What If [BL]

What If [BL]
15



Arka menghela nafasnya panjang, menutup wajahnya dengan lengannya, merebahkan bebas tubuhnya kembali ke tempat tidurnya. Ini sudah ke enam kalinya Arka kembali ke masa lalu. Kembali pada 6 bulan yang lalu sebelum kejadian Haekal memilih untuk mengakhiri hidupnya. Arka bahkan sudah muak dengan ulang tahunnya sendiri.


Arka sudah mencoba segala cara, menjauhkan Haekal dari sekolah, tapi pada akhirnya Haekal tertabrak oleh truk. Kemudian Arka mengurung Haekal seharian di kamar saat hari terkutuk itu, tapi entah bagaimana caranya, Haekal tiba tiba mengalami sesak nafas dan tidak bisa diselamatkan saat dibawa menuju rumah sakit. Arka bahkan sudah menjauhkan Haekal dari kota ini, membawanya ke tempat yang jauh, tapi mobil yang mereka kendarai terjatuh ke dalam jurang dan Haekal tidak bisa diselamatkan.


Arka bahkan menyerah, membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya, tanpa merubah apapun. Hanya saja, saat kejadian buku kecil itu, Arka tidak mempermasalahkannya, membuang buku itu dan memperbaiki hubungannya dengan Ara tanpa menyeret Haekal. Tapi seolah takdir sudah dituliskan, Haekal tetap mengakhiri hidupnya.


Tapi Arka tidak mengerti, jika memang Haekal tidak bisa diselamatkan, jika memang memang begitulah takdir hidup Haekal. Lantas kenapa ia terus-menerus kembali ke masa lalu, apa tujuannya? Arka benar benar tidak mengerti. Arka melompat dari kasurnya, berlari keluar rumah mengabaikan kakak dan orang tuanya yang menatapnya heran karena berlari keluar rumah seperti itu.


Arka terdiam di depan pintu rumah Haekal. Mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu rumah Haekal, ini sudah keenam kalinya ia kembali dan ia sudah tau Haekal pasti akan mengomeli dirinya saat membuka pintu. Arka tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan, kenapa ia selalu dikirim ke masa lalu. Arka sudah kehilangan akal, tidak tau lagi bagaimana cara menyelamatkan Haekal.


Apakah Arka memang harus membiarkan semuanya berjalan begitu saja? Lalu kembali melihat Haekal yang menjatuhkan tubuhnya saat itu? Lalu dirinya yang hidup dalam penyesalan? Jika memang begitu, kenapa ia harus kembali berputar putar dalam memori waktu ini, seolah dia memang harus menyelamatkan Haekal.


“ Arka? Ngapain lo? Gue baru aja mau ke rumah lo…”


Ucap Haekal kala membuka pintu sudah rapi dengan seragamnya, Arka tersadar ia tidak menyangka melamun salama itu.


“ Woi! Ngapain” Haekal menjentikkan jarinya di depan wajah Arka pasalnya pria itu hanya menatap dirinya kosong.


Arka menelan air ludahnya kasar, ia masih belum boleh menyerah. Arka harus bisa keluar dari lingkaran setan ini. Masih ada cara untuk menyelamatkan Haekal


“ Gue sayang sama lo”


Ucap Arka membuat Haekal melongo


“ I-Iya..hahah gue tau.. Gue temen terbaik lo… lo lagi nyogok gue kan? Tenang.. Kado lo gue udah nyiapin kado yang lo mau  kok” Senyum Haekal canggung.


“ Ngga… gue serius Kal.. Gue sayang sama lo.. Gue cinta sama lo…”


Haekal terdiam, Arka serius, menatapnya lurus dan tegas tapi tidak mengintimidasi, nafasnya pun memburu seolah ia sendiri ketakutan dengan apa yang ia lakukan sekarang, tangannya bergetar dan beberapa kali Haekal melihat Arka yang mengepalkan tangannya.


“ Ka….”


“ Gue Sayang sama lo Kal…Gue cinta sama lo”


Ucap Arka lagi, tapi kali ini tatapannya meneduh, perlahan matanya pun berkaca kaca


“ Tapi Arka… kita…”


“ Gue tau.... gue tau Kal... tapi gue... gue ngga sanggup lagi.... gue...” Arka menundukkan wajahnya dan Air matanya mengalir begitu saja, Arka tidak tau lagi bagaimana caranya menjelaskan selelah dan se frustrasi apa dirinya saat ini.


