What If [BL]

What If [BL]
7



Semenjak hari itu Haekal dipaksa oleh Arka tinggal di rumahnya. Arka bahkan memindah paksa barang barang Haekal tanpa seizin Haekal saat Haekal menolak tawaran Arka. Jujur Haekal sedikit terharu dan senang karena setidaknya Arka masih peduli padanya. Hanya saja ini semakin mempersulit Haekal untuk melepas perasaannya pada Arka.Haekal masih ingat, saat Arka menceritakan darimana ia tau tentang ayah dan ibunya yang bercerai dan Haekal yang sendiri, Arka mengomeli Haekal habis habisan tapi pada akhirnya anak itu menangis karena merasa bersalah dan kasihan dengan dirinya.


" Ka...." Tanya Haekal kala ia tengah mengerjakan tugasnya di meja belajar Arka


" Hmm?" Balas Arka santai dengan mata yang masih terfokus pada buku komik Haekal.


" Lo tau orang orang gay kan?"


" Yup...kenapa?


" Menurut lo gimana ?"


Arka menutup buku komiknya dan menatap Haekal lurus, sedangkan yang ditatap masih terfokus dengan buku pelajarannya."


" Hmmm sebenarnya gue ngga suka sih sama orang orang kaya gitu, menyalahi aturan banget, dan ya jijik aja ngga sih, kenapa emang?"


" Nanya aja... soalnya lagi rame diomongin, siapa tau jadi bahan debat gue"


" Hmmm... jangan jangan gay lo?"


Haekal diam, meremat kuat penanya


" Kalau iya?"


Arka terdiam, bahkan ia yang sedari tadi merebahkan dirinya di kasur kini mendudukkan dirinya.


" Sumpah?!!"


Haekal masih diam tidak merespon, kemudian berbalik menatap temannya itu lekat lekat dan mengangguk pelan.Arka melongo tidak percaya, ia pun sedikit menarik tubuhnya mundur seolah memperjauh jaraknya dari Haekal.


" Pfft...HAHAHAHA, Reaksi lo ngga berubah!” Tawa Haekal terpingkal pingkal


" BANGSAT!" Kesal Arka sambil melempar komiknya sedangkan Haekal dengan cepat menghindar


" Gimana akting gue, gokil ngga?"


" Pala lo! Hampir copot jantung gue, ni gue udah siap siap lari tadi bangsat!"


" Hahaha tapi kalau misalnya gue gay? Lo gimana?"


Arka mengangkat kepalan tangannya, mengancam untuk memukul Haekal


“ Misal Ka… Misaaaal”  Kekeh Haekal


" Gila lo! End ini pertemanan! Kal jangan laah... itu banyak cewe diluar sana.. Temen Ara... atau Ara aja ambil deh buat lo... gue belum mau jadi musuh lo... temen gue cuma satu Kal.. Lo tega amat ama gue, lo ngebunuh orang gue masih setia sama lo Kal, tapi kalo ini maaf banget gue mesti jadi musuh lo" Keluh Arka panjang lebar


" Hahahah ngakak..."


“ Tapi….” Ucap Arka menggantung kalimatnya dan Haekal tadi yang tadinya ingin berbalik kembali belajar, mengurungkan niatnya, menatap temannya itu penasaran.


“ Yah, kalau dipikir pikir itu salah, tapi kan balik lagi ya, gue ngga tau orang itu gay karna apa, siapa tau ada trauma atau gimana? Bener ngga? Kalau ngomongin cinta, gue ngga terlalu paham sih, Jadi ya… gue jujur ngga suka dan benci  tapi gue ngga ngehakimi paham kan lo?” Jelasnya dan Haekal mengangguk


“ Ya, itu kan orang, kalau gue….”


“ Kalau lo…. Hmmm…yaa ngga papa sih, hehe… tadi gue becanda doang Kal, ya mungkin di awal gue aga gimana gitu, tapi kan balik lagi, lo temen gue, kita sahabatan dari kecil, jadi gimana pun elo, gue pasti support lo kok hehe”  Senyumnya cerah


“ Jadi lo ngga masalah gue gay?” Tanya Haekal


“ Mhm… yang penting lo masih jadi sahabat gue…” Ucapnya dan kembali membaringkan badannya dan membaca buku komiknya.


