What If [BL]

What If [BL]
19



Arka membuka matanya perlahan, ia bisa merasakan bau obat-obatan, dan ia sadar ia sedang di rumah sakit.


Apa sudah berakhir…..?


Cicit Arka dalam hati berusaha mengumpulkan kesadarannya. Setelah beberapa kali helaan nafas, Arka mendudukkan dirinya, walaupun sedikit bingung tidak ada gips ataupun perban di tubuh maupun kepalanya.


Apa gue koma bertahun tahun ya?


Cicit Arka lagi dalam hatinya, ia pun hendak mencari ponselnya, tapi ia terkejut melihat Haekal yang tengah tertidur di samping ranjangnya.


“ Hae-HaeKal!?”


Tanya Arka panik… karena pergerakan dan suara Arka, Haekal tersentak.


“ Lo udah sadar Arka?”


“ Lo…Lo kok ada di sini?” Tanya Arka panik dan takut bahkan ia sedikit menggeser tubuhnya.


“ Iya soalnya bunda lo kan mesti buka toko, sedangkan ayah lo ngantor…. Makanya gue yang jaga”


Arka menelan air ludahnya kasar, ia pikir ia sudah kembali ke waktu yang sebenarnya, tapi ternyata Arka masih terjebak di pengulangan waktu ini.


“ Se… Sekarang tanggal berapa?” Tanya Arka takut takut


“ 4 Juli… lo pingsan 2 hari Arka…..”


Arka meronggoh bajunya, berusaha mencari ponselnya, Haekal yang mengerti memberikan ponselnya pada Arka.


“ Gue kemarin mau bawain hp lo, tapi kayanya itu hp lo lempar terus pecah…lo mau liat apa?”


Arka dengan cepat merebut ponsel Haekal, melihat tanggal hari ini dan Haekal benar, kemudian tentang ponselnya, yang artinya Arka masih terjebak. Air mata Arka kembali mengalir. Ia pun menangis sejadi jadinya, memukul-mukul kuat dadanya karena jujur Arka ingin mati saat ini, ia tidak akan sanggup lagi jika harus menemukan mayat Haekal.


“ Ka! lo kenapa? Arka!” Haekal menahan tangan Arka dan Arka semakin memberontak menggelengkan kepalanya ribut.


Haekal yang kehilangan akal membawa pria itu ke dekapannya. Haekal hanya diam tidak mengatakan apa apa, saat Arka memberontak mencoba melepaskan diri dari Haekal, tapi Haekal semakin menguatkan pelukannya.


Perlahan Arka bisa mendengarkan deru nafas Haekal, bisa merasakan debaran jantung Haekal. Arka terdiam, ia pun berhenti memberontak, tangisannya tadi yang berteriak dan penuh emosi kini lebih tenang. Arka menangis terisak, memeluk Haekal lebih kuat. Sungguh Arka saat ini tidak sanggup lagi, Arka tidak bisa lagi menunggu kematian Haekal.Setelah Arka mulai tenang, Haekal menghela nafas lega, mengelus pelan punggung Arka dan membiarkan pria itu menangis sejadi jadinya.


\~\~\~\~\~\~\~\~


Arka tersenyum tipis, menerima satu gelas air yang Haekal berikan dan menenggaknya. Sedangkan Haekal masih menatap temannya itu khawatir, pasalnya Arka menangis hampir satu jam lamanya


“ Arka…”


“ Hhmm?”


“ Jujur sama gue.. Lo kenapa? Lo lagi ada masalah kan?”


Arka terdiam, menundukkan kepalanya memainkan jari jarinya kaku.


“ Dokter bilang, lo kaya gitu karna panik dan trauma… lo kenapa ? Kemarin-kemarin lo baik baik aja…. “


Arka tersenyum tipis dan menggeleng pelan


“ Gue baik baik aja kok….”


“ Ka gue ngga bodoh… lo mau bunuh diri… lo teriak kepanikan kaya gitu… lo sampe demam tinggi … jujur sama gue… kenapa?”


Arka menggelengkan kepalanya membuang pandangannya


Arka terdiam, menelan air ludahnya kasar, semakin memalingkan pandangannya enggan menatap Haekal


“ Bener kan…kenapa? Gue kenapa? Kenapa lo ngingauin nama gue sambil nangis? Lo dapet mimpi apa? Gue ngapain lo disana? Arka.. jangan disimpan sendiri… gue bakal denger cerita lo”


Air mata Arka kembali mengalir, menundukkan kepalanya sambil menggelengkan kepalanya dan isak tangisnya kembali terdengar.


“ Apa yang bikin lo takut Ka… Gue disini… gue bakal bantu lo… jangan di simpen sendiri kaya gitu…. Geu temen lo  Ka”


Arka mengadahkan kepalanya menelan air ludahnya kasar, mengusap beberapa kali matanya.


