What If [BL]

What If [BL]
2



Haekal menatap dirinya di kaca, waktu berjalan dengan sangat cepat dan tidak terasa kini ia sudah menjadi murid SMA. Haekal dengan cepat keluar dari kamarnya merampas kunci motornya dan langsung melesat keluar rumahnya.


" Pagi tan..." Sapa Haekal pada Clara


" Eh udah nyampe aja Kal? Arka nya masih mandi tuh, Kamu sarapan dulu aja"


" Heheh siap tan... loh Om Evan sama Bang Brian mana tan?" Tanya Haekal bingung pasalnya saat ia sampai di meja makan tidak ada orang disana


" Oh lagi nganterin Brian ke bandara kan udah mau masuk kuliah dia"


" Oiya lupa, kemarin kan Bang Brian ngajakin makan makan, yaudah Haekal duluan makan ya Tan…."


" Mhmm... makan yang banyak... Arkaaaa!  turun cepet udah jam berapa ini!" Teriak Clara dari dapur


Tak lama setelah itu Arka turun dan menggeplak kepala Haekal sebagai ucapan selamat pagi.


" Bangst! Sakit !" Kesal Haekal sambil mengelus pelan kepalanya


" Mulut lo astaga, ngga pernah sekolah ya anda?" Gelak Arka sedangkan Haekal mengarahkan tinjunya pada Arka dan Arka menjulurkan lidahnya jahil.


" Astaga kalian tu udah kelas 2 SMA masih aja kaya anak SD" Clara melerai mereka sebelum isi kebun binatang keluar dari mulut masing masing.


Kemudian Clara menaruh sebuah cake kecil ke depan meja Arka


" Selamat ulang tahun..." Ucap Clara dan mengelus pelan kepala Arka


Arka tersenyum tipis, matanya pun berkaca kaca.


" Pfft... udah 17 masih aja cengeng kek bayi..." Gelak Haekal


" Shut bacot diam lo!"


Arka menutup matanya, mengaitkan kedua tangannya dan merapalkan beberapa doa. Setelah itu ia meniup lilin yang menyala dan memeluk Clara dengan kuat.


" Makasih bu... maaf kalau Arka pernah nyakitin hati ibu"


" Hahaha iya nak, udah jangan nangis tuh Haekal ngeluarin Hp lho"


" Yaaah tante... jangan di bilang dong... nangis lagi Ka, nangis lagi... gue mau foto" Suruh Haekal


Arka hanya menatap Haekal nyalang sedangkan Haekal terkekeh pelan, dan setelah itu mereka kembali melanjutkan kegiatan sarapan pagi mereka, kemudian berangkat ke sekolah.


Arka bersiul kala keluar rumahnya dan melihat motor ninja yang terparkir di depan halamannya.


" Motor baru lo kal?" Tanya Arka kagum pasalnya, itu adalah motor impiannya, hanya saja ia tidak bisa membelinya dan tidak mungkin meminta pada Clara dan Evan.


" Yoi... bagus ngga? Baru banget nih, mau nyoba?" Tanya Haekal memberikan kunci motornya pada Arka.


" Boleh?? asiiikk... terus motor lama lo?"


" Di rumah lah, ngapain gue bawa..."


" Ngga ada niatan buat dihibahin ke gue gitu?"


" Nope... gue butuh dua motor, udah cepet ntar telat ka!"


Arka tersenyum girang dan mulai menghidupkan motor itu.


Arka dan Haekal selalu pergi ke sekolah bersama. Haekal akan mampir ke rumah Arka untuk sarapan pagi karena ia yang hidup sendiri karena orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaan mereka, sebagai gantinya Haekal akan mengantar jemput Arka setiap hari. Hanya saja terkadang Arka yang membawa motor karena sejujurnya impian Arka dari dulu adalah untuk memiliki motor, tapi karena kondisi ekonomi mereka, Arka terpaksa pasrah dan sering kali ia meminjam motor Haekal.


" Uwaaah gila.... alus banget bawanya Kal... mahal banget pasti"


Kagum Arka lagi setelah memarkirkan motornya di parkiran sekolah dan memberikan kembali kunci motor itu pada Haekal.


