What If [BL]

What If [BL]
28



Haekal menatap lurus atap sekolah, tempat ini di dalam mimpinya, tempat dimana seharusnya ia menjatuhkan diri. Haekal menatap jalan yang ia pijak, menutup matanya, entah kenapa rasanya benar benar nyata, adrenalin saat ia menjatuhkan dirinya, kemudian bagaimana kerasnya tubuhnya menghantam tanah dan perlahan kesadarannya hilang. Semua itu rasanya nyata. Haekal hanya memimpikan mimpi itu sekali, tapi entah kenapa mimpi itu tidak pernah hilang dalam memorinya, bahkan masih membekas dengan jelas. Setiap hari ia selalu dihantui apakah ia benar benar akan menjatuhkan dirinya di sini. Tapi sekarang semua sudah berakhir, ini hari kelulusannya dan ini hari terakhirnya di sekolah, entah itu hanya sekedar mimpi atau sebuah pertanda, tapi entah kenapa hari ini Haekal merasa memang semuanya sudah berakhir.


“ Kal..”


Haekal tersentak, tersadar dari lamunannya. Ia pun tersenyum tipis ketika melihat Arka.


“ Ngapain lo disini?” Tanya Arka heran pasalnya Keenan berdiri mendekat ke tembok gedung, dan menurut Arka tidak ada hal yang menarik untuk ditatap disana.


“ Hehe ngga ada… dulu gue pernah mimpi, gue jatuhin diri gue disini… tapi ya itu cuma mimpi, buktinya gue masih hidup “ Senyumnya. Arka terdiam, menghela nafasnya panjang.


“ Kenapa Ka?”


“ Gu-gue juga pernah dapat mimpi itu…” Ucap Arka pelan.


“ Sumpah?!” Tanya Haekal kaget dan Arka mengangguk


“ Karna itu gue jauhin lo, gue pikir gue yang  dorong lo, atau mungkin gue yang bikin lo jatuh dari sana”


“ Pfft HAHAHAHAHA” Haekal tertawa terbahak bahak sedangkan Arka hanya menatap temannya itu heran


“ Astaga Ka… lo kayak bocah dah, percaya mimpi gituan… tapi kenapa kita dapat mimpi samaan ya?” Ucapnya merangkul Arka dan berjalan menjauh dari sana.


“ Entah, pertanda kalo lo berbahaya, buktinya lo ngebuly gue teru-Akh! Sakit anjg!” Kesal Arka pasalnya Haekal mencekiknya dengan rangkulannya.


“ Eh… bentar deh….” Haekal menghentikan langkahnya dan menatap sekitar, kemudian menarik seorang siswa yang tengah berjalan.


“ Dek, boleh minta tolong fotoin gue ngga?” Tanyanya dan siswa itu mengangguk.


Haekal pun menarik tangan Arka, kembali menuju gedung tempat dimana Haekal bermimpi ia mati.


“ Di sini kak? Tapi belakangnya tembok doang, ngga mau di depan gerbang aja?” Tanya adik kelas itu dan Haekal mengangguk pelan.


“ Eung.. disini.. Soalnya gara-gara gedung ini, gue temenan sama dia” Ucapnya merangkul Arka, Arka masih bingung dengan ucapan Haekal barusan, tapi kemudian ia sadar dan terkekeh pelan.


“ Yaudah deh, aku foto ya …. satu … dua…. Ti- bentar, Kak Arka jangan senyum tipis doang, abisnya kak Keenan ngerangkul kakak terus senyumnya lebar banget, kakak kaya lagi ditindas.”  Jelasnya.


“ Emang!” Ucap Arka dan Haekal menatap Arka kesal, dan setelah itu Arka tersenyum lebih lebar.


“ Nah Oke, sambil angkat ijazahnya ya kak… satu…duaa…tiga”


Ckrek 


...----------------...


Arka dan Haekal berjalan menyusuri lorong sekolah, tidak ada hal yang spesial, mereka hanya ingin melepas rindu pasalnya setelah ini, mereka tidak bisa lagi melihat lorong sekolah ini.


“ Lo abis ini mau ngapain ka?” Tanya Haekal.


