![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
Arka menghela nafasnya kesal, memalingkan pandangannya dan mengangkat piringnya kala Haekal ikut duduk di meja makan.
" Loh kemana Arka?" Tanya Clara heran pasalnya Arka tidak pernah membawa piringnya seperti itu.
" Mau makan sambil nonton" Ucapnya malas dan berjalan ke ruang tengah, sedangkan Haekal hanya bisa menghela nafas pasrah.
Sudah satu minggu sejak kejadian itu, Arka benar benar mendiamkan Haekal. Bahkan di sekolah, Arka meminta untuk ganti tempat duduk dengan alasan ia yang tidak bisa melihat papan tulis dengan jelas. Arka benar benar menganggap Haekal tidak ada.
"Gue sehina itu ya...."
Cicit Haekal sendu, menatap Arka dari meja makan.
" Kamu ngga ikut kesana? Biasanya nonton bareng tuh"
" Ngga bund disini aja nanti kotor...."
" Lagi berantem sama Arka? Bunda liat kalian belakangan ini saling diam" Haekal hanya tersenyum sendu dan menggeleng pelan.
" Oiya bund... minggu depan kan libur semester, Haekal mau ke tempat sepupu Haekal ya... soalnya dia nanyain terus karna papa mama cerai, Haekal ngga enak, jadi Haekal kayanya tinggal disana"
" Oh.. iya ngga papa, sepupu yang mana? Setau bunda katanya dulu ayah bunda kamu anak tunggal"
Haekal mengigit bibirnya kuat, ia lupa kalau ayah dan ibunya itu anak tunggal. Haekal sebenarnya tadi hanya berasalan untuk keluar dari rumah ini, ia tidak ingin membuat Arka tidak nyaman, karena itu Haekal memilih pergi, karena pada dasarnya ini memang bukanlah rumahnya.
" Ada kenalan ayah sebenarnya bund, cuma udah kaya keluarga jadi udah Haekal anggap sepupu..."
" Ohh... yaudah... nanti kalau kenapa napa kabarin bunda ya " Haekal mengangguk pelan dan melanjutkan makan malamnya.
\~\~\~\~\~\~
Arka dengan kesal membereskan meja belajarnya, karena Haekal yang akan pergi, ia dipaksa oleh ibunya untuk membantu Haekal beres-beres. Sebenarnya Arka tidak ingin membantu, bahkan Haekal sendiri sudah mengatakan untuk tidak perlu dibantu, tapi karena ibunya itu yang selalu mengomel, Arka terpaksa melakukannya.
Kala Arka memasukkan buku-buku dan barang Haekal lainnya, ia tidak sengaja menyenggol sebuah box. Arka pun dengan kesal mengemasi dan membereskan box itu. Ia sedikit terkejut pasalnya di dalam box itu ada beberapa obat dan sebuah buku bertulisan Rapport Konseling Barra Keenan Haekal
Arka membuka buku itu, ternyata itu adalah laporan selama Haekal melakukan konseling dan konsul dengan psikolog. Disitu juga dituliskan nama psikolog dan psikiater yang menangani Haekal dan berapa kali Haekal melakukan konsul serta tanggalnya.Kemudian Arka juga melihat, di buku itu, bagian halaman depannya, ada sebuah kolom yang meminta pasien untuk menuliskan harapan dan tujuan ia untuk melakukan konseling. Dan jujur Arka sakit hati melihatnya.
[Aku ingin sembuh....Aku ingin kembali normal....Karena dia sahabatku....Dan aku tidak ingin mengecewakannya ... dengan begitu dia tidak akan membenci ku... Karna hanya dia, satu-satunya orang yang kupunya saat ini.]
Begitulah tulis Haekal. Arka juga melihat tanggal pertama kali Haekal melakukan konseling dan itu jauh sebelum kejadian ini.
\~\~\~\~\~\~
Arka terbangun dalam tidurnya ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Arka bisa melihat Haekal yang keluar kamar, kemudian kembali dengan segelas air. Haekal mengambil kotak yang tadi sempat terjatuh oleh Arka kemudian, mengeluarkan obat yang jumlahnya cukup banyak. Karena hal ini, Haekal mengalami banyak gangguan, sakit kepala yang berlebihan, kecemasan, susah tidur, emosi bergejolak dan tidak stabil, kehilangan nafsu dan gairah, serta sering menangis. Semua gejala ini muncul semenjak ia bertengkar dengan Arka.
Arka masih memperhatikan Haekal, menggigit bibirnya kaku kala melihat Haekal menenggak semua obat itu sambil mengatur nafasnya. Kemudian Haekal mengambil pulpen dan mengeluarkan buku konsul itu, menulis perkembangannya hari ini.Haekal sudah melakukan ini semenjak pertama kali ia melakukan konsul dan Haekal selalu melakukannya tengah malam, tujuannya agar Arka tidak mengetahui hal itu.