" Suka? "


" Banget gila... waah ini gue nabung berapa tahun ya Kal biar bisa kebeli ini?" Ucap Arka kagum sambil mengelus pelan jok motor itu.


Haekal yang melihat itu hanya menggeleng heran dan memutar matanya, meninggalkan Arka yang masih memuja muja motornya itu.


" Arka" Panggil Haekal kemudian ia melemparkan kunci motornya tadi pada Arka karena mereka yang berdiri cukup jauh.


" Huh?" Tanya Arka bingung sambil menangkap kunci itu


" Buat lo... surat suratnya ada di jok itu...oiya hbd"


Arka membelalakan matanya, menatap motor itu dan Haekal bergantian.


" Seirus?!"


" Iya.. itu surat2 udah nama lo semua"


" Kal..." Arka menatap Haekal dengan mata yang berbinar


" Apa?! Ngga usah lebay!"


Arka tekekkeh girang berlari ke arah Haekal dan merangkul Haekal.


" Emang lo temen tebaik gue... sayang dah gue sama lo..."


" Woi lepas! Lo ngerangkul apa ngecekek! sakit woi!" Kesal Haekal pasalnya Arka membawa kepala Haekal ke arah dadanya dan mengusak kasar rambut Haekal sehingga Haekal harus sedikit menunduk dan berjalan tertatih.


\~\~\~\~\~\~


Haekal menghentikan kegiatan makannya, menatap sahabatnya itu jijik sekaligus jengah,


" Cantik banget...." Ucap Arka dengan mata yang terfokus pada satu titik, menatapnya dengan kagum dan penuh cinta.


" Makasih..." Ucap Haekal


" Bukan lo! Ck... ah lo ngerusak aja dah!" Kesal Arka dan akhirnya bisa fokus pada makannya.


" Diliat mulu... tembak dong" Sindir Haekal.


" Yee.. enak mulut lo ngomong Kal….Kalau gue kayak lo, seorang Barra Keenan Haekal udah gue tembak Kal. Lah ini Mahendra Abbyarka, udah bego, miskin, jelek, mana selevel sama orang kayak Ara"


" Pfft... Gue setuju banget sama alasan lo, tapi ya ngga ada salahnya buat nyoba lah Ka"


Arka menggeleng dan menundukkan kepalanya. Ia pun memainkan makannya sambil menatap sendu Ara. Bagi Arka, Ara terlalu jauh untuk ia gapai, terlalu mustahil untuk ia dekati, melihat bagaimana kehidupan Ara yang sangat jauh berbeda dengan kehidupannya, membuat Arka takut untuk mendekati Ara.


Haekal mengepalkan tanganya kuat, menatap Ara sedikit kesal. Haekal sangat membenci melihat Arka yang tertunduk dan terlihat menyedihkan seperti itu. Pria itu tidak sadar bahwa sebenarnya dia itu tidak seburuk yang dia kira. Arka hanya perlu sedikit merawat dirinya dan diajarkan yang namanya style, maka pria itu akan terlihat sangat tampan.


" Arka..."


" Hmm?"


" Lo sesuka itu sama Ara ya?"


" Bukan suka lagi Kal... cinta mati gue, kalau gue harus mati biar dapetin Ara, gue rela"


" Lebay lo! Belum jadi pacar udah bucin!"


" Namanya juga cinta Kal.Makanya cobain gimana rasanya jatuh cinta, lo rela ngelakuin apapun demi orang yang lo cinta bahkan lo sakit sekalipun, lo ngga peduli"


" Dih... udah gaya aja lo ngomong, pacaran aja belum pernah"


"Kenapa? lo suka juga sama Ara?" Tanya Arka penasaran


" Huh?! Ngga lah! gue ngga mau saingan sama temen,  kalau misalkan ia gimana?"


" Ya.. sama kaya lo, gue ngga mau saingan sama temen. Apalagi sahabat kaya lo Kal.... mending ngga usah pacaran gue..."


" Hooo... jadi lo milih gue dari Ara dong?"


