![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
" Kal..."
" Haekal tunggu!"
Arka berusaha menahan Haekal kala anak itu berjalan menuju taman. Haekal pun memberhentikan langkahnya. Menatap Arka penuh emosi.
" Bukan gue yan-"
" Apa?! Gue udah ngelakuin semua yang lo minta! Gue udah ngejauh dari lo! Gue udah usaha berubah demi lo! Kurang apa lagi?!"
Bentak Haekal kesal. Dari tatapan itu Arka bisa melihat emosi dan kekecewaan Haekal yang sangat mendalam.
" Kal bukan gu-"
" Lo pikir gue ngga tau selama ini lo diam diam ngikutin gue hah?! Sampah banget cara lo Ka!"
Arka terdiam, jujur ia tidak menyangka Haekal akan tau, tapi Arka benar benar hanya memperhatikan Haekal dari jauh, tidak pernah sedikitpun terpikirkan untuk menjerumuskan Haekal seperti itu.
" Sehina itu gue dimata lo ?! Sebrengsek itu gue dimata lo ha?! Kenapa ngga sekalian Lo buat spanduk gede-gede? Kurang puas lo ngehina gue waktu itu? Kurang puas lo ngancurin hidup gue?"
Arka menelan air ludahnya kasar, memalingkan pandangannya berusaha menahan emosinya. Bagaimana tidak, ia dituduh melakukan hal yang bukan ia lakukan. Tentu saja Arka kesal dan sakit hati.
" Lo ngga usah ikut campur! Ngga usah susah payah bikin hidup gue hancur! Karna dari awal hidup gue udah ancur! ngerti lo!" Tunjukknya kesal
" Lo yang minta gue menjauh! Lo yang bilang ngga sudi punya temen kaya gue! Lo yang bilang pertemanan kita selesai! Jadi tolong... jangan jilat air ludah sendiri!" Tutup Haekal final menabrak tubuh Arka kala ia meninggalkan Arka.
Arka masih terdiam, nafasnya pun mulai memburu. Karena saat ini, dadanya sesak dan hatinya benar benar sakit.
"Gue cuma mau minta maaf...."
Cicit Arka dalam hati menengadahkan kepalanya menahan air matanya.
\~\~\~\~\~\~\~\~
Arka menghela nafasnya kesal. Sudah satu minggu semenjak berita tentang Haekal tersebar, Anak itu masih pergi ke sekolah. Arka tidak mengerti dengan pola pikir Haekal, padahal di sekolah ia hanya akan dihina, dimaki, dibully, tapi anak itu masih tetap ke sekolah, membiarkan tubuhnya di lempari sampah bahkan terkadang di tendang.
Haekal masih menekurkan kepalanya, membiarkan kepalanya yang dilempar dengan kaleng minuman atau sampah-sampah lainnya. Haekal menutup matanya, membiarkan kepalanya tenang sambil mendengarkan lagu guna merilekskan kepalanya.Haekal tetap pergi ke sekolah, karena jika ia hanya berada di rumah dan mengurung diri di kamar, ia takut menjadi gila. Karena itu Haekal tetap memilih untuk pergi ke sekolah, karena setidaknya dengan belajar, ia bisa mengabaikan masalah yang terjadi padanya.Dan jujur, Haekal masih bertahan saat ini karena hanya melihat Arka, walaupun pria itu tidak membantunya ataupun melindunginya.
Arka benar benar menjadi alasan Haekal masih bertahan hingga sekarang.
" DIAM!"
Bentak Arka sambil melempar bukunya ke papan tulis, menghasilkan dentuman yang sangat keras, bahkan Haekal yang memakai earphonenya bisa mendengarkan bentakan Arka dan dentuman itu.
" Kalian pikir kalian semua disini suci hah?! Brengsek lo semua! Kalau kalian ngga suka diam! Ngga usah hina idup orang! Lo bisa aja lebih sampah dari dia!" Kesal Arka, jujur ia tidak tahan melihat Haekal yang dihina dan dibully seperti itu
"Dan lo! Kalau cuma diem doang, mending lo keluar! Ganggu lo disini! Atau mati aja sekalian!" Bentak Arka lagi dan tentu saja Haekal tau Arka tengah berbicara dengannya.