Arka kembali menatap Haekal yang masih menulis. Tangan kanannya sibuk menulis, sedangkan tangan kirinya, terus mengusap pelan kedua matanya, agar air matanya tidak membasahi buku itu . Melihat hal itu, Arka jadi teringat dengan buku kecil yang menjadi akar bencana hubungan mereka.Dan entah kenapa, Arka merasa buku kecil itu sama fungsinya dengan buku konsul yang tengah ia isi saat ini.
Dalam buku itu Haekal meluapkan emosinya, mengeluarkan semua perasaannya yang tertahan. Di buku kecil itu, Haekal bercerita tentang apa yang ia rasakan, mengutarakan apa yang ia pikirkan karena tidak bisa ia sampaikan pada orang lain.
Buku itu.. Adalah perasaan Haekal.
Arka menelan ludahnya kasar, membalikkan badannya memunggi Haekal. Berusaha menetralkan deru nafasnya, menutup matanya dan membiarkan air matanya mengalir. Karena membayangkan Haekal yang juga menangis, sambil menuliskan semua perasaannya pada buku kecil itu, kemudian Arka yang melempar dan merobek buku itu. Membuat Arka ingin menangis dan dadanya sesak karenanya.
\~\~\~\~\~
Hari ini adalah tahun ajaran baru dan ia resmi menjadi siswa kelas tiga. Selama libur semester, Arka tidak pernah menghubungi atau pun menemui Haekal, dan Haekal pun melakukan hal yang sama. Hanya saja Arka diam diam terkadang memperhatikan anak itu dari jauh. Arka tau, Haekal berbohong soal sepupunya padahal ia kembali kerumah, kemudian Arka juga memperhatikan Haekal yang keluar masuk rumah sakit dan Arka yakin Haekal saat itu tengah melakukan konsul ke psikiaternya.
Setelah memperhatikan Haekal selama itu. Arka mengakui kesalahannya, tidak seharusnya ia membenci Haekal seperti itu, terlebih lagi, Haekal ingin berubah karena dirinya.Bagaimanapun, selama ini Haekal sudah berjasa dalam hidupnya, tanpa Haekal, ia tidak akan bisa tertawa seperti sekarang, bersekolah dengan normal, bahkan mungkin singga saat ini ia masih menangis karena traumanya dan hubungannya dengan paman dan bibinya masih buruk. Haekal membantu dirinya bangkit dari masa kelamnya, dan seharusnya Arka juga melakukan hal yang sama.
Arka akui saat itu ia hanya terpancing emosi karena hubungannya dengan Ara. Karena itu hari ini Arka ingin meminta maaf, dan mencoba untuk menjalin kembali hubungan mereka. Mencoba menerima Haekal, dan membantu Haekal untuk kembali bangkit. Hanya saja saat ia masuk ke dalam kelas. Ia benar benar tidak percaya apa yang ia lihat.
Di papan tulis, tertulis dengan sangat besar tulisan -BARRA KEENAN HAEKAL GAY- ditambah dengan kata-kata yang sangat tidak sopan dan menghina Haekal. Arka menatap seisi kelas, menemukan Haekal yang tengah menundukkan kepalanya di meja, membiarkan tubuhnya dilempar dengan sampah dan kursinya yang ditendang oleh anak kelas.Ketika Arka ingin menghampiri Haekal, tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang, dan itu adalah Ara.
" Arka.. maafin gue... waktu itu gue salah paham... maafin gue" Ucapnya sambil terisak dan memeluk Arka
Arka yang tidak siap hanya bisa melongo dan mengelus pelan punggungnya.
" Maafin gue... lo masih mau kan jadi pacar gue?"
Arka tersenyum tipis dan mengangguk pelan untuk menenangkan gadis itu.
" Udah lo ngga sudah temenan lagi sama dia, dia yang bikin hancur hubungan kita"
" Huh?"
" Buku itu punya dia... gue ngga nyangka dia sahabatan lama sama lo ternyata dia gitu"
" Hah? Lo tau dari mana?"
" Di forum sekolah heboh Arka.."
Arka dengan tergesa mengambil ponselnya, memeriksa forum sekolah dan ternyata benar. Nama Haekal memenuhi homepage forum sekolah karena postingan salah satu siswa anonymous yang memposting buku kecil itu, kemudian buku konsul Haekal.
Arka menelan ludahnya kasar, dugaan Arka, hanya Arka yang tau tentang hal ini. Lalu siapa orang yang mengirim postingan ini, terlebih lagi ia bisa memfoto buku konsul milik Haekal beserta isi-isinya.
"Kalau kaya gini....Gimana gue minta maafnya..."
Cicit Arka dalam hati, menatap Haekal sendu. Karena saat ini Arka yakin Haekal pasti mengira Arka lah yang memposting itu semua.