“ Hm… ngga tau, gue masih mau nyoba tes mandiri, tapi kalo ngga lulus juga, mungkin gue ngambil les dulu, sambil bantuin bunda jaga toko, nyari part time juga mungkin….lo jadinya ngambil kampus yang di luar kota ya? Berangkat besok?” Balas Arka


“ Eung… gue pengen nyari suasana baru sih, disitu gue ngga kenal siapa siapa, orang pun ngga kenal gue, jadi gue bisa lebih jujur dan jadi diri gue sendiri mungkin. Gue buru buru pindah karena gue ngga tau apa apa disana, jadi gue mesti pergi lebih awal, buat nyari kosan deket kampus, belum nyiapin keperluan lain. Aga sayang sih sebenernya, padahal kita baru dekat ngga nyampe setahun bahkan, tapi udah pisah….” Ucap Haekal sedikit kecewa.


“ Eung…gue pikir setelah lulus, lo masih disini dulu beberapa hari atau bulan, taunya langsung berangkat ya? Yaah.. kalau gue sih seneng ya, karna seenggaknya jiwa gue bisa tenang, ngga perlu lo usilin lagi” kekehnya menatap Haekal mengejek


Haekal ikut terkekeh dan tersenyum tipis, kemudian ia memegang kedua pundak Arka, menundukkan tubuh pria itu hingga ia berjongkok.


“ Woi ngapain!” Kesal Arka pasalnya Haekal yang langsung naik ke punggungnya.


“ Ka, ayolah, ini terakhir kali lo ngegendong gue! Jangan pelit napa!” Ucapnya memeluk Arka dengan kuat takut Arka melepasnya.


“ Lo ngga malu apa udah gede!” Sindir Arka,menegakkan tubuhnya dan sedikit memperbaiki posisi Haekal.


“ Ngga, seru tau digendong, lo ngga perlu capek jalan, terus lo kaya terbang gitu.. Coba sambil bawa gue lari deh Ka, lebih seru”  Ucapnya semangat


“ Iya, pinter lo ngomong gitu! Gue yang capek!” Kekeh Arka dan melangkahkan kakinya, menggendong Haekal di punggungnya.


Setelah itu mereka pun berjalan ke parkiran sambil bercanda gurau, Arka pun masih setia menggendong Haekal di punggungnya tanpa merasa terusik sedikit pun.


“ Ka ka ka…. Itu ada nenek nenek yang jatuh…” Haekal menepuk pelan pundak Arka kala mereka hampir sampai di parkiran dan tidak sengaja melihat nenek nenek yang jatuh.


“ Eh! Nanti aja gue turun disana.. Cepet!” Tahan Haekal lagi kala Arka ingin menurunkan tubuhnya dan Arka hanya bisa menghela nafasnya panjang dan sedikit berlari dengan Haekal yang masih di gendongannya.


“ Makasih ya anak muda…” Ucap Nenek itu membungkuk


“ Nenek ngapain disini?” Tanya Haekal lagi bingung pasalnya ini pekarangan sekolah.


“ Hari ini cucu nenek lulus dari sekolah, Nenek mau liat tapi sayangnya dia udah pergi…” Jelas nenek itu.


“ Yaah.. sayang banget… yaudah ini nenek mau ke gerbang ya? Kita bantu ya” Ucap Arka memapah nenek itu hingga sampai ke gerbang sekolah.


“ Makasih ya nak, ini buat kalian….” Ucap nenek itu memberikan sebuah paper bag pada Arka ketika sudah sampai di gerbang


“ Eh, ngga usah nek, ini kan buat cucu nenek” Ucapnya menolak


“ Ngga papa buat kalian aja, dia udah pergi sama papa mamanya ke luar kota, nenek juga ngga bisa kasih ke dia lagi, padahal nenek udah bikin capek capek…” Ucap Nenek itu sendu.


“ Udah Ka.. ambil aja kasian… mau lo terima itu atau ngga bisa nanti, yang penting ambil aja dulu” Bisik Haekal


“ Yaudah deh, makasih ya nek.. Nenek hati hati ya… “ Arka mengambil pemberian nenek itu sambil membungkuk sopan.


“ Sama sama, kalian anak yang baik, semoga kebaikan selalu bersama kalian ya…” Ucap nenek itu mengelus pelan lengan Arka dan Haekal bergantian.


“ Terimakasih Nek… kalau gitu kami permisi ya Nek… “ Pamit Haekal sopan dan Nenek itu mengangguk pelan.


