![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
Deno dan Raeman, yang merupakan teman sekelas Haekal, sedikit terkejut kala Haekal duduk di meja merasa saat di kantin
" Gue duduk sini ya" Ucap Haekal sedangkan mereka berdua saling menatap heran
" Tumben ngga sama Arka.. biasa kemana-mana berdua mulu tu" Tanya Deno heran
" Males jadi nyamuk... " Ucap Haekal malas
" Lah emang itu si Ara ngga ada temen cewek, liat dong gue... pacaran sama Areum sahabat juga ngga gue tinggal ya ngga" Bangga Raeman
" Yee itu lo menang karna Areum anak SMA sebelah, coba aja satu sekolah bucin yang ada lo!" Kesal Deno
Haekal hanya terkekeh dan memutar matanya malas, Deno dan Raeman ini tidak jauh berbeda dengan Arka dan Haekal, hanya saja hubungan mereka berdua hanya sebatas sahabat tidak seperti Haekal, yang memiliki rasa lebih pada Arka, bahkan rasa yang seharusnya tidak dimiliki oleh Haekal terhadap Arka.
Sudah hampir 3 minggu Arka berpacaran dengan Ara, banyak yang berubah. Arka akan pergi dan pulang sekolah bersama Ara, makan siang bersama Ara bahkan belajar bersama dengan Ara. Jika sabtu dan minggu adalah jadwal Arka dan Haekal untuk main ps atau hanya menonton hingga larut malam, kini waktu itu Arka pakai untuk berpacaran dengan Ara.
Haekal tau, suatu saat nanti ini akan terjadi. Akan ada titik dimana ia dan Arka tidak akan bisa terus bersama, akan ada masa dimana mereka sibuk dengan jalan hidup masing masing. Tapi tetap saja bagi Haekal ini terlalu cepat, karna sungguh tidak siap dan tidak rela.
Haekal sedikit tersentak kala seseorang menggeplak kepalanya, siapa lagi oknumnya jika bukan Arka.
" Bengong terus.... " Ucap Arka sambil terkekeh pelan
" Bacot! Sana lo! hush hush.... " Usir Haekal dan Arka hanya terkekeh kembali berjalan di sebelah Ara.
" Nan.." Panggil Raeman dengan senyuman penuh arti
" Hmm?"
" Lo cemburu ya?"
Haekal tersedak sedangkan Deno dan Raeman menatap Haekal tidak percaya
" Waah... gila lo Nan…sama sahabat sendiri nikung... atau Arka yang nikung Keenan? secara kan Keenan udah kenal Ara duluan dan lebih cocok aja gitu" Timpal Deno
" Kayanya Arka sih yang nikung... ini kalian ngga berantem kan? kalau karna cewek kalian berantem gokil sih..."Raeman menggeleng tidak percaya
Haekal hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Memang benar Haekal cemburu tapi bukan pada Arka, tapi pada Ara, karena telah merebut Arka-nya.
" Ngga lah ngapain... mana ada waktu buat pacaran..." Bantah Haekal dan beruntung Deno serta Raeman langsung percaya.
" Iya deh si paling ambis... " Deno mengangguk acuh dan melanjutkan makannya.
\~\~\~\~\~\~\~
Haekal sedikit bingung kala ayah dan ibunya menyuruhnya untuk makan bersama di meja makan, pasalnya selama ini bahkan meja makan itu tidak pernah diduduki oleh ayah dan ibunya.
" Kenapa Mi? Pi?" Tanya Haekal tanpa basa basi karena ia tau, pasti ada hal yang akan dibicarakan.
" Yaudah mami ngga mau basa basi, papi sama mami mau cerai" Ucap Ibunya tanpa menatap putranya.
Haekal menelan ludahnya kasar, ia tau selama ini hubungan ayah dan ibunya itu tidak pernah baik, setiap harinya hanya bertengkar dan saling memaki. Tapi Haekal tidak menyangka bahwa mereka mengambil keputusan itu.
" Yaudah mi ngga pap, Kenaan hargai keputusan papi dan mami...." Ucap Haekal susah payah sambil memaksakan senyumannya walaupun jujur, saat ini ia benar benar kecewa
" Bagus, kamu ikut sama papi kamu..." Ucap Ibunya lagi dan tepat setelah itu Haekal bisa melihat ayahnya yang menatap ibunya tidak suka
" Kenapa jadi ke saya? Saya sibuk dan sering keluar kota, repot bawa dia!"
" Loh dia kan juga anak kamu! Kamu pikir saya juga ngga sibuk? Saya udah capek loh ngelahirin dia, ngebesarin dia, tinggal ngasuh doang kok ngga mau!"
" Ngga! Pokoknya anak itu tanggung jawab kamu! Saya kan sudah bantu semua biaya dia! kamu pikir berapa uang yang keluar buat besarin dia ha?!"
" Loh ngga bisa gitu dong! Kamu pikir saya juga ngga ngeluarin uang?...."
