What If [BL]

What If [BL]
23



“ Arka….. Dek…. Arka….. Bangun…."


Arka mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sedikit berat, tubuhnya juga lelah, tapi entah kenapa ada perasaan ringan dan lapang di dadanya.


“ Gue mau, berangkat, jangan nakal ngga ada gue…. Oiya nih” Ucap Brian sambil melemparkan sebuah kunci motor


“ Huh? Ini apa Kak?” Tanya Arka bingung dan Brian hanya tersenyum tipis mengelus pelan kepala adiknya itu.


“ Gue tau lo benci hari ulang tahun lo, tapi ini yang ke tujuh belas, dan lo udah dewasa… gue ngga mau lo terus terusan ngehukum diri lo…Coba pelan pelan untuk berdamai ya, motornya bekas sih, tapi ya… seenggaknya lo bisa keren kerenan nanti di sekolah, cari temen, jangan sendiri sendiri terus. Lo masih punya setahun lagi di SMA, nikmati masa SMA lo, hm? Kalau lo ngutuk dirilo terus, Papa sama Mama juga sedih diatas sana”  Ucap Brian mengelus pelan kepala Arka


Arka masih terdiam, menatap kalender di dindingnya, ternyata ini hari ulang tahunnya. Entah kenapa Arka tidak merasa senang ataupun sedih sedikitpun, bukan karena traumanya, tapi seolah ia sudah menjalani hari ini berkali kali, karena itu Arka biasa aja. Kemudian saat kakaknya mengatakan dirinya untuk tidak menghukum diri dan merasa kesepian, menyuruhnya untuk mencari teman, Arka bingung, selama ini ia tidak merasa kesepian sedikit pun, seolah selama ini ada seseorang yang menemani hari harinya.


Lalu, karena kematian orang tuanya, Arka memang sedikit trauma, mengurung diri dan tidak ingin berteman dengan siapapun, tapi seingatnya, ia sudah lama berdamai dengan trauma itu dan tidak lagi menghukum dirinya serta hari ulang tahunnya. Ada sedikit memori membekas dikepalanya, bahwa seseorang telah membantunya untuk berdamai dengan traumanya itu, tapi Arka tidak mengingat siapa orang itu.


“ Iya kak, Makasih banyak ya kak….Maaf selama ini Arka bikin kakak khawatir, kakak hati hati disana ya, belajar yang bener… Arka baik baik aja disini, motornya Arka jaga kok hehe”


Senyumnya dan Brian menganggukkan kepalanya, mengelus pelan kepala adiknya, memeluknya singkat.



Arka menatap foto-fotonya yang dipajang di dinding.



\*Gue sedingin itu ya selama ini? Kok gue ngga ngerasa ya \*



Ucapnya melihat foto foto yang dipanjang oleh bibinya itu, hampir disetiap moment, Arka tidak tersenyum, hanya diam menatap kamera, seolah ia tidak bersemangat sedikitpun akan hari dan moment itu.



*Perasaan gue ngga sedingin itu deh, gue juga ngga ngerasa trauma atau murung, gue happy happy aja, tapi… kok gue ngga ingat apa apa ya*



Arka menyadari hal ini sejak ia bangun tadi pagi, memorinya benar benar mengabur, bukan dirinya yang lupa ingatan, tapi pada emosi yang ada di memori itu, semuanya kacau dan berantakan. Seperti saat ia menatap foto kelulusannya di SD, di foto itu ia berdiri sendiri sambil memegang ijazahnya, wajahnya hanya datar, tapi dalam memorinya, hari itu adalah hari yang sangat menyenangkan, begitu juga dengan kelulusannya di SMP, hanya saja Arka tidak bisa mengingat, apa yang membuatnya senang, kenapa memori itu menjadi sebuah memori yang menyenangkan di dalam pikirannya. Begitu juga saat ia pergi berkemah di pantai, Arka mengingat dengan jelas, hari itu ia benar benar bahagia, bahkan ia menjadikan salah satu foto yang diambil saat itu menjadi wallpaper ponselnya. Tapi jika Arka melihat foto itu, sama sekali tidak mencerminkan kebahagian, dan lagi, Arka tidak ingat apa yang membuatnya bahagia hari itu.



Arka merapikan seragam sekolahnya, menatap dirinya di kaca. Karena kakaknya yang sudah berkuliah di luar negeri, kemudian Ayahnya yang dipromosikan ke kota. Mereka pun pindah ke kota dan Arka pun terpaksa pindah sekolah. Hanya saja saat Arka mengenakan seragam sekolahnya yang baru, rasanya sangat familiar, bahkan suasana perkotaan dan sekolahnya, tampak sangat familiar seolah memang selama ini Arka tinggal di sana. Arka sempat menanyakan pada Ibunya, apakah kepalanya sempat terbentur atau semacamnya, tapi mereka mengatakan tidak ada yang terjadi pada Arka, dan dirinya masih bingung dengan semua memori yang sangat kacau di dalam kepalanya.


“ Perkenalkan, saya Mahendra Abbyarka, kalian bisa memanggilku Arka, mohon bantuannya” Ucap Arka sambil membungkuk sopan, memperkenalkan diri di depan kelas.


Setelah itu Arka diminta untuk duduk disebuah kursi yang ada di ujung kelas. Arka memangku dagunya dengan tangannya menatap lapangan sekolah dari jendela kelasnya, entah kenapa rasanya Arka sudah terbiasa melihat pemandangan ini dan ia sedikit rindu dengan suasana sekolah ini.


