![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
Arka membuka matanya perlahan, kepalanya benar benar pening, bahkan tubuhnya lebih lemas dari sebelumnya.
“ Udah bangun Nak? Masih pusing?” Tanya Clara mengusap pelan kepala Arka dan membetulkan kompres yang sedari tadi bertengger di kepalanya.
Arka hanya mengangguk pelan, kemudian menutup mulutnya cepat, berusaha bangun dari tidurnya dan berlari ke kamar mandi. Arka memuntahkan isi perutnya, rasanya benar benar mual dan kepalanya pening. Tadi saat ia tertidur, potret saat tubuh Haekal tidak bernyawa muncul di mimpinya, dari Haekal yang menjatuhkan diri bebas di sekolah, hingga ia yang mengakhiri hidupnya di kamar mandi, Kemudian momen indah saat dirinya bersama bersama dengan Haekal, semua itu berputar bergantian dan membuat Arka mual. Semuanya benar benar nyata, dari hawa darah segar Haekal yang mengalir dari tubuhnya, hingga tubuh dingin dan kaku Haekal, Arka masih bisa merasakan sensasi itu pada tubuhnya.
Arka menggigil, tubuhnya benar tidak bertenaga dan pandangannya mengabur. Arka benar benar tidak kuat. Harus berapa kali lagi ia melihat Haekal mengakhiri nyawanya di depan matanya. Harus berapa kali lagi ia mendekap tubuh kaku Haekal. Harus berapa kali lagi Arka menemukan Haekal tidak bernyawa dengan kedua matanya. Arka akui ia salah karena sudah bermain main dengan lingkaran setan itu, tapi sunggguh Arka sudah lelah, ia menyerah.
Jika memang tuhan saat ini sedang menghukumnya, memberikannya pelajaran karena kebodohan dan keangkuhannya saat itu. Arka sudah mengakui kesalahannya, sudah mengakui perbuatannya, bahkan Arka sudah memperbaiki kesalahannya. Tapi Arka tidak mengerti, kenapa lagi lagi ia dikirim ke masa lalu. Jika tujuannya hanya menyaksikan tubuh Haekal yang tidak bernyawa di depannya, melihatkan padanya betapa menyesalnya dirinya karena sudah menyia-nyiakan Haekal. Arka lebih baik mati, karena jujur ia tidak sanggup.
“ Ya ampun nak… kita ke dokter aja ya?” Ibunya masih setia mengelus pelan kepala dan punggung Arka bergantian. Sedangkan Arka masih terduduk lemah di depan closet, air matanya pun mengalir dengan deras.
Arka menggeleng pelan, menutup matanya mencoba untuk menetralkan rasa pusing di kepalanya. Tapi lagi lagi ketika ia menutup matanya, potret tubuh Haekal yang tidak bernyawa kembali muncul dan membuat perutnya kembali di kocok membuatnya kembali muntah.
“ Bunda ambilin air anget ya… “ Arka hanya mengangguk lemah dan Ibunya dengan segera bergegas keluar.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Haekal mengigit kukunya gusar sambil menatap jam dinding kelasnya. Tadi pagi, ia berniat untuk memberikan Arka surprise hadiah ulang tahunnya yang ke 17 yaitu sebuah motor ninja yang Arka idam-idamkan sejak dulu. Tapi saat Haekal sampai di rumah Arka, Ibunya mengatakan Arka tiba tiba demam tinggi.
Haekal sempat menengok sahabatnya itu, bahkan mengecek suhu panasnya dan benar benar tinggi. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Arka yang demam, bahkan ini bukan kali pertamanya Arka demam, Hanya saja, tadi saat Haekal keluar kamar Arka, dalam tidurnya pria itu mengigaukan namanya dan pria itu menangis.
“Den… gue bolos ya…” Ucap Haekal mendekati meja ketua kelas, kala bel berbunyi menandakan waktu istirahat pertama.
“ Lah… anak emas sekolah tumben bolos…kenapa lo?”
“ Itu si Arka kan sakit…”
“ Ya terus kenapa? emang lo dokternya?”
Haekal bingung mencari alasan, tidak mungkin ia mengatakan ia mengkhawatirkan Arka, bisa bisa Haekal menjadi bahan candaan di kelas.
“ Tadi nyokapnya nelfon gue, minta tolong jagain, kan nyokapnya Arka jaga toko”
“ Ohh… yaudah.. Terus kalau guru nanya?”
