![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
2055
Arka tersenyum tipis, mengecup pelan tangan Keenan sambil mengelus pelan kepalanya. Setelah menjalin hubungan lebih dari 2 tahun lamanya, akhirnya mereka resmi menikah. Keenan menghela nafasnya panjang, merebahkan kepalanya dengan nyaman di pundak suaminya, sambil menatap cincin pernikahan mereka. Padahal sudah masuk 6 bulan sejak mereka menjadi suami istri, tapi bagi Keenan rasanya seolah pernikahan mereka baru saja dilangsungkan kemarin.
Keenan mengambil sebuah figura foto yang selalu ia pajang di samping nakas tempat tidurnya. Disana melihatkan dua pemuda yang tersenyum cerah sambil saling merangkul. Di tangan mereka masing-masing saling mengangkat sebuah ijazah kelulusannya dari SMA. Senyuman mereka berdua benar benar cerah bahkan siapapun yang melihatnya ikut tersenyum. Keenan tersenyum tipis, mengelus pelan figura itu pada pemuda yang di jas seragam sekolahnya dengan name tag bertuliskan Mahendra Abbyarka.
" Arka ..." Panggil Keenan mengadahkan kepalanya, sedangkan Arka hanya tersenyum tipis sambil mengangkat alisnya pelan
" Jujur dulu aku nggak percaya yang namanya cinta sejati, apa itu soulmate, dan apa itu takdir, tapi setelah apa yang terjadi sama kita, aku percaya itu semua."
Arka tersenyum tipis, ikut menatap foto yang sedari tadi menjadi atensi istrinya itu.
" Yah...kalau dipikir pikir pertemuan kita tu kaya udah diatur." Ucapnya dengan tangan yang masih setia mengelus pelan kepala istrinya dan tersenyum tipis
.
.
.
.
.
.
.
02 Agustus 2006
Arka menangis terisak memeluk kedua lututnya sambil memanggil-manggil nama ayah dan ibunya. Brian pun tak kuasa menahan tangisnya, kini mereka hanya tinggal berdua dan Brian sebagai kakak harus bisa menjaga dan merawat Arka .
Ayah dan ibunya menjadi korban kecelakaan beruntun saat pergi membelikan Arka sebuah kue ulang tahun. Hari ini, hari ulang tahun Arka yang ke 7. Karena mereka pada dasarnya dari keluarga menengah ke bawah, sehingga Arka tidak pernah benar benar merasakan perayaan hari ulang tahunnya. Arka yang merasa sudah beranjak dewasa dan teman temannya selalu mengadakan pesta meriah saat ulang tahun mereka, memaksa untuk dibelikan kue ulang tahun yang besar.
Ayah dan Ibunya yang tidak tega melihat Arka menangis seperti itu terpaksa mengikuti kemauan putranya, walaupun di luar tengah hujan deras. Karena jalanan yang licin, bis yang sedang mengendara kehilangan kendalinya dan terjadilah kecelakaan beruntun itu.
" Dek yok maka,dari kemarin kamu ngga makan..." Brian berusaha membujuk Arka, tapi anak itu enggan memasukkan makanan kedalam mulutnya.
" Masih ngga mau makan?" Tanya Bibi mereka dan Brian hanya bisa mengangguk lemah
Arka dan Brian beruntung karena paman dan bibi mereka mau mengurusi mereka, Evan dan Clara mereka sudah menikah sejak 7 tahun yang lalu dan hingga saat ini mereka belum dikaruniai anak. Evan sebenarnya hanya sepupu jauh dari Ibu Arka , tapi mendengar kedua anak itu sebatang kara, Ia tidak tega hati dan langsung mengangkat mereka berdua menjadi anak mereka.
Arka akhirnya masuk ke SD yang baru. Susah payah Pamannya membujuk Arka untuk tetap sekola, tapi Arka selalu menolak dan takut untuk pergi sekolah. Akhirnya mereka mencari sekolah yang baru untuk Arka berharap dengan lingkungan baru Arka bisa setidaknya melupakan traumanya.
