![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
Semenjak hari itu entah kenapa Arka dan Keenan semakin dekat, Keenan masih mengusili Arka dan Arka pun masih risih dengan pria itu, tapi jika biasanya reaksi Arka kesal dan seolah ingin membunuh Keenan, kini reaksi Arka lebih biasa aja, antara ia yang sudah biasa diusili oleh Keenan atau dia yang lelah meladeni Keenan, atau bisa saja, Arka yang membiarkan dirinya diusili.
BRUK
Arka sedikit berlari menuju sumber suara ketika mendengar suara dentuman cukup keras di lorong, ia pun menghela nafas jengah ketika melihat seorang pria yang tengah tersungkur sambil mengerang kesakitan.
“ Oh! Arka! Bantuin gue….!” Ucap Keenan ketika menyadari Arka yang berjalan ke arahnya.
“ Ngga!” Ucap Arka melewati Keenan bahkan memberikan Keenan tatapan mengejek.
“ Huaaa tolong kaki gue… ngga bisa gerak… siapapun… huaaa tolooong!” Ucap Keenan meraung raung sambil menahan kaki Arka.
“ Woi! Ngapain! Orang lagi belajar!” Kesal Arka, tapi Keenan masih berteriak tidak peduli seperti anak kecil.
“ IYA IYA GUE BANTU!” Kesal Arka sambil menutup telinganya karena suara teriakan Keenan seperti anak kecil dan benar benar memekakkan.
“ Ngga mau!” Ucap Keenan kala Arka hendak menggotongnya.
“ Gue ngga bisa jalan Arkaaaa!” Keluhnya lagi
“ Makanya gue gotong!”
“ Kaki gue keseret dong goblok!”
Arka menghela nafasnya kesal, sedangkan Keenan tersenyum penuh harapan pada Arka.
“ Tck…. “ Kesal Arka kemudian berjongkok menyuruh Keenan untuk naik ke punggungnya.
“ Haha yes!!” Ucap Keenan senang dan langsung melompat menaiki punggung Arka.
“ Katanya kaki lo sakit!” Ucap Arka menyadari kaki Keenan yang baik baik saja, pasalnya pria itu menggoyangkan kakinya semangat kala Arka menggendongnya.
“ shuut diam! Go go! ayo ke taman!” Ucap Keenan setelah menoyor pelan kepala Arka dan menarik kerah baju Arka, layaknya sebuah kemudi.
“ Gue kecekek bangst! Turun!” Kesal Arka menurunkan Keenan tapi pria itu mengunci tubuhnya.
“ Gue teriak nih!” Ancam Keenan
“ Arrghhh!” Kesal Arka dan mulai berjalan, sedangkan Keenan terkekeh pelan, mengayunkan kakinya semangat layaknya anak kecil yang digendong.
...----------------...
“ Periksa semua ya, jangan sampai ada yang lupa” Ucap Keenan pada anggota osis dan mereka mengangguk paham.
Besok akan diadakan acara pentas seni tahunan, Keenan mengurusi bagian sound system dan tata panggung. Walaupun ia sudah lepas jabatan dari osis, tapi anak anak osis yang baru masih memintanya bantuan.
“ Itu kayanya lampu yang tengah miring deh…. Coba satu orang betulin dong” Ucap Keenan ketika menyadari lampu panggung yang sedikit miring. Setelah itu seorang siswa pun bangkit dari duduknya dan segera membetulkan lampu itu.
“ Udah belum kak?” Tanyanya dari atas tangga, sambil terus mengatur lampu itu.
“ Bentar….Geser kanan …. Okhay… ketengah dikit…” Keenan memberikan arahan hanya saja kakinya terus melangkah mundur karena ingin melihat posisi lampu itu dengan jelas.
“ Kak Keenan!/ Haekal Awas!”
Keenan tersadar bahwa ia sudah berada di ujung panggung dan pijakannya tidak ada. Tubuhnya pun terhempas bebas kebawah, jatuh dari panggung yang tingginya dua meter itu.
...----------------...
Arka bernafas lega, saat dokter mengatakan bahwa tangannya tidak patah, hanya retak, tapi tetap saja tangannya harus digips. Hanya saja, Arka sedikit kesal karena tangan kanannya yang cedera, karena ini sedikit menyulitkannya di sekolah nantinya.
“ Ini ngga lama kok, setelah dua minggu harusnya kau tidak perlu menggunakan gips lagi, minum obat ini jika tanganmu terasa ngilu.” Ucap Dokter memberikan Arka beberapa resep dan Arka mengangguk pelan.
Arka menolehkan kepalanya kala keluar dari ruangan dokter dan melihat Keenan yang tengah menunggunya.
“ Lo ngga papa?” Tanya Arka dan Keenan menganggukkan kepalanya. Tentu saja Keenan baik baik saja, pasalnya saat tubuhnya jatuh dari panggung, Arka tiba tiba saja melompat menjadikan tangannya sebagai alas kepala Keenan saat tubuhnya jatuh ke tanah.