“ Bilangin aja ada kegiatan osis… minta tolong banget nih gue…”
“ Yaudah yaudah sana… sekarang aja mumpung lagi istirahat, guru ngga ada yang sadar.. “
“ Thanks… tas gue nanti tolong antar ke rumah Arka ya.. Kalau gue bawa ntar guru curiga”
“ Hmmm”
Haekal menjentikkan jarinya girang dan langsung melesat keluar kelas. Haekal tadi memang berencana ingin bolos karena itu ia meArkair motornya di luar sekolah.
“ Huuft…. Padahal gue mau lo yang nyobain motor ini Ka…” Cicit Haekal sendu setelah berhasil melompat pagar dan mengambil motornya yang ia parkir di sebuah toko tidak jauh dari sekolahnya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“ Loh Haekal… kok disini?” Tanya Ibu Arka kaget ketika melihat Haekal yang masuk ke dalam rumah
“ Hehe bolos tante… kasian Arka sendiri ngga ada temen” Haekal menggaruk kepalanya canggung
“ Astaga… tapi ngga papa ini kamu bolos? Ntar di cariin loh…”
“ Udah bangun tadi… cuma itu tadi dia muntah-muntah ini lagi bunda bikini bubur”
“ Hoalah…sakit kenapa dia tan?”
“ Ngga tau tiba tiba aja pagi panas gitu, ini buburnya udah jadi,tante boleh minta tolong bawain ke atas ngga? Tante mau ke apotik buat beli obat, abisnya dia ngga mau dibawa ke dokter”
“ Siap laksanakan” Haekal memberikan gerakan hormat
Haekal membawa semangkok bubur yang sudah disiapkan Clara, tidak lupa ia membawa sebotol saus tomat karena Arka yang membencinya. Haekal tidak ingin mengusili Arka, Haekal sengaja membawanya untuk mengancam pria itu jika ia tidak mau makan, maka Haekal akan menyuapinya saus tomat itu.
PRANK
Haekal menjatuhkan bebas mangkok di tangannya dan langsung berlari menuju Arka, pasalnya saat ia membuka pintu, ia melihat Arka tengah bersiap-siap menusuk lehernya dengan pisau.
“ KA LO NGAPAIN!” Pekik Haekal panik menahan tangan Arka.
Arka setengah sadar, memberontak kala Haekal menahannya, berusaha untuk mendekatkan pisau itu kelehernya.
“ Lepas! Biarin gue mati! Biar gue yang mati!” Berontak Arka semakin menggenggam kuat pisau itu
“ ka! Sadar! Lo kenapa!” Haekal mencengkram kuat pergelangan tangan Arka, membuat cengkraman Arka pada pisatu itu melemah dan pisau itu terjatuh.
Haekal pun dengan cepat menendang asal pisau itu, menjauhkan sebisa mungkin dari jangkauan Arka.
“ Ka liat gue! Arka!” Haekal mengoyangkan tubuh Arka, memaksa Arka menatap dirinya.
“ Sadar… ada gue… tenang… hm?” Ucap Haekal lagi sambil mengelus pelan pundak Arka
Arka terduduk, memeluk lulutnya dan menangis terisak.
“ Ka….?” Haekal ikut berjongkok sedikit terkejut melihat Arka yang menangis dan meraung meraung seperti itu.
“ Gue capek… gue ngga kuat… biar gue aja… gue aja….” Tangis Arka menjadi jadi
Melihat hal itu Haekal pun membawa Arka dalam pelukannya, mengelus pelan pundak Arka guna menenangkannya.
“ Gue ngga mau lagi…. Gue ngga kuat… gue capek… gue mohon… berhenti….” Tangis Arka dalam pelukan Haekal
“ Tenang Ka… its oke… gue disini…” Haekal mengelus pelan pundak Arka
Arka mengadahkan kepalanya menatap Haekal dengan air mata berderai.
“ Haekal-…. Lo… Hae… Kal…?” Ucap Arka sambil menangkup wajah Haekal.
Haekal terkejut, Arka masih belum sadar.
“ Eung… ini gue.. Haekal… its oke… ada gue” Senyum Haekal.
Arka tersenyum lebar, seolah tenang setelah mendengar nama Haekal tapi sedetik kemudian, tubuhnya tumbang dan Arka pingsan.
“ Ka! Arka! Arka!” Haekal menepuk-nepuk pelan pipi Arka panik. Kemudian tanpa pikir panjang Haekal langsung menggotong tubuh Arka melarikan anak itu ke rumah sakit.