![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
Waktu terus berlalu dan Arka benar benar bahagia dengan kehidupannya, hingga ia lupa hari ini adalah hari dimana Haekal saat itu meregang nyawanya.
“ Kal nanti lo ada rapat osis ya… itu lama ngga?” Tanya Arka setelah mereka sampai di parkiran sekolah
“ Lumayan sih… duluan aja….kan lo mau latihan basket sama anak SMA sebelah.Nanti gue langsung balik rumah aja”
“ Ngga mau nyusulin gue kesana?” Ucap Arka sambil memanyunkan bibirnya
“ Ngga …blee” Ucap Haekal sambil mencibirkan lidahnya dan sukses membuat Arka kecewa.
Haekal terkekeh, menatap sekitar, beruntung saat ini parkiran sedang kosong, dan segera Haekal mencuri kecupan singkat di bibir Arka.
“ Iya nanti gue susul kesana” Senyum Haekal.
“ Haekal lagi di sekolah!” Bisik Arka kesal
“ Ngga ada orang”
Senyum Haekal kembali mengecup singkat bibir Arka dan berlari secepat kilat meninggalkan Arka.
Arka tersenyum tipis sambil berjalan menuju kelas, semakin hari Haekal semakin menggemaskan dimatanya.Walaupun Haekal sering kali menggodanya dan menjahilinya seperti itu, tapi jujur Arka masih suka salah tingkah saat Haekal menggodany Entah kenapa, seolah dunia bersamanya, hari harinya bersama Haekal semakin hari semakin menyenangkan, seolah tidak ada badai yang mengganggu.
“ Tu anak ngapain dah…” Ucap Arka yang melihat Haekal hanya terdiam berdiri di depan kelasnya.
“ Kenapa lo ber-”
Arka tidak melanjutkan kalimatnya kala sampai di depan pintu kelasnya, pasalnya teman-teman kelasnya langsung bersorak mengejek dan melempari mereka. Arka pun baru menyadari di papan tulis, tertulis tulisan Arka & Haekal Pasangan Gay lengkap dengan tulisan tulisan yang menghina dan melecehkan mereka berdua. Arka dengan cepat berdiri di depan Haekal, menyembunyikan Haekal di balik tubuhnya, membiarkan punggungnya menjadi tameng kala mereka berdua yang di lempari. Arka bisa merasakan tubuh Haekal yang bergetar ketakutan.
Arka kemudian terdiam, ia baru sadar, ini bukanlah dunianya, ini bukanlah dunia aslinya, ia masih bermain di lingkaran setan itu, dan Arka baru sadar, hari ini adalah hari dimana Haekal saat itu mengakhiri hidupnya.
“ Hey… its oke…. We’ll be fine”
Ucap Arka, menggenggam tangan Haekal dan menarik Haekal pergi dari sana.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Arka membuka matanya, dan tersenyum tipis ketika masih menemukan Haekal tertidur dalam dekapannya. Arka mengecek ponselnya, waktu terus berputar dan ini sudah satu minggu lamanya semenjak hari terkutuk itu.
Gue berhasil? Udah satu minggu sejak kematian Haekal.
Semuanya udah selesai kan?
Gue bisa ngejalanin hidup sama Haekal kan?
Gue ngga bakal balik lagi ke 6 bulan yang lalu kan?
Ini bener bener berakhir kan?
Ucap Arka dalam hati masih sedikit takut, dengan apa yang akan terjadi kedepannya.
“ Morning…” Ucap Arka kala Haekal membuka matanya perlahan, Haekal hanya mengangguk dan kembali melesakkan kepalanya pada tubuh Arka, mencari posisi nyaman hendak menyambung tidurnya. Arka terkekeh, kembali mengecup pelan pucuk kepala Haekal dan ikut kembali menutup mata.
“ Arka…”
“ Hmm?”
“ Kita bakal baik baik aja?”
