What If [BL]

What If [BL]
26



Keenan mendudukan dirinya di salah satu sofa bekas yang ada di atap. Ia benar benar muak dengan semuanya. Ia memaksakan diri untuk pergi ke sekolah karena ia tidak ingin merasa kesepian di rumah, mengabaikan semua masalah yang terjadi di rumahnya, berharap dengan bertemu teman temannya, ia sedikit terhibur.


Namun sepertinya Keenan terlalu berharap banyak, rumor langsung menyebar, bahkan sampai yang mencoreng nama baiknya. Keenan bisa saja meluruskan apa yang terjadi, tapi ia terlalu lelah dengan itu semua, faktanya, kalaupun mereka memang peduli pada Keenan, semua rumor itu tidak akan ada. Bahkan tidak ada satupun yang menyemangatinya dan memberikannya dukungan dengan sungguh-sungguh, semuanya hanya senyuman dan rasa kasihan palsu, padahal dibelakang, mereka akan membicarakannya.


Kreeek 


Keenan mengadahkan kepalanya ketika mendengar suara pintu dibuka, dan sedikit terkejut melihat Arka. Keenan tersenyum tipis, melihat Arka yang sedikit mengambil nafas, sepertinya pria itu tadi berlari.


“ Gue ngga bunuh diri kok….” Ucap Keenan dan Arka hanya menatap pria itu lurus


“ Dih, siapa juga yang mau nolong lo! Ini tempat gue bolos…” Ucap Arka dan merebahkan tubuhnya pada sofa yang lain, langsung membuka buku komiknya.


“ Gue boleh pinjam bentar?” Tanya Keenan lagi pelan.


“ Terserah! Jangan ganggu gue! mendekat lo!  gue lempar dari atas sini!” Ucap Arka memasang earphonenya


Keenan hanya tersenyum tipis dan mengangguk paham, saat ini ia tidak memiliki energi untuk mengusili Arka. Keenan tidak tau apakah Arka memang sengaja naik ke atas sini, atau memang hanya kebetulan, tapi entah kenapa Keenan benar benar merasa berterima kasih pada Arka, karena saat ini ia benar benar kesepian.


Tidak lama setelah itu bel berbunyi, Keenan menghela nafasnya panjang, jujur ia tidak ingin masuk ke dalam kelas, ia benar benar muak dengan semua omongan teman temannya itu. Keenan pun menatap heran Arka yang tampak tidak terganggu dengan bel sekolah, tapi sedetik kemudian Keenan ingat Arka mengatakan ini tempat ketika pria itu ingin bolos.


“ Lo ngga pernah bolos ya?” Tanya Arka ketika Keenan berdiri dari duduknya hendak kembali ke kelas.


“ Uhm… ngga…. Gue kan anak teladan, ngga kaya lo brandal!” Ucap Keenan sambil tersenyum miring.


“ Cih… cupu banget lo… hush sana sana… “ Ucap Arka sambil sedikit mengejek.


“ Tck… Lo pikir gue ngga berani bolos?!” Tanya Keenan kesal sedangkan Arka hanya mendelik bahunya pelan.


“ Oke gue bolos!” Ucap Keenan dan kembali menghempaskan tubuhnya bebas pada sofa bekas itu, menatap Arka kesal, Keenan itu pantang ditantang, apa lagi oleh orang seperti Arka.


Arka hanya menatapnya miring dan memutar matanya malas, tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Keenan dan kembali membaca buku komiknya.


Setelah itu mereka tidak ada yang berbicara, Arka sibuk dengan dunianya sendiri membaca komik, dan Keenan memainkan ponselnya. Sesekali Keenan sedikit terusik karena Arka yang tertawa terbahak bahak, kemudian tiba tiba menangis, kemudian kesal, kembali tertawa, begitu saja terus. Keenan tidak tau apa yang dibaca oleh Arka, tapi selalu saja, Arka seperti orang gila saat membaca komiknya itu, dan entah kenapa Keenan menikmati hal itu.


Kalau kalian emang peduli…. Seenggaknya datangin gue….


Ucap Keenan menatap sendu layar ponselnya. Karena tidak tau harus melakukan apa, awalnya Keenan ingin melihat vidio pembelajaran online, tapi melihat Arka di depannya yang tertawa terpingkal pingkal dengan buku komiknya itu, membuat Keenan juga ingin merilekskan sedikit pikirannya karena selama ini, hidupnya hanya diisi dengan belajar.


