What If [BL]

What If [BL]
13



Arka dengan santai memainkan bola basketnya saat menuju lapangan basket, ditengah ia berjalan ia merasa menginjak sesuatu, Arka pun menundukkan tubuhnya dan mengambil sebuah buku kecil yang tadi sempat ia injak. Jantung Arka pun seolah berhenti ketika menyadari buku itu adalah buku yang menjadi bencana hubungannya dengan Haekal. Arka melihat ke sekitar, tidak ada orang yang melintas di dekatnya, kemudian ia yang tadi hendak berlatih di lapangan basket, memilih untuk duduk di tepi lapangan dan membaca buku itu.


Arka membaca buku itu halaman demi halaman, sesekali ia tersenyum malu, kemudian  sediki terharu dan sedih, bahkan terkekeh pelan, Arka benar benar terhibur membaca semua isi hati Haekal akan dirinya. Arka pun tersenyum sendu dan sedikit lega.


Jika saat itu Haekal menuliskan di bukunya bahwa ia sedih dan kesepian semenjak Arka berpacaran, kini Haekal menulis bahwa ia senang karena tahun terakhirnya di SMA, ia habiskan bersama dengan dirinya. Kemduian, saat itu Haekal menuliskan bahwa ia sedih dan menunggu Arka hingga larut malam di hari ulang tahunnya. Kini Haekal menuliskan ia benar benar bahagia karena pesta yang disiapkan Arka dan Arka yang tertidur di bahunya. Jika saat itu Haekal mengatakan ia merasa jauh dan canggung dengan Arka, kini Haekal menuliskan ia marasa semakin dengan Arka dan dirinya yang menjadi lebih lembut pada Haekal. Arka tersenyum tipis, ketika melihat di beberapa kalimat Haekal yang begitu memuja-mujanya, seolah Arka adalah pangeran berkuda putih yang datangmenyelamatkannya.


Lo segitu sayang sama gue ya….…


Ucapnya Arka sendu dalam hati, mengelus pelan buku itu, sedikit bersalah karena telah merobek buku itu. Setelah ia membaca semua halaman itu, Arka pun bergegas menuju ruang kelas, karena ia yakin Haekal tengah panik mencari buku kesayangannya ini.


" Nyari apa lo?"


Tanya Arka melihat Haekal yang panik membongkar tasnya.


" Huh? Anu... itu...." Ucapnya tidak fokus karana pikirannya saat ini hanya mencari barang yang hilang.


Arka tersenyum tipis, menggenggam kuat buku kecil tadi yang ia sembunyikan di kantong celananya.


" Ntar aja cari itu, lo disuru pak guru ke ruang guru" Ucap Arka


" Sekarang banget?" Tanyanya dan Arka mengangguk


" Tck... yaudah deh..." Kesalnya kembali memasukkan barang barangnya ke dalam tas dan langsung berlari keluar kelas.


Tepat setelah Haekal keluar dari ruang kelas, Arka dengan cepat memasukkan buku itu ke dalam tas Haekal.


Jangan hilang lagi ya.... cuma gue yang boleh baca ini selain lo.... 


Ucapnya sambil mengelus pelan buku itu, kemudian menutup tas Haekal..


\~\~\~\~\~\~\~\~


Waktu terus berputar, akhirnya hari dimana Haekal saat itu memilih untuk meregang nyawanya tiba juga. Arka jujur sedari kemarin tidak tenang hatinya. Bahkan saat ini jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Seharian ini Arka selalu mengikuti kemana Haekal pergi, Arka bahkan tidak membolehkan Haekal untuk pergi ke atap sekolah.


“ Kenapa sih Arka… lo gelisah banget hari ini… “ Ucap Haekal yang sedari tadi menemani pria itu duduk di lapangan basket.


Arka hanya menggelengkan kepalanya, masih menundukkan wajahnya sambil terus menatap jam tangannya.


“ Mau kemana?” Arka menahan tangan Haekal kala pria itu berdiri dari duduknya.


Haekal sedikit menyeringitkan keningnya, ia akui Arka sedikit berlebihan hari ini dan sangat menempel padanya. Bahkan saat ini, pria itu terlihat ketakutan ketika Haekal ingin pergi.


