Who Are You? :Kill The Hacker

Who Are You? :Kill The Hacker
Chapter 27



Menghasilkan penghasilan!


Pada tanggal 15 September, cuaca cerah dan tidak berawan.


Pagi-pagi sekali jam enam, saya bangkit dari tempat tidur yang menyatu dengan tanah.


Mengambil dompet dan melihat ke dalam dompet, bahwa hanya ada sedikit lebih dari 50 ribu rupiah yang tersisa, saya memutuskan untuk menghasilkan uang tambahan yang lebih banyak.


Mungkin dengan pekerjaan paruh waktu di malam hari, atau beberapa pekerjaan yang tidak mengontrak saya sepenuhnya di sana.


Entah apapun itu, tapi saya butuh uang lebih untuk membeli komputer super yang bisa saya gunakan sendiri.


Meskipun kemampuan hacking saya telah mencapai tingkat untuk berada di puncak berikutnya, tapi saya tidak akan menyalahgunakan kemampuan seperti itu hanya untuk mendapatkan uang.


Atau tidak, mungkin itu adalah salah satu alasan saya belum pernah mejalankan suatu misi membobol situs apapun.


Meski telah meningkatkan kemampuan, tetapi aku merasa jika kemampuanku masih benar-benar kalah jauh ketimbang Rasy.


Tetapi paling tidak, untuk saat ini aku benar-benar membutuhkan uang demi kebaikanku dan Rasy.


Saya bertekad akan mendapatkan uang sekarang!


Tepat lainku adalah dengan mendapatkan uang tanpa ide-ide gila dari Rasy yang mau membobol situs-situs belanja online di internet.


Pertama-tama, aku seharusnya menghindari keingginan dan inde gila Rasy, dia masih muda dan dia tak boleh aku biarkan berada di jalan yang salah.


Ini bukan karena aku tidak bisa menggunakan kemampuan hacking ini untuk menghasilkan uang. Bahkan, seharusnya dengan batuan Rasy sedikit, maka saya bisa dengan cepat mendapatkan banyak uang dengan metode ini.


Tetapi tanpa dukungan perangkat keras yang baik, tidak peduli seberapa terampil peretas itu, saya akan dengan mudah ditemukan dan diekspos.


Meski aku rasa Rasy bisa dengan mudah menutupi dan menghilangkan jejak.


Kasus yang sama seperti Rasy. Itu menjawab beberapa pertanyaan saya menggenai hacker yang dapat memalsukan alamat id-nya.


Membuat superkomputer itu memerlukan uang yang banyak. Mencoba menembus keamanan dengan menggunakan kemampuan komputer pribadi sama sekali tidak masuk akal!


Ini kecuali Anda dapat menemukan celah penting dalam sistemnya!


Jadi, tanpa perangkat keras yang baik sebagai dukungan, tidak akan membuat saya mampu melakukan serangannya di Internet.


Paling-paling, itu hanya bisa memainkan beberapa trik pada kentang goreng kecil itu!


Mendapatkan akses ke komputer pribadi dan server perusahaan kecil, itu masih dalam kemampuannya.


Binggung, dan tak tahu harus berbuat apa. Saya memutuskan mencurahkan kejadian ini kepada Rasy, meminta saran terbaik kepadanya.


Tepatnya, Rasy datang untuk menyewa seperangkat komputer selama beberapa jam. Ia duduk di tempat biasa komputernya di gunakan. Aku mencuri-curi waktu di saat sedang sengang.


"Apakah kau sudah mendapatkan uang dari aktivitas yang kau lakukan selama beberapa hari ini?"


Rasy menggelengkan kepala sambil berkata, "Tidak.... saya hanya fokus membantu nenek saya di pasar swalayan." Ucap Rasy dengan lirikan santai ke arah wajah saya. "Tapi.... ngomong-ngomong, ada apa dengan hidung anda?"


Rasy bertanya menggenai perekat perban pada bagian hidung saya yang patah.


"Owh... ini bukan apa-apa.... saya tidak sengaja terjatuh beberapa waktu lalu."


"Oh... ngomong-ngomong, apa kau tau? Aku juga sedang membutuhkan uang.... sepertinya aku harus membuat komputer super."


Rasy tertawa, "Apa? Anda jangan bercanda pak... harganya di luar pemikiran kita...."


Sambil menghela nafas dengan kesal, saya menarik bangku kosong dan duduk di sebelahnya, sambil berkata.


"Aku tau.... memang mustahil untuk membeli semuanya...."


"Tidak juga..."


"Maksudmu?"


"Hmm... salah satu caranya adalah mengumpulkan uang dan merakit semuanya secara perlahan."


"Tapi.... bagaimana cara menghasilkan uang yang banyak?"