Arka tidak tau lagi bagaimana menyuruh Haekal keluar, bagaimana caranya menyuruh anak itu untuk pergi agar tubuhnya tidak dijadikan tong sampah seperti itu. Kalimat itu keluar begitu saja karena emosinya yang juga meledak ledak. Jika memang Haekal ingin terus hidup, jika memang Haekal ingin berubah, Kenapa pria itu hanya diam? Kenapa membiarkan tubuhnya saat ditendang dan dipukul? Arka benar benar tidak mengerti. Arka benci melihat Haekal seperti itu.
"Keluar goblok! Sampe kapan lo mau dijadiin tong sampah kaya gitu!"
Kesal Arka dalam hati, menatap Haekal kesal yang masih menundukkan kepalanya ke meja.
\~\~\~\~\~\~
Arka menghela nafasnya panjang, menatap pacarnya itu sedikit kecewa. Akhirnya Arka mengetahui semuanya, hari itu, saat dirinya memukul Haekal untuk pertama kalinya, Ara mendengar itu semua. Dan siapa sangka, salah satu teman Ara, ibunya adalah psikolog yang menangani Haekal. Karena itu mereka bisa memfoto buku itu.
" Lo kok tega Ra?" Tanya Arka sendu, setengah mati ia menahan air matanya. Ia pikir Ara adalah wanita baik baik.
" Abisnya gue kesel sama dia! Sejak kita pacaran dia ganggu terus! Belum lagi lo, dikit2 ngajak Keenan! Gara gara dia juga hubungan kita sempat hancur! Kenapa lo jadi salahin gue? Orang Gay kaya dia pantas dapetin itu! Lo ngga jijik apa Ka? Kenapa lo belain dia? Bukannya lo sendiri yang benci sama dia?"
" Ya, gue akuin gue benci sama dia, gue marah sama dia, tapi gimanapun dia sahabat gue Ra, apapun kesalahan dia, semarah apapun gue, sebenci apapun gue, bahkan gue pengen bunuh dia sekalipun, gue ngga akan mempermaluin dia dan ngerusak harga diri dia di depan orang Ra, gue masih punya hati, gue ngga setega itu sama dia." Ucap Arka dan entah kenapa air matanya mengalir
" Oke dia salah, dia pantes dapatin itu semua, tapi semua kebaikan yang dia lakuin ke gue? semua waktu yang dia abisin sama gue? Gue ngga mungkin ngebuang hati gue karna satu kesalahn dia Ra.... Dia salah apa sama lo Ra?" Ucap Arka tertunduk dan mulai menangis. Ara yang melihat itu hanya bisa mendecak kesal, memilih untuk meninggalkan Arka menangis sendiri di taman.
Semua ucapan itu, semua kalimat yang ia ucapkan pada Ara, adalah kalimat yang ia tujukan pada dirinya sendiri. Kenapa saat itu ia tersulut emosi, kenapa saat itu ia mengatakan ia benci pada Haekal dan meminta Haekal menjauh darinya. Haekal sudah melakukan banyak hal untuknya, dan hanya satu kesalahan itu, Arka dibutakan oleh egonya sampai tidak mau mendengar penjelasan dari Haekal.
Arka benar benar menyesal.
\~\~\~\~\~\~
Arka dengan kesal melempar bola basket kedalam ring. Entah sudah berapa kali ia mencoba memasukkan bola itu, tapi tidak pernah masuk. Arka tidak tau lagi bagaimana cara untuk melampiaskan emosinya. Setengah mati Arka mencoba berbicara pada Haekal, mencoba menjelaskan pada Haekal apa yang terjadi, tapi Haekal benar benar menjauh darinya. Arka berhasil menghapus semua postingan di forum sekolah, tapi tetap saja, rumor sudah menyebar dan setiap harinya, Haekal selalu dibully.
" Ck...."
Kesal Arka pasalnya ia terlalu kuat melempar bola hingga keluar lapangan. Sambil menghela nafasnya panjang, Arka dengan malas mengikuti arah bola itu melambung.
" Ck... dimana sih"
Kesal Arka lagi, matanya pun liat menatap sekitar, dimana bola itu terakhir menggelinding.
" Nah itu dia..."
