![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
2052
Arka menggesekkan kedua tangannya, sambil sesekali menghembuskan nafasnya pada tangannya, memberikan hawa panas. Padahal langit masih terang, tapi sepertinya udara musim dingin mengalahkan panasnya cahaya matahati. Arka akhirnya tiba di kota kelahiran ayahnya, tempat dimana Ayahnya juga diistirahatkan, Arka tidak tau bagaimana sosok ayahnya itu, ia hanya tau nama serta wajah Ayahnya. Ayahnya meninggal saat dirinya berada di dalam kandungan ibunya, sehingga Arka tidak sempat mengenal siapa ayanya itu.
“ Ke alamat ini ya pak..” Ucap Arka setelah keluar dari bandara dan masuk ke dalam taksi, melihatkan ponselnya, sebuah alamat rumah duka yang dikirimkan oleh ibunya.
Arka sempat tinggal di kota kelahiran ayahnya ini saat ini saat ia kecil, hanya saja saat ia berumur 4 tahun ia pindah ke luar negeri bersama dengan ibunya dan tidak pernah kembali lagi, terakhir kali Arka mengunjungi makam ayahnya saat ia lulus dari SMA dan berlibur, itu pun hanya sebentar, sehingga tidak banyak memori yang tersimpan di dalam kepalanya. Arka yang merasa sudah terlalu lama tidak mengunjungi makam Ayahnya memilih untuk mengunjungi ayahnya, terlebih lagi, ia kini berumur 24 tahun, ia sudah bekerja dan menghasilkan uang sendiri, sehingga tidak perlu memikirkan tiket pesawat karena tidak perlu lagi meminta uang pada ibunya.
“ Iya Mah, udah Arka bawa… iya… bunga matahari kan? Yaudah Arka tutup dulu ya… nanti Arka telfon lagi”
Ucapnya melalui telepon, hari ini adalah hari peringatan kematian Ayahnya, Arka sebenarnya ingin kembali ke kota ini setidaknya beberapa hari sebelum peringatan kematian ayahnya, hanya saja, ia tidak bisa mendapatkan tiket yang pas dan terpaksalah Arka mengambil tiket dan sampai tepat di hari peringatan kematian Ayahnya, karena itu setelah dari bandara Arka langsung menuju ke makam ayahnya.
Arka masih ingat, sejak kecil, ibunya selalu menceritakan bahwa Ayahnya itu sangat menyukai bunga matahari, karena itu salah satu wasiat ayahnya untuk membawa bunga matahari jika ingin mengunjungi makamnya.
Arka membungkuk pelan saat memasuki salah satu ruangan di rumah duka, pasalnya di depan makam ayahnya, seorang gadis juga tengah mengunjungi makam seseorang. Arka berdiri di depan makam ayahnya, meletakkan satu buket bunga matahari yang ia beli sebelum berkunjung kesini, kemudian merapatkan kedua tangannya dan berdoa.
Arka tersenyum tipis, melihat foto pernikahan Ayah dan Ibunya yang ada disana, Ayahnya tersenyum sangat cerah. Arka masih ingat saat ibunya menceritakan hal yang paling ibunya benci dari ayahnya itu adalah senyumannya, pasalnya senyumannya sangat indah dan cantik, dan Arka mengakui itu. Arka kembali tersenyum menatap nama Ayahnya,
*Barra Keenan Haekal *
Arka tidak mengenal sebesar apa sosoknya, ibunya mengatakan Ayahnya itu adalah seorang kepala dokter di rumah sakit yang cukup besar di kota ini, Ibunya juga mengatakan Ayahnya itu sangat ramah dan dermawan. Arka masih menyayangkan Ayahnya yang pergi begitu saja karena serangan jantung, Arka belum sempat belajar banyak dari ayahnya itu,tapi setidaknya Arka masih merasa ayahnya bersamanya. Arka sedikit merapikan syal merah peninggalan ayahnya. Ibunya menceritakan Ayahnya benar benar menjaga dan merawat Syal itu, karena Ayahnya bilang, ingin memberikan syal itu pada anaknya kelak nanti.
“ Aku memakainya sekarang ayah…Aku merawatnya dengan baik” Ucap Arka pelan tersenyum tipis, masih bisa mencium bau parfum vanila lembut dari syal itu, parfum kesukaan ayahnya.
*Iya ibu, nanti Keenan langsung pulang. *
Arka menolehkan pandangannya, melirik gadis yang yang berdiri saling memunggungi dibelakangnya tengah berbicara di telfonnya. Atensinya teralihkan pasalnya gadis itu memanggil dirinya dengan sebutan Keenan yang mana itu adalah nama tengah Ayahnya.
Arka pun melirik nama yang tertera di kotak kaca itu.
Oh… ini juga peringatan hari kematiannya ya…. Apa itu ayahnya?