“ Kalo ternyata gue sukanya sama lo?” Tanya Haekal lagi


“ Kal, udah lah, gue capek lo boongin terus… lo hobi banget ngasih gue pertanyaan random, kepala gue ngga sepinter lo Kal…” Ucap Arka jengah.


“ Hahahah iya ya….”


Haekal tersenyum sendu kemudian mereka kembali kegiatan masing masing. Haekal pun melirik Arka yang kini tengah tersenyum-senyum malu karena tengah mengirim pesan dengan Ara.


"Jadi reaksi lo gitu ya....Lo mungkin aja benci gue...Yaudah gue bakal berubah demi lo..."


Cicitnya dalam hati sambil meremat kuat penanya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Haekal dengan tergesa mencari buku catatannya, buku itu berisi semua keluh kesalnya tentang perasaannya sendiri. Tentang bagaimana ia begitu memuja dan mencintai Arka. Bagaimana ia sangat menghargai dan menikmati setiap momennya bersama Arka.


Ya, mungkin beberapa orang menyebutnya sebuah diary.


Sebenarnya Haekal dulu selalu menyimpannya di tempat yang aman, di kamarnya di sebuah loker yang selalu ia kunci. Hanya saja karena saat ini ia tinggal bersama Arka, Haekal terpaksa selalu membawa buku itu kemana mana karena takut Arka membacanya. Beruntung buku itu kecil dan pas di kantong celananya.


" Nyari apa lo?" Tanya Arka pasalnya Haekal membongkar isi tasnya, mengecek laci mejanya bahkan mengecek lokernya di sekolah berulang kali.


" Uhmm.. ngga.." Ucap Haekal dengan mata yang masih sibuk mencari barangnya.


Sebenarnya tidak ada masalah jika buku itu ditemukan, tidak akan ada yang tau bahwa buku itu miliknya, karena Haekal tidak pernah menulis namanya sendiri di buku itu. Tapi nama Arka? Hampir di setiap kalimatnya ada nama Arka. Sehingga jika buku itu ditemukan oleh orang lain, hanya terlihat seperti maniak atau penguntit yang tergila gila dengan Arka


"Ck... dimana sih.... tadi terakhir gue nulis di taman, trus gue bawa ke kantin masih ada kok barangnya."


Gerutu Haekal karena jujur, jika buku itu hilang, Haekal akan sangat sedih pasalnya hanya buku itu yang mengerti dan tau akan perasaannya pada Arka.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Haekal menghela nafasnya panjang sudah tiga hari dan buku kecilnya itu hingga saat ini belum ditemukan. Haekal sudah menyerah mencari buku itu, sepertinya memang buku itu sudah hilang. Haekal akan tenang jika buku itu sudah masuk ke tong sampah atau semacamnya, sehingga tidak akan ada kemungkinan-kemungkinan buruk terjadi.


Haekal tersentak, menatap ke sumber suara ketika ia mendengar suara tamparan yang cukup keras dan Haekal bisa melihat Ara dengan wajah yang penuh emosi serta mata yang berkaca-kaca, sedangkan Arka memegangi pipi kanannya.


" Brengsek ya lo Arka! Gue kira lo cowo baik baik ternyata!" Kesal Ara lagi sedangkan Arka masih berusaha memproses apa yang baru saja terjadi.


" Hah? Kenapa? Gue salah apa?"


" Ini! Ternyata selama ini lo main di belakang gue! Lo mesra-mesra-an sama cewek lain! Bajingan lo!" Ara melempar sebuah buku kecil pada Arka.


Haekal yang melihat itu langsung menggigit bibirnya kaku, mengepalkan tangannya sambil berusaha menetralkan detak jantungnya. Apa yang ia takutkan ternyata terjadi juga. Arka mengambil buku itu, membacanya cepat dan sedikit terkejut. Ia tidak menyangka ada orang yang begitu memuja-mujanya, terlebih lagi, setiap apa yang Arka lakukan, orang ini menuliskannya dengan sangat detail, seolah ia selalu memperhatikan Arka.


