![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
Keenan menghela nafasnya panjang, ini tahun terakhirnya di SMA dan Ia ingin menoreh sesuatu yang berkesan di masa remajanya ini. Selama ini harinya disibukkan dengan belajar dan lomba. Ia hampir tidak punya teman dekat yang bisa dikatakan sebagai teman bermainnya. Beruntung Ia cukup dekat dengan salah satu teman kelasnya, Deno. Itu pun karena mereka yang selalu berada di kelas yang sama semenjak kelas satu SMA, dan Deno yang ketua kelas, sedangkan dirinya wakil ketua kelas. Belum lagi mereka juga sama sama tergabung dalam OSIS sehingga cukup sering bersinggungan dengan Deno. Namun yang mereka bahas hanyalah sebatas tugas sekolah dan organisasi, di luar itu, Ia bisa mengatakan Deno bukanlah teman dekatnya, karena Deno juga sudah memiliki sahabatnya dan jika untuk urusan bermain, Keenan hanyalah pilihan kesekian bagi Deno.
Keenan kembali menghela nafasnya panjang, sebenarnya ia tidak terlalu peduli dengan tahun terakhirnya di SMA, apapun yang terjadi tidak akan ada yang peduli, bahkan orang tuanya pun tidak peduli dimana ia berkuliah, selagi ia tidak mencoreng nama keluarga, Keenan bebas melakukan apapun, hanya saja, sebuah mimpi yang ia dapat tadi malam, membuatnya takut sekaligus bingung.
Ia bermimpi menjatuhkan dirinya dari atap sekolah.
Keenan tidak mengerti kenapa ia harus mengakhiri hidupnya seperti itu, apa ia depresi? Keenan akui ia memang sedikit tertekan dan terbebani hidup dengan semua ekspektasi orang orang akan dia anak dari keluarga yang cukup terhormat, hanya saja Keenan cukup menikmati ini semua, ia memang menyukai belajar, dan karena kekayaan orang tuanya, uang jajannya berlimpah ruah, jadi Keenan merasa tidak mungkin mengakhiri hidupnya. Tapi terlepas itu hanyalah sebuah mimpi, atau sebuah pertanda, entah kenapa Keenan merasa, ia harus menikmati tahun terakhir SMAnya ini, sebelum ia menyesal nantinya.
Keenan mengelus name tag di seragam sekolahnya Barra Keenan Haekal. Nama yang sangat ia benci, karena dengan nama itu, Ia merasa terbebani dan jika Keenan bisa memilih, ia ingin mengubah namanya, hidup menjadi dirinya sendiri, bukan Keenan dari harapan orang lain.
“Haekal…..”
Ucapnya melihat nama belakangnya, hampir tidak ada yang memanggil namanya Haekal, tapi entah kenapa, saat ia membaca nama itu, terasa familiar di telinganya, seolah ia memang biasa dipanggil Haekal.
“ Oiya… di mimpi itu… gue juga dipanggil Haekal”.
Ucapnya lagi, kala mengingat mimpinya, saat ia menjatuhkan bebas tubuhnya, samar samar ia mendengar seseorang yang menangisi dirinya dan Ia yakin orang itu memanggilnya dengan panggilan Haekal.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“ Keenan… kamu udah dapat bangku belum? Kamu duduk di depan aku aja, atau di meja samping aku” Ucap seorang gadis kala Keenan baru sampai di depan pintu kelasnya.
“ Nan, kita duduk sebangku lagi ya? Please? Bahaya kalau tahun ini nilai gue jelek… ya ya ya?” Ucap teman sekelasnya di tahun kemarin yang juga dulu teman sebangkunya
Keenan menghela nafasnya panjang, ini yang membuatnya malas mencari teman. Semua orang ingin berteman dengannya hanya karena dia yang pintar, dia yang tampan dan dia yang kaya. Bukan benar benar ingin berteman dengannya. Keenan sebenarnya sedikit senang karena sekolahnya menggunakan sistem rolling sehingga setiap tahun, murid murid akan diacak kelasnya, sehingga ia tidak perlu terlalu dekat dengan teman kelasnya. Tapi ini juga yang membuatnya kesal karena ia akan bertemu dengan orang baru yang ingin mendekatinya karena alasan tertentu. Ditengah Keenan bingung memilih tempat duduknya, seseorang yang duduk di sudut kelas, meja paling belakang dan paling ujung dekat jendela yang tengah membaca buku komiknya sambil memakai earphone menarik atensinya.
Keenan sempat bertemu dengan pria itu beberapa kali, pertemuan mereka pertama kali juga sedikit memalukan bagi Keenan karena dirinya yang menabrak pria itu dan tiba-tiba saja pria itu berlari meninggalkannya, dengan ekspresi menahan sakit dan seolah takut melihatnya.