“ Ngga papa… gue emang harus nanggung ini sendiri” Ucap Arka


“ Ngga! Lo nyebut nama gue selama lo tidur… berarti gue juga terlibat”


“ Gue ngga mau nyeret lo Kal..”


Haekal menghela nafasnya panjang, mengigit bibirnya kaku menatap Arka kesal.


“ Denger… gue… sayang ... ngga... gue cinta sama lo, bukan sebagai sahabat, tapi lo, gue cinta sama lo."


Arka terdiam ia tidak akan menyangka Haekal akan mengutarakannya duluan


“ Gue benar benar sayang dan cinta sama lo, sebut gue gay, gue hina, gue sampah, gue pendosa, gue ngga peduli! Gue ngga tau lo dapet mimpi apa, kenapa lo nangis kaya gitu, meluk gue sampe segitunya. Gue sakit hati ngeliat nya Ka, ngeliat orang yang gue sayang nangis gara gara gue, teriak panik kaya gitu karna gue, bahkan lo sampe mau ngakhirin hidup lo karna gue"


Arka menelan air ludahnya kasar, menggelengkan kepalanya pelan, air matanya pun kembali mengalir dengan deras.


" Lo ngga bisa bohong Ka, mata lo ngga bisa bohong, karna gue kan? bener kan? "


Arka terkekeh pelan, menangis terisak sambil menundukkan kepalanya. Haekal benar, semua ini karena dirinya, Arka yang menangis, Arka yang hampir gila, semua itu karena Haekal. Lalu, jika Haekal tidak sanggup melihat dirinya menangis seperti itu. Melihat Haekal yang mengkhawatirkannya, Arka semakin merasa bersalah. Arka juga tidak sanggup, Haekal yang menderita karena dirinya, ia tidak sanggup jika Haekal menangis dan merasa bersalah, saat tau apa yang membuat dirinya seperti itu. Semua ini sudah seperti benang kusut, saling bertikar dan saling menyakiti, layaknya pisau bermata dua, apapun yang Arka lakukan akan menyakiti Haekal, begitu juga dengan Haekal.


“ Gue… hiks...cinta juga sama lo Kal…hiks.. gue sayang sama lo... hisk...tapi... karna itu...gue ...ngebunuh lo Kal...hiks... gue nyakitn lo kal....hiks.." Tangis Arka menjadi jadi, ia tidak tau lagi bagaimana menjelaskannya.


"Ka...."  Panggil Haekal pelan, mengelus pelan pundak Arka sambil menggelengkan kepalanya


" Hiks...bunuh gue Kal..hiks.. bunuh gue... gue ngga mau lagi liat lo menderita... gue ngga mau lo mati karna gue... gue ngga sanggup kal...hiks... hiks.."  Tangisnya


" Terus lo pikir, gue sanggup ngeliat lo mati... gue sanggup ngeliat lo mati karna gue... menderita karna gue? Gue rela gitu ? Ka... sama kaya lo... gue juga ngga mau lo menderita...."


" Tapi.... gue....hiks... gue harus gimana Kal..." Tangis Arka memeluk Haekal, melepaskan rasa takut dan bersalahnya.


" Andai waktu itu gue ngga ngebentak lo, ngga bilang gue benci sama lo, ngge ngehakimi lo, ngga mukul lo, ngga nyuruh lo mati, ini ngga bakal terjadi...hiks... maafin gue Kal...hiks... Maafin gue... gue salah Kal...hiks... Gue salah ngga denger penjelasan lo dulu... hiks... gue salah ngehakimi lo gitu aja... hiks...gue...gue.... gue salah karna cinta sama lo Kal..."  Tangis Arka semakin membawa Haekal dalam pelukannya.


Arka kehilangan akal, apakah semua ini hanya karena dia yang tidak sempat meminta maaf pada Haekal? Apakah ini hanya keingan batinnya mendengar Haekal yang memaafkannya? Karena itu ia kembali dibawa ke sama lalu hanya untuk meminta maaf pada Haekal?


" Hiks...Maafin gue Kal... Maafin gue... gue minta maaf Kal... hiks"


" Ka... lo ngga sa-"


" Maafin gue... Gue salah... Gue nyesel Kal... Gue nyesel... hisk... maafin gue Kal... Maafin gue"  Arka memotong ucapan Haekal


Haekal terdiam, ai tidak menyangka Arka kembali menangis seperti itu, terlebih lagi ia yang terus meminta maaf. Haekal tidak tau apa yang terjadi, apa yang sebenarnya Arka mimpikan, tapi, melihat bagaimana Arka menangis frustasi dan ketakutan seperti itu, sepertinya sesuatu yang besar terjadi, dan Arka melakukan kasalahan yang besar padanya.


" Eung.... Gue  maafin lo Ka..."


Ucap Haekal menenangkan Arka sambil mengelus pelan kepalanya.