Arka mengangguk pelan dan menyantap makanan nya santai


" Nyari pacar gampang Kal, tapi nyari temen yang bener bener temen, apalagi kaya lo, susah Kal.. Ini aja bertahun tahun gue cuma nemu satu" Tambah Arka


" Yee itu karna lo mainnya ama gue mulu goblok..."


Arka terkekeh sedangkan Haekal tersenyum sendu.


" Ka… lo mau gue kasih kado ngga? Abis ultah kan lo" Ucap Haekal


" Lah itu motor kemarin bukan kado?"


" Iya... bonus deh... mau ngga?"


" Mau lah... emang apaan?"


" Ara juga suka sama lo kok"


" HAH?!"


Arka berteriak kaget bahkan sampai terjungkal ke belakang. Haekal yang melihat temannya itu seperti orang gila menyembunyikan wajahnya sebisa mungkin, tidak ingin disamakan dengan Arka.


" Lo ngapain goblok!" Kesal Haekal sedangkan Arka dengan cepat kembali duduk di kursinya


" Kal lo kalau mau becanda jangan gitu lah, gue tau lo temen gue, dan gue ngenes banget keliatannya, tapi lo nggak perlu ngehibur gue kok"


Haekal terkekeh pelan melihat temannya itu.


" Gue ngga becanda Arka... emang apa yang keluar dari mulut gue ini boong semua?"


" Ya faktanya gitu dari dulu... hayo?!"


" Kemarin itu.. Kapan ya lupa gue, pokoknya gue ikut semacam acara apa gitu di kantor bokap gue, awalnya gue ngga mau ikut tapi ya dipaksa, eh ternyata di situ ketemu Ara, yaudah gue ngobrol sama dia karna gue ngga ada temen, trus tiba tiba dia curhat aja gitu bilang dia sebenernya suka sama lo, tapi lo ngindar mulu tiap kali ada dia, jadi dia mikir lo ngga suka sama dia." Cerita Haekal panjang lebar


" Bagus banget cerpen lo Kal..." Sindir Arka


Haekal menghela nafas kesal dan menggeplak Arka dengan kesal


" Kalau ngga percaya terserah! Coba aja liat arah jam dua!" Perintah Haekal


Arka awalnya masih curiga dengan temannya itu, tapi melihat tatapan sungguh sungguh dari temannya itu, Arka pun mengikuti ucapan Haekal, dan ia hanya bisa melihat sebuah jendela kaca. Arka pun menatap Haekal bingung apa hal yang aneh dan penting dari jendela itu.


" Ih lo tu begonya ngga ketolong ya... liat bener bener Arka...."


Arka menyeringitkan matanya, memperhatikan jendela itu dengan seksama, walaupun tidak jelas tapi dari sana ada pantulan bayangan dari tempat duduk Ara dan teman temannya, dan ternyata sedari tadi Ara tengah memperhatikan meja Haekal dan Arka. Arka dengan cepat menatap ke arah meja Ara. Ara yang ketahuan tengah memperhatikan Arka, gelagapan membuang pandangannya seolah tidak terjadi apa apa.


" Masih ngga percaya?" Tanya Haekal sedangkan Arka kini tengah menahan senyumannya semakin menekurkan wajahnya karna pipinya memerah


" Dih.. gtu doang salting lemah lo..."


" Shtt diem lo... ini serius Kal?"


" Terserah lo deh... capek gue ngomong terus"


Haekal menghela nafasnya panjang, menatap Arka yang tersenyum malu sambil beberapa kali terkekeh pelan. Haekal menggigit bibirnya kesal, memainkan makannya tidak nafsu. Haekal kembali menatap Arka dan Ara bergantian, mereka hampir melakukan hal yang tidak jauh berbeda, tersenyum malu yang membuat Haekal sedikit sakit hati.


" Arka..." Panggil Haekal sedangkan Arka hanya mengangkat dagunya pelan


" Mau gue bantu deketin?"


" Boleh???" Tanya Arka semangat dengan matanya yang berbinar


" Kalau lo se happy itu gue bisa apa....."


Kekeh Haekal pelan, tersenyum sendu menatap Arka