Arka sedikit berlari menuju gedung pasalnya bola itu menggelinding hingga sana.
" Gila jauh juga gue lempar ni bo-"
BUGH
Belum sempat Arka menyelesaikan kalimatnya. Tepat ketika ia menunduk untuk mengambil bola itu, di depannya sesuatu jatuh bebas dan menghantam tanah cukup keras. Arka masih memfokuskan matanya pada bola di tangannya, menelan air ludahnya kasar memberanikan diri melihat apa yang ada di depannya.
Nafasnya tersenggal ketika menemukan sesosok manusia yang tergeletak tepat di depan matanya. Arka menutup matanya, menetralkan deru nafasnya, berharap apa yang ia lihat hanyalah sebuah ilusi, tapi ketika ia membuka matanya, itu benar benar manusia.
Arka menggigit bibirnya kasar, di depannya, seorang siswa masih lengkap dengan seragamnya, tergeletak lemah dengan kepala yang mulai mengeluarkan darah. Arka tidak tau siapa pria itu pasalnya tubuhnya terjatuh dengan posisi tertelungkup. Tapi bentuk tubuh itu, kemudian rambut coklat itu, Arka mengenalnya.
Dengan tangan bergetar, Arka takut takut mendekati pria itu, membalik tubuhnya, dan saat Arka membalik tubuh pria itu. Arka terduduk lemah. Menutup mulutnya dan air matanya mengalir begitu saja. Nafasnya seolah dicekik dan ia jujur tidak bisa lagi merasakan detak jantungnya.
Itu Haekal
Terbaring kaku dengan kepala yang sudah hancur dan darah yang terus mengalir.
\~\~\~\~\~\~
Polisi dan pihak medis langsung datang untuk mengamankan lokasi TKP. Pihak sekolah benar benar shock dengan apa yang terjadi dan karena itu sekolah memulangkan seluruh siswa lebih awal.
Arka masih terduduk lemah di mobil ambulan, beberapa kali polisi mencoba berbicara dengannya, meminta Arka untuk menceritakan apa yang terjadi, tapi Arka hingga saat ini masih bungkam. Polisi pun sudah menetapkan kalau ini sebuah kasus bunuh diri, mendengar apa yang terjadi pada Haekal saat pihak sekolah menceritakan, tapi tetap saja mereka masih membutuhkan kesaksian Arka, karena ia yang pertama kali menemukan mayat Haekal, bahkan tepat saat pertama kali tubuh Haekal jatuh bebas, Arka ada disana. Haekal tidak bisa diselamatkan, mengingat sekolah ini enam lantai dan kepalanya benar benar hancur.
Arka menatap kosong tempat dimana Haekal menjatuhkan diri, kemudian saat pihak medis mengangkat tubuh Haekal, menutupnya dengan kain putih dan membawanya masuk ke dalam ambulan. Arka langsung berdiri, berlari menuju mobil itu, menahan pihak medis itu saat memasukkan tubuh Haekal.
" Berhenti! Jangan bawa dia! dia cuma boongiin kita!" Ucap Arka menarik paksa tandu itu.
" Bangun lo bangsat! Lo ngeprank gue kan?! Lo kesal sama gue kan! Bangun anjing! Haekal bangun! Gue tau lo cuma nge prank! Bangun bangsat!" Ucap Arka memberontak sambil menggoyangkan tubuh Haekal.
Pihak medis awalnya ingin menarik jauh Arka langusung ditahan oleh polisi , membiarkan Arka untuk meluapkan emosinya sejenak.
" Bangun anjing! Jangan diem doang! Gue bilang bangun!! Ngga lucu Kal....Bangun Kal... Lawakan lo ngga lucu Haekal!!"
Perlahan teriakan dan makian Arka berubah menjadi tangisan. Arka masih menggoyangkan tubuh Haekal, menatap tangannya yang penuh dengan darah Haekal. Arka pun merebahkan kepalanya pada tubuh Haekal, memeluk tubuh itu dengan kuat. Tangisnya pun pecah. Menangis meraung-raung meminta Haekal untuk bangun tapi sekeras apapun Arka memanggil nama Haekal, meminta pria itu untuk bangun, Haekal tidak bergeming sedikitpun.