![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
Haekal menganga tidak percaya kala ia bangun dan menemukan ruang tengah rumahnya sudah dihias sedemikian rupa, bahkan sebuah balon besar yang bertuliskan Happy Sweet 17th Haekal terpampang dengan sangat rapi di dinding. Haekal juga melihat meja makannya banyak camilan dan makanan yang sudah tertata rapi.
" Nah ini dia.. Pangeran kita hari ini udah bangun" Ucap Arka datang dari dapur dan menepuk pelan Haekal.
" Arka ini masih jam 7 pagi! Lo ngapain?!"
" Kan hari ini lo ultah..." Jawab Arka santai
" Ya tau, tapi ngapain sih ini masih pagi Arka.. lo nyampe ke rumah gue jam berapa dah!"
" Ya ngga papa.. Kan mau ngadain pesta gede... lo pernah bilang kan ke gue kalau lo pengen ultah lo yang ke 17 itu berkesan. Nah gue kemaren diam2 udah nyebar undangan ke anak kelas sama osis heheh... nanti bunda ama ayah juga datang... terus siapa lagi ya... pokoknya gue undang banyak dah..." Jelas Arka panjang lebar
Haekal yang mendengar itu terdiam, Arka benar, sedari dulu Haekal memang ingin merayakan perayaan ulang tahunnya yang ramai karena selama ini Haekal kesepia, tapi walaupun begitu Haekal tetap senang, karena di setiap hari ulang tahunnya, Arka ada selalu untuknya. Haekal pun terkekeh pelan, menundukkan kepalanya dan air matanya mengalir.
Arka yang melihat Haekal menangis ngilu hatinya, pasalnya saat itu Arka melupakan ulang tahun Haekal. Arka tidak tau apakah saat itu Haekal menangis juga atau tidak, tapi yang Arka tau, dari buku kecil itu Arka ingat, Haekal menuliskan bahwa ia menunggu Arka hingga malam. Mengingat hal itu Arka pun ikut menangis. Mendengar suara Arka yang menangis, Haekal mengadahkan kepalanya, mengusap pelan matanya,menatap temannya itu heran.
" Lo ngapain ikutan nangis goblok"
"Ngga tau...." Kekeh Arka ikut mengusap pelan matanya menatap Haekal sendu
" Maafin gue ya...." Ucapnya lagi sambil tersenyum sendu
" Kenapa minta maaf... gue harusnya bilang makasih banyak sama lo!"
Arka menggelengkan kepalanya, dan mengelus pelan pundak Haekal
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Haekal merebahkan badannya di sofa. Tubuhnya jujur lelah karena acara ulang tahun yang Arka buat, tapi ia sangat bahagia hari ini benar benar sesuai dengan ekspektasinya. Arka bahkan mengundang band dan Dj sekolah.
"Woi! Udah itu nanti aja diberesin...lo ngga capek apa?!" ucap Haekal yang melihat Arka masih sibuk mengemasih piring dan gelas kotor.
" Capek sih... tapi nanti masa lo yang beresin"
" Udah sini duduk dulu!!Ntar kita beresin bareng bareng." Ucap Haekal menepuk ruang kosong di sebelahnya. Arka menurut dan ikut merebahkan diri di sofa besar milik Haekal.
" Lo akhir-akhir ini kenapa dah Arka..."
Ucap Haekal, menatap langit langit rumahnya yang langsung melihatkan langit malam dipenuhi bintang karena atapnya yang terbuat dari kaca. Arka juga ikut menatap langit malam, melihat bulan dan bintang yang berkilau begitu indah dan terang. Arka yakin kalau ini semua bukanlah sebuah mimpi. Arka berhasil membuat sahabatnya itu tidak menangis dan kesepian di hari ulang tahunnya.
" Kenapa apanya?" Tanya masih menatap langit
" Iya... lo kayak beda aja... lebih baik mungkin? Entahlah..."
Arka menolehkan kepalanya, menatap Haekal sedikit kesal dan tidak terima, sedangkan Haekal hanya menatap Arka lurus, mengangkat alisnya sambil tersenyum tipis.
" Emang selama ini gue ngga baik sama lo?" Ucap Arka kembali menatap langit.
" Baik... cuma ya... beda aja gue ngerasanya...."
" ooh... gue ngga mau ngulangin kesalahan yang sama... gue ngga mau kehilangan lo aja sih..." Ucapnya sambil tersenyum tipis.