Jika memang dirinya kembali dikirim ke masa lalu untuk dipermainkan, berputar putar di lingkaran setan yang sepertinya tidak akan ada ujungnya. Arka menyerah, ia akan bermain dengan lingkaran setan ini. Jika memang pada akhirnya takdir Haekal seperti itu, jika memang pada akhirnya hidupnya hanya melihat bagaimana Haekal meregang nyawanya, lebih baik Arka memulai ini semua dari awal, menikmati indahnya hidup dengan melawan aturan dunia, hingga kembali menerima hukuman di hari terkutuk itu, lalu kembali memutar waktu, dan akan terus seperti itu, hingga ia menjadi gila. Arka tidak peduli lagi, karna Arka tidak yakin, ia masih memiliki kewarasannya saat ini atau tidak.


Haekal yang melihat Arka  seperti itu terdiam, jelas ia bisa melihat air mata Arka yang jatuh. Kemudian tubuh pria itu yang bergetar menahan isak tangisnya. Haekal tidak tega, ia pun langsung membawa Arka ke dalam dekapannya. Memeluk pria itu dengan sangat kuat. Jujur Haekal juga sangat mencintai Arka, tapi apa daya, dunia mengatakan dua anak adam tidak akan pernah bersatu, karena itu selama ini Haekal bungkam.


“ Gue… sayang juga sama lo Ka…”


Haekal menenggelamkan wajahnya pada pundak Arka, penantiannya selama ini terbalaskan. Haekal dulu takut, jika Arka akan jijik padanya, jika Arka sama dengan dunia yang akan menghukumnya. Tapi siapa sangka, Arka duluan yang mengatakan cintanya pada dirinya.


Mendengar isakan tangis Haekal, Arka membalas pelukan Haekal, memeluk Haekal lebih kuat, Arka menghela nafas lega, rasanya benar benar tenang dan nyaman.


“ Tapi gue takut….” Ucap Haekal melepas pelukan Arka.


Arka menatap Haekal teduh sambil tersenyum tipis, Haekal menjadi seribu kali lipat lebih cantik saat matanya berkaca-kaca dan hidungnya memerah seperti itu.


“ Its oke… we’ll be fine…. Gue ada di samping lo… gue akan jaga lo… apapun… bahkan dunia nolak sekalipun… gue ngga akan lepas tangan lo” Senyum Arka mengusak pelan rambut Haekal.


Haekal mengangguk pelan dan menghela nafasnya lega guna menetralkan detak jantungnya.


“ Hmm?”


“ Gue… boleh meluk lo lagi?” Arka memalingkan pandangannya


“ Pfft… pake nanya….” Haekal menarik tubuh Arka membawanya dalam dekapannya dan Arka langsung memeluk Haekal dengan sangat kuat.


“ Lo boleh meluk gue sepuasnya…”


“ Makasih….” Arka semakin menenggelamkan kepalanya pada pundak Haekal dan lagi air matanya mengalir.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Haekal terkejut pasalnya saat ia tengah berjalan masuk ke dalam kamar Arka, Arka entah darimana datangnya memeluknya dan menggendongnya masuk ke dalam kamar.


“ ABBYARKA!”  Teriak Haekal kesal sedangkan Arka hanya tersenyum tipis, mengecup pelan pipi Haekal tidak lupa mengunci pintu kamarnya.


Haekal benar benar risih dengan Arka, padahal dulu Arka sangat benci dan tidak suka dengan yang namanya sentuhan fisik, tapi lihat sekarang siapa yang sangat menempel pada Haekal.


“ Gue kangen sama lo…” Ucap Arka menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Haekal sembari merebahkan tubuh mereka berdua ke kasur.


“ Astaga kita di sekolah bareng terus Arka!”


“ Kan gue ngga bisa mesra-mesraan sama lo di sekolah….” Ucap Arka sedikit kecewa.


