![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
Haekal tersenyum tipis kala membuka matanya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tanggal ulang tahunnya dengan Arka hanya berjarak 1 bulan dan Arka yang lebih awal. Haekal masih ingat, kado pertama yang ia dapat dari Arka dimana saat itu adalah ulang tahun mereka yang ke 10. Sebelumnya Haekal sudah memberikan Arka kado sebuah mobil remot yang saat itu sedang ramai dibicarakan. Haekal membelikan Arka mobil itu karena ingin bermain bersama Arka, karena ia yang tidak memiliki mainan seperti itu sebab harganya yang mahal.
Kemudian, saat ulang tahun Haekal, Arka membelikan hadiah yang kurang lebih sama. Sebuah mainan robot robotan, hanya saja karena harganya yang mahal dan Arka tidak mungkin meminta kepada paman dan bibinya, Arka menggunakan uang jajannya, sehingga selama di sekolah Arka melewatkan makan siangnya.Karena kejadian itu, Haekal membuat peraturan terkait pemberian kado mereka. Arka bebas menginginkan kado apapun dari Haekal, tapi dengan syarat, saat hari ulang tahun Haekal, Arka akan menjadi pelayan Haekal dan mengabulkan semua permintaannya selama seharian penuh.
Dan sejak saat itu. Setiap ulang tahun Haekal, Arka akan menemani Haekal seharian bahkan terkadang menginap. Haekal selama ini kesepian, orang tuanya sibuk dan ia tidak memiliki banyak teman untuk diajak bermain ataupun bercerita, karena itu kado terbaik baginya adalah saat ada orang disampingnya di hari bahagianya.
Haekal menatap jam tangannya, saat ini masih jam 5 pagi dan kebetulan sekali, hari ini adalah hari minggu sehingga Haekal memiliki banyak waktu untuk bermain bersama Arka.
" hmmm ngapain ya..."
Ucap Haekal sambil memutari kamarnya membantu dirinya untuk memikirkan kegiatan apa yang harus ia lakukan bersama Arka. Mereka sudah pergi liburan bersama, sudah juga mengadakan kemping, menonton bioskop, bermain di playworld, menjadikan Arka budak seharian, pergi karaoke. Semuanya Haekal sudah melakukannya.
"Hmmm Ngadain pesta kali ya? Tapi cuma berdua? Yaudah lah"
Ucap Haekal girang dengan cepat merampas ponselnya, mengirimkan pesan pada Arka untuk segera pergi menuju rumahnya.
Haekal dengan segera melesat ke dapur, membuatkan hidangan yang menjadi makanan favorit mereka berdua. Ia juga memesan beberapa makanan cepat saji seperti pizza, ayam, bahkan membeli beberapa cemilan dan lainnya.
Hari ini Haekal hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Arka seharian. Haekal sudah menyiapkan beberapa film dan game. Ia juga sudah menuliskan hal hal apa saja yang akan mereka lakukan seharian ini termasuk sesi mengusili Arka tentunya.
Haekal menghela nafasnya panjang merebahkan tubuhnya setelah setengah mati menghias ruang tengah kemudian menata semua makanan yang ia buat dan pesan, serta menyiapkan sofa agar mereka nyaman nanti saat menonton dan bermain game.
Haekal menatap jam tangannya ternyata sudah pukul 10 pagi, Haekal tidak menyangka menyiapkan itu semua ternyata cukup lama juga.
" Lah tumben dia belum bales..."
Ucap Haekal pasalnya pesannya belum dibalas, karena biasanya tidak sampai 5 menit Haekal menghubungi Arka, anak itu sudah mengangkatnya atau bahkan sudah sampai di rumah Haekal. Haekal mencoba menghubungi Arka dan ternyata pria itu sama sekali tidak mengangkat ponselnya.
" Masih tidur kali ya? Yaudah deh gue sekalian mandi dulu aja"
\~\~\~\~
Haekal menghela nafasnya panjang, sekarang sudah pukul 1 siang tapi pria bernama Arka itu belum menampakkan batang hidungnya. Haekal beberapa kali menghubungi pria itu, tapi baik pesan ataupun panggilannya tidak direspon sedikitpun.
" Jangan jangan mati lagi..." Gumam Haekal pelan mengambil ponselnya dan menghubungi nomor yang ia simpan dengan nama Bunda itu
{"Hallo Haekal...."} Sapa Clara pelan saat mengangkat telfon
" Tan... itu si Arka ngga mati kan? Haekal telfon ngga diangkat, di chat juga ngga dibalas..." Adu Haekal
{" Hahah astaga kamu itu kalo ngomong ya... engga kok... anaknya masih idup, itu tadi baru keluar.... Oiya Selamat ulang tahun ya… besok makan kesini ya, Tante siapin makanan favorit kamu"}
" Heheheh… oke tan, yaudah deh Haekal tutup dulu ya"
{“ Hmm…”}
Haekal tersenyum tipis dan memutus panggilannya.
