What If [BL]

What If [BL]
16



Haekal tersenyum tipis menatap Arka yang menatap dirinya tidak senang. Minggu depan akan diadakan ujian kenaikan kelas dan tentu saja, mereka harus belajar dengan sungguh-sungguh mengingat tahun depan mereka akan berada di tahun terakhir mereka di SMA.


Sudah dua minggu ini, setiap malam Haekal sengaja belajar di ruang tengah agar ia bisa belajar dengan fokus. Jika Haekal tetap belajar di kamar, Arka akan memeluknya dan terkadang tertidur karena menemani Haekal belajar dan jujur, itu membuat fokus Haekal buyar. Bagaimana tidak, ia seperti menggendong bayi beruang besar saat menulis di meja belajarnya. Karena itu Haekal memilih belajar di luar, karena Arka tidak akan berani menyentuhnya.


Karena hal itu pula, Evanmemaksa Arka juga ikut belajar di ruang tengah, memaksanya belajar dengan sungguh-sungguh dan jujur itu membuat Arka tidak senang, jika belajar adalah hal yang paling menyenangkan untuk Haekal lakukan, maka bagi Arka belajar adalah hal yang paling benci untuk ia lakukan. Arka merebahkan kepalanya malas pada buku belajarnya, Haekal melirik jam dinding, saat ini pukul 10 malam, wajar saja Arka sudah lelah karena biasanya di jam-jam segini Arka sudah tertidur di pundaknya.


“ Lo ngantuk?” Tanyanya dan Arka mengangguk lemah


“ Yaudah sana tidur…. Gue masih mau belajar”


Arka menggelengkan kepalanya, Haekal tentu tau kenapa pria itu tidak mau ke kamarnya. Jika sebagian orang tidak bisa tidur tanpa memeluk guling, maka Arka juga tidak bisa tidur tanpa memeluk Haekal.


“ Gue masih lama Ka…. Ini soal soalnya masih banyak.. Sana lo tidur! Gue ngga mau ya.. Gotong lo nanti kalau lo ketiduran… bodo gue tinggalin disini…” Ucap Haekal santai masih terfokus dengan buku soalnya.


Arka mendecak kesal, menatap Haekal yang benar benar kalut dengan buku pelajarannya. Semenjak Haekal yang belajar diluar, semenjak itu pula Arka sering tidur lebih awal dan tentu saja, tanpa memeluk pria itu. Jujur saja Arka sudah sangat rindu, moment dimana ia yang perlahan terlelap di pundak Haekal, dengan Haekal yang mengusap pelan rambutnya dan terkadang menyanyikannya lagu pengantar tidur.  Tapi apa yang bisa Arka perbuat, jika Haekal menempati posisi paling atas di hatinya, maka di hati Haekal pendidikan dan pelajar lebih tinggi derajatnya di hatinya dari pada dirinya.


“ Yaudah!”


Kesal Arka dan langsung meninggalkan ruang tengah. Haekal sedikit terlonjak kaget ketika mendengar suara pintu yang tertutup sedikit dibanting.


“ Ck… bucin banget sih!”


Kesal Haekal menghela nafas panjang dan menutup bukunya. Jika Arka sangat bucin pada Haekal, maka Haekal sama bucinnya dengan Arka, mana bisa Haekal membiarkan pacarnya itu yang merajuk karena tidak bisa memeluknya. Haekal menahan senyumannya kala membuka pintu kamar mereka dan mendapati Arka yang belum tidur. Melihat Haekal yang masuk kamar, buru-buru Arka membalikkan badannya dan berpura-pura tidur.


“ Yah… udah tidur… gue tidur di atas aja deh..”  Ucap Haekal pelan kala mendekati tempat tidur mereka.


Tapi sedetik kemudian Arka langsung menarik tubuh Haekal dan membawanya dalam pelukannya.


“ Ngapain peluk peluk.. Kan tadi marah sama gue…”  Senyum Haekal masih memunggungi Arka sedangkan Arka menenggelamkan wajahnya pada pundak Haekal.


“ Kebanting tadi…”


“ Yaudah… kan lo marah sama gue.. Gue mau tidur di atas Arka.. disini sempit”


Tempat tidur Arka ini adalah model Bunk Bed karena sedari dulu ia sekamar dengan kakaknya. Tapi karena mereka yang berpacaran dan Arka yang tidak bisa tidur tanpa guling berjalannya itu, tentu saja mereka berdua tidur di kasur yang sama.


Arka menggelengkan kepalanya, semakin memeluk Haekal dengan kuat.


“ Gue kangen….” Ucap Arka lirih


“ Gue enggak tuh…”


Arka menghela nafas kesal, melepas pelukan Haekal dan membalikkan tubuhnya. Haekal tersenyum jahil, membuat Arka merajuk adalah hal yang paling Haekal senangi.


“ Yaudah sana!” Kesal Arka semakin merapatkan tubuhnya pada dinding.


Haekal terkekeh pelan, Arka benar benar menggemaskan saat ini.


“ Yeees…. Akhirnya gue bisa tidur dengan tenang… ngga perlu sempit sempitan!”


Arka membalikkan badannya, menatap Haekal sendu, sedangkan Haekal hanya mengangkat alisnya menjahili Arka. Arka kemudian hanya menghela nafas pasrah, kembali menghadapkan tubuhnya pada dinding.