Cicit Arka dalam hati ketika melihat tanggal kematian yang tertera di makam itu sama dengan tanggal kematian ayahnya, Arka pun sedikit takjub pasalnya orang itu hanya lebih tua satu bulan dengan ayahnya. Setelah itu Arka kembali mengalihkan pandangannya, menatap makam ayahnya, tapi sedetik kemudian ia kembali membalikkan badannya, membaca ulang nama yang tertera di makam itu.
Namanya sedikit mirip dengan namaku….
Ucap Arka lagi, sedikit heran dengan semua kebetulan ini.
Arka melangkahkan kakinya pelan, berjalan menyusuri taman yang ada di luar gedung rumah duka itu, menikmati indahnya langit sore.
\*Bruk \*
Arka membalikkan badannya ketika mendengar suara seseorang yang terjatuh.
“ Ah! Tidak syal ku!” Ucap gadis yang terjatuh itu, ketika syalnya diterbangkan oleh angin. Melihat itu, Arka dengan cepat berlari mengejar syal milik gadis itu.
“ Kau tak apa? Ini…” Ucap Arka sambil memberikan syal milik gadis itu, menghampirinya yang masih terduduk
“ Ah… terimakasih… huaa.. Ayah akan menghantuiku jika menghilangkan ini” Ucapnya sambil memeluk syal itu dengan kuat, setelah itu memakaikannya ke lehernya.
“ Ah, ini peninggalan ayahku, aku tidak sempat bertemu dengannya bahkan sebelum aku lahir, jadi hanya ini kenangan ku dengannya, karena ia bilang ingin mewariskan syal ini untukku nanti” Ucap gadis itu mengerti tatapn Arka yang bingung.
“ Aah… begitu…” Ucap Arka tersenyum tipis, mengelus pelan syal merah yang mengalung di lehernya, entah kenapa syal milik gadis itu persis sama dengan miliknya, hanya berbeda warna.
“ Akh!” Gadis itu meringis kesakitan kala ingin berdiri dan kembali terduduk.
“ Sepertinya kaki mu terkilir, jangan dibawa berjalan…” Ucap Arka sambil memeriksa pergelangan kaki gadis itu
“ Apa kau seorang dokter?” Tanya gadis itu dan Arka mengangguk malu.
“ Wah, kalau begitu aku terselamatkan, mobilku ada di sebelah sana, bisa bantu memapahku kesana?” Ucap gadis itu.
Arka menganggukkan kepalanya, berjongkok di depan gadis itu dan meminta gadis itu untuk naik ke punggungnya.
“ Ku bilang jangan membawa kakimu berjalan kan? Tidak apa, aku akan menggendongmu” Senyum Arka ramah sambil menolehkan kepalanya ke belakang
“ Sejujurnya aku tidak enak, tapi yah kau dokter, kau yang lebih paham, maaf aku merepotkan mu…” Ucap gadis itu naik ke atas punggungnya.
“ Aku harus mengompres kakimu….Lutut mu luka…. Ck… di dekat sini tidak ada apotik….” Ucap Arka setelah mendudukkan gadis itu di kursi penumpang depan, dan melihat lutut gadis itu yang berdarah.
“ Kau kesini tadi dengan apa?” Tanya gadis itu
“ Aku? Ah.. aku kesini tadi dengan taksi, kenapa?”
“ Kalau begitu kau saja yang bawa, kita bisa mampir dulu ke apotik terdekat” Ucap gadis itu memberikan kunci mobilnya,
“ Tidak apa?” Tanya Arka hati hati, pasalnya bagi gadis itu Arka orang asing, walaupun Arka yakin dia tidak akan melakukan hal aneh pada gadis itu, dan gadis itu yang terlihat tidak berbahaya di mata Arka, tapi tetap saja mereka berdua orang asing.
“ Tak apa, kau tidak terlihat seperti pria jahat, lagi pula kau dokter, ah tenang saja, aku tidak menipumu atau menjebakmu kok, berjalan saja aku bisa jatuh, apa lagi melukai orang lain” Ucap gadis itu sambil mengangkat kedua tangannya.
“ Ssshhh….” Gadis itu berdesis pelan saat Arka mengompres kakinya dan sedikit mengurutnya pelan.
“ Untuk sementra jangan terlalu banyak berjalan, apa kau sering terjatuh?” Tanya Arka setelah membalut pergelangan kaki gadis itu dengan perban dan memberinya penyangga.
“ Uhm..i-iya lumayan.. Kenapa?” Ucapnya malu.
“ Ini, lututmu banyak luka gores,kakimu bagian sini juga, lain kali coba pakai pelindung lutut, nanti kulitmu bisa rusak, apa kau pernah memeriksanya ke dokter? Mungkin ada masalah di otot gerak bawahmu” Tanya Arka sambil membersihkan luka di lutut gadis itu.