" Cih.. sok nge prank gue ya? Pake acara ngga bales.. Halah paling lagi otw kesini.. Yaudah deh gue pura pura ngga tau aja.. Ngamuk kali ya nanti karna dia telat? Apa gue diemin? Ngamuk sih lebih seru"
Gumam Haekal pelan sambil memikirkan bagaimana skenario yang akan ia jalankan nanti saat Arka sampai di rumahnya.
Detik demi detik berlalu, dan sekarang sudah menunjukkan pukul 6 sore, tapi Arka masih tidak menampakkan dirinya.
Haekal mulai kecewa.
Haekal sedari tadi menunggu, bahkan ia tidak beranjak dari ruang tengah itu, tidak menyentuh sedikitpun makanan yang ia siapkan karena ingin memakannya bersama Arka, tapi hingga saat ini Arka tidak datang juga.
Haekal mengambil sepotong pizza dengan malas, jujur ia tidak selera untuk makan, tapi sedari tadi perutnya sudah meronta-ronta dan keroncongan, karena tidak ingin mati, Haekal memaksakan untuk memakan makanan itu. Haekal mendudukkan diri di teras rumahnya, menatap langit yang perlahan mulai menggelap. Haekal beberapa kali menghela nafasnya, masih ada beberapa jam lagi sebelum akhirnya hari berganti, masih ada beberapa jam lagi sebelum hari ulang tahunnya berakhir. Sedari tadi Haekal beberapa kali mengirim pesan pada Arka, tapi temannya itu sepertinya sangat sibuk sehingga bahkan hanya untuk melihat pesan saja, pria itu tidak punya waktu.
Haekal tersentak, ia tidak menyangka akan tertidur di teras karena bosan menunggu. Haekal menghela nafasnya panjang, saat ini langit sudah gelap dan menunjukkan pukul 11 malam. Haekal masih berpikir positif, mungkin Arka memang sengaja datang larut malam, atau meninggalkannya sendirian tertidur, tapi setelah memutari rumahnya Haekal tidak menemukan keberadaan Arka.
Haekal menghela nafasnya panjang, terkekeh pelan ketika mengingat bagaimana semangatnya dirinya tadi saat menyiapkan semua makanan dan mendekorasi ruangan itu.
" Udah 17 Kal, ngga usah manja! ngga usah cengeng! perayaan gini doang nggak penting!" Ucapnya menatap pantulan dirinya di kaca, sambil mengusap kasar matanya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Haekal memangku dagunya dengan tanganya, menatap lesu pekarangan sekolahnya dari mejanya. Haekal pun menghela nafasnya panjang, ketika mendengar suara teriakan seseorang.
" Kal.. Kal...Kal..Kal..Kal..... Gue punya ber- kenapa lo lesu amat masih pagi woi!" Ucap Arka sambil mengoyangkan tubuh Haekal kala memanggil anak itu
" Arka gue bisa denger lo! Kenapa?"
" Oiya ko lo ngga sarapan ke rumah? Tumben banget, mana tadi dicarin sama ibu"
" Gue bangun telat, lo kan udah bawa motor sendiri, jadi gue ngga punya kewajiban lagi ngater jemput lo"
Haekal mengepalkan tangannya kuat, sungguh kado yang sangat bagus Arka berikan padanya di ulang tahunnya yang ketujuh belas.
" Waah serius? Asiiik ngga jomblo lagi temen gue, beban gue kurang. Ntar lo ngebacot nya ke Ara aja ahaha" Gelak Haekal canggung sambil menepuk pelan pundak Arka walaupun jujur ingin rasanya Haekal menangis.
" Yoi karna siapa dulu dong!Sumpah Kal lo emang sahabat terbaik gue, the best lo" Puji Arka sedangkan Haekal hanya tersenyum tipis, kemudian menyibukkan dirinya sambil beberapa kali mengatur nafasnya karena jujur ia ingin menangis saat ini, berusaha tidak mendengar Arka yang mulai menceritakan bagaimana ia menyatakan cintanya pada gadis itu.
" Keenan... ini proposal kemarin, minta tolong kasih ke Fernon dong minta ttd" Ucap Ari menghentikan perbincangan mereka sambil memberikan sebuah map
" Okhays siap, gue review dulu yak, tu anak detail banget dari pada kalian kena omel" Sebagai sekretaris osis, Haekal sangat teliti untuk urusan seperti ini.
" Okhay kalo banyak revisi kabarin ya, yaudah gue cabut dulu.. Oiya hbd, kemarin lo ultah kan" Ucap Ari dan Haekal melirik Arka yang masih terfokus dengan ponselnya sambil senyum senyum malu. Apa lagi jika bukan berkirim pesan dengan Ara, dan sepertinya Arka tidak mendengar ucapan Ari barusan.