“ Astaga gue mau buang ini kaleng Ka, tuh tong sampah depan, lo kenapa sih!” Kesal Haekal sedikit risih sambil menepis tangan Arka.


“ Ngga usah…” Ucap Arka mengambil kaleng minuman itu dan melemparkannya dari sana dan masuk ke tong sampah itu.


Haekal yang melihat itu hanya bisa melongo dan Arka hanya mendelikan bahunya acuh.


“ Ka jujur sama gue.. Lo kenapa sih?  belakangan ini gelegat lo aneh banget… sejak lo yang lari ke rumah gue subuh-subuh itu… kenapa sih?”


Arka menghela nafasnya panjang. Mengadahkan kepalanya menahan air matanya untuk tidak jatuh.


“ Mimpi itu ya?” Tanya Haekal lagi dan Arka mengangguk.


“ Gue tebak… gue bunuh diri ya?” Ucapnya tegas


Arka menelan ludahnya kasar, enggan menatap Haekal. Haekal terkekeh pelan, mengusap pelan punggung Arka. Jujur ia sudah menyadari ini sejak lama, melihat bagaimana Arka menangis padanya saat itu, kemudian Arka yang tidak pernah membiarkan Haekal sendiri atau bersedih.


“ Gue baik baik aja kok… semuanya karna lo… jadi lo kenapa harus takut”


Arka beberapa kali menghela nafasnya, jujur jantungnya benar benar berdetak dengan sangat cepat saat ini. Arka melirik jam tangannya, sudah 30 menit berlalu sejak waktu Haekal yang menjatuhkan diri saat itu.


“ Kayanya gue kebawa suasana aja… maaf ya…” Ucap Arka bernafas lega karena ia berhasil melewati waktu itu dan Haekal masih bersamanya.


Haekal mengangguk dan mereka kembali menatap langit.


“ Kal…”


“ Hm?”


" Gue penasaran deh, kenapa cuma gue yang manggil lo Haekal, sedangkan yang lain lo suruh manggil lo Keenan"


Haekal terkekeh pelan, menghela nafasnya pelan dan tersenyum  pada Arka


" Kan lo yang ngasih nama itu sama gue, jadi cuma lo yang boleh panggil gue Haekal... yah keluarga lo termasuk sih, initnya kalau bagi gue orang itu deket sama gue, dia boleh manggil gue Haekal"


" Kenapa gitu?"


" Trus, waktu lo bilang bakal panggil gue Haekal, awalnya gue biasa aja, tapi pelan pelan, dengan Haekal, gue bisa jadi diri gue sendiri, gue bisa ceroboh depan lo, nangis depan lo, ikutan bandel sama lo, intinya dengan nama Haekal, gue ngga terbebani sedikitpun. Makanya gue pengen lo manggil gue Haekal terus. "  Sambungnya


" Tapi bukannya bagus kalau banyak yang manggil lo Haekal, makin banyak orang yang jadi ngerti siapa diri lo" Jelas Arka dan Haekal menggelengkan kepalanya pelan.


" Ngga semua orang ngerti tentang gue, ngga semua orang bisa nerima siapa gue yang sebenarnya, gue ngga mau, banyak orang yang manggil gue Haekal, dan pelan pelan, Haekal juga ikut sama kaya Keenan hidup sesuai ekspetasi orang orang, liat aja, temen temen pada deket sama gue, supaya gue pinjemin catatan, supaya gue kasih contekan, gue traktir makan, ini lah itu lah, tapi kalau gue kenapa-napa belum tentu dia mau bantu gue" Jelasnya lagi


" Sedangkan lo, udah liat lemahnya gue, sifat buruk gue, nyebelinya gue, tapi lo masih mau jadi temen gue, dan malah terus dukung gue, karena itu, sampai sekarang, cuma lo yang bisa manggil gue Haekal, selain lo yang ngasih nama itu ke gue, cuma sama lo, gue bisa jadi diri gue sendiri. " Senyum Haekal


Arka menelan air ludahnya kasar, hatinya ngilu, perasaan bersalah kembali menghantui hatinya, ternyata Arka sebegitu berarti dalam hidup Haekal, dan mendengar apa yang baru saja Haekal ucapkan, ia sakit hati.