Haekal terkekeh dan mengelus pelan kepala Arka membiarkan pria itu memeluk tubuhnya layaknya bantal guling. Arka tidak mengerti, semenjak ia yang berpacaran dengan Haekal, semenjak ia yang mengutarakan perasaannya dan Haekal yang menerimanya, Haekal menjadi suatu candu bagi Arka. Mungkin karena sudah berapa kali Arka memeluk tubuh pria itu dalam keadaan kaku, dingin dan jantungnya yang tidak berdetak sedikitpun. Memeluk tubuh Haekal dengan hawa panas dan detak jantungnnya membuat Arka tenang.. Dirinya benar benar tenang ketika bisa merasakan hawa panas tubuh Haekal, ketika bisa mendengar detak jantung dan deru nafas pria itu. Arka akan tenang, ketika merasakan tangan Haekal yang ikut melingkar di tubuhnya, memainkan rambut hitamnya sambil terkadang mengecup pucuk kepalanya. Arka benar benar candu.


“ Arkaa… Haekal… cepet mandi.. Bantu bunda masak..”


Teriak Clara dari bawah yang menghasilkan decakan tidak suka dari Arka. Haekal pun terkekeh pelan dan melepas pelukan Arka.


“ Ayo… ntar bunda ngamuk” Ucap Haekal


“ Belum puas…”  Arka masih memeluk Haekal, masih di posisi yang sama bahkan saat ini semakin menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Haekal.


“ Arkaaaa turun cepet ini galon abis! “


Haekal terkekeh dan ia bisa mendengar helaan nafas panjang dari Arka.


“ Semangat sayang…” Senyum Haekal dan mengecup pelan kening Arka.


“ Abbyarkaa!”


“ IYA BUNDA SABAR!” Kesal Arka langsung bangun dari tidurnya dan dengan segera keluar dari kamarnya.


Sudah dua bulan mereka berpacaran dan semuanya baik baik saja. Hanya saja Haekal masih takut dengan hubungan mereka ini, takut orang tidak akan menerima mereka, takut orang-orang akan menghakimi mereka. Karena itu selama di sekolah, Haekal meminta Arka untuk bersikap biasa saja, layaknya mereka berteman seperti itu. Arka yang mengerti dengan ketakutan Haekal pun menurut dan mengikuti kemauan Haekal, walaupun jujur ia sedikit risih karena tidak bisa menempel dengan pria itu.


Arka juga tidak bisa berduaan dengan Haekal karena hanya satu tempat yang bisa dipakai untuk berduaan dan tidak akan ada orang yang tau, yaitu atap sekolah. Hanya saja Arka takut membawa Haekal ke atap sekolah karena itu mereka tidak pernah lagi menghabiskan waktu di sana. Beruntung mereka berada di kelas yang sama dan tempat duduk mereka berada di paling belakang dan dekat jendela, sehingga terkadang Arka akan menggenggam tangan Haekal selama jam pelajaran diam diam, takut akan ada anak kelas yang melihatnya.


Tapi tetap saja, Arka masih merasa kurang, ia juga tidak mengerti kenapa menjadi sangat tergila-gila pada Haekal, karena itu Arka meminta Haekal untuk tinggal bersamanya di rumahnya, karena selama ini Haekal sering ditinggal oleh orang tuanya. Awalnya Haekal menolak dan takut orang tuanya tidak membolehkan, tapi saat Haekal meminta izin, ayahnya mengatakan tidak masalah karena ayahnya memang berencana untuk bercerai dengan ibunya dan ayahnya tidak bisa membawa Haekal,ibunya juga mengatakan hal yang sama. Walaupun saat mendengarnya Haekal sakit hati, tapi setidaknya sakit itu teralihkan karena hadirnya Arka di sisinya.


Dan semenjak itu mereka lebih sering bermesraan di rumah, lebih tepatnya di kamar Arka. tidak banyak yang mereka lakukan, hanya menghabiskan waktu bersama, Arka yang akan tiduran di kaki Haekal sambil memeluknya hingga tertidur dan Haekal yang memainkan rambut Arka atau terkadang bersenandung menyanyikan lagu pengantar tidur untuk Arka, atau Arka yang memeluk Haekal selama Haekal belajar di meja belajarnya. Tapi tetap saja, mereka tidak bisa melakukan itu dengan lama, karena bagaimanapun dirumah masih ada ayah dan ibu Arka.


Namun terlepas dari semua itu, karena indahnya dan bahagianya Arka akan hari hari yang ia jalankan berasama dengan Haekal, ia lupa, saat ini ia masih berada di dalam lingkaran setan itu, sehingga ia sama sekali tidak memikirkan dan mempersiapkan apa-apa yang akan ia lakukan, hingga hari terkutuk itu datang.