What If [BL]

What If [BL]
14



“ Arka… oi Arka… bangun”


Brian menepuk pelan pipi adiknya itu pasalnya, subuh ini ia harus berangkat ke bandara, karena itu setidaknya ia harus pamit pada adiknya.


" Dek... kakak mau berangkat nih, bangun bentar aja...." Ucap Brian lagi


Arka mengerjapkan matanya, nafasnya memburu saat kesadarannya kembali. Ia pun menatap terkejut ketika melihat kakaknya itu yang tengah membangunkannya. Brian menatap heran adiknya itu pasalnya Arka langsung mendudukkan diri dan mengambil ponselnya.


“ Dek lo kena-”


Brian tidak melanjutkan kalimatnya pasalnya Arka langsung melompat dari tempat tidurnya dan berlari keluar kamar.



*DUK DUK DUK*



“ Kal.... Haekaal!”



Arka mengetuk pintu rumah Haekal berkali kali. Menggigit bibirnya kaku, lagiArka kembali ke masa lalu untuk kedua kalinya. Arka kembali dengan gusar mengutuk pintu rumah Haekal, kemudian setelah beberapa saat, Arka bisa mendengar suara langkah kaki dari dalam.



“ Astaga apaan sih Ka! masih subuh juga lo gedor gedor pintu gue ngapain!” Kesal Haekal sambil membuka pintu, mengomeli Arka dengan mata yang masih tertutup.



Arka menghela nafasnya panjang, menelan air ludahnya kasar ketika melihat Haekal yang tengah berdiri di depannya. Arka terduduk, menundukkan kepalanya dan menangis terisak.



“ Ka….?”



Ucap Haekal bingung mendekati Arka yang menangis tersedu-sedu.



“ Lo kenapa woi… Arka…”



Niat Haekal ingin menghibur tapi tangisan Arka menjadi jadi. Arka langsung memeluk Haekal dengan kuat, menenggelamkan wajahnya pada bahu Haekal.



“ Terimakasih…. Tuhan… terimakasih…” Tangis Arka menjadi-jadi sedangkan Haekal hanya bisa  bingung pasalnya Arka yang tiba-tiba menangis seperti itu.



“ Arka….?” Panggil Haekal lagi pasalnya Arka memeluknya, tangisannya semakin pecah, tangannya pun setia mengelus pelan kepala Haekal seolah ia benar benar bersyukur bisa melihat dirinya saat ini.



Haekal mengalah, memilih diam membiarkan Arka yang menangis seperti itu. Haekal membalas pelukan Arka, menepuk-nepuk pelan pundaknya guna menangkan pria itu, walaupun Haekal tidak mengerti kenapa Arka selalu mengulang kata terimakasih dalam tangisannya.



*Kali ini... gue ngga akan ngulangin kesalahan yang sama*



Ucap Arka dalam hati, sambil mengeratkan pelukannya pada Haekal



Arka menggigit bibirnya gugup, berjalan mondar mandir di depan pintu kamar mandi. Hari ini, adalah hari kemarian Haekal saat itu. Arka sudah menjalani hari hari sebelumnya dengan mulus, ia tidak melakukan kesalahan apapun, mengingat setiap detail dan hari penting bagi Haekal.


Arka tidak tau berapa banyak kesempatan yang diberikan untuknya, karena itu Arka harus mencoba apapun yang bisa ia coba, dan Arka menduga, satu satunya cara membuat Haekal selamat hari ini adalah dengan menjauhkannya dengan sekolah, hanya saja ia bingung bagaimana caranya meminta Haekal untuk tidak masuk sekolah, meningat mereka sekarang adalah murid SMA di tahun terakhir dan Haekal adalan anak yang sangat patuh dengan pendidikan.


“ Ngedate sama siapa lo? rapi bener….” Tanya Haekal heran pasalnya Arka pagi-pagi bukannya mengenakan seragamnya malah berpakaian seperti ia ingin pergi kencan.


“ Bolos yok” Senyum Arka


Plak


Haekal menggeplak kepala Arka dengan kuat sedangkan Arka mengelus pelan kepalanya dan menatap Haekal kesal.


“ Itu tangan hobi banget ngegeplak orang!”


“ Ya elu ada ada aja! Baru juga satu minggu masuk sekolah… udah bolos bolos aja.."


“ Kali ini aja please…. Gue butuh refreshing yaa?”


“ Yaudah bolos aja lo sana! gue ngga…” Ucap Haekal sedikit mendorong Arka karena ia yang ingin bersiap mandi.