Tapi karna satu kesalahan lo, gue ninggalin lo Kal... maaf...


Ucap Arka sendu  dalam hati menundukkan kepalanya.


" Kal..."


" Hmmm?"


Arka menelan air ludahnya kasar, menatap sahabatnya itu penuh arti. Jujur Arka masih ragu apa yang terjadi pada dirinya. Baik itu semua pengalaman yang terulang 6 bulan yang lalu, serta perubahan perasannya pada Haekal. Awalnya Arka berfikir, mungkin ini semuanya hanyalah perasaan bersalah, karena itu hatinya seolah tegerak untuk membalas perasaan Haekal.


Namun, setelah apa yang terjadi salama ini, 6 bulan saat hubungannya dengan Haekal sedikit merenggang kemudian kejadian tragis itu terjadi dan dirinya yang kehilangan Haekal, kemudian ia yang kembali kemasa lalu, mengubah cerita mereka beruda, Arka menyadari, ia benar benar tidak bisa hidup tanpa Haekal, dan karena hadinya Haekal, membuatnya bahagia.


Arka juga menyadari, sedari kecil Haekal selalu menjahilinya, berteriak padanya, bahkan terkadang melemparnya dengan bola, tapi Arka tidak pernah merasa risih sedikitpun, ia bahkan senang karena Haekal yang mengerjainya. Kemudian, disaat Haekal bermain dengan teman teman yang lain, Arka marah bahkan sampai membawa pergi Haekal karena ia yang tidak membolehkan Haekal bermain dengan orang lain. Saat Haekal sakit, Arka yang selalu merawat anak itu, bahkan rela bolos sekolah hanya untuk menemani Haekal.


Arka tidak tau pastinya kapan, tapi seingatnya, dirinyalah yang selalu mengajak Haekal bermain, menemani pria itu saat orang tuanya tidak dirumah, menarik tangannya untuk diajak berlari bersama, mengundang Haekal untuk makan malam dirumahnya. Menemani Haekal yang menangis karena dimarahi oleh Ayah dan Ibunya. Arka lah yang selama ini mengulurkan tangannya, membawa Haekal kedalam kehidupannya.


Entah ini memang takdir, atau memang begitulah adanya, mungkin selama ini, rasa peduli Arka pada Haekal, rasa khawatirnya pada Haekal, rasa tidak ingin jauh dari Haekal, semua persaan itu, memang karena benih cinta itu ada dalam hatinya, tapi karena dunia mengatakan mereka tidak bisa bersama dan mereka yang bersahabat, rasa itu tertutup dan memudar di hatinya, hingga ia tidak menyadari, semua senyuman yang ia berikan, tawanya, caranya menatap Haekal, bukan karena ia yang menyangi Haekal karena Haekal sahabatnya.


Tapi karena dirinya yang mencintai Haekal, sebagai Haekal.


Arka akhirnya merasakan, bagaimana pedih dan hancurnya hati Haekal saat itu, ketika ia mencintai orang yang seharusnya tidak ia cintai, Arka menyesal, telah mengucapkan kalimat itu pada Haekal.


" Apaan?" Tanya Haekal lagi menjentikkan jarinya pasalnya Arka yang melamun.


Arka menghela nafasnya panjang, ia masih tidak tau apakah ia benar kembali kemasa lalu, mengubah takdir mereka berdua, atau ini hanyalah sebuah mimpi, sebelum Arka menjemput ajalnya. Tapi apapun itu, Arka merasa dirinya harus menyampaikan semuanya sebelum ia menyesalinya untuk yang kedua kalinya.


“ Gue mau ngomong…”


“ Ya ngomong aja goblok nggak usah izin” Ucap Haekal jengah


“ Gue sayang sama lo”


Haekal terdiam, menatap Arka sedikit terkejut, sedangkan Arka masih menatap Haekal dengan teduh dan sungguh-sungguh.