Selama di SD Arka tidak memiliki teman. Arka sangat tertutup bahkan berbicara seadanya. Arka menyalahkan dirinya atas kematian kedua orang tuanya. Arka bahkan beberapa kali mencoba untuk mengakhiri hidupnya menyusul kedua orang tuanya, Paman dan Bibinya pun setengah mati menjaga dan menenangkan Arka yang sedang panik.
Hubungan Arka dengan Paman dan Bibinya itu pun tidak baik, karena Arka membenci mereka yang berlagak seolah adalah ayah dan ibu Arka . Arka juga membenci kakaknya yang memanggil mereka dengan sebutan ayah dan ibu daripada paman dan bibi. Mereka pun hanya bisa memaklumi sikap Arka mengingat dirinya yang masih kecil harus menghadapi pengalamannya yang tragis itu.
Evan duduk di samping Arka yang tengah memeluk lututnya di taman sekolah. Matanya sembab bahkan pipinya masih luka. Beberapa saat yang lalu, Evan dihubungi oleh pihak sekolah karena Arka yang bertengkar dengan salah satu teman kelasnya bahkan mereka saling adu tinju.
" Paman boleh duduk?" Sapa Evan lembut dan Arka mengadahkan kepalanya sambil mengangguk pelan. Arka pun sedikit menjaga jaraknya dengan Evan karena jujur ia takut dimarahi.
" Paman tidak akan marah, tapi Arka harus jujur, kenapa memukulnya?"
Arka kembali menangis terisak, susah payah ia menetralkan suaranya. Evan hanya tersenyum lembut, sabar menunggu Arka yang bercerita.
"Hiks...hiks.... Dia bilang... dia benci dengan kedua orang tuanya hks...dan mengejek ku karena sayang pada ayah dan ibu" Tangis Arka
Evan setengah mati menahan tawanya, pertikaian ternyata ini hanya karena anak kecil yang memiliki pandangan yang berbeda. Karena pengalaman Arka yang begitu pahit, wajar saja Arka kesal saat ada orang yang mengatakan ia membenci orang tuanya.
" Tak apa, jangan bersedih, kau melakukan hal yang bagus, paman lihat dia babak belur,kau memukulnya dengan keras ya?" Hibur Evan, Arka pun menatap pamannya itu takut takut
" Hahaha, sudah ku bilang kan aku tidak akan marah, paman mengerti jika dirimu marah, karna kamu benar benar menyayangi ayah dan ibumu, tapi Arka tetap salah, karena kalaupun Arka kesal, kekerasan tetap tidak dibenarkan." Ucapnya Lembut
" Iya paman...." Ucap Arka pelan.
" Namanya Keenan ya?" Arka mengangguk
" Hahaha kudengar dia memang usil dan anaknya berisik ya? Pantas saja kau risih" Arka kembali mengangguk
" Sudah jangan menangis, bagaimana jika Keenan tau? Bisa bisa dia mengusili mu nanti"
Arka dengan cepat menegakkan badannya dan menghapus air matanya. Evan yang melihat itu tersenyum gemas dan mengelus pelan kepala Arka .
``````
Arka duduk di taman sekolah, mengayunkan kakinya sambil menatap kosong lantai. Arka pun mengadahkan kepalanya ketika merasakan sosok seseorang yang tengah duduk disampingnya. Si pria yang beradu tinju dengannya beberapa hari yang lalu.
" Kenapa kau tidak di kelas?" Tanya Keenan
" Aku tidak suka"
Keenan hanya mengangguk menikmati ice cream yang sedari tadi berada di tangannya. Arka menatap Ice Cream di tangan Keenan sedikit iri. Dirinya dengan Keenan sedikit berbeda, Keenan terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya dan Ice Cream yang ada di tangannya itu adalah ice cream mahal.
" Mau? Tidak boleh HAHAHAHA" Goda Keenan sedangkan Arka hanya menatapnya kesal.
