![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
Arka menghela nafasnya panjang, menatap tumpukan undangan yang begitu banyak.
“ Apa kita perlu mengundang sebanyak ini?” Tanya Arka sambil mengambil cetakan undangan pernikahan yang bertuliskan Albyarka Barra Putra & Keenandra Abriella
Arka tersenyum tipis membaca kedua nama iti di kartu undangan, awalnya Arka tidak tau nama panjang calon istrinya itu, begitu juga sebaliknya, namun seiring berjalannya waktu dan mereka dekat. Merka berdua pun tau, dan kedua nama mereka, ini adalah wasiat yang ditinggalkan oleh masing masing ayah mereka. Arka benar benar yakin, memang Keenanlah jodohnya, karena itu Arka memutuskan untuk menikahinya
“ Sayaang.. Aku tidak mungkin tidak mengundang mereka, mereka semua teman dan kenalan ku….” Ucap Keenan sambil merajuk pada calon suaminya itu.
“ Yaah… aku bersyukur setidaknya, temanku tidak ada di kota ini jadi aku mengundang mereka hanya formalitas…ah benar juga, apa paket ku sudah sampai?” Tanya Arka
“ Eung.. itu di atas meja… dari Ibu mu ya?” Ucap Keenan berdiri dari duduknya yang sedari tadi memberikan stempel di undangan pernikahan mereka, mengikuti langkah kaki Arka menuju ruang tengah.
“ Iya.. ini hanya barang barang masa kecil ku… dan beberapa peninggalan ayahku untuk ku…” Ucapnya sambil membuka satu box yang cukup besar.
“ Hhhmmm….. “ Ucap Keenan merebahkan kepalanya pada pundak Arka ikut menatap isi box itu yang penuh dengan buku dan benda benda kecil lainnya.
“ Ah sudah jam makan malam, kamu mau aku masakin apa?” Tanyanya
“ Apa aja, yang penting masakan kamu” Ucap Arka sambil mengecup pelan kening Keenan.
“ Tck… gombal… sup jagung aja mau ngga?” Tawar Keenan.
“ Boleh…. “ Arka mengangguk karena itu makanan favoritnya dan Keenan dan kebetulan juga Ayah mereka juga menyukai makanan itu.
Arka mulai menggeledah box itu, tidak ada hal yang spesial, selain buku catatan ayahnya saat berkuliah yang selalu Arka gunakan menjadi pedomaannya dalam belajar, kemudian, ia melihat sebuah figura foto yang tertelungkup, disana juga ada notes yang dituliskan oleh ibunya.
*Ayahmu berpesan untuk menjaga foto ini… *
Arka tersenyum tipis, membalik figura foto itu.
“ Ah… ini foto kelulusan ayah di SMA….” Ucap Arka menatap Ayahnya yang tengah merangkul pemuda lainnya, mereka tampak bahagia sambil mengangkat ijazah sekolahnya
Arka masih ingat, saat ibunya bercerita bahwa Ayahnya itu hampir tidak memiliki teman dekat, tapi orang yang difoto itu, sangat berarti bagi ayahnya. Karena itu Ayahnya selalu menjaga foto itu dan setelah kematian Ayahnya, Ibunya memajang foto itu di ruang keluarga mereka.
Arka menatap cukup lama pria yang tengah dirangkul oleh ayahnya itu, dan baru sadar name tag yang ada di seragam sekolahnya.
“ Sayaaang kesini bentar deh…” Teriak Arka.
“ Yaa?” Teriak Keenan dari dapur dan berjalan menghampiri Arka.
“ Nama ayahmu, Mahendra Abbyarka kan?” Tanya Arka dan Keenan mengangguk pelan.
“ Ini ayah mu?” Tanya Arka sambil menunjukkan foto itu pada Keenan.
Keenan menutup mulutnya, dan menganggukkan kepalanya.
“ Waah… aku tidak menyangka mereka berteman, tapi kenapa Ibu kita tidak pernah membahasnya? Apa mereka tidak pernah bertemu lagi setelah SMA?” Tanya Keenan dan Arka mendelik bahunya pelan.
