![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
Haekal menghela nafasnya panjang. Menjatuhkan bebas tubuhnya ke tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar nya.
"Kira-kira nanti rasanya kaya gimana ya.….."
Cicit Haekal pelan sambil mengelus dadanya. Haekal mengambil bantal, menutup wajahnya dengan bantal dan perlahan ia bisa merasakan air matanya yang mengalir di pipinya.
Ini baru permulaan, bahkan Haekal belum melangkah, tapi tetap saja Haekal sudah kalah di awal dan bagaimana pun, Haekal memang sudah patah hati dari awal .
Haekal memiliki satu rahasia besar
Sebuah rahasia yang hanya dia dan tuhannya yang tau. Sebuah rahasia yang tidak akan ia ungkapkan kepada siapapun. Sebuah rahasia yang bisa saja menghancurkan hidupnya maupun orang di sekitarnya.
Haekal mencintai Arka.
Haekal tidak tau kapan perasaan itu muncul, kapan rasa cinta itu muncul. Tapi Haekal menyadari itu semua saat tahun terakhir ia duduk di bangku SMP. Jantungnya berdebar setiap kali melihat Arka, ia menjadi takut menatap Arka, takut menatap pria itu dengan lekat. Haekal selalu salah tingkah saat Arka merangkul dan mengusak kepalanya.
Kemudian Haekal menjadi tidak biasa jika tidak bersama Arka, apapun yang ia lakukan harus bersama Arka. Haekal tidak peduli jika uangnya habis, jika ia lelah menemani Arka bermain basket, jika ia mengantuk mengajari Arka mati-matian agar mereka bisa berada di SMA yang sama. Kalah di setiap permainan mereka agar Arka memenangkan taruhan. Haekal tidak peduli itu semua. Jika dengan begitu Haekal bisa bersama Arka, jika dengan begitu Haekal bisa membuat Arka tertawa dan tersenyum, Haekal akan melakukannya.
Haekal tau ini salah, Haekal tau ini adalah penyimpangan. Sebut dia pendosa dan segalanya. Tapi Haekal juga tidak mengerti, cinta datang begitu saja, cinta itu muncul begitu saja menyelimuti hatinya. Haekal tau banyak yang menyukainya, bahkan ia dijodohkan dengan anak teman teman ayahnya, tapi hanya Arka yang ada di pandangannya, hanya Arka yang ada di hati dan kepalanya.
Haekal menggigit bibirnya kuat, berusaha meredam tangisannya, sebut dia cengeng, sebut dia banci karna menangis. Tapi begitulah Haekal, hatinya benar benar rapuh, hanya dengan begini Haekal sudah menangis dan dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika pujaan hatinya itu bersama orang lain.
Haekal tiba tiba ingat dengan kalimat Arka
-Namanya juga cinta Kal.Makanya, cobain gimana rasanya jatuh cinta, lo rela ngelakuin apapun demi orang yang lo cinta bahkan lo sakit sekalipun, lo ngga peduli-
Haekal sudah memulainya lebih dulu, jauh sebelum Arka merasakan apa itu yang namanya jatuh cinta. Dan sekarang Haekal juga sudah merasakan sakitnya, sebuah pengorbanan yang Arka maksud.
"Lo bener Ka… karna Cinta lo rela ngelakuin apapun"
"Dan itu yang gue lakuin sekarang."
\~\~\~\~\~\~\~\~
“ Bawa buku lo!”
Perintah Haekal saat jam istirahat baru saja berbunyi dan ia bisa melihat wajah tidak senang dan penolakan dari Arka.
“ Apaan sih! baru juga istirahat! Kal gue tau gue goblok tapi nggak gitu juga Kal! Otak gue ngga bisa diforsir kaya gini!”
Haekal menghela nafasnya jengah sambil menyeret tubuh Arka, mengabaikan Arka yang memberontak.
“ Kita ngapain ke perpus sih?! Biasanya kalau belajar di taman atau ngga di atap, kalau disini ngga bisa berisik chan”
“ Lo bisa ngga? sehari aja ngga ngabacot! capek telinga gue ini!” Kesal Haekal sambil mengangkat kepalan tangannya
Arka dengan cepat menutup mulutnya rapat rapat sambil tersenyum tanpa dosa. Haekal hanya bisa geleng geleng kepala melihat temannya itu. Kemudian matanya liar mencari seseorang.
“ Nah itu dia…” Ucap Haekal ketika menemukan orang yang ia cari dan menyeret tangan Arka paksa.
“ Kal..Kal…Kal…Haekaal…… ngga mau, ngga mau, ada Ara jangan disana…” Bisik Arka ketika menemukan si gadis incarannya tengah duduk sendirian sambil membaca buku.