“ Good Night…” Ucapnya lirih.


Haekal yang melihat itu menahan tawanya. Pura-pura naik ke kasur yang di atas untuk menjahili Arka.


“ Eh ngga jadi deh… di bawah aja… ada pacar gue…” Gelak Haekal sambil merebahkan badannya di kasur Arka dan langsung memeluk Arka.


“ Lepas…” Ucap Arka melepas pelukan Haekal dari tubuhnya.


“ Ngga lucu…”


“ Euung… Arka...jangan ngambek… sini gue peluk….” Ucap Haekal sambil memeluk Arka mengusakkan wajahnya pada ceruk leher Arka.


Arka setengah mati menahan nafasnya, ayolah leher adalah titik sensitif Arka, terlebih lagi Haekal itu baru saja mandi dan wangi dari tubuh pria itu membuat Arka benar-benar mabuk.


“ Lepas Kal.. gue mau tidur…” Ucap Arka lagi berusaha menahan nafsunya


“ Yaudah… tidur sini gue pelukkk” Ucap Haekal lagi semakin memeluk pria itu kuat layaknya memeluk guling.


“ Kal… lepas….”


“ Ngga mau!”


“ Haekal!”


Arka dengan cepat berbalik, menahan tangan pria itu dan mengungkung tubuh Haekal dibawahnya. Haekal masih terkekeh pelan, masih menjahili pacarnya yang merajuk itu. Tapi sedetik kemudian, ia sadar, Arka tidak bercanda saat ini.


“ Ka…?”


Arka masih diam, menatap Haekal dengan lurus, matanya terfokus pada bibir pink lembut Haekal yang beberapa hari ini membuat Arka gila, jujur saja Arka sudah menahan hasratnya sejak lama.


“ Arka lo ngapain…”


Ucap Haekal pasalnya Arka semakin mencengkram kedua lengan Haekal kuat, menaruhnya diatas kepalanya sendiri mengunci pergerakannya.


“ Arka sa-hmmp!”


Haekal terkejut, bahkan sedikit memberontak kala Arka yang tiba tiba ******* bibirnya. Arka menutup matanya, bibir Haekal benar benar candu baginya, lembut dan manis, Arka semakin tidak ingin melepaskan ciuman itu. Haekal masih membolakan matanya, menutup mulutnya. Tapi perlahan, Haekal terbuai, ciuman Arka benar benar memabukkan. Padahal Arka hanya mengulum pelan bibirnya, mencumbunya dengan pelan, tanpa menuntut sedikitpun. Dan entah kenapa, Haekal bisa merasakan, seberapa cinta dan rindunya pria itu dengan dirinya. Haekal perlahan menutup matanya, membalas ciuman Arka.


Arka masih pada temponya, mengulum pelan bibir Haekal bergantian. Semakin merapatkan tubuhnya pada Haekal. Haekal pun mengalungkan tangannya pada leher Arka, seolah meminta Arka untuk mencumbunya lebih. Setelah beberapa menit mereka saling *******, Haekal menepuk pelan pundak Arka karena pasokan oksigennya yang menipis. Arka melepas pangutan mereka dengan tidak rela. Haekal memburu nafasnya, wajahnya pun memanas dan merah sempurna. Arka langsung merebahkan tubuhnya, menyembunyikannya di ceruk leher Haekal.


“ Ka…” Lenguh Haekal pelan pasalnya Arka dengan sengaja meniup pelan leher Haekal.


Arka terkekeh, salah sendiri karena sudah menggodanya tadi.


“ Pintu kamar udah lo kunci kan?” Ucap Arka dengan suara beratnya dan Haekal mengangguk takut.


Haekal menatap Arka lurus dan kesal sedangkan yang ditatap hanya mendelikkan bahunya pelan.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


“ Kamu kenapa Kal? Demam? Muka kamu merah gitu, trus tumben banget pake kaosan dalam, turtle neck lagi” Tanya Clara bingung melihat outfit Haekal ke sekolah sedikit berbeda.


“ Aha.. Ia tan lagi ngga enak badan aja…”


“ Oalah… kalau ngga kuat sekolah ngga papa… izin aja”


Haekal hanya mengangguk dan Arka setengah mati menahan tawanya.


“ Mati aja lo sana!” Bisik Haekal sedangkan Arka tersenyum gemas sambil memberikan finger heart pada Haekal.


Tadi pagi Haekal benar benar terkejut saat ia ingin bersiap mandi. Arka semalam menggila mencumbunya sehingga entah berapa banyak tanda yang sudah dibuat pria itu di tubuhnya. Haekal sudah melarang Arka untuk membuat tanda di leher, tapi itu adalah titik sensitif Haekal dan mendengar pria itu melenguh Arka tidak tahan. Beruntung kegiatan panas malam mereka hanya saling mencumbu, Arka beruntung bisa menahan hawa nafsunya mengingat Haekal yang masih perlu pergi ke sekolah. Jika saja hari ini hari minggu, maka semalam Arka mungkin sudah menggagahi pria itu.


Dan tadi saat pagi Haekal memprotes kesal pada Arka, ia malah mendapatkan morning kiss dan mereka bercumbu lima menit lamanya karena itu pipi Haekal menjadi mera