What If [BL]

What If [BL]
22



Arka membuka matanya perlahan, kepalanya sedikit pusing, tapi entah kenapa hatinya saat ini benar benar tenang dan damai. Arka menatap sekitar ingatan terakhirnya ia berada di sebuah taman rumah sakit, memohon pada nenek itu, kemudian nenek itu memberikannya sebuah gunting dan setelah itu ia tidak bisa mengingat apa apa. Arka berusaha mencari ponselnya yang biasa ia taruh di bawah bantalnya atau di samping meja nakas, tapi ia tidak bisa menemukan ponsel itu. Arka hanya ingin mengecek tanggal hari ini, apakah ia berhasil keluar dari lingkaran waktu itu atau tidak.


“ Ck… diman-akh!”


Arka tersungkur di lantai pasalnya saat ia turun dari tempat tidur, kakinya tidak sampai menapak lantai membuatnya terjatuh. Arka mengurut pelan lututnya, mengerutkan keningnya menatap bingung tempat tidurnya. Tempat tidur itu tidak terlalu tinggi, tidak mungkin ia akan terjatuh dan tidak bisa menapakkan kakinya. Tapi sesaat kemudian ia bisa melihat pantulan dirinya, sedikit terkejut saat menatap dirinya di kaca.


Tubuhnya mengecil….tidak.. Lebih tepatnya Arka kembali di saat ia masih berumur 7 tahun. Arka terdiam, masih memandang pantulan dirinya. Kenapa ia harus kembali saat ia berumur 7 tahun? Apa yang harus ia lakukan dengan semua memori ini? Arka benar benar bingung.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Arka hanya menatap lesu makanannya di depan meja, ia dikembalikan tepat satu minggu setelah kematian kedua orang tuanya, sedikit membuatnya kembali teringat akan trauma masa kecilnya. Arka menatap gunting pemberian dari nenek itu, sudah satu minggu berlalu ia di masa ini, tapi Arka masih tidak tau, apa yang harus ia lakukan.  Arka awalnya berfikir jika nenek itu menyuruhnya untuk mengakhiri hidupnya, tapi kenapa ia dikembalikan ke 10 tahun yang lalu? Kemudian gunting sangat aneh rasanya jika ingin meminta seseorang mengakhiri hidupnya.


“ Semuanya udah beres kan yah? Semoga di tempat yang baru Arka membaik, aku sebenarnya ngga tega bawa dia, tapi kalau disini terus dia keingat terus sama Papa Mamanya, Arka juga ngga mau sekolah, siapa tau kalau ganti suasana dan dapat teman baru di sekolah baru, Arka bisa membaik” Ucap Clara


Arka yang mendengar itu terdiam,ia kembali menatap gunting itu, air matanya pun mengalir. Arka sekarang paham, kenapa ia dikembalikan pada masa ini, kenapa ia diberikan sebuah gunting, karena Nenek itu menyuruh Arka untuk memutus takdir mereka. Takdir mereka saling bertikai saat itu, saat Arka pindah ke sekolah barunya, bertemu dengan anak yang mengejek dirinya, kemudian mereka berteman dekat dan rasa cinta itu muncul dari dalam hati Arka.


Arka langsung berdiri dari duduknya, dan memeluk bibinya itu yang tengah duduk di ruang tengah.


“ Arka ngga mau pindah sekolah!”


Teriaknya  memeluk bibinya itu dengan kuat.


“ Hiks…hiks….Arka ngga mau pindah… Arka… Arka janji mau sekolah.. Arka..Arka janji ngga nangis lagi… Arka.. Arka ngga mau pindah… Arka ngga mau pindah” Tangis Arka sambil menggelengkan kepalanya


“ Ya ampun nak kamu kenapa hm?” Ucap Clara kaget


“ Arka ngga mau pindah…Hiks….Arka janji ngga nakal, Hiks…Arka janji dengerin kata bibi.. Arka ngga nangis lagi, Arka mau makan….Arka ngga mau pindah…Arka mau disini…. ”


Tangisnya menjadi-jadi, melepas pelukannya, membuat gerakan memehon sambil menggesek kedua telapak tangannya.


Clara yang melihat itu terenyuh, ia tidak tau kenapa Arka tidak mau pindah sekolah, tapi melihatnya memohon seperti itu, Ia tidak tega.


Mendengar hal itu, tangis Arka pun menjadi jadi, ia harus memutus takdir itu, Arka tidak boleh pindah sekolah, ia tidak boleh mendekat pada Haekal.


“ Ngga papa yah, kalau ayah kejauhan, aku ada tabungan, kita bisa beli mobil, atau Ayah ngontrak aja dekat kantor, terus pulang kesini sesekali aja. Kasian Arka yah… ngeliat dia nangis kaya gini, kayanya dia bener bener ngga mau pindah Yah, gimapun rumah ini bawa kenangan dia sama Mama Papanya, Nanti kita bisa pikirin jalan tengahnya, sementara Bunda kan bisa nganterin Arka ”


Evan pun menimbang-nimbang, jujur ia juga sedikit terkejut melihat Arka yang meraung-raung menangis seperti itu. Pasalnya selama ini Arka selalu mendiamkan mereka berdua.


“ Arka janji mau sekolah?” Tanya Evan pelan dan Arka mengangguk cepat mengadahkan kepalanya.


“Arka ngga sedih dan ngurung diri dikamar lagi?” Arka mengangguk


“ Arka janji… Arka jadi anak yang baik… Arka janji bakal dengerin Ayah sama Bunda… Arka janji mau makan dan nurut sama bunda…”


Evan dan Clara terdiam, ini kali pertamanya Arka memanggil mereka dengan sebutan ayah dan bunda, mengingat bagaimana saat itu Arka memaki dan meneriaki mereka karena berlagak seolah seperti orang tua kandungnya. Clara mengusap pelan air mata Arka, membawa Arka ke dalam pelukannya.


“Iya nak.. Arka ngga pindah… udah jangan nangis… hm? Nanti kalau Arka takut ke sekolah bunda temenin, ya?” Arka mengangguk pelan dan memeluk Clara dengan kuat dan menghela nafasnya lega.


Gue  berhasil Kal…. Geu berhasil… 


Maaf gue ngga sempat pamit sama lo


Lo baik baik aja  disana ya Kal…


Gue baik baik aja disini 


Selamat tinggal 


Semoga kita ngga pernah ketemu lagi…


Cicit Arka dalam hati, semakin menenggelamkan kepalanya dan kembali menangis.