“ Diem… hai Ra.. sorry ya lama” Sapa Haekal sedangkan Arka bersembunyi di belakang Haekal
“ Iya ngga papa Keenan…gue baru nyampe kok”
“ Ngapain sih Kal!” Bisik Arka
“ Pdkt lah bangsat! Jangan malu maluin gue!” Bisik Haekal lagi sambil menepuk pelan punggung Arka.
“ Woi jangan malu-maluin gue, tu anak orang awas lo sentuh… Dah ya Ra gue cabut dulu, ada rapat soalnya, kalau dia nyebelin atau goblok banget, tabok aja ngga papa”
Arka menatap Haekal tajam sedangkan Haekal hanya terkekeh sambil mengangkat alisnya menggoda Arka. Setelah itu Haekal meninggalkan mereka berdua. Haekal sempat beberapa kali menoleh, menatap Arka sendu yang tengah tersenyum malu.
"Semoga lo bahagia ya Ka…"
Cicit Haekal sendu dan sedikit berlari keluar dari perpustakan.
\~\~\~\~\~\~\~\~
“ Akh…. Arka berat! gila lo!”
Kesal Haekal pasalnya Arka tiba tiba merebahkan tubuhnya pada tubuh Haekal yang tengah bersantai di tempat tidurnya.
“ Ngapain lo kesini?! Mana ngga ada sopan-sopannya main masuk!” Ucapnya lagi sambil mendorong tubuh Arka agar turun dari tubuhnya.
“ Kal sumpah lo terbaik dah!! ngga ngerti lagi gue…” Girang Arka sambil memeluk Haekal kuat
“ Kenapa lo? jadian?”
“ Ya belum lah.. Tapi gue berhasil pdkt hehe. Ttrus gue dapet nomornya, Oiya tadi dia cerita juga suka main game sama nonton film, terus ya Kal, ternyata dia udah liat gue dari zaman SMP coba, terus terus…..”
Arka menegakkan duduknya dan mulai menceritakan apa yang terjadi tadi saat ia belajar bersama Ara. Haekal yang melihat itu hanya bisa tersenyum sendu, berusaha melihatkan bahwa ia tertarik dan mendengar dengan seksama cerita Arka, padahal sejujurnya, Haekal tidak ingin mendengar itu semua. Hatinya sangat sakit, menatap bagaimana berbinarnya mata Arka saat ini dan senyuman itu, benar benar cerah. Mata berbinar yang dulu hanya Arka munculkan karena dirinya, saat Arka senang karena diajak main oleh dirinya, diberikan hadiah olehnya, dijahili dan tertawa karena dirinya, melihat dirinya saat berdiri didepan kelas menerima hadiah lomba, menceritakan pada semua orang bagaimana bangganya Arka memiliki seorang sahabat seperti dirinya.
Ya, hanya karena dirinya
Tapi sayangnya, alasan mata berbinar itu muncul, kali ini bukan karena dirinya.
“ Kenapa lo?” Tanya Arka menghentikan ceritanya pasalnya dirinya ditatap sedikit berbeda oleh temannya itu
Haekal hanya tersenyum sendu, kemudian menggelengkan kepalanya
“ Kaya anak kecil lo! Happy banget! Dah sana! gue ngantuk…” Ucap Haekal mendorong tubuh Arka keluar dari kamarnya
“ Yah….woi! gue kan mau main kesini malah diusir!” Protes Arka
“ Ya itu kan ps gue di ruang tengah Arka, kepala gue sakit banget ini, mau tidur! besok gue mau latihan debat, rapat osis, belum lagi yang lain!” Ucapnya terus mendorong tubuh Arka
“ Ck… siapa suruh kepintaran! semua ekskul diembat!contoh dong gue, bego bahagia”
Haekal menatap Arka kesal dan menggeplak kepalanya
“ Ngga ada ya orang bego bangga kaya lo! Sana! Lo ada kunci serap kan? Ntar lo kalo pulang, pulang aja, kunci pintu sekalian” Ucap Haekal final menutup pintu kamar dan menguncinya.
Haekal masih bisa mendengar suara Arka yang memprotesnya, kemudian setelah mendengar suara kaki Arka yang melangkah menjauh. Haekal baru menjauh dari pintu. Kembali merebahkan badannya ke kasur.
Jujur saja Haekal benci dengan menangis, tapi Haekal tidak tau lagi bagaimana cara menjelaskannya, ia amat mencintai pria itu, ia juga tidak mengerti kenapa Haekal bisa begitu sayang dan cinta pada Arka, tapi apa yang ia bisa, dunia mengatakan memang mereka tidak bisa bersama. Karena itu Haekal benar benar hancur saat ini, menenggelamkan wajahnya pada bantal, berteriak dalam diam dan membiarkan air matanya mengalir.