“ Hahah ia gue tau, gue sahabat terbaik lo”  Ucap Haekal canggung dan Arka menggelengkan kepalanya


“ Gue benar benar sayang sama lo Kal… bukan sebagai sahabat… gue cinta sama lo Kal, maaf gue baru sadar sama persaan gue, maaf gue baru sadar semua ini bukan karna lo yang sahabat gue, tapi karna lo Kal... ”


Haekal menelan air ludahnya kasar, jujur saja ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu, saat dimana orang yang ia cintai, menyatakan padanya bahwa orang tersebut juga mencintainya,  tapi tetap saja Haekal takut. Cinta ini, perasaan ini adalah sebuah larangan. Sebuah pelanggaran besar dan Haekal tidak ingin, mereka berdua mendapat hukuman, karena berani melanggar batas itu.


“ Arka.. kita kan-”


“ Gue ngga peduli… gue cintanya sam-"


Arka memicinkan matanya sambil menutup kedua telinganya. Pasalnya telinganya tiba tiba berdengin dan rasanya benar benar memekkan seolah ingin memecahkan gendang telinganya. Arka sedikit mengerang kesakitan, kepalanya tiba tiba seperti dihantam oleh benda keras bertubi tubi, ia samar samar bisa mendengar suara Haekal yang memanggilnya. Setelah beberapa saat, semua rasa sakit itu menghilang, kepalanya kembali ringang, suara denging tadi juga tidak lagi terdengar.


" Sorry Kal-"


Arka mematung, jantungnya berdetak dengan cepat kala ia membuka matanya. Seingatnya Haekal tadi duduk disampingnya, bahkan suara Haekal yang memanggilnya khawatir. Arka menatap jam tangannya dan jantungnya seolah berhenti karena tiba tiba saja waktu di jam tangannya mundur 30 menit, Arka yakin dengan jelas, waktu tadi sudah berlalu, tapi jarum jam ditangannya benar benar mundur 30 menit seolah kembali diputar. Arka dengan cepat bangun dari duduknya, berlari sambil meneriaki nama Haekal.


“ KAL! HAEKALl!” Teriak Arka sambil terus berlari menutari sekolah. Arka tau, saat ini beberapa siswa sedang belajar di dalam kelas. tapi entah kenapa, rasanya sekolah ini sepi dan hanya ada dirinya sendiri di sekolah ini


“ HAEKA-”


BUGH


Tepat ketika Arka berlari menuju gedung kelas, Arka mendengar suara dentuman yang begitu keras. Air mata Arka mengalir bagitu saja, menolehkan kepalanya ke sumber suara  dan apa yang ia takutkan benar benar terjadi. Haekal meregang nyawanya di tempat dan di waktu yang sama.


Arka bersimpuh di depan tubuh Haekal yang bersimbah darah. Merebahkan kepalanya pada dada Haekal, meremat baju sekolah Haekal dengan kuat. Arka tidak mengerti, apakah tuhan sedang mempermainkannya? Atau ini hukuman karena Arka sudah membunuh Haekal? Apa maksud dari semua ini? Arka sudah mengubah semuanya, menjaga Haekal agar tidak mengakhiri hidupnya seperti itu. Tapi kenapa, Haekal tetap berakhir sama.


Arka menangis meraung-raung, ia tidak tau apa rencana tuhan padanya. Apakah nanti saat ia membuka matanya ia kini terbaring lemah di rumah sakit karena kecelakaan itu, atau Arka sudah meninggal dan ikut menyusul Haekal. Tapi tetap saja, ini rasanya benar benar sakit. Untuk kedua kalinya. Haekal meregang nyawanya tepat di depan matanya. Arka memeluk tubuh Haekal dengan kuat membawanya dalam dekapannya, hawa panas dari darah segar itu benar benar nyata, bahkan tubuh Haekal yang tidak bertenaga dan mulai mendingin itu pun benar benar nyata.


“ Arrrrrgh..... Haekaaal...hiks.... Haekaaal....”


Tangis Arka menjadi-jadi semakin menenggelamkan wajahnya pada tubuh Haekal. Perlahan Arka merasakan kepalanya yang kembali dihamtam dan pusing, matanya pun berat dan nafasnya tersenggal, dan sedetik kemudian, tubuh Arka terkulai lemah dan ia tidak sadarkan diri.