
Kembali ke jalan utama.
Tiga minggu setelah kejadian itu.
Setelah aku tertidur untuk waktu yang lama, tanpa menggerjakan hal-hal yang berarti dalam hidup saya selama sebulan penuh. Pada akhirnya, aku muak dengan kata 'depresi' yang selalu aku sebut dengan 'istrirahat' itu.
Jadi, pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali bangun di pagi hari atau sekitar jam tujuh untuk menyiapkan sarapan pagi hari itu.
Aku lebih sering memasak untuk sarapan dan makan malam ku, karena itu aku tak terbiasa untuk memesan atau memakan makanan cepat saji.
Steak, hamburger, sandwich, telur mata sapi, tuna kukus dan roti dengan selai kacang adalah menu sarapan yang sering ku buat. Tetapi, setala aku memutuskan untuk bangkit setelah sebulan penuh tanpa uang atau persediaan makan.
Itu membuat ku bimbang, ingin ku coba memesan makanan, tetapi itu tak bisa karena persedian uangku yang sudah habis.
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk memasak mie instan kikuk tidak enak yang berbau tengik, hingga spaghetti yang hampir melewati waktu kadaluarsa—dengan tidak antusias, tanpa pandang bulu, dan tanpa komentar, aku menyatapnya layaknya serigala yang kelaparan.
Kemudian, setelah aku selesai dengan menu makanan terburuk itu, lalu aku datang untuk membersihkan dan merapikan meja-meja kotor.
Aku membersihkan cangkir, gelas, kaleng dan sebotol alkohol kosong yang ku tinggalkan selama beberapa hari di mana-mana, mencuci piring, dan memilah sampah, lalu mengeluarkannya.
Aku memungut kaus kaki dan kaus oblong yang selalu saya lucuti dan tinggalkan di lantai begitu saja, ku biarkan tergeletak seperti anak kecil selama beberapa waktu. Kemudian, aku melemparkannya ke cucian, dan menggosok kamar mandi dan pancuran keran yang mulai menggalirkan air kotor.
Suara dari gosokan baju yang saling beradu, bisa tedengar melalui indra pendengaran milik ku.
Suatu ketika, aku mendengar dari dalam bilik kamar mandi ku. Suara ketukan yang cukup keras.
Aku menduga, jika pintu rumah ku sedang di ketuk oleh seseorang.
Aku langsung menghentikan kegiatan mencuci ku. Lalu, aku menggelap tangan ku yang basah. kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
Kurang lebih, aku sudah tidak pernah menerima tamu selama tiga minggu belakangan ini.
Aku menggitip lubang kaca penggintip kecil yang ada di pintu kayu milik ku. Demi memastikan jika orang yang menggetuk bukanlah seorang rentenir atau penaggih hutan lainnya.
Namun, itu di luar dugaan saya, orang yang ada di balik pintu, adalah seseorang yang saya kenal.
Aku belum memiliki niat atau keingginan untuk membuka pintu kepada tamu yang datang.
Tapi, pintu di ketuk dengan kencang. Sosok di balik pintu, beberapa kali menggatakan sesuatu yang bisa saya dengar jelas di dalam rumah.
"Eh, permisi ? Saya tahu saya seharusnya bilang terlebih dahulu, tapi saya pikir ada hal penting yang harus di bicarakan.."
"Bagaimana bisa dia tau jika saya ada di balik pintu ini?"
Setelah itu, saya membuka pintunya dan betapa terkejutnya aku ketika melihatnya langsung melompat dan memeluk pinggang saya.
Adengan itu kurang begitu saya nikmati. Namun, apa boleh buat, meski aku harus menanggung malu karena adegan itu juga di lihat oleh tetangga kompleks.
Setelah melakukan kegiatan aneh itu, aku dan pria itu berbicara di ruang tamu saya yang berantakan, penuh dengan beberapa sisa sampah yang belum ku bersihkan.
Tbc