Arka pun dengan cepat mem-blokir jalan Haekal dan mendapatkan tatapan tidak senang dari Haekal.


“ Kal please… gue maunya sama lo…”


Haekal diam, masih menatap lurus dan kesal temannya itu. Haekal masih bisa melihat Arka yang menatapnya memohon, Tapi entah kenapa di mata Haekal, ia bisa melihat bola mata pria itu bergetar, bahkan matanya sedikit berkaca-kaca, dari sana juga terpancar ketakutan dan kekhawatiran yang begitu besar.


“ Huuuft… yaudah… emang mau kemana?” Haekal mengalah tidak tega dengan tatapan Arka.


“ Terserah lo.. Gue ngikut aja…”


“ Dih kan elo yang ngajak bolos… yaudah kita main ke taman atau playworld atau nongkrong gitu”


“ Siap bos… hehe silahkan lewat… mau mandi kan?” Arka sedikit menggeser tubuhnya memberikan Haekal jalan, sedangkan Haekal hanya menghela nafas pasarah dan menatap temannya itu heran.


Arka mengurut dadanya lega. Arka tidak ingin lagi mengulang kesalahan yang sama, dan cukup saat itu untuk yang kedua kalinya ia melihat Haekal yang meregangg nyawanya.




Arka menarik tubuh Haekal kala sebuah sepeda yang melintas cukup cepat.



“ Jalan tu jangan ke tengah jalan bisa ngga!” Kesal Arka sambil membawa Haekal ke depakapannya.



“ Heh ini jalan taman! yang salah tu orang dong! Gue udah ke tepi juga jalan” Kesal Haekal dan melepas pelukan Arka darinya.



Haekal menatap Arka sedikit bingung, pasalnya Arka benar benar kelihatan ketakutan, bahkan tadi saat Arka yang membawanya ke dekat tubuhnya, Haekal bisa merasakan debaran jantung Arka yang begitu cepat.



“ Ka…”



“ Hmm?”



“ Gue ngga kenapa napa.. Lo kenapa parnoan banget hari ini dah”



Arka menghela nafasnya, beberapa kali mengatur nafasnya, menelan ludahnya kasar dan menggeleng pelan.



“ Sorry… gue banyak pikiran aja… kita duduk disana?” Tanya Arka sambil menunjuk sebuah kursi yang ada di taman.



Haekal mengangguk dan mereka pun berjalan menuju kursi itu.Haekal beberapa kali melirik Arka, pria itu benar benar terlihat gusar, bahkan Haekal bisa mendengar helaan nafas Arka yang berat, kemudian Arka yang  selalu melirik jam tangannya.



“ Kemana?” Tanya Arka menahan tangan Haekal, kala pria itu berdiri.



“ Gue mau beli minum, deket kok… lo kayanya panik banget, makanya gue mau beliin minum”



“ Ngga usah gue aja… lo tunggu sini…” Ucap Arka dan langsung berdiri dan berlari untuk membeli minum



Haekal ingin menolak, tapi Arka sudah berlari, alhasil Haekal hanya bisa menghela nafas pasrah dan kembali duduk. Tapi sesat kemudian Arka kembali dan menarik tangan Haekal.




“ Ha?”



“ Kalau lo kenapa napa waktu ngga ada gue?”



Haekal menepis tangan Arka, Arka pun menatap Haekal sedikit terkejut.



“ Jujur dulu lo kenapa?! Arka gue bukan anak kecil! Gelagat lo udah aneh sedari pagi… kenapa sih?”



Bukannya menjawab Arka malah menundukkan kepalanya kembali menggenggam tangan Haekal.



“ Ka?”



Arka masih diam, menundukkan kepalanya dan cengkramannya pun pada tangan Haekal semakin kuat.



“ Anjing sakit! Lo ngapain sih!”



Arka tersentak dan genggamannya pada tangan Haekal ia lepaskan, Arka pun memalingkan pandangannya, tidak ingin Haekal melihat matanya yang berkaca kaca.



“ Yaudah ia gue ikut! Lo kenapa sih hari ini aneh banget! Gue cariin juga lo pacar lama lama!” Kesal Haekal menepis tangan Arka dan Arka menghela nafas lega.



Haekal menatap Arka sedikit sendu, entahlah… punggung pria itu terlihat tidak setengap biasanya. Arka juga lebih terlihat lebih murung dan sering menundukkan kepalanya. Semua itu semenjak 6 bulan yang lalu, saat Arka mengetuk pintu rumahnya di pagi pagi buta dan tiba tiba menangis. Haekal sempat menanyakan apa yang terjadi padanya, dan Arka hanya menyeritakan ia yang mendapat mimpi buruk, tapi entah kenapa Haekal merasa, Arka menjadi sangat menjaganya dan mengkhawatirnya semenjak hati itu.



