What If [BL]

What If [BL]
11



DUK DUK DUK


" KAL!"


DUK DUK DUK


"Haekaaal!"


Arka dengan gusar mengetuk pintu rumah Haekal, beberapa kali memencet bel rumah Haekal dan meneriaki nama pria itu. Jika benar Arka kembali ke masa lalu, jika benar Arka mengulang apa yang terjadi, maka seharusnya Haekal akan membukakan pintunya.


Arka menatap kakinya, karena ia yang langsung berlari keluar rumah, ia tidak sempat menggunakan sendal,  alhasil kakinya kini sedikit luka dan melepuh. Lulutnya juga berdarah karena beberapa kali terjatuh dan terlalu cepat berlari. Arka kembali menitikkan air matanya, luka ini, bahkan rasa sakit di kakinya ia bisa merasakannya, lalu, jika memang ini hanya mimpi, atau jika memang Arka kembali ke masa lalu, kenapa Haekal tidak membukakannya pintu. Ditengah Arka yang hampir putus asa, ia mendengar suara pintu yang dibuka.


" Astaga apaan sih Ka! Masih subuh juga lo gedor gedor pintu rumah  gue ngapain!" Kesal Haekal sambil membuka pintu, mengomeli Arka dengan mata yang masih tertutup.


Jantung Arka seolah berhenti berdetak, itu benar benar Haekal. Berdiri di depannya, menatapnya kesal dengan sedikit mengantuk. Haekal benar benar kembali hidup.


" Kal...." Cicit Arka pelan menatap Haekal tidak percaya


" Huh? Apa-"


Haekal tidak melanjutkan ucapannya pasalnya Arka yang tiba-tiba memeluknya dengan kuat.


" Maafin gue... hiks...hiks..maafin gue Kal... maafin gue... gu-gue ngga ada ni-niat bikin lo ka-kaya gitu... Maafin gue Kal... gu-gue nerima lo Kal... ma-maafin gue... jangan ti-tinggalin gue kaya gitu.... hiks...hiks...Maafin gue Kal... maafin gue...hiks"


Tangis Arka menjadi-jadi. Ia memeluk tubuh Haekal dengan kuat, menenggelamkan wajahnya pada pundak Haekal. Arka bisa merasakan tubuh hangat Haekal, bahkan detak jantung dan deru nafas Haekal, Arka bisa merasakannya. Haekal hidup, tubuhnya panas, ini benarb benar nyata, tidak dingin seperti saat ia memeluk Haekal di ambulan saat itu. Arka tidak peduli apakah ini mimpi, atau ia yang diberi kesempatan untuk meminta maaf sebelum ajalnya, atau bahkan ini halusinasinya, Arka tidak peduli. Saat ini, ia hanya ingin meminta maaf, mengakui kesalahannya, sebelum terlambat.


" Ma- hiks.....hiks...maafin gue Kal... maafin gue... jangan tinggalin gue kaya gitu lagi.. Jangan pergi tiba tiba Kal... Gu-gue ngga kuat Kal.. Maafin gue... ngga seharusnya gue ngomong itu sama lo Kal.... Maafin gue Kal.. Gue nerima lo Kal.. Gue sayang sama lo...gue ada buat lo kal... lo ngga sendiri kal...."


Ucap Arka lagi, ia tidak ingin melewatkan sepatah katapun, jika memang ini adalah waktu yang diberikan oleh tuhan untuk meminta maaf pada Haekal, Arka tidak ingin melewatkan sepatah katapun.


" Arka lepas! Sesak anjing!" Kesal Haekal pasalnya Arka memeluknya dengan sangat kuat, berharap Arka yang melepas pelukannya, Arka malah menguatkan pelukanya.


" Lepas woi! Lo kenapa sih! Abis mimpi apa lo!"


Arka hanya menggelengkan kepalanya memeluk Haekal semakin kuat.


" Arka lepas!"


Haekal akhirnya mendorong Arka dengan kesal, sedikit mengurut lengannya.


" Gila lo! Lo mau remukin badan gue apa gimana sih?! Lo kenapa gue tanya hah? Gue ngga kemana mana juga! Ningalin lo apaan sih!"


Haekal mengomeli Arka habis habisan, Sejujurnya dirinya sedikit tersenyum mendengar tangisan Arka, belum lagi Arka yang memelunya dengan kuat, dan mengatakan bahwa Arka menyayanginya, tapi terlepas dari itu, Haekal masih tidak tau, apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Arka yang mendengar itu hanya terdunduk dan terkekeh pelan, mengusap matanya beberapa kali.


" Lo... Kesini lari? Ngga pake sendal? Trus itu lutut lo?" Tanya Haekal panik menyadari kaki Arka yang luka dan lututnya yang berdarah, ia pun masih menggunakan baju tidurnya.


Arka hanya mengangguk, tersenyum tipis pada Haekal.


" Gila lo! Ck.. ada ada aja tunggu sini! Jangan kemana mana!"


Arka tersenyum, kembali mengangguk. Tak lama kemudian Haekal kembali dengan tas sekolah dan seragamnya.


" Kemana?" Tanya Arka bingung pasalnya Haekal langsung mengunci pintu rumahnya


" Ke rumah lo lah... udah ntar nyampe sana baru lo cerita lo mimpi apaan... gila lo ampe lari ngejar gue kesini ... emang gue kenapa dah di mimpi lo?"


Arka terkekeh entah kenapa rasanya rindu mendapat omelan dan makian dari Haekal, air matanya kembali mengalir.


" Maafin gue ya..." Senyum Mark lagi send


" Udah ah Ka! Lo tambah tua tambah betingkah dah!"


Arka hanya terkekeh mengikuti langkah Haekal.


\~\~\~\~\~\~\~\~


Haekal menyemburkan colanya kala mereka duduk di taman sekolah.