Waktu terus berlalu, Arka pun menjalani kehidupan siswa SMA pada umumnya, ia cukup mudah untuk dekat dan berbaur dengan teman teman kelasnya, mereka pun tampak menerima Arka walaupun ia yang pindah di pertengahan semester. Arka juga masuk ke dalam tim basket di sekolahnya, dan ia pun semakin mendapat banyak teman. Tapi entah kenapa setiap harinya, ia merasa kosong dan hambar, seolah ada yang kurang dalam hidupnya.


“ Ka! Tolong dong bolanya!” Teriak temannya ketika bola basket yang ia lempar terlalu melambung jauh hingga keluar dari lapangan, Arka yang sedang duduk di pinggir lapangan pun langsung berdiri dan berlari mengejar bola itu.


“ Naah.. ini dia..” Ucap Arka pelan mengambil bola itu yang menggelinding mendekat ke gedung kelas.


“ Akh/Auch!” Ringis mereka berdua, Arka mengurut pelan pinggangnya sedangkan pria itu tersungkur dan berusaha untuk bangkit.


“ So-sory gue ngga liat lo…” Ucapnya pelan dan membantu Arka untuk bangun.


“ Iya ngga papa, itu…lutut lo….” Ucap Arka menunjuk lutut kiri pria itu, walaupun seragam sekolah mereka menggunakan celana panjang, Arka bisa melihat noda bercak darah yang merembes dari sana.


“ Huh ? Oh.. ck… luka lagi…” Pria itu menyingsing celananya hingga lutut dan mendecak kesal ketika mendapati kakinya yang luka.


“ Lagi?” Tanya Arka penasaran dan pria itu hanya terkekeh  kembali menurunkan celananya.


“ Gue emang sering jatuh…” Senyumnya dan mulai memunguti kertas yang berserakan


“ Ini gue bantu beresin ya..” Ucap Arka ikut membantu


“ Makasih…”


“ Ini udah semua-”


“ Keenan!”


Arka melepas kertas yang sudah ia pungut tadi, dengan cepat menutup kedua telinganya dan meringis kesakitan, tepat setelah seseorang meneriaki nama pria yang menabraknya tadi, tiba tiba saja telinganya berdengung membuat gendang telinganya rasa ingin pecah, kemudian kepalanya yang ingin meledak


“ Eh lo kenapa?” Tanyanya panik melihat pemuda di depannya ini menahan sakit.


Arka menggelengkan kepalanya, melangkah mundur semakin menjauh dari pria itu, karena tiba tiba saja, saat mendengar suara dan melihat wajahnya , membuat kepala Arka semakin sakit dan perutnya mual.


“ Lo mau ke uks? Sini gue ban-” Keenan menghentikan ucapannya, pasalnya tangannya ditepis ketika ia ingin membantu, dan Arka langsung pergi berlari begitu saja.


“Nan! Astaga… lo jatuh lagi?” Deno, menepuk pelan pundaknya menyadarkan temannya itu yang sempat terdiam.


“ Itu siapa Nan? ” Tanya Deno lagi membantu membereskan kertas kertas dan Haekal hanya mendelik pelan bahunya


“ Ngga kenal…” Ucapnya lagi santai


“ Nan… lo ngga papa? Lutut lo sakit banget ya?” Tanya Deno sedikit khawatir


“ Hah? Ngga kok, biasa aja, kenapa?” Ucapnya santai


“ Itu lo nangis….” Deno menunjuk wajah Keenan dengan dagunya. Dengan cepat Haekal mengusap kedua pipinya dan ternyata benar, air matanya mengalir.


Arka berlari secepat yang ia bisa menuju kamar mandi, kemudian memuntahkan semua isi perutnya pada closet. Arka tidak mengerti apa yang terjadi, saat ia mendengar nama orang itu, tiba tiba saja potongan memori yang tidak ia kenali muncul memenuhi kepalanya. Saat potongan memori itu muncul, emosinya bergejolak sampai membuat dadanya sesak dan nafasnya tercekat. Namun yang tidak Arka mengerti dari semua itu, memori yang paling membekas muncul di kepalanya adalah potret dimana pria yang ia temui tadi, meregang nyawanya. Bahkan saat potret itu muncul, Arka bisa merasakan dinginnya tubuh pria itu bahkan bau amis dari darah yang keluar dari tubuh pria itu, Arka bisa menciumnya.


Arka membasuh wajahnya gusar, ia tadi hampir pingsan saat memori itu muncul, tapi yang tidak Arka mengerti, saat mendengar nama Kenaan , entah kenapa ada perasaan rindu yang terbalaskan, seolah ia memang merindukan dan ingin bertemu dengan pria itu, padahal Arka sama sekali tidak mengenalnya.


Lo siapa…..


Ucapnya dalam hati, menatap pantulan dirinya, potongan memori itu kembali muncul bahkan kini, tidak hanya tubuh Kenaan yang jatuh dari atap sekolah, tapi memori dimana ia dan Kenaan tertawa bersama. Arka tidak tau, apakah dulu ia pernah mengenal Kenaan, apakah pria itu pernah singgah di hidupnya. Arka ingin menanyakan kepada orang itu, tapi entah kenapa, seolah tubuhnya menolak, setiap kali mengingat pria itu, tubuhnya merinding bahkan tangannya bergetar hebat, seolah Keenan adalah tanda bahaya dan Arka tidak boleh mendekatinya.