“ Tck! Haekal!” Kesal Arka pasalnya Haekal kembali mendorong tubuhnya untuk berjongkok dan naik ke punggungnya.


“ Kan tadi janji sampe ke parkiran!” Ucapnya lagi.


“ Arrghh!” Kesal Arka,tapi ia tetap menggendong Haekal dan berjalan menuju parkiran.


Nenek tua itu masih memperhatikan mereka berdua, melihat Arka yang menggendong Haekal dan mereka yang tertawa bersama.


Pada akhirnya, tidak ada yang bisa memutus takdir yang sudah ditulis olehnya.


Ucap nenek itu pelan ikut tersenyum, melihat bahagianya tawa Haekal saat digendong oleh Arka.


“Oh… isinya Syal….” Ucap Haekal setelah Arka menurunkannya di parkiran dan membuka paper bag pemberian nenek itu, menampakkan dua buah Syal berwarna merah dan biru


“ Uwah, ini bagus banget Ka, benangnya benang mahal kayanya, mana ini dirajut sendiri, pas banget lagi musim dingin.” Ucapnya lagi


“ Oh.. kalau lo mau buat lo aja…” Ucap Arka, sambil memakai jaket dan helmnya.


“ isinya dua…nih buat lo satu, pas banget ya…” Ucap Haekal sambil melempar syal berwarna biru pada Arka dan syal merah ia lilitkan ke lehernya, karena merah adalah warna kesukaannya.


Arka yang sudah malas membuka kembali jok motor dan tasnya, terpaksa melilitkan syal itu kelehernya.


“ Huaa… nyaman banget… siapa tau ini jimat, buat ngelindungin kita, soalnya nenek itu kan udah tua, biasanya di film film gitu ngga sih?” Ucap Haekal merasakan hawa hangat di lehernya saat memakai Syal itu.


“ Ngaur!” Ucap Arka memutar matanya malas dan menghidupkan motornya.


“ Ka…” Panggil Haekal setelah ia naik ke motornya, dan mengulurkan tangannya pada Arka.


“ Huh?” Tanya Arka bingung dan mengurungkan niatnya kala ingin menghidupkan motornya


“ Lo belum ngebalas tangan gue waktu itu….” Ucap Haekal sambil mendelik bahunya pelan.


“ Tck… bocah!” Ucap Arka terkekeh pelan, kemudian menjabat tangan Haekal. Haekal pun tersenyum cerah, akhirnya uluran tangannya diterima oleh Arka.


Arka menghentikan motornya di depan gerbang, menunggu Haekal yang masih mengeluarkan motornya, tak lama setelah itu Haekal pun menyusul Arka dan mengambil posisinya di sebelah kanan Arka.


“ Baik baik lo disana ya…” Ucap Arka sambil mengarahkan kepalan tangannya pada Haekal


Haekal terkekeh pelan, menatap Arka sebentar. Waktu satu tahun ini entah kenapa terasa sangat sebentar baginya, tapi ia benar benar bahagia di tahun terakhirnya dan semua itu karena hadirnya pria di depannya itu. Haekal tidak tau, apakah pertemuannya dengan Arka hanya pertemuan biasa atau Arka sengaja dikirim di satu tahun terakhirnya, untuk menghibur dan mengubah nasib serta takdinya,hati kecilnya mengatakan, ini kali terakhirnya ia bisa melihat Arka. Haekal baru saja dekat dengan Arka, dan jujur ia ingin terus berteman dengan Arka, tapi entah kenapa hati kecilnya mengatakan, bahwa pertemuan mereka berakhir disini, karena itu Haekal tidak mengharapkan ia yang akan bertemu dengan Arka lagi. Jadi biarlah semua memori yang sangat indah ini, satu tahun yang berharga ini, ia kenang sepanjang hidupnya.


“ Lo juga…” Ucapnya dan membalas kepalan tangan Arka.


“ Oke, kalau gitu gue duluan ya…dah…” Ucap Arka menurunkan kaca helmnya dan mulai menancapkan gasnya, keluar dari gerbang sekolah dan berbelok mengambil jalan ke arah  kiri.


“ Eung…” Ucap Haekal, ikut menurunkan kaca helmnya, menancapkan gasnya dan mengambil jalan ke arah kanan.