" Gue? Mati? Karena lo? Haha mimpi lo ngga jelas banget dah..."


Gekal Haekal setelah mendengar cerita kenapa Arka sampai berlari hanya untuk melihatnya.


" Ya emang itu yang gue liat di mimpi gue, gimana...." Senyum Arka, ia sedikit lega  ternyata Haekal tidak mengingat apapun. Karena pada awalnya Arka sempat takut jika Haekal juga mengingatnya.


" Tapi... lo ampe nangis gitu... minta maaf sama gue... emang lo ngapain gue? Ampe lo kayaknya nyesel banget... terus gue matinya gimana?"


Tanya Haekal lagi penasaran pasalnya Arka tidak menceritakan dengan detail. Arka tersenyum sendu, mana tega ia menceritakan dengan detail apa yang terjadi sebenarnya.


" Gue.... pokoknya ngelakuin hal yang ngga seharusnya gue lakuin...maaf ya..." Ucap Arka menundukkan wajahnya


" Udah anjing! Gue capek denger lo minta maaf mulu...kan lo gobloknya di mimpi lo... liat gue sini!"


" Bisa liat gue?" Arka mengangguk


" Bisa denger gue ?" Arka kembali mengangguk


PLAK


" Sakit ngga?" Tanya Haekal tidak bersalah setelah menggeplak kepala Arka, sedangkan Arka hanya mengangguk pelan sambil menatap Haekal kesal.


" Yaudah tenang... gue idup nih serius idup... lagian lo mimpi ada ada aja dah... terserah deh lo ngapain gue disana.. Tapi gue ngga akan berakhir sama Haekal yang ada di mimpi lo itu! " Ucap Haekal pasalnya temannya itu masih tampak ketakutan dan sedikit menyedihkan.


" Janji?"


" Iya! Udah ah Ka... lo jangan natap gue kayak gitu... gue takut lo gila anjing! Udah itu mimpi doang... "


Arka terkekeh pelan dan sedikit mengusap ujung matanya.


"Ya.. gue emang hampir gila karna lo Kal,Dan kalau yang gue alami sekarang cuma ilusi, Gue bener gila Kal... Karna lo..."


Ucap Mark dalam hati sambil tersenyum sendu.


\~\~\~\~\~\~\~\~


Arka awalnya berfikir semua ini adalah gambaran alam bawah sadarnya, atau mimpi ia selama koma tapi tertanya tidak. Ini benar benar nyata, buktinya waktu terus berputar dan sudah tiga hari semenjak Arka kembali ke masa lalunya.


Haekal menatap temannya itu jijik, ayolah Arka menatapnya seolah tidak ada hal yang ingin ditatap. Sejujurnya Haekal sedikit heran, kenapa Arka menjadi lebih lembut padanya, mendengarkan semua ucapannya, bahkan Arka tidak memalingkan pandangannya sedikitpun menatapnya, seperti saat ini, sudah sedari tadi Arka menatap dirinya penuh arti.


" Arka..."


" Hmmm?"


" Lo, masih demen sama Ara?"


Arka terdiam, pandangannya pun teralihkan pada Ara yang duduk di belakang Haekal.


" Kenapa?" Tanya Arka


Haekal hanya diam, menghela nafasnya panjang dan tersenyum tipis.


" Ngga.. abisnya dari tadi lo liatin terus, kalau mau gue ban-"


" Ngga" Potong Arka


" Ngga maksudnya?"


" Ya... gue ngga suka lagi sama dia...." Ucap Arka memalingkan wajahnya


" Lah kenapa dah... ada yang baru?"


" Mungkin?"


" Siapa?"


" Lo ngga kenal..." Senyum Arka sedangkan Haekal hanya mengangkat alisnya sedikit tidak terima temannya itu yang menyembunyikan sesuatu padanya.


" Lagian gue ngga mau pacaran..." Tambah Arka


" Kenapa?"


" Bentar lagi kita kelas tiga.. Gue mau ngabisin waktu di SMA sama lo aja sih.. Kaya, siapa tau kita nanti beda kuliah, kan lo bilang lo mau kuliah di luar negri, gue mana punya duit, otak pun kagak sampai, kalaupun lo kuliah di sini, pasti beda kampus, lo pasti keterima di kampus yang bagus"


" Dih... apaan sih... makanya rajin belajar... jangan baca komik mulu! yaudah kalau ngga mau... bagus temen jomblo gue ada"


Arka tersenyum tipis dan melanjutkan makan siangnya.


"Kalo emang gue kembali buat baikin ini semua. Kalo emang gue dikasih kesempatan kedua. Gue bakal ngubah takdir lo. Gue ngga akah ngebiarin lo sendiri dan nangis. Gue...Ngga akan niggalin lo Kal"


Cicit Arka dalam hati tersenyum tipis pada Haekal


" Apaan sih?" Tanya Haekal lagi pasalnya Arka masih tersenyum tipis, menatapnya dengan mata berbinar. Arka hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, kembali memfokuskan matanya pada makan siangnya.


"Ternyata bener, Lo bakal tau seberapa berarti orang itu dalam hidup lo. Lo bakal tau seberapa lo sayang sama orang itu. Kalau lo kehilangan orang itu...Dan kali ini . Gue ngga akan kehilangan lo lagi Kal."


Cicit Arka lagi dalam hati, sambil terkekeh pelan menertawakan kebodohan dirinya. sedangkan Haekal setengah mati menahan detak jantungnya, ini pertama kalinya Arka menatapnya seperti itu, menatapnya penuh cinta.


"Ngga mungkin KAL! sadar! Arka tuh normal! Ngga kaya lo! Perasaan lo doang!" 


Cicit Haekal dalam hati sambil menenggak air minumnya habis.