" Pfft... geli lo ngomong gitu Arka... kesalahan yang sama? Emang lo buat kesalahan apa sama gue?"
Arka menatap Haekal sebentar dan menggelengkan kepalanya.
" Stress lo! Perbanyak temen dah... gue takut lo gila anjir" Ucap Haekal menghibur pasalnya Arka masih menatapnya tapi mata pria itu berkaca-kaca
" Ngga mau.... Susah nyari orang kaya lo Kal.... " Arka menutup matanya perlahan ia merasa sedikit mengantuk dan sedikit lelah karena menyiapkan acara ulang tahun Haekal.
Haekal melirik Arka, menatap Arka yang mulai menutup matanya.
" Lulaby?" Tanya Haekal dan Arka mengangguk pelan masih menutup matanya.
Ini sudah biasa bagi mereka. Suara Haekal benar benar merdu dan dulu Arka selalu meminta Haekal untuk mengantarkannya ke dunia mimpinya.
" Pinjem...." Ucap Arka pelan merebahkan kepalanya pada pundak Haekal. Mencari posisi nyaman dan kembali menutup matanya.
Haekal menelan air ludahnya kasar, setengah mati menetralkan detak jantungnya. Bagaimana tidak, orang yang selama ini ia sayang, orang yang ia cintai lebih dari seorang teman, tengah tidur dengan nyaman di pundaknya.
" Katanya mau nyanyiin..." Ucap Arka pasalnya Haekal yang masih diam.
" Ck... ya sabar.... " Haekal menghela nafasnya panjang, menetralkan detak jantungnya dan mulai menyanyi.
Suatu hari ketika kamu kembali padaku🎶
Aku akan pergi dan menyambutmu dalam sekejap
Kamu yang dulu, kamu saat ini, kamu dan aku🎶
Akan selalu bersama🎶
Aku tidak akan meninggalkanmu🎶
Aku tidak akan pernah mengucapkan selamat tinggal🎶
Apakah perasaan ini muncul karena rasa bersalahnya pada Haekal, atau memang pada akhirnya dirinya jatuh pada pesona Haekal begitu saja. Tapi apapun itu, terlepas dari perasaannya yang tulus menyayangi Haekal saat ini, atau hanya sekedar perasaan bersalah, Arka akan melakukan apapun untuk Haekal, karena ia tidak ingin lagi,melihat tubuh Haekal yang terbaring kaku karena dirinya.
Pada saat yang sama, di tempat yang sama, di lokasi yang sama🎶
Cahaya bintang bersinar dalam kegelapan🎶
Aku berharap satu-satunya rasi bintangku🎶
Akan dibuat lengkap olehmu🎶
Arka menghela nafasnya panjang, menelan air ludahnya kasar. Lagu ini, adalah lagu yang selalu Haekal nyanyikan, lagu yang selalu ia senandungkan, bahkan terdakang lagu ini Haekal nyanyikan jika dirinya meminta Haekal untuk bernyanyi. Saat itu, Arka tidak memikirkan apapun, selain Haekal yang menyukai lagu itu, tapi kali ini, ketika ia memaknai lirik dari yang Haekal nyanyikan, selama ini Haekal berusaha memberi tau padanya, isi perasaannya padanya.
Jangan takut, aku memperhatikanmu🎶
Aku selalu mengingat malam saat kita bersama🎶
Saat kamu berjalan di jalan yang tidak dikenal🎶
Ketika kamu tidak bisa menahan air matamu dan mengangkat kepalamu🎶
lihatlah ke atas, Lihat bintangnya🎶
Itu aku🎶
Yang akan selalu menyinari langkahmu🎶
Haekal melirik Arka ketika menyelesaikan nyanyiannya, sedikit terkejut pasalnya Arka tertidur dengan air mata yang mengalir.
" Kal... ja....ngan...." Ucapn Arka lirih dalam tidurnya, air matanya pun kembali mengalir.
Haekal tidak tau apa yang tengah dimimpikan oleh sahabatnya itu, bahkan saat itu saat Arka berlari ke rumahnya di pagi hari hanya untuk memastikan dirinya baik baik saja dan menangis padanya. Haekal tidak tau, semenyeramkan apa mimpi yang Arka dapatkan. Tapi satu hal yang Haekal tau, bahwa Arka benar benar takut kehilangan dirinya.
" Gue baik baik aja Ka..." Cicit Haekal pelan mengelus pelan kepala Arka
Kemudian, setelah memastikan Arka benar benar tidur, Haekal mengecup pelan pucuk kepala Arka, menyalurkan cintanya yang begitu besar pada sahabatnya itu. Hanya disaat seperti ini, Haekal bisa jujur pada dunia dan dirinya.