“ Sudah, tapi dokter itu mengatakan tidak ada yang salah, sepertinya aku memang suka mencium tanah ketika berlari…” Ucapnya santai
Arka terkekeh pelan, ia jadi teringat ibunya yang bercerita Ayahnya juga suka terjatuh dan sangat ceroboh. Bahkan di hari pernikahannya, karna gugup, ayahnya terjatuh dan hampir saja menghancurkan kue pernikahan mereka.
“ Baiklah sudah… rumahmu dimana? Biar aku antar…” Ucap Arka setelah menutup luka gadis itu dengan kain kasa dan plaster
“ Tidak apa? Bagaimana dengan mu?”
“ Aku bisa memesan taksi dari sana… “
Gadis itu pun hanya bisa mengangguk karena jujur kakinya benar benar sakit dan ia tidak tau apakah ia sanggup mengemudi atau tidak.
“ Terimakasih pak dokter… kau bahkan mengantarku sampai depan pintu…” Ucap gadis itu dan Arka hanya tersenyum tipis.
“ Tak apa… lagi pula unitmu berada di lantai 3 dan gedung ini tidak punya lift…” Jelas Arka.
“ Baiklah kalau begitu aku permisi, sudah malam…” Ucap Arka membungkuk sopan
“ Tunggu sebentar….” Ucap gadis itu, menahan Arka, masuk ke dalam rumahnya, dan tidak lama setelah itu kembali dengan satu paperbag.
“ Ini.. aku ada sedikit roti, sepertinya kau baru sampai ya, kau pasti belum makan” Ucap gadis itu yang melihat Arka membawa koper kecil dan ransel
“ Tak perlu repot repot…” Tolak Arka
“ Tak apa, bagaimana pun kau sudah membantuku, jika tidak ada kau, aku belum tentu sampai kesini dengan selamat..” Ucap gadis itu dan kembali menyodorkan paperbag itu
“ Baiklah kalau kau memaksa… terimakasih…ah benar juga, kita belum berkenalan, Arka, senang bertemu denganmu” Ucap Arka mengulurkan tangannya.
“ Arka?” Tanya gadis itu kaget dan Arka mengangguk pelan.
“ Itu persis nama panggilan Ayahku ” Ucap gadis itu.
“ Namamu Keenan ya?” Ucap Arka dan gadis itu mengangguk
“ Dari mana kau tau?” Tanyanya
“ Uhm… maaf tadi aku menguping mu saat berbicara di telfon, dan saat kau memanggil dirimu dengan sebutan Keenan, mengalihkan atensi ku, karena itu nama tengah ayah ku” Ucap Arka menggaruk tengkuknya gugup
“ Oh.. jadi kau pria yang masuk ke ruangan tadi ya…Waah.. Kebetulan yang tidak terduga, bahkan makam ayah kita saling berhadapan, jangan bilang ini juga hari peringatan kematian ayahmu?” Tanya Keenan dan Arka mengangguk pelan.
“ Waah… Aku Keenan, senang bertemu denganmu” Keenan mengulurkan tangannya dan Arka menjabat tangan Keenan
“ Baiklah aku permisi, jangan jatuh lagi.. “ Ucap Arka membungkuk dan Keenan hanya terkekeh sambil menganggukkan kepalanya.
Arka pun berjalan menjauh dari pintu rumah itu. Tapi semua kebetulan ini mengusik dirinya. Nama mereka yang kebetulan mirip dengan nama Ayah mereka, kemudian Ayah mereka yang meninggal di hari yang sama bahkan makamnya saling berhadapan, kemudian Keenan yang memiliki kebiasaan terjatuh sama dengan ayahnya, Syal mereka yang sama sama peninggalan ayah mereka dan terlihat sangat mirip.
Arka yakin, pertemuannya dengan Keenan bukanlah pertemuan biasa.
“ Keenan!” Panggil Arka dan berbalik, hanya saja pintu rumah Keenan sudah tertutup dan Arka hanya menghela nafasnya pasrah, sepertinya ia hanya terlalu berlebihan. Ada banyak kemungkinan di dunia ini. Tapi ketika ia berbalik, ia mendengar suara pintu yang dibuka.
“ Ya?” Balas Keenan sambil mendongakkan kepalanya keluar, beruntung ia baru saja menutup pintu itu tepat saat Arka meneriaki namanya.
“ Uhm… apa mungkin.. Aku bisa bertemu denganmu lagi?” Tanyanya gugup
Keenan tersenyum ramah dan menganggukan kepalanya.
“ Tentu.. Kau tinggal mengetuk pintu rumah ku, kau ingat jalan menuju kesini kan?” Tanya Keenan dan Arka terkekeh pelan sambil menganggukkan kepalanya