![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
Bruk
Arka menghela nafasnya kesal ketika seseorang menabraknya, membuat minuman yang sedari tadi ia pedang tumpah dan mengenai seragam sekolahnya.
“ Kalau jalan tu lia-”
Arka menghentikan ucapannya dan menghela nafas kasar ketika berbalik dan melihat siapa orang yang menabraknya.
“ Sorry, abisnya lo jalannya pelan banget” Senyum Keenan miring sambil menepuk pelan pundak Arka hendak membersihkan noda di seragam pria itu.
Arka hanya bisa menatap pria itu kesal, menepis tangan Keenan dan meninggalkannya sendiri. Keenan tersenyum menang, tentu saja ia sengaja menabrakkan dirinya pada Arka, tujuan hidupnya satu tahun ini adalah untuk menjahili dan membawa mimpi buruk pada Arka.
“ Akh!”
Arka tersungkur pasalnya seseorang menungkai kakinya kala ia masuk ke dalam kelas. Dengan cepat ia bangun dan menatap Keenan dengan kesal.
“ Kaki gue dari tadi disini kok… makanya kalau jalan mata dipake” Senyum Keenan cerah,
Arka tau senyuman itu paslu dan malah mengejeknya. Arka ingin sekali setidaknya melayangkan satu pukulannya pada Keenan, tapi ia tidak bisa. Keenan itu pangeran sekolah, jangankan murid murid, semua guru tunduk padanya, sehingga jika Arka cari gara gara pada pria itu, tentu saja Keenan tetap dibela. Sambil menghela nafas panjang, Arka berjalan ke mejanya dengan kesal, mengabaikan Keenan yang meneriaki namanya.
“ Arrgh! Sialan!”
Maki Arka kesal pasalnya saat ia menghidupkan motornya di parkiran, ia menyadari ban depan motornya itu kempes, sehingga ia tidak bisa menaiki motornya itu.
TIN
Arka menolehkan kepalanya ketika mendengar bunyi klakson, rahangnya pun menegang dan kepalan tangannya menguat, melihat siapa pria yang menghampirinya itu.
“ Semangat jalan kaki…..” Senyumnya cerah menampakkan gigi putihnya, tersenyum lebar sambil terkekeh, mengedipkan matanya pada Arka dan setelah itu melajukan motornya dengan cepat.
“ BARRA KEENAN HAEKAL!!!” Teriak Arka kesal dan Arka masih bisa mendengar suara tawa Keenan yang begitu keras padahal jarak motornya dengan parkiran sudah cukup jauh.
Arka merebahkan kepalanya pada meja, padahal baru 3 bulan berjalan semenjak tahun ajaran baru, tapi rasanya seperti 3 abad. Padahal saat ia pindah ke sekolah ini, kehidupan SMA sangat tenang dan menyenangkan, tapi semenjak manusia bernama Keenan itu muncul dalam hidupnya, semuanya berubah. Arka tidak mengerti, setiap kali dia bertemu dengan Keenan, pria itu selalu mengusilinya, mencari masalah dengannya, disetiap kesempatan, pria itu selalu mengusilinya. Arka bisa saja melaporkan Keenan dengan kasus pembullyan, tapi pasti laporannya diabaikan, karena mana mungkin seorang teladan seperti Keenan melakukan hal tercela seperti itu.
Arka memang menjauhi Keenan, karena sejak pertama kali mereka bertemu itu, setiap malam Arka memimpikan Keenan yang jatuh dari atap sekolah, Arka tidak tau apa arti mimpi itu, apakah Keenan dalam bahaya, atau hadirnya dirinya dalam hidup Keenan membahayakan Keenan. Karena itu Arka menjaga jarak dengan Keenan, tapi sepertinya mimpi itu membawa arti bahwa Keenan adalah ancaman dan bahaya baginya, karena semenjak mereka yang satu kelas, hidupnya selalu diusik dan diganggu oleh Keenan.
“ Hai….” Senyum Keenan duduk di samping meja Arka
Hari ini, kelasnya mengadakan pergantian tempat duduk, para siswa duduk sesuai dengan nomor yang diambil secara acak dari dalam kotak, dan Arka mendapat nomor terakhir, yang artinya ia duduk di bangku paling belakang di paling ujung dekat jendela, tempat pertama kali ia duduki saat masuk ke dalam kelas ini, dan sebenarnya ini tempat yang paling ia senangi. Tapi sayangnya saat itu Arka terpaksa mengganti tempat duduknya, karena ia tidak ingin duduk bersebelahan dengan Keenan.Tapi siapa sangka, kini Keenan kembali duduk bersebelahan dengannya.