“ Kenapa?” Tanya Arka berbalik kala mengantri untuk membayar minuman mereka saat Haekal mengelus pelan pundaknya.



“ Ngga… lo kayaknya banyak masalah… telinga gue kosong kok buat dengerin lo ngebacot”



Arka terkekeh pelan dan mengangguk



“ Kapan-kapan deh… lo ngga mau ngambil cemilan yang lain?” Tanya Arka menawarkan



“ Ngga itu aja… “



Haekal menatap sekitar, jujur Haekal sedikit bosan jika hanya menunggu. Kemudian pandangannya teralihkan dengan seorang anak kecil yang tengah bermain bola di tepi jalan. Karena merasa bosan dan jujur Haekal sedikit takut anak kecil itu akan berjalan ke tengah jalan, Haekal pun menemani anak kecil itu.



“ Eits… hati hati… biar kakak yang ambil” Ucap Haekal menahan anak kecil itu kala ia ingin berlari mengejar bolanya yang menggelinding ke tengah jalan.



Arka membalikkan badannya, tidak menemukan Haekal yang berdiri di belakangnya. Dengan panik Arka berlari ke luar supermarkket, bahkan minuman yang seharusnya ia bayar, ia taruh begitu saja di meja kasir dan langsung berlari keluar.



“Kal!” Teriak Arka kala melihat Haekal yang berada di tengah jalan memegang sebuah bola



“ HAEKAL AWA-”



*BRAK*



Entah bagaimana caranya, semuanya terjadi cepat begitu saja, sebuah truk melaju dengan kencang dan menghantam tubuh Haekal.



“ HAEKAL!”



Pekik Arka berlari menghampiri Haekal yang sudah terbaring lemah bersimbah darah.



“Ngga... Ngga.… Kal... Haekal..… siapapun tolong panggilkan ambulan!” Teriak Arka membawa Haekal ke dekapannya, menepuk nepuk pelan pipinya, membawa Haekal pada kesadarannya.



“ Uhuk…uhuk…” Haekal terbatuk, darah pun semakin mengucur keluar dari mulutnya.



“ Kal... its oke... stay sama gue, lo harus kuat kal….” Ucap Arka sambil mengelus pelan kepala Haekal, menguatkan Haekal untuk tetap bertahan dengan kesadarannya.



Haekal tersenyum tipis, menatap Arka yang berderai air mata.



“ Cengeng lo….” Ucap Haekal lirih mengelus pelan pipi Arka, menghapus air matanya di pipi Arka.



Tangis Arka semakin pecah, menggeleng pelan ketika Haekal kembali terbatuk dan matanya semakin memberat.



“ No… hiks...please….hiks... Haekal...…”



“ Uhuk… Gu…gue….” Ucapnya susah payah



“ Ngga usah ngomong apa apa...hiks...ambulannya bentar lagi sampai… please.. hisk...Haekal…”



Haekal menggelengkan kepalanya pelan, seolah mengatakan ia harus menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan sebelum terlambat.



“ Gu…Gue…uhuk…uhuk… sa…yang… uhuk”



Arka mengeleng ribut, meminta Haekal untuk berhenti. Tangisnya pun menjadi-jadi.



“ Ngga…hiks...hils... Haekal… ngga...hiks.…please….” Tangis Arka lagi menggenggam tangan Haekal yang masih setia mengelus pelan pipinya.



Air matanya Haekal mengalir begitu saja, kepalanya benar benar pening, nafasnya tersenggal. Haekal terkekeh pelan dan tersenyum pada Arka dengan air mata yang mengalir dengan. Ia bahagia, karena di sisa nafasnya, ia masih bersama orang yang ia sayangi, walaupun Haekal merasa sedih, karena membuat Arka menangis.



“ Gue….Uhuk…Uhuk…sa.. uhuk...yang…”



Belum sempat Haekal menyelesaikan kalimatnya, matanya sudah tertutup, kepalanya terkulai lemah dan tangan itu jatuh bebas begitu saja. Arka menenggelamkan wajahnya pada tubuh Haekal, berteriak frustasi meminta Haekal bangun, memeluk tubuh itu dengan kuat, berharap Haekal akan bangun. Tapi berapa kali pun Arka berteriak meminta Haekal untuk bangun, Haekal tidak bergerak sedikitpun.