Arka membuka matanya, menelan air ludahnya kasar, menatap Haekal penuh arti. Arka tidak bisa menjamin apakah mereka akan baik baik saja, karena faktanya mereka tidak akan diterima. Tapi Arka bisa menjamin, ia akan melindungi dan menjaga Haekal. Arka pun tersenyum sendu, ketika menatap Haekal yang sudah menitikkan air matanya.
“ Hey… ada apa?” Ucap Arka membawa Haekal bagun dari tidurnya, sedangkan Haekal masih tertunduk dan semakin menangis terisak.
“ Gue capek Arka… gue ngga kuat…”
Ucap Haekal menangis terisak. Ia benar benar tidak kuat, setiap hari harus dilempari dan dimaki seperti itu, kemudian beasiswa dan predikatnya semuanya dicabut dan terancam dikeluarkan dari sekolah.Jerih payahnya selama ini terbuang sia sia begitu saja. Belum lagi, karena kejadian ini, Arka diusir dari rumah, bahkan Haekal masih ingat, bagaimana saat itu Evan menampar Arka dengan kuat. Mereka berdua dibuang, mereka berdua diasingkan. Haekal tidak sangup, melihat Arka yang setiap hari tersenyum lembut padanya, mengatakan padanya semua baik baik saja, padahal setiap malam, pria itu menangis sendiri dalam tidurnya.
“ Its… oke ada gue…Gue bakal jaga lo…gue janji Kal… semuanya bakal baik baik aja…”
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Arka menaruh belanjaannya di atas meja, semenjak kejadian itu, mereka tinggal dirumah Haekal, orang tua Haekal tidak mau ikut campur dengan kejadian itu dan hanya mengatakan tidak peduli dengan apa yang Haekal lakukan selagi tidak membawa nama orang tuanya. Beruntung Ayah dan Ibu Haekal membolehkan mereka tinggal dirumah itu, karena rumah itu memang atas nama Haekal.
“ Kal, gue beli nasgor... malam ini makan nasgor aja ya"
Teriak Arka dari bawah, tapi jika biasanya Haekal akan membalasnya, kini tidak ada balasan, benar benar sunyi seolah tidak ada orang di rumah.
“ Apa dia mandi ya? Atau keluar? Perasaan tadi dia bilang di rumah deh"
Cicit Arka pelan dan berjalan menuju kamar Haekal. Arka mengetuk pintu kamar Haekal, tapi tidak ada tanda-tanda dari Haekal.
“ Hae-”
Arka tidak melanjutkan kalimatnya pasalnya ia tidak menemukan Haekal di kamarnya, benar benar kosong seolah tidak ada kehidupan. Arka pun menghela nafas lega ketika mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.
“ Lagi mandi ya Kal? Buruan.. gue udah laper” Ucap Arka sambil merebahkan badannya di kasur Haekal, merilekskan tubuhnya sejenak, dan perlahan ia tertidur.
Arka membuka matanya, ia tidak menyangka tertidur karena menunggu Haekal. Arka menatap jam tangannya, ia tertidur selama 1 jam. Arka menatap sekitar, belum menemukan sosok Haekal. Ketika Arka bangun dari tidurnya ingin keluar dari kamar Haekal untuk mencari pria itu, Arka baru menyadari dari kamar mandi Haekal, Arka masih bisa mendengar gemercikan air.
Arka dengan cepat menuju pintu kamar mandi Haekal, mengetuk pintu kamar mandi Haekal dengan gusar memanggil-manggil namanya.
“Kal! Haekal! Buka pintunya!”
Ucap Arka mengetuk pintu kamar mandi Haekal dan memutar knop pintu nya dengan gusar.
" Kal! Haekal!"
Teriaknya lagi sambil menggedor gedor pintu itu. Arka mendecak kesal, ia tidak punya pilihan lain selain mendobrak pintu kamar mandi Haekal. Setelah beberapa kali Arka menendang dengan kuat pintu itu, Arka berhasil mendobrak pintu itu.
“ Hae-”
Arka terdiam, ketika menemukan tubuh Haekal yang terendam di bathup dengan air yang sudah berwarna merah pekat. Arka langsung berlari menghampiri tubuh Haehan. Mengeluarkan tubuh pria itu dari air dan mendekapnya kuat.