“ Entah lah.. Tapi sepertinya dulu mereka dekat, karena ayahku selalu menjaga foto ini…” Ucap Arka dan mengelus pelan foto itu.
“ Sayang kamu kenapa?!” Tanya Keenan panik pasalnya Arka tiba tiba memicingkan matanya dan terlihat menahan sakit.
Arka menganggukkan kepalanya pelan, menaruh pelan figura itu diatas meja, dan menutup telinganya sambil memijatnya pelan, pasalnya tiba tiba saja telinganya berdengung dan muncul potongan memori yang tidak ia kenali memenuhi kepalanya yang membuat kepalanya ingin pecah
“ Sayang… Kau benar tidak apa apa?” Tanya Keenan semakin panik karena calon suaminya itu benar benar kesakitan
Arka mengatur nafasnya, bernafas dengan pelan dan perlahan dengungan itu menghilang, begitu juga dengan rasa sakit di kepalanya.
“ Sayang jangan membuat ku takut…” Ucap nya ketika melihat Arka yang mulai membuka matanya.
“ Maaf sepertinya aku kelelahan….aku baik baik saja…” Ucap Arka tersenyum tipis, tapi Keenan malah menatapnya semakin khawatir.
“ Sayang kamu kenapa….huaa.. Jangan bikin aku takut…apa sesakit itu?” Ucapnya sambil memeluk Arka.
“ Huh?” Tanya Arka bingung karena ia sudah baik baik saja sekarang.
“ Jangan berbohong, katakan jika sakit, kau bahkan sampai menangis….” Ucap Keenan sambil memeluk Arka dengan kuat
Arka dengan cepat mengusap pipinya ternyata benar air matanya mengalir. Arka tidak mengerti apa yang terjadi padanya, potongan memori tadi benar benar menakutkan, bahkan saat mengingatnya Arka sedikit merinding. Hanya saja Arka merasakan emosi yang bercampur aduk, ia takut, tapi ada perasaan tenang dan bersyukur dari dalam dirinya. Seolah penantiannya yang begitu lama akhirnya terbalaskan.
Arka membawa Keenan semakin mendekat ke dalam pelukannya. Ia tidak atau apa yang terjadi, bahkan pertemuannya pertama kali dengan gadis itu, seolah direncanakan, seolah memang mereka ditakdirkan untuk bersama. Arka kembali melirik foto ayahnya, Arka tidak mengerti dengan dirinya,melihat ayahnya yang tersenyum dengan Ayah Keenan, membuatnya semakin sedih, membuat air matanya semakin mengalir, tapi jauh dalam hatinya ia merasa bahagia, merasa bersyukur karena dipertemukan dengan Keenan, seolah hatinya mengatakan
Kalian berhasil untuk bersatu kembali.
Kenaan hanya bisa memeluk Arka dengan kuat sambil mengelus punggungnya lembut. Keenan tidak tau apa yang membuat Arka menangis dan mulai terisak seperti itu, tapi tangisan Arka seperti tangisan kebahagian, seolah ia benar benar bahagia dan bersyukur karena bisa memeluk dirinya saat ini. Keenan melirik foto Ayahnya yang tengah dirangkul oleh Ayah Arka. Keenan tidak mengerti, melihat mereka yang tersenyum, entah kenapa ia merasa rindu, seolah Keenan merasakan betapa bahagianya Ayahnya saat itu dan ingin kembali merasakan hari itu.
“ Nenek Awas!” Teriak Keenan kala melihat Nenek yang berjalan dan hampir terserempet motor yang tengah melaju. Beruntung nenek itu tidak jadi diserempet, tapi karena ia terkejut karena motor yang melintas, Nenek itu terjatuh.
“ Ck.. Akh!” Kesal Keenan pasalnya saat ia berlari, ia tersandung dan ikut terjatuh, tapi beruntung ia bisa menahan tubuhnya sehingga hanya lutut dan telapak tangannya yang mencium tanah
“ Nenek baik baik aja? Sini aku bantu…” Ucap Keenan membantu Nenek itu berdiri dan membawanya duduk di kursi yang tidak jauh dari sana.