" Terus itu? Kalian pergi piknik! Nonton bareng?! Masak bareng? Arka gue ngga bodoh!"


" Ra... dia cuma ngarang ra! Ngga ada buktinya Ra! Semua orang bisa ngarang cerita kaya gitu! Percaya sama gue Ra...."


Ara masih menatap Arka kesal, air matanya pun mengalir deras.


" Ra... udah... Terserah lo percaya atau nggak, tapi gue yang jamin kalau Arka ngga selingkuh." Ucap Haekal menengahi. Tapi sepertinya emosi gadis itu sedang meledak-ledak, dengan kesal Ara berlari keluar kelas dan Arka dengan cepat mengejar Ara.


Haekal terdiam, beberapa kali menelan ludahnya kasar.


"Siapin diri lo Kal....Karna cepat ato lambat,Arka pasti tau, kalau buku itu Punya lo.."


Cicitnya dalam hati, berusaha menahan air matanya.


\~\~\~\~\~\~\~\~


Arka merebahkan kepalanya malas, jujur ia tidak punya semangat untuk pergi ke sekolah. Sudah tiga hari sejak kejadian itu ia masih bertengkar dengan Ara.


" Arka catatan...." Deno sebagai ketua kelas mengetuk pelan meja Arka


" Anjir ngumpulin catatan ya? Gue lupa sumpah... catatan kemaren ngga ada"


" Ah lo mah kebiasaan, yaudah gue tunggu setengah jam..."


" Oke aman.... ada Haekal... "


Arka dengan cepat mengeluarkan buku catatannya, tanpa permisi membuka tas Haekal dan menyalin catatan milik Haekal. Ini sudah hal biasa bagi mereka sehingga, Arka tidak perlu meminta izin terlebih dahulu pada Haekal.


Ditengah-tengah Arka sibuk menulis, ia menyadari satu hal.


" Tunggu.... Tulisan ini...." Cicit Arka bermonolong, dengan tergesa mengeluarkan buku kecil yang menjadi bencana hubungannya dengan Ara.


Arka dengan teliti membandingkan tulisan Haekal dengan tulisan yang ada di buku itu


"Persis sama..."


Cicit Arka dalam hati. Arka pun menghela nafasnya kesal, Arka sebelumnya tidak pernah membaca isi buku itu dengan teliti. Kemudian setelah Arka membaca beberapa halamannya, menelaah dengan baik cerita yang ditulis disana, Arka baru sadar, semua yang ada di dalam buku itu, semua cerita yang ada di buku itu.


Adalah kegiatan yang ia lakukan dengan Haekal.


"Bajingan...."


Cicit Arka kesal dalam hati, dengan tergesa menyelesaikan catatannya dan mengirimkan Haekal pesan.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Haekal sedikit bingung kala Arka memintanya untuk pergi ke atap, tapi perlahan Haekal merasakan perasaan yang tidak enak.


"Apapun nanti yang bakal terjadi.... Lo harus siap"


Cicit Haekal dalam hati, sebelum membuka knop pintu.


" Kenapa Ka-"


BUGH


Belum selesai Haekal menyapa Arka, satu pukulan melayang ke pipinya. Haekal terkekeh sambil tersenyum miring, bertahun-tahun mereka berteman, ini kali pertama Arka melayangkan tinjunya.


" Lawakan lo ngga lucu bangsat! Lo kalau ngga suka gue pacaran! Lo kalau ngga suka gue sama Ara terus!  ngomong! Ngga lucu lo kaya gini bangsat!" Kesal Arka sambil melemparkan buku kecil itu ke wajah Haekal


Haekal tersenyum sendu, ternyata Arka menyadari buku itu adalah miliknya.


" Lo becanda doang kan?! Lo cuman kesel kan karna gue tinggalin! Lo sengaja kan biar gue putus sama Ara?"