“ Kal....hiks... Haekal...…”
Arka terisak menepuk nepuk pelan wajah wajah Haekal yang sudah putih pucat, bibir nya pun sudah menghitam. Tubuhnya sudah mendingin dan pucat, kaki dan tangannya pun sudah mengkerut. Tangis Arka semakin pecah ketika melihat bekas sayatan di lehernya yang cukup dalam dan sebuah pisau yang tergeletak tidak jauh dari bathup.
" Aarrrrghh...hikss... Haekaaal.... huuu....hiks... Haekaaal...."
Arka berteriak keras, ia memeluk Haekal sekuat tenaganya. Arka tidak mengerti, padahal ia sudah berhasil melewati hari itu, berhasil melewati tanggal kematian Haekal. Tapi tetap saja seolah tuhan mengatakan apapun usaha Arka, takdir Haekal tidak berubah.
Arka menggelengkan kepalanya ribut, menangis meraung sambil meneriakkan nama Haekal ,tangannya pun terkepal menghantamkan tangannya kuat ke lantai berkali-kali. Arka merutuki kebodohannya, lagi lagi menyesali dirinya. Andai ia tidak tertidur, andai ia langsung mengetuk pintu kamar mandi Haekal, Haekal pasti masih bisa diselamatkan, Haekal pasti tidak akan terendam di air begitu lama.
Tapi lagi lagi, tidak ada yang bisa Arka lakukan, sekaras apapun Arka memanggil nama Haekal, sebanyak apapun air matanya yang mengalir meminta pria itu untuk membuka matanya, sekuat apapun Arka mendekap tubuh Haekal, berharap masih bisa mendengar detak jantung dan deru nafas pria itu. Haekal tidak bergeming sedikitpun.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Arka membuka matanya nafasnya tersenggal, kepalanya pening dan tubuhnya lemas. Arka meraih ponselnya, menatap tanggal hari ini, 2 Juli 2016. Sesuai perkiraannya, ia akan kembali ke masa lalu. Arka membanting ponselnya dengan kesal,dengan air mata yang berderai, Arka kembali menutup matanya mencoba untuk kembali tidur, berharap saat ia membuka matanya, ia berada di rumah sakit atau ruangan putih atau ia yang meninggal. Karena jujur Arka sudah tidak sanggup lagi jika Harus melihat tubuh Haekal yang tidak bernyawa di depan matanya untuk kesekian kalinya.
Arka akui ia bodoh dan merasa congkak, seolah ia bisa bermain di dalam lingkaran setan itu, tapi baru sekali Arka mencobanya, ia sudah tidak sanggup, jika biasanya sebelum Haekal mengakhiri hidupnya, semua pengalaman yang ia toreh dengan Haekal hanyalah memori akan Haekal dan dirinya yang bersahabat., hanya Arka, yang merasakan rasa cinta itu. Tapi kali ini, setelah semua memori indah itu, setelah Arka yang bisa memeluknya, mencium kening dan bibirnya lembut, mengatakan di setiap kesempatan bahwa ia menyayangi dan mencintai Haekal, mendengar Haekal yang membalas perasaannya, memeluk tubuhnya kuat. Arka tidak sanggup, jika harus mengulang memori indah itu, dan menunggu kematian Haekal karena dirinya.
“ Dek gue cabut dulu yak… baik baik kalo- Lah masih tidur dia ”
Ucap Brian kala masuk ke kamar dan mendapati Arka yang masih tidur.
“ Dek bangun.. gue mau- Dek…?”
Tanya Brian bingung pasalnya wajah adiknya itu benar benar pucat, belum lagi keningnya yang berkeringat, nafasnya berat dan dalam tidurnya keningnya berkerut. Brian meletakkan telapak tangannya di kening Arka. Taeyong pun mendesis pelan pasalnya sangking panasnya hawa tubuh Arka, tangannya sampai perih karenanya.
“ Bundaaaa! Bunnn Arka demam!”
Teriak Brian panik sambil berlari keluar kamar.