“ Makasih nak.. Ya Ampun kamu tadi jatuh ya? Kamu ngga papa?” Tanya Nenek itu melihat lutut Keenan yang berdarah
“ Ngga papa nek lulut aku aja kok yang kena” Ucapnya tersenyum pelan
“ Kenaaaan… kamu itu….” Ucap Arka berlari ke arah Keenan dan menghela nafasnya sedikit jengah.
“ Heheh… aku baik baik aja sayang… tenang aja, lutut aku aja kok yang kenak… perutku aman…” Ucapnya sambil mengelus pelan perutnya.
“ Suamimu sangat menjagamu ya…..” Ucap Nenek itu tersenyum tipis menatap Arka dan Keenan lembut.
“ Habisnya dia ceroboh, gimana aku nggak ngejagain gini… kan kalau bayinya kenapa napa, kasian dianya juga, ia kan Nek?” Ucap Arka meminta pembelaan.
“ Iyain aja nek, ribet mah dia kalau ngomel nanti, padahal kaki aku kegores gini doang, dia bisa ngomelin aku satu jam… mana lebay banget, seolah kaki aku kaya luka bernanah” Protes Keenan memberikan tatapan mengejek pada suaminya dan Arka hanya memutar matanya malas.
“ Hahahaha pasangan muda sekarang ada ada saja ya… kandunganmu umurnya sudah berapa? “ Tanya nenek sambil mengelus pelan perut Keenan.
“ Baru 5 bulan Nek… tapi kembar.. Makanya gede gini…” Senyumnya
“ hooo….kelaminnya sudah tau?” Tanya nenek itu dan Keenan mengangguk
“ Cowok nek dua duanya”
“ Lucunyaa…. Ayahnya dapat temen main ya… udah dikasih nama?” Tanya nenek itu lagi dan Keenan menggelengkan kepalanya.
“ Belum Nek, nenek mau ngasih nama? Ngga papa kan sayang?” Tanya Keenan melemparkan pandangannya pada suaminya dan Arka mengangguk pelan.
“ Haekal dan Mahen, kalian mungkin bisa menambahkan nama yang lain supaya terdengar kembar”
“ Oh… boleh tuh Yang, mirip sama nama kakeknya “ Ucap Arka menyadari nama yang disarankan oleh Nenek itu mirip dengan nama kedua Ayah mereka.
“ Hehe…bilang makasih sama Nenek ya nak… Haekal dan Mahen jadi anak yang baik ya nanti…” Ucap Keenan sambil mengelus pelan perutnya.
“ Semoga kesehatan dan kebaikan selalu bersama kalian ya, semoga kalian diberkati…” Ucap Nenek itu sambil mengelus pelan perut Keenan.
“ Sayang… “ Arka menunjuk jam tangannya, pertanda mereka harus segera pergi.
“ Kalau begitu kami permisi ya Nek, nenek hati hati ya…” Ucap Keenan membungkuk sopan.
“ Kamu juga hati hati ya, jangan jatuh lagi, kasian suami kamu..” Ucap Nenek itu mengelus pelan kepala Keenan dan Keenan mengangguk pelan
“ Udah? Yok..” Ucap Arka sambil berjongkok dan menyuruh Keenan untuk naik ke punggungnya.
“ Kalian dari dulu tidak berubah ya…” Ucap nenek itu tersenyum gemas, melihat Keenan dan Arka bergantian.
“ Huh?” Tanya Arka bingung dan Nenek itu menggelengkan kepalanya.
“ Kami permisi ya Nek…” Ucap Arka membungkuk setelah menggendong Keenan dan nenek itu mengangguk sambil melambaikan tangannya.
*Akhirnya kalian kembali bersama dan hidup bahagia*
*Jika takdir sudah dituliskan, bagaimana pun cara mengubahnya*
\*Pada akhirnya akan kembali sebagaimana mestinya \*
Ucap nenek itu dalam hati, tersenyum tipis melihat Arka yang berjalan perlahan menggendong Keenan, dan Keenan yang tersenyum cerah, sambil mengelus pelan kepala suaminya itu, memberikan semangat. Dan perlahan menampakkan siluet dua pria kecil yang saling tertawa bersama bergandengan tangan.
\- End-