Haekal hanya diam, memilih untuk membuang pandangannya enggan menatap Arka. Haekal ingin mengatakan Iya, tapi tidak sedikitpun ia ingin menghancurkan hubungan mereka. Tapi Haekal juga tidak berani untuk mengatakan tidak, ia belum sanggup melihat reaksi Arka. Al hasil, diam adalah pilihan bagi Haekal untuk saat ini.


" BARRA KEENAN JAWAB GUE !" Bentak Arka


Haekal menghela nafasnya panjang, mengadahkan kepalanya karena jujur air matanya sudah memberontak. Beberapa kali Haekal menelan air ludahnya kasar, mengedipkan matanya, berusaha setengah mati menahan air matanya.


Melihat Haekal yang seperti itu, Arka terdiam. Jujur, saat ia membaca semua tulisan Haekal, semua hal yang Haekal tulis di buku itu, Arka yakin buku itu tidak ditulis dalam satu waktu. Kemudian tulisan itu, Arka bisa merasakan emosi dan cinta yang begitu besar yang Haekal tuangkan. Arka masih berprasangka baik, masih menyangka Haekal hanya mengusilinya, tapi melihat reaksi Haekal, melihat bagaimana kerasnya kepalan tangan Haekal, melihat bagaimana setengah mati pria itu menahan air matanya. Arka yakin Haekal saat ini tidak bercanda.Kemudian Arka mengingat percakapannya dengan Haekal beberapa hari yang lalu


- Ka lo tau orang orang gay kan -


- Kalau gue gay gimana? -


- Kalau ternyata gue sukanya sama lo? -


Arka menghela nafasnya panjang, memicingkan matanya kuat sambil menggeleng pelan. Ia masih tidak percaya, ia tidak ingin mempercayai itu.


" Kal....jangan bilang lo...."


Belum selesai Arka mengucapkan kalimatnya, air mata Haekal sudah mengalir, Haekal pun memalingkan pandangannya, lagi lagi takut menatap Arka.


Arka menatap Haekal tidak percaya, dengan kesal menjambak rambutnya. Entahlah, beribu emosi yang Arka rasakan saat ini. Marah, kecewa, benci, sedih, semuanya.Semua itu Arka rasakan di waktu yang sama.Arka benar benar menghargai Haekal sebagai sahabatnya, menyayangi pria itu hanya sebatas sahabatnya dan hanya Haekal yang Arka bisa percaya sebagai temannya.


Tapi fakta ini, Arka belum bisa menerimanya, hanya Haekal satu satunya sahabat yang ia punya, hanya Haekal orang yang ia percaya selama ini, hanya Haekal yang menemaninya, membantunya bangkit dari trauma masa lalunya, dan Arka tidak terima harus berakhir seperti ini dengan Haekal.


" Dari semua orang..... Kenapa Gue Kal..... Dari semua orang... kenapa harus elo Kal... Kenapa?!"


Bentak Arka kesal, menarik kerah baju Haekal hendak melayangkan tinjunya.Tapi ketika melihat Haekal yang hanya pasrah menutup matanya dan lagi air mata itu mengalir. Arka menjadi tidak tega.Arka hanya bisa menghela nafasnya kesal, membanting kesal tubuh Haekal sebagai pelampiasan emosinya yang tadi sempat tertahan.


" Jauh-jauh dari gue! Gue ngga sudi punya temen gay kaya lo!"


" Mati aja lo sana!" Tambahnya dan dengan kesal mengambil buku itu, kemudian merobeknya setelah itu melemparkannya tepat di depan wajah Haekal.


Kemudian tanpa menunggu jawaban Haekal, Arka pergi dari atap meninggalkan Haekal sendiri yang masih meringkuk di lantai. Haekal masih dalam posisinya, air matanya pun masih mengalir, ia tidak menyangka akan terjadi secepat ini, akan terjadi sesakit ini.


"Maafin gue Ka...."


Tangis Haekal dalam hati memeluk kuat lembaran kertas sobek itu dan menangis terisak.