" Andai kita terlahir berbeda...." Ucap Haekal sendu mengusap pelan air mata yang mengalir di pipi Arka.
" Gue sayang sama lo" Ucapnya pelan mengelus pelan pipi Arka, menyandarkan tubuhnya nyaman dan ikut menutup matanya, menemani Arka masuk ke alam mimpinya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Haekal menutup pintu kamarnya perlahan, terduduk lemah di tempat tidurnya. Ayah dan Ibunya resmi bercerai dan mereka tidak ada yang mau membawa Haekal untuk tinggal bersama. Sudah satu minggu ia ditinggal sendiri, walaupun pada faktanya sedari dulu Haekal memang sendiri dirumah, tapi kali ini ia benar benar sendiri, dicampakkan begitu saja.
BRAK
Haekal terlonjak kaget ketika pintu kamarnya tiba tiba terbuka. Buru-buru ia mengusap air matanya dan sedikit terkejut melihat Arka yang masuk ke kamarnya, mengeluarkan kopernya dan membuka lemarinya memasukkan semua baju-bajunya
"Woi itu koper gue.. Baju gue semua! Lo minjem apa maling heh!" Kesal Haekal pasalnya Arka memang sudah biasa mengambil bajunya tanpa izin, tapi ya tidak satu lemari juga
" Lo pindah kan...."
" Hah?"
" Iya merkea udah pergi kan? Mulai sekarang lo anaknya Evan sama Clara, oiya yang pertemuan orang tua ayah gue bilang dia bisa datang, gue juga udah bilang ke pak guru katanya boleh" Jelas Arka santai masih sibuk memasukkan baju baju Haekal.
" Apaan sih Ka!" Kesal Haekal menghentikan pergerakan Arka
" Kal... Gue tau bokap nyokap lo cerai.... kenapa ngga cerita? Udah berapa hari lo sendiri?"
Ucap Arka mengelus pelan pundak Haekal. Arka beruntung ia masih ingat bahwa Ayah dan Ibunya bercerai, beruntung Haekal menuliskannya di buku kecil itu. Hanya saja, Arka tidak tau kapan kejadian itu terjadi, dan sayangnya Arka mengetahui itu ketika guru yang mengatakan Haechan menolak semua surat undangan dan beasiswa karena tidak bisa melakukan pertemuan dengan orang tua. Disitulah Arka sadar dan Ingat, orang tua Haekal yang bercerai. Kali ini Arka terlambat menyelamatkan Haekal.Ttidak ada disamping pria itu saat Ayah dan Ibunya yang bertengkar karena tidak ingin mengurusnya. Ia gagal, menemani Haekal menangis, padahal ia sudah berjanji, untuk tidak membiarkan Haekal menangis sendiri lagi.
" Arka?"
Tanya Haekal bingung pasalnya pria itu tersenyum menatapnya, hanya saja matanya berkaca-kaca dan air mata itu mengalir begitu saja. Terlebih lagi, darimana Arka tau akan perceraian itu, padahal Haekal tidak pernah menceritakan pada siapapun, bahkan dengan pihak sekolah. Haekal pun tersenyum tipis menggelengkan kepalanya dan mengusak rambut Arka gemas.
" Gue ngga kenapa napa kok... makasi ya..."
Arka tertunduk, ia pun menangis terisak, mengingat saat itu ia yang tidak ada disaat Haekal membutuhkannya mengilukan hatinya, dan kali ini ia melakukan hal yang sama, terlambat untuk menghibur sahabatnya itu.
" Woi.. astaga... kenapa lo yang nangis... lo kenapa jadi cengeng gini dah!" Ucap Haekal panik karena tangis Arka semakin keras
" Hiks...hiks...Maaf.. gue telat...." Tangisnya
" Telat apaan... lo datang di saat yang tepat.. Udah jangan nangis woi... ini harusnya gue yang sedih karna dibuang" Hibur Haekal menepuk pelan pundak Arka.
Arka terkekeh dan mengusap pelan matanya.
" Makasih ya..." Senyum Haekal menatap Arka teduh dan Arka mengangguk pelan.
"Karna lo yang lebih tua sebulan dari gue, sabar sabar punya adek bawel kaya gue ya...." Senyum Haekal mengangkat alisnya dan memasukkan barang barangnya ke koper.