Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 10



Pada hari-hari berikutnya, aku tetap menjalani kehidupanku yang suram tanpa ada setitik harapan sedikitpun yang bisa ku lihat.


Salah satu penjelasan mengapa saya selalu bersembunyi di balik tembok yang memenjarakanku, hanyalah karena saya takut bertemu dengan kata-kata pedas yang dirundungkan oleh orang-orang di sekitar kepada saya.


Kau tau. Orang-orang di sekitar terkadang menyakitkan bagi kita, meski itu hanya sebuah kata-kata biasa. Tapi, terkadang kata-kata sederhana itu mampu bertahan dengan lama di dalam hati dan pikiran seseorang.


...***...


Pada suatu hari, di tengah sore hari yang terang dengan matahari yang mulai terbenam dan menggeluarkan sinar orangenya.


Pada waktu senja, orang-orang akan lebih banyak di dalam rumah ketimbang bekeliaran di halaman kompleks rumah mereka.


Aku memutuskan untuk memberanikan diri saya untuk keluar dari balik tembok tebal yang menggurung saya—lebih tepatnya, saya yang menggurung tubuhku di sana. Berjalan dan mencari udara segar.


Seperti yang tidak saya harapkan, suasana di kota sedikit memuakan bagi saya.


Benar-benar tak ada yang menarik bagi saya.


Saya berjalan di suatu tempat yang ada di pinggiran kota yang ramai.


"Mereka apa?! Itu lucu!"


Trio gadis SMA yang berteriak dengan tawa di belakang saya. Mereka sangat keras sehingga saya melihat sekeliling dengan refleks.


Aku melintas melewati ke restoran keluarga di seberang department store besar, dan tempat itu ramai dengan orang-orang, meskipun saat itu tengah hari di saat hari kerja.


Pada suatu titik, aku melihat suatu tempat yang sangat ramai dan berisik dengan anak muda yang saling menggeluarkan teriakan dari balik tenggorokan mereka.


Aku bertanya di dalam kepalaku, seolah itu tedengar seperti: apa yang sedang mereka lakukan? Lalu, apa yang terjadi? Dan menggapa tempat itu sangatlah ramai?


Meski akan bimbang dan risih dengan orang-orang yang berisik dan pembicaraan orang-orang yang selalu membuat ku muak ketika  mendengarkannya.


Papan grosir yang terpajang di atas tempat itu: tulisan khasnya yang bewarna orange, gambar-gambar animasi dari charakter yang ada pada video game, tulisan-tulisan yang menarik langkah ku.


Orang-orang di sana tak begitu menyeramkan seperti apa yang ku pikirkan. Mereka baik, ramah, dan berbicara dengan sopan.


Meskipun aku tak begitu suka dengan tingkah laku orang-orang yang berlaga akrab dengan saya.


Ketika aku berjalan melewati lorong yang di penuhi dengan suara dari ketika papan keyboard, suara orang-orang yang tengah menggetik di mesin pencarian, dan pembicaraan orang-orang melalui alat yang mereka letakan di telingga.


Tepat di dalam, seseorang  pria yang tampak serius dengan kacamata tipis, berbicara seolah-olah itu adalah buang-buang waktu terbesar baginya.


"—kapan itu akan di mulai?"


Ucap seorang anak muda yang tengah berbicara dengan menatap temannya yang ada di dalam layar.


Ketika aku sedang sibuk melihat orang-orang yang sedang menatap layar biru pada sebuah mesin itu. Seseorang menggejutkan ku ketika ia berdiri dari kursinya dan beteriak dengan girang.


Aku pikir mereka adalah orang-orang yang sangat profesional dalam bidang komputer.


Namun, pada kenyataanya mereka hanyalah seorang pemuda yang menghabiskan waktu kehidupannya pada pemainan video game.


Bibirku sedikit membentuk garis senyum ketika melihat pemuda yang tak tahu apa-apa, polos dan lugu itu. Sibuk menatap layar komputer yang mereka sewa hingga berjam-jam.


Tbc