“ Ngga ada tukar tukar tempat ya gais! Kalau minta nukar satu, malah nukar semua, tujuan gue nge roling tempat duduk biar kalian ngga milih milih dan semua bisa ngerasain duduk di depan ato belakang biar adil” Potong Deno, ketua kelas.
“ Pffft….” Keenan menutup mulutnya dan menahan tawanya melihat ekspresi kecewa dari Arka.
“ Arrghh…” Kesalnya merebahkan kepalanya pada meja, menutup kepalanya dengan jaketnya sedangkan Keenan tertawa puas.
Ide untuk melakukan pergantian tempat duduk adalah ide Keenan, karena ia ingin duduk dengan Arka, tapi meminta pindah tiba tiba tentu saja itu terlalu jelas. Beruntung Deno menyetujui dan meminta Keenan untuk membantunya menyiapkan nomor-nomor itu. Keenan sudah mempersiapkan dua nomor yang ia tempel di bagian atas box itu, kemudian saat Arka mengambil nomornya, Keenan berpura-pura kesal karena Arka yang terlalu lama memilih, dan mengambilkan nomor untuk Arka, yang mana kertas yang sudah ia persiapkan itu.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Arka melirik Keenan yang duduk disampingnya, sedari tadi pria itu sibuk mengerjakan soal soal yang ada di bukunya.
“ Kalian denger ngga sih, Orang tua Keenan cerai…kasian yaa…”
“ Gue denger ngga ada yang mau ngambil hak asuh dia… bokap gue kan kerja di pengadilan ”
“ Padahal Keenan baik gitu, tapi kok orang tuanya ngga ada yang mau bawa dia ya ”
“ Yah, baik di depan kita, di belakang? Ngga ada yang tau kan, orang tuanya aja ngga mau nerima dia, siapa tau ada yang dia tutupi dari kita “
“ Apa Keenan anak haram? Atau anak pungut? Karena dia udah remaja, udah lepas tanggung jawab kan, makanya mereka buang dia? “
Arka menghela nafasnya panjang, beberapa hari yang lalu, ini sudah menjadi omongan satu sekolah. Orang tua Keenan yang bercerai. Sebenarnya tidak ada yang salah dari itu, hanya saja, tersebar berita bahwa baik ayah ataupun ibu Keenan tidak ingin mengambil hak asuhnya.
Arka kembali melirik Keenan, sedari tadi pria itu hanya menunduk, telinganya pun ia sumbat dengan earphonenya, tapi Arka sadar sedari tadi, tangannya tidak menggerakkan pulpennya sedikit pun. Arka dengan cepat memalingkan pandangannya, dengan gugup kembali mengalihkan pandangannya ke buku komiknya kala Keenan berdiri dan keluar dari kelas.
Dia… mendengarnya.
Ucap Arka sendu dalam hati, melihat punggung Keenan yang entah kenapa tidak terlihat tegap seperti biasa.
Arka akui Keenan memang terlihat jahat dan sering mengusilinya, tapi sebenarnya, Keenan tidaklah sejahat itu. Seperti hari itu, saat Arka lupa membawa buku tugasnya, dan sedikit panik saat pak guru menanyakan apakah ada tugas yang harus dikumpul hari itu, Keenan langsung berdiri dan mengatakan tidak ada tugas yang harus dikumpul. Lalu saat Keenan dengan sengaja mengempeskan ban motornya, dan Arka yang terpaksa mendorong motornya sampai ke bengkel, Keenan tiba tiba menghampirinya, menelpon bengkel langganannya untuk membawa motornya, kemudian mengantarkannya pulang. Lalu pernah juga saat itu, Arka sengaja melewatkan makan siangnya karena ia sedang menabung ingin membeli komik favoritnya yang mengeluarkan edisi terbatas dan harganya sangat mahal, tiba tiba saja Keenan selalu memberikan makan siangnya padanya, alasannya Keenan yang tidak menyukai makanan itu dan sayang jika dibuang.
Keenan memang sering mengusilinya, tapi Arka sadar, Keenan hanya ingin berteman dengannya. Arka sedikit tidak enak karena selalu menghindari Keenan karena mimpi itu.
Yaah… lagi pula itu cuma mimpi.
Ucap Arka menghela nafasnya panjang dan bangkit dari duduknya.