
Sebagai permulaan. Saya berpikir, jika saya harus memberi gambaran menggenai kehidupanku.
Hari-hari ku bekerja sebagai seorang pekerja kantoran yang sangat sibuk, selalu naik kereta cepat yang sempit dengan orang-orang sibuk lainnya seperti ku.
Ketika aku melihat sepasang kupu-kupu yang terbang di atas kepala ku. Aku selalu bergumang dengan kata-kata ku yang baku. "Apakah aku bisa menjadi seperti mereka yang sangat bebas?"
Berjalan menuju ke kantor ku yang sibuk. Aku selalu menyimpan berkas dan catatan informasi penting menggenai perusahaan yang memperkejakan ku di dalam laptop yang selalu ku bawa.
Seperti yang sudah kalian kira, aku adalah orang kepercayaan di dalam perusahaan ku. Bos ku menaruh semua kepercayaannya kepada ku.
Semua info menggenai perusahaan, ada di tangan ku. Meski aku adalah orang kepercayaan-nya, tapi bukan berarti aku akan menghianati mereka.
Sama seperti para karyawan yang tak bersalah lainnya. Aku juga seorang pencari nafkah, ayah ku di desa sedang sakit, sedangkan ibu ku bekerja susah payah untuk menjadi tukang punggung bagi adik-adik ku di desa.
Hidup di kota benar-benar sulit, aku menggalami banyak kesulitan yang panjang. Bahkan, hidup di kota sangat berbedah seratus delapan puluh derajat dengan desa ku.
Biaya hidup di kota yang mahal, membuat ku pada awalnya tak bisa membantu apa-apa. Tetapi, aku cukup beruntung, setelah aku lulus dari kuliah, aku berhasil bekerja di sebuah perusahaan.
Pada awalnya aku juga seorang karyawan biasa. Namun, karena aku seorang pekerja keras, dan hebat dalam menekuni bidang ku di perusahaan.
Boss mempercayaiku dengan menggangkatku sebagai manager perusahaan. Meski pada awalnya berat, tetapi gaji yang di berikan, cukup untuk membayar semua tagihan rumah sakit ayah ku di desa.
(TING TONG~~)
Kurang lebih, seperti itu lah latar belakang kehidupan ku.
Dan satu hal lagi, sebelum kalian memutuskan untuk merantau atau tinggal di kota, sebaiknya pikir itu baik-baik.
Yang paling utama, siapkan mental dan persediaan uang yang cukup. Itu bukanlah candaan ataupun gurauan, itu adalah kenyataan. Sebab, tinggal di sebuah kota yang memiliki bahasa dan gaya hidup yang berbeda, akan sangat sulit.
Sedikit informasi, saya pernah tersesat di stasiun kereta api; Saya naik kereta yang salah; Saya menabrak orang di mana pun saya berjalan; tidak ada yang menjawab ketika saya menanyakan arah; mereka hanya berkata dengan tatapan tajam yang risih dan takut.
Mungkin, itu karena pakaianku yang kusam dan jelek.
Kembali ke pembahasan utama, saya keluar dari desakan kerumunan yang ramai. Aku melangkah bersama dengan laptop penting ku, berkas-berkas penting menggenai informasi ada di dalamnya.
Proposal menggenai presentasi perusahaan ku juga ada di dalam. Siang ini, perusahaan mengadakan pertemuan dengan calon perusahaan yang akan bekerja sama.
Aku di tunjuk untuk menjelaskan menggenai; profil perusahaan, data perkembangan statistik perusahaan, visi misi perusahaan, dan contoh proyek yang di tampilkan.
Tapi, sebelum itu, aku melangkahkan kaki ku selama lima belas menit setelah aku turun dari kereta.
Tbc