Sayangnya di ponselnya tidak ada aplikasi game atau semacamnya, Keenan bahkan tidak memainkan media sosial, dan pada akhirnya Keenan hanya bisa membaca postingan di forum sekolahnya, membaca komentar pada postingan yang membahas akan orang tuanya yang bercerai.


Beragam komentar ia temui disana, dari tidak peduli, menyebarkan ftnah sampai yang menyampaikan rasa kasihan dan khawatir padanya. Tapi pada faktanya, dari semua komentar yang mengatakan iba dan kasihan padanya, tidak ada yang benar benar mendatanginya, menemaninya dan menanyakan bagaimana perasaannya.


Keenan melirik Arka sebentar, mata pria itu masih terfokus pada bukunya, earphonenya pun masih terpasang. Keenan kembali tertunduk, dan air matanya mengalir begitu saja, Keenan sejujurnya tidak perlu semua ucapan kasihan itu, tidak perlu senyuman dan tatapan iba yang diberikan oleh orang padanya, Keenan tidak perlu semua itu.


Arka menelan air ludahnya kasar, sedari tadi, ia tidak memutar lagu, sehingga ia masih bisa mendengar suara tangisan Keenan, Arka tidak tau sesedih apa Keenan saat ini, tapi tangisan itu, menggambarkan betapa sakit dan hancurnya hati Keenan. Arka masih menatap buku komiknya, tidak lagi tertawa dan heboh seperti tadi, entah kenapa, ia ingin mendengar tangisan Keenan dan menemaninya, walaupun Keenan tidak menyadari itu.


BRUK


Arka tersentak, membuka matanya dan mengurut pelan pinggangnya, pasalnya Keenan menarik tubuhnya paksa dari sofa itu yang sedang tertidur.


" Apa sih!" Kesal Arka menatap Keenan, tatapanya pun meneduh ketika menemukan mata Keenan yang sedikit merah dan sembab, sadar dengan arah pandang Arka, Keenan pun memalingkan pandangannya.


" Udah sore! pulang!" Ucap Keenan dan Arka langsung berdiri menatap sekitar, ternyata benar langit sudah mulai berwarna oranye


" HUAAA KEENAAAN BUKU GUEEEE!" Kesal Arka lagi pasalnya kala ia terjatuh tadi bukunya itu ikut terjatuh tepat pada genangan air


" Tck... buku doang..." Ucap Keenan memberikan tatapan mengejek


" Gue dapatinnya susah! Sialan!" Ucapnya sambil mengibas ngibas buku itu.


" Apa lagi?! Pergi lo sana!" Kesalnya menatap Keenan yang menunggunya.


" Gue mau ngunci pintu atap Arka! Mau gue kurung lo disini?!"


Arka sedikit mendecak dan berjalan di belakang Keenan. Arka sedikit menghela nafas lega, tadi Keenan menangis cukup lama hingga ia tertidur sendiri. Arka sebenarnya bisa saja pulang saat bel berbunyi tadi, hanya saja, Ia merasa tidak tega meninggalkan Keenan sendiri, dan sedikit merinding mengingat mimpinya akan Keenan, takut Keenan benar benar menjatuhkan dirinya. Karena itu Arka masih disana, menunggu Keenan hingga bangun, tapi karena bosan menunggu dan angin sepoi sepoi, membuatnya sendiri ikut tertidur.


" Nan..."


" Hmm?"


" Ngga usah didengerin " Ucapnya membuat Keenan menghentikan langkahnya dan berbalik menatapnya heran.


" Huh?" Tanya Keenan bingung


" Tck.. bodo lah! Minggir!" Ucap Arka lagi dan mempercepat langkahnya meninggalkkan Keenan, antara malu atau gengsi karena Kenaan tadi yang menatapnya teduh dengan tersenyum tipis.


Keenan tersenyum tipis, seperti dugaannya, Arka itu anak yang baik, walaupun ia masih tidak tau, apa alasan anak itu menjauhinya, tapi sepertinya, Arka sudah membuka pintu pertemanan untuknya.


" Ngomong apa lo tadi?!" Ucap Keenan sambil merangkul Arka sedangkan Arka  melepas tangan pria itu dan kembali memperbesar jarak mereka


" Lo khawatirin gue ya? Lo takut gue depresi karena diomongin ya? Lo takut tadi gue mau loncat ya? Lo sebenarnya mau jadi temen gue kan ? iya kan benar kan?" Ucapnya kembali mengerjar Arka dan merangkulnya.


" Berisik! Lepas!" Kesal Arka dan langsung berlari meninggalkan Keenan ketika berhasil melepaskan dirinya


" Hahahaha....Arkaaa tungguin gue!" Gelaknya dan berlari mengejar Arka.