" Eung.. makasih nanti gue traktir deh anak anak osis makan "
" Asikkk oke...see ya"
" Hmm"
Haekal kembali melirik Arka, pria itu masih terfokus dengan ponselnya. Bahkan saat guru masuk ke dalam kelas pun Arka tidak sadar.
" Wooi.. itu guru udah masuk" Bisik Haekal dan Arka hanya mengangguk dengan tangan yang masih mengetik.
Haekal hanya memutar matanya malas dan mulai fokus belajar. Ketika Arka sudah mematikan ponselnya dan mulai mengambil buku pelajarannya, ia tiba tiba ingat akan sesuatu.
" ANJING!" Teriaknya panik dan tepat setelah itu sebuah spidol melayang tepat mengenai kepalanya
" Mahendra!! dimana sopan santun kamu! Sekali lagi saya dengar keluar!" Bentak pak guru
" Iy-iya maaf pak tadi itu anu.. Ada anjing lucu makanya saya teriak" Arka berasalan sambil memberikan kembali spidol itu
" Alasan! Kembali duduk sana!"
Arka hanya mengangguk malu dan segera kembali ke bangkunya.
" Kal... Haekal...psst... woi! Haekaaaaal" Bisik Arka sambil menepuk pelan tangan Haekal
" Hmm?"
" Maaf... gue lupa"
" Apan?"
" Ultah lo, Sumpah Kal demi, gue ngga ada niat buat lupain ultah lo, Gue udah janji ngajak jalan Ara.. Terus kita main sampe malam, paketan gue juga abis jadi ngga ngechek hp, ini baru beli tadi pagi, Chat lo udah ketutup sama chat yang lain” Ucap Arka merasa bersalah
" Ya terus kenapa?"
" Kan tiap tahun gue udah janji... maaf banget, yaudah lo hari ini mau apa? gue turutin..."
Haekal terkekeh, sedikit melirik pak guru di depan takut suara mereka terlalu berisik
" Lo kira gue anak kecil apa? Udah lah santai, lagian ultah doang"
" Tapi gue ngga enak.... lo ngasih gue motor... masa gue lupa"
" Santai aja gue bilang, kemaren gue juga sibuk banget,ada rapat sama latihan debat, jadi ya ngga ada wah-wah nya, gue aja lupa kalo ngga diingetin, ultah doang Arka, lo napa panik gitu dah" Senyum Haekal teduh
" Serius?"
" Iye... lo lebay banget dah... udah ah diam, gue mau belajar, ntar diomelin lagi"
" Yaudah... tapi nanti makan siang gue traktir lo ya? Lo pengen banget kan makan itu bakso Mang Adi di kantin tapi abis mulu.. Tenang nanti gue pastiin lo bisa makan itu"
" Hmmm suka suka lo.. Dah diem! gue mau nyatet"
Setelah itu tidak ada yang bicara, Arka mulai fokus dengan pelajarannya, sedangkan Haekal setengah mati menahan air matanya. Pandangannya di depannya mulai mengabur karena air mata, ia pun menggigit kuat bibir dalamnya untuk menahan semua perasaannya saat ini.
" Pak.. saya izin ke wc..." Ucap Haekal berdiri dari bangkunya sambil mengangkat tangannya setelah mendapat anggukan, Haekal pun dengan segera berlari keluar dari kelas.
" Lah kenapa tu anak? kebelet banget?" Monolog Arka menatap Haekal yang berlari keluar kelas dan sudah menghilang di pintu
Haekal mengunci pintu kamar mandi, mengambil bilik paling terakhir. Ia tidak pernah menyangka bisa lari secepat itu, bahkan Haekal mengabaikan beberapa temannya yang menyapanya kala mereka berpapasan. Dan tepat setelah Haekal mendudukkan dirinya di kloset, ia menangis.
Haekal tidak kuat. Hatinya benar benar hancur, sahabat dan pujaan hatinya itu melupakan ulang tahunnya, tidak ada saat perayaan ulang tahunnya yang ke 17 dimana semua orang merayakan hari itu dengan sangat spesial, kemudian alih alih mendapatkan kado, Haekal malah mendapatkan sebuah tamparan keras, menunjukkan bahwa memang ia tidak bisa bersama dengan Arka, ia tidak bisa menunjukkan cintanya pada Arka.Haekal menangis terisak beberapa kali mengatur nafasnya, menggigit kuat tangannya bahkan ia tidak peduli tangannya mulai terasa sakit karena gigitannya sendiri, beberapa kali ia mengusap kasar air matanya berusaha untuk tidak menangis, tapi sepertinya percuma, karena rasa sakit ini, benar benar membuat Haekal hancur.