![What If [BL]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/what-if--bl-.webp)
Clara membuka pintu kamar Arka perlahan, sudah satu minggu sejak kejadian itu, Arka enggan keluar dari kamarnya. Pria itu hanya tidur, menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut. Arka juga menolak pihak sekolah dan polisi yang ingin meminta pernyataan Arka menjadi saksi.
" Arka..makan dulu yok, perut kamu kosong dari kemarin" Clara duduk di pinggir tempat tidur Arka, mengelus pelan kepalanya.
Arka hanya diam, menggelengkan kepalanya lemah. Jangankan untuk makan, menelan segelas air saja sulit bagi Arka. Perutnya mual setiap kali sesuatu masuk ke dalam mulutnya
" Bunda suapin mau? Itu bunda bikin bubur jaung masakan kesukaan kamu"
Arka terdiam, itu tidak hanya makanan favoritnya, tetapi makanan favoritenya dan Haekal. Tangis Arka pecah seketika, ia benar benar tidak kuat. Haekal tidak meninggalkan apapun , bahkan sepatah katapun, Haekal tidak mengucapkan apapun sebelum meninggalkan dirinya, dan yang menyakiti hati Arka, Haekal bahkan tidak memberinya kesempatan untuk dirinya meminta maaf.
Melihat Arka yang menangis terisak, Clara hanya bisa mengelus pelan pundak Arka. Siapapun yang mengenal Arka dan Haekal, pasti tau seberapa dekat kedua orang itu. Haekal mengakhiri hidupnya, tepat di depan mata Arka, tentu saja itu sangat melukai hati Arka dan tidak ada sepatah katapun yang dapat mengobati luka Arka saat ini.
*Arka membuka matanya, di depan matanya ia melihat Haekal yang tengah berdiri di ujung tembok, bersiap untuk menjatuhkan tubuhnya bebas. Melihat itu Arka berusaha berteriak mengejar Haekal, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak dan suaranya tidak keluar. Kemudian, tiba-tiba saja ia mendengar suara dirinya yang tengah memaki nama Haekal. Arka memalingkan pandangannya, menatap sumber suara. Ia bisa melihat dirinya yang tengah memaki Haekal, mengatakan bahwa pertemanan mereka selesai dan meminta Haekal untuk mati*.
\- *Mati aja lo sana! Gue ngga sudi punya temen kaya lo*! -
*Arka terduduk, menutup kedua telinganya. Suaranya yang memaki Haekal untuk mati terus menerus terputar di kepalanya, seolah menghantuinya*.
Nafas Arka terengah, kembali membuka matanya, ternyata semua itu hanya mimpi. Tapi apa yang baru saja ia mimpikan bukanlah sebuah mimpi. Arka benar-benar memaki Haekal saat itu, benar benar menyumpahi anak itu untuk Mati bahkan untuk pertama kalinya melayangkan tinjunya pada sahabatnya itu. Arka kembali menangis terisak, dialah yang menyebabkan Haekal meninggal, ia yang meminta pria itu untuk mati dan Haekal mengabulkan permintaanya, untuk mengakhiri hidupnya, bahkan di depan matanya. dan sekarang, tidak ada yang bisa Arka lakukan selain menyesal atas apayang telah ia perbuat
Polisi yang bertugas menghela nafasnya panjang, menatap sendu pria muda yang tampak menyedihkan di depannya menyerahkan diri.
" Aku yang membunuhnya, Karna aku dia lompat seperti itu, tolong tahan aku, aku sudah membunuh orang"
Ucap Arka lagi, entah sudah berapa kali Arka mengucapkan kalimat itu pada polisi, tapi tidak satupun dari mereka yang menahan Arka. Arka benar benar kehilangan akal, ia bisa gila jika tidak menebus kesalahannya. Setiap malam ia terus mendapat mimpi saat ia meminta Haekal untuk mengakhiri hidupnya
" Sudahlah Nak.. kau pulang saja, jika memang kau merasa bersalah dengan temanmu, maka hiduplah." Ucap polisi itu menepuk pelan pundak Arka dan menuntun Arka untuk keluar ruangan.
Air mata Arka kembali mengalir, Arka tau, polisi itu tengah menyemangatinya, untuk tetap hidup, agar tidak mengecewakan Haekal diatas sana. Tapi bagi Mark, kalimat itu seperti sebuah hinaan, sebuah tamparan keras, karena jika Arka benar benar menyesal, maka hiduplah dalam penyesalan itu hingga ia menjemput ajalnya, hanya itu yang bisa Arka lakukan, untuk menebus kesalahannya pada Haekal. Tapi sungguh Arka tidak sanggup, ia lebih memilih untuk ikut mengakhiri hidupnya menjemput Haekal, dari pada ia hidup dalam penyesalan dan belum sempat meminta maaf dengan baik pada Haekal.
Arka melangkahkan kakinya asal, ia tidak tau harus melangkah kemana. Pulang ke rumah hanya membuatnya gila karena Haekal akan selalu muncul di kepalanya. Potret Haekal yang menahan tangisnya di atap saat itu, Haekal yang menangis di tengah malam, Haekal yang menundukkan kepalanya pasrah dilempari sampah, dan tubuh Haekal yang terbaring kaku. Semua itu membuat Arka gila.
Arka sudah lelah menangis, mungkin air matanya sudah kering. Tapi jujur saat ini ia masih ingin menangis, masih ingin berteriak, jika Arka bisa memohon pada tuhan, memberikannya satu kali kesempatan untuk meminta maaf pada Haekal, mengubah ini semua. Arka rela untuk mendapat ganjaran dan bayaran hanya untuk meminta maaf pada Haekal. Bahkan jika harga yang harus dia bayar untuk meminta maaf pada Haekal adalah nyawanya, Arka siap jika tuhan mencabut nyawanya saat ini. Karna Arka merasa tidak adil, Haekal yang tersakiti, Haekal yang menderita, Haekal yang menangis, tapi kenapa nyawa Haekal yang diambil.
" Nak.. lampunya merah..."
Ucap seorang bapak-bapak kala Arka yang masih menunduk dan terus melangkahkan kakinya. Tapi seolah tuli, Arka tidak bisa mendengarkan apa apa, yang terdengar olehnya saat ini hanya suara Haekal yang menangis, suara Haekal yang menahan isak tangisnya. Pandangan Arka bahkan mengabur, air matanya terus mengalir, Arka benar benar hampir gila karenanya.
\* ARKA AWAS !!\*
Arka tersentak, itu suara Haekal, Arka pun menatap sekitar