" Kau juga benci perayaan ulang tahun ya?" Tanya Keenan dan Arka mengangguk pelan
" Aku juga..."
" Kenapa?"
" Ayah dan ibuku sibuk, yang mereka pikirkan hanya pekerjaan uang dan teman temannya, mereka saja bahkan mungkin lupa aku itu lahir kapan, karena itu aku membenci mereka, kau sendiri?" Jelas Keenan
" Aku hanya tidak suka..."
" Kupikir kau menyukai hal seperti itu, karena ayah dan ibumu sangat baik padamu"
" Mereka bukan ayah dan ibuku...."
Keenan tersedak, menatap Arka heran
" Lalu siapa? Kau anak pungut?"
Arka menatap Keenan kesal sedangkan Keenan mengangkat kedua bahunya acuh.
" Mereka paman dan bibi ku"
" Oh... ayah ibumu sibuk juga ya? Apa mereka bekerja diluar negri?"
" Tidak... mereka sudah meninggal..."
" Oooowh... maafkan aku" Ucap Keenan tidak tega
" Di hari ulang tahun ku....." Tambah Arka pelan sambil meremat celana sekolahnya, tubuhnya bergetar dan perhalan air matanya mengalir.
Keenan yang melihat itu benar benar terkejut. Arka yang terkesan dingin dan sangat pendiam itu, tiba tiba menangis terisak. Keenan mendekatkan dirinya pada Arka mengelus pelan pundak Arka .
Arka langsung tersadar buru buru ia menghapus air matanya takut Keenan akan menertawainya.
" Kau pasti akan memberitahu teman teman kalau aku menangis kan?"
" Memang apa salahnya menangis? Aku sering menangis"
Arka menatap Keenan curiga sedangkan Keenan tersenyum tipis.
" Ini... untuk mu" Keenan menyodorkan ice creamnya pada Arka
" Untuk ku?"
" Hm... mungkin ini akan menghiburmu" Senyum Keenan mengambil tangan Arka agar Arka memegang ice cream itu
" Terimakasih Keenan...." Ucap Arka tipis dan mulai mencicipi ice cream itu rasanya benar benar enak.
" Aku tidak suka di panggil Keenan..." Ucapnya lagi dan Arka memiringkan kepalanya.
" Ya, ayah dan ibuku selalu Membentak ku dengan nama itu" Ucapnya sendu.
" Barra Keenan Haekal..... hmmm Haekal... aku panggil kamu Haekal saja, sama seperti ku, dengan nama belakangan ku, Mahendra Abbyarka, Arka" Ucapnya semangat
Haekal tersenyum cerah dan menganggukkan kepalanya, setelah itu tidak ada yang berbicara, Arka sibuk mekakan Ice cream pemberian Haekal, dan Haekal hanya duduk tenang sambil mengayunkan kakinya.
" Kufikir kau anak yang jahat...." Ucap Arka lagi sedangkan Haekal hanya terkekeh pelan
" Aku hanya suka mengusili mu"
" Kenapa?"
" Reaksi mu"
" Reaksi ku?"
Arka mengerutkan keningnya tidak mengerti sedangkan Haekal tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.
" Kau ta, sebenarnya ice cream itu sudah basi dan aku menambahkan susu basi kesana"
Ucap Haekal dan Arka dengan cepat membuang ice cream itu dan memuntahkannya.
"HAHAHAHAHAHA" Tawa Haekal terbahak bahak
" Kenapa kau tertawa?! Kau sengaja ya?! Kau mau meracuniku?!"
" HAHAHA itu, Reaksi mu itu, hahaha kau selalu menganggap semua seriu, hahaha aku hanya bercanda" Haekal tertawa terpingkal pingkal melihat wajah kesal dan panik Arka .
" Aku benci dengan mu HAEKAL !"
Kesal Arka pergi meninggalkan Haekal, sedangkan Haekal dengan cepat berlari mengejar Arka . Dan sejak hari itu, Keenan semakin sering mengusili Arka dan tanpa mereka sadari mereka menjadi sahabat dekat sejak saat itu.
``````