“ Punggung gue aga sakit tapi ngga papa kok” Senyumnya lagi dan Arka bernafas lega, kemudian ekspresinya langsung berubah kesal.
“ Bayar!” Ucapnya menempelkan resep obat pada wajah Keenan dan langsung berjalan meninggalkan pria itu.
“ Woi! Tungguin! Bayarnya ini kemana!” Kekeh Keenan mengikuti langkah Arka.
...----------------...
Arka menghela nafasnya panjang, menatap langit sore yang tampak tenang di tengah sibuknya suasana kota. Karna tangannya yang cedera, Keenan menawarkannya untuk diantarkan pulang, hanya saja, pria itu mengatakan ingin pergi kesuatu tempat terlebih dahulu, karena Arka sudah berada di atas motor dan tidak bisa memaksa, ia terpaksa ikut, pergi ke sebuah taman yang ada di tengah kota.
“ Ka….”
“ Hmm?”
“ Haekal siapa?”
Arkana menolehkan pandangannya, menatap Keenan yang duduk disebelahnya, Keenan hanya mengangkat alisnya pelan, menatap dirinya penasaran. Saat tubuh Keenan jatuh tadi, Arka tidak sadar bahkan tidak tau kenapa ia meneriaki nama Haekal. Bahkan Arka sendiri tidak mengenal siapa itu Haekal. Ia juga tidak mengerti kenapa ia mau berlari dan membiarkan tubuhnya ikut terjatuh, menjadi alas empuk saat tubuh Keenan jatuh sampai ia cedera sendiri. Tapi yang pasti, saat melihat tubuh Keenan yang akan terjatuh, potret mimpinya saat Keenan jatuh dari atap itu tiba tiba muncul, karena itu Arka berlari menyelamatkannya.
“ Temen lo?” Tanya Keenan lagi karena Arka yang tidak menjawab
“ Mungkin…” Jawab Arka ragu, ia juga bingung siapa Haekal, bahkan saat di mimpi itu, Arka ingat dengan jelas, ia menangis sambil memeluk tubuh Keenan, tapi Arka menyebut Keenan sebagai Haekal.
“ Hmm… abisnya waktu lo nangkep gue tadi, lo kaya takut banget gue kenapa napa… Gue ngingetin lo sama temen lo?” Tanya Keenan lagi
“ Ya.. mungkin… gue ngga yakin…” Ucap Arka sambil mendelik bahunya pelan
“ Hmmmmm….”
Kenan kembali menatap langit, sedangkan Arka berusaha mencari apa yang ditatap, karena lagi lagi mimpi itu muncul di kepalanya.
“ Haekal ya…. Nama belakang gue Haekal juga….”
“ Oh iya?” Tanya Arka kaget sedangkan Haekal menatap temannya itu jengah dan sedikit kecewa.
“ Lo duduk hari hari disebelah gue, ngga ngeliat name tag gue apa?!” Kesal Keenan sedangkan Arka hanya menggaruk tengkuknya canggung.
“ Lo mau manggil gue Haekal ngga?” Ucap Keenan lagi membuat Arka menatapnya heran.
“ Iya… abisnya, kalo gue sama lo, gue ngerasa beda, bukan kaya Keenan yang orang kenal”
“ Ya! Ngga ada yang tau seberapa nyebelin dan bangsatnya lo!” Sindir Arka.
“ Hahaha… ya lo bener…. Ntah lah… gue ngerasa lebih lepas aja…ngerasa kaya diri gue aja…”
Arka melirik Keenan, terlihat pria itu yang tersenyum teduh saat menatap langit, seolah ia benar benar senang saat bersama dirinya. Arka juga sadar selama ini, Keenan tidak memiliki teman yang bisa ia anggap sebagai teman, teman untuk diajak bicara dan bermain. Selama ini Arka sadar, Keenan selalu berpura pura, menjadi seseorang sesuai harapan orang lain. Semua teman dan orang orang di dekatnya tidak pernah mengenalnya dengan baik. Selama ini Keenan hidup dalam kesendirian, menutupi rasa sepi dan sedihnya itu dengan senyuman ramahnya pada orang orang.
“ Tapi kalo lo ngga mau atau ngga nyaman, ngga pap-”
“ Kal, balik yok udah ampir gelap, gue dicariin” Potong Arka, menunjukkan ponselnya pada Keenan, menampakkan panggilan telfon dari kontak yang disimpan dengan nama Bunda.
Keenan tersenyum lebar, saat mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan Kal. Ia juga tidak mengerti kenapa ia benar benar rindu mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan itu, padahal ini kali pertamanya orang memanggilnya Haekal.
“ Cih… anak Bunda!” Sindir Haekal dan berdiri dari duduknya sedangkan Arka hanya terkekeh melihat senyuman cerah dari Haekal.