Keenan pun mencari tau siapa pria itu, ternyata dia murid pindahan dan ia juga tergabung dalam klub basket di sekolahnya. Keenan sempat beberapa kali menyapanya saat berpapasan, tapi anehnya pria itu selalu menghindarinya, seolah tidak ingin melihatnya. Keenan befikir, dia anaknya tertutup, tapi pria itu terlihat ramah bahkan saat ia bermain basket dengan satu timnya, pria itu tersenyum lebar.
Keenan merasa kesal dan terhina, ini kali pertamanya merasakan namanya penolakan, selama ini semua orang ingin berteman dengannya, bahkan dikenali saja oleh seorang Keenan adalah sebuah pencapaian bagi murid-murid disekolah pasalnya ia yang dijuluki si pangeran sekolah. Karena itu, ia tertantang untuk mendekati orang yang bernama Arka itu.
“Sorry gue udah nemu tempat duduk…” Senyum Keenan pelan pada gadis itu, dan sedikit mendorong pelan kepala teman prianya itu pasalnya menghalang jalannya.
“ Ini kosong kan? Gue boleh duduk disebelah lo?” Tanya Keenan. Arka hanya mengangguk dengan mata yang masih fokus dengan buku komiknya.
Keenan tersenyum menang dan menaruh tasnya dengan semangat, walaupun ia tau, Arka pasti tidak sadar jika dirinya yang duduk disana. Keenan pun penasaran apa reaksi pria itu, jika mengetahui bahwa pria yang duduk di sampingnya adalah orang yang selama ini ia hindari.
“ Gue Ar-” Arka menghentikan ucapannya kala menolehkan kepalanya, hendak menjabat tangan orang yang duduk di sebelahnya itu, tapi ketika ia melihat siapa pria itu, Arka menghela nafas kesal dan memalingkan matanya, kembali membaca buku komiknya.
“ Arka..” Ucapnya pelan.
Keenan tersenyum miring, mengepalkan tangannya kesal karena uluran tangannya diabaikan terlebih lagi, pria itu menatapnya kesal dan memalingkan pandangannya.
Awas aja lo… idup lo ngga akan tenang setahun ini!
Kesalnya dalam hati sambil merebahkan kepalanya ke meja, melipat tangannya menjadikannya bantal, kemudian ia menolehkan kepalanya, menatap pria di sampingnya itu yang tampak tidak terganggu sedikitpun, masih membaca dengan tenang buku komiknya, dan earphone yang masih bertengger di telinganya. Keenan tidak mengerti, padahal pria itu hanya diam, tapi seolah Keenan menyukai pemandangan ini, rambut hitam halusnya yang diterbangkan pelan oleh angin, kemudian ia yang tersenyum tipis bahkan terkadang terkejut karena membaca komiknya, semua itu, membuat Keenan tidak bisa memalingkan pandangannya pria itu. Ini kali Keenan melihat pria itu dengan dekat, tapi entah kenapa rasanya Keenan merindukan moment ini.
“ Barra Keenan Haekal!”
Keenan tersentak kaget, langsung berdiri dari duduknya dan membungkuk pelan mendengar suaranya diteriaki.
“ Kamu ini... baru hari pertama sudah tidur, jangan terlalu keras belajar hingga larut malam! Kau jadi tidak fokus di sekolah” Ucap pak guru pada Keenan sambil geleng geleng kepala
“ Ma-maaf pak, lain kali tidak saya ulangi” Ucapnya dan pak guru menyilahkan Keenan duduk
Keenan tertidur bukan karena dia mengantuk akibat belajar, ia bahkan tidak sadar ia tertidur, ingatannya terakhir adalah ia yang menatap Arka yang tengah membaca komiknya itu.
“ Kok lo ngga bangun- Deno?” Niat hati Keenan protes pada Arka, tapi ternyata yang duduk disebelahnya adalah Deno
“ Oh.. .si Arka minta ganti, katanya ngga keliatan dia kalo duduk di belakang” Jelas Deno mengerti Keenan yang bingung kenapa teman satu bangukunya berganti.
Keenan langsung menatap seisi kelas, meradar dimana pria itu duduk, kemudian kebetulan juga Arka tengah menatapnya, dengan cepat pria itu memalingkan pandanganya, kembali berbalik dan menatap ke depan kelas.
Tck… Waah… nantangin….
Jelas banget dia ngindarin gue!
Game just started broo….
Lo ngga akan lepas dari gue!
Ucapnya kesal dalam hati, memainkan lidahnya, sambil mengepalkan tangannya kuat, menatap pria itu dengan kesal seolah ingin membunuh pria itu.