy bersandar di dinding sementara aku berpikir, objek pemikiranku. Suasana menjadi hening tanpa ada yang berbicara di atara kami berdua.
Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada anak remaja yang tengah berdiri di hadapanku.
"Darimana.... kau mempelajari cara untuk meretas dan membobol setiap system?"
"Sejak aku berusia sekitar dua belas tahun. Aku sudah sering pergi menyewa komputer, lalu di suatu titik, saya bertemu dengan orang yang menggajariku cara meretas website-website aneh."
"Lalu? Sampai mana kemampuan meretasmu?"
"Aku hanya meretas situs-situs online.... jika harus membobol sytem yang di jaga dengan ketat, aku tak mampu untuk melakukan itu...."
Aku menggaguk paham dengan apa yang coba ia jelaskan kepadaku.
"Jika begitu.... pulanglah kerumahmu.... aku curiga jika akan ada lebih banyak orang lainnya yang melacak keberadaanmu."
Aku berdiri dari tempat dimana tubuhku duduk dan hinggap dengan rileks. Saya berjalan pergi, menggengam kenop besi dan menariknya, pintu kayu itu bergeser terbuka dari tengah ke kiri dan ke kanan, menampakan interior tangga menurun.
Rasy mencoba mencegahku yang tengah melangkah turun di tangga, ia melambaikan tangan sambil berkata.
"Eh... tapi..."
"Hmmm? Ada apa?"
"Beritahu saya jika masih ada orang-orang yang melacak dan mencari saya kembali..."
Saya menangguk dengan ekspresi datar.
"Saya percaya dengan anda."
Aku tak bergeming, dan tetap berjalan menuruni tangga yang mulai keropos itu di gedung kosong yang terbengkalai.
Tbc