" Pi... Mi... udah" Ucap Haekal menengahi, matanya pun berkaca-kaca
" Keenan udah gede... Keenan bisa hidup sendiri ko... jadi kalian ngga usah berantem... karna Keenan juga selama ini bisa kok sendiri" Ucap Haekal susah payah menetralkan suaranya.
" Yasudah kalau kamu mau tinggal sendiri. Nanti tiap bulan saya kirim uang, jangan bikin masalah, saya malas harus datang ke sekolah kamu" Ucap Ayahnya final dan meninggalkan ruang makan.
" Iya pi...." Ucap Haekal mengangguk pelan
Dan tidak lama setelah itu Ibunya juga mengatakan hal yang sama dan meninggalkan rumah. Haekal masih diam di meja makannya, menengadahkan kepalanya sambil beberapa kali mengedipkan matanya. Ia benci dengan dirinya, belakangan ini ia sering menangis. Mengabaikan tangisannya yang mulai keras, Haekal menangis menangis sejadi-jadinya karena ia tidak tau lagi bagaimanya hancur dan kecewanya ia saat ini. Karena saat ini ia merasa dicampakkan oleh dua orang yang begitu ia sayangi, Arka dan orang tuanya.
\~\~\~\~\~
Arka tersenyum tipis melihat Ara yang malu malu saat menyiapkan bekal piknik dengan Ibunya. Clara dan Evan selalu menyempatkan diri setidaknya satu kali dalam sebulan untuk pergi piknik. Sehingga kegiatan piknik ini sudah menjadi jadwal rutin dan wajib mereka setiap bulan. Arka yang ingin mengenalkan Ara dengan keluarga meminta izin untuk mengajak Ara pergi piknik, walaupun harus menjalani wawancara panjang dari Evan, Arka akhirnya diizinkan membawa Ara.
" Udah semua kan?" Tanya Evan saat memasukkan barang barang mereka ke mobil.
" Bentar... kamu udah bilang Haekal kan?" Tanya Clara dan Arka dengan segera menepuk pelan keningnya dan tergesa mengambil ponselnya.
" Tuh.. sekalinya udah punya pacar temen dilupain, bener bener ya kamu..." Omel Clara dan Arka hanya cengengesan.
Setelah beberapa kali dering, Haekal pun akhirnya mengangkat panggilan Arka.
{" Napa telfon telfon?"} Jawab Haekal malas pada panggilan telfonnya.
" Sini cepet"
{" Ngapain?"}
" Biasa... piknik bulanan, Cepetan ditungguin nih"
{" Yaah.. kali ini gue skip, Sorry banget gue ada urusan gtu, Ngikut bokap, Bilang ke bonyok lo ya"}
Arka mengerutkan keningnya tidak suka, ini kali pertamanya Haekal menolak ajakannya.
" Yah ngga asik lo…Bonyok lo kan bonyok gue.Udah Kal kabur aja, atau gue jemput nih nanti?"
{" Ngga usah ngga usah, Gue di luar kota, ini lagi otw, Ntar gue bawa oleh oleh"}
" Dih ngga bilang bilang. Yaudah deh... ngga ikut nih?"
{" Hhmmm, Pacaran mulu sih, Yowes ni gue tutup ya, mau turun soalnya"}
" Yup"
Arka mematikan ponselnya dan sedikit terlihat kecewa
" Ngga ikut dia bu... katanya lagi ada urusan sama bokapnya ... sejak kapan dia lebih milih ortu dia ketimbang kita?" Gerutu Arka
" Yaudah mau gimana, lagian kamu ngasih taunya telat, Ibu bilang dari minggu kemarin ya"
" Ehe... lupa lupa maap maap... yaudah yok"
Mereka pun mulai masuk ke dalam mobil. Tidak jauh dari sana, sebenarnya Haekal memperhatikan mereka. Tadi Haekal memang berniat ingin ke rumah Arka karena ia merasa bosan di rumah dan ingin menghibur diri karena perceraian orang tuanya itu, sekaligus ingin bercerita pada Arka akan masalah yang terjadi di rumahnya, karena selama ini hanya Arka tempatnya bercerita. Kemudian, ia melihat Ara yang keluar dari rumah Arka, membantu membawakan beberapa barang barang mereka untuk dimasukkan ke dalam mobil. Haekal yang melihat itu mengurungkan niatnya. Ia memang sedikit kecewa karena awalnya ia mengira Arka memang tidak ingin mengajaknya.
Tapi terlepas dari Arka yang lupa atau semacamnya, Haekal sengaja menolak untuk ikut karena ia tidak ingin mengganggu Arka dan pacarnya itu. Belum lagi Haekal tidak yakin dia akan kuat dan ujung-ujungnya, Haekal hanya sakit hati dan kembali menangis.
" Haaah... gini amat idup gue..."
Cicit Haekal menghela nafasnya dan menghidupkan motornya memilih untuk kembali pulang.