"Nah, itu permasalah utamanya, saya juga memikirkan itu beberapa waktu belakang ini, saya di tolak bekerja tanpa kartu pelajar."


"Kau tak berniat memalsukan itu?"


Secara otomatis Rasy menatap saya dengan wajah menghela nafas.


"Jangan bercanda pak.... tampangku ini tidak cocok sebagai orang berpendidikan. Di tambah, hukumannya cukup berat jika ketahuan."


Saya menganggung paham dengan apa yang coba Rasy jelaskan.


"Bagaimana dengan uang online? Bukannya ada banyak cara di sana?"


"Hmm... itu adalah ide terakhir yang saya pikirkan."


"Lalu? Bagaimana hasilnya?"


"Biarkan saya belajar terlebih dahulu..... tapi sebelum itu... apakah anda punyak uang?"


"Uang? Untuk apa?"


"Bukankah itu ilegal?"


Rasy mendukan kepalanya sambil berkata dengan berbisik pelan, "Pelankan suara anda. Jangan biarkan orang lain tau. Lagi pula, semuanya tersedia di aplikasi. Bagaimana bisa itu di anggap ilegal?"


"Baiklah-baiklah.... kalau begitu? Apa yang akan kamu lakukan?"


"Pertama... aku akan membuat akun, kemudian, aku akan merubah sisa uangku ke uang digital. Berapa uang yang anda miliki?"


"Gajiku sedang di tahan.... mungkin saat ini hanya 50 ribu yang tersisa."


"Baiklah... jika saya berhasil, maka saya akan berikan dua kali lipat."


"Tapi? Bagaimana jika kamu kalah?"


"Seharusnya keberuntungan saya masih ada."


Tiba-tiba, tuan Aldo beteriak kepada saya, mengangetkan setiap orang yang ada dan memutus pembicaraan penting kami berdua.


"Tunggu sebentar. Kita bahas ini nanti."


Rasy mengganguk perlahan, tatapanya kembali menatap ke layar monitor begitu saya pergi dari kursi di sampingnya.


Tepat di depan meja resepsionis, tuan Aldo memasang ekspresi serius di wajahnya.


"Ada apa?"


"Beginih.... hmm.... saya ingin menyampaikan bahwa...."


"Ya?"


Tuan Aldo bicara dengan gugup. Rasanya ia ingin membicarakan suatu hal yang sangat penting dengan saya.


"Jadi... saya ingin meminta tolong... bisakah anda menjaga meja admin ini selama saya pergi ke toilet."


"Huh...."


Saya menarik nafas lega.


"Baiklah... anda bisa serahkan itu kepada saya..."


"Bagus... terimah kasih..."


Tuan Aldo berjalan dengan cepat, menembus beberapa anak muda yang tengah duduk berbaris dan menatap layar komputer mereka.


"Dia tampak aneh..." gumang saya pelan.


Setelah melihat tuan Aldo berjalan pergi, Rasy mendekat ke arah saya. Ia ingin menggatakan suatu hal kepadaku.


"Pak....? Saya baru saja selesai membuat akunnya. Bagaimana? Apa anda setujuh...?"


"Aku tak yakin kau bisa menang itu..."


"Baiklah... beginih saja... jika saya kalah. Maka saya akan menggantinya dengan uang tambungan saya. Bagaimana? Impas?"


"Bukankah kau pernah bilang jika 'kau tak punyak tabungan' sebelumnya?"


"Baiklah... saya berbohong tentang itu, tapi saya akan menggantinya. Bagaimana?"


"Lupakan saja.... kau tak perlu megantinya...."


"Aku percaya padamu."


Rasy tersenyum puas. Air matanya terlihat berkaca-kaca. Tedengar aneh, tapi itu nyata.


"Terimah kasih... anda tak akan kecewa padaku...."


Saya mengangguk perlahan. "Hmm ya... semogah berhasil."


Aku duduk di meja resepsionis, mencoba membantu Rasy menggubah uang itu menjadi sebuah voucher game uang online.


"Baiklah... sudah selesai.... totalnya sekitar seratus ribu."


"Berarti itu sekitar 2000 chips koin."


"Kau yakin ini akan berhasil?"


"Hmm ya...."


"Baiklah... saya akan menyerahkan uangnya kepada tuan Aldo. Sebaiknya cepat sebelum ia melihatnya."


Tanpa ada sepata katapun yang Rasy ucapkan kepadaku, ia langsung mengambil lembaran voucher seratus ribu, berjalan kembali ke meja penyewaan komputernya yang ada di belakang.


Saya menunggu tuan Aldo kembali, sedangkan Rasy sibuk melakukan tugasnya di dalam aplikasi pejudian.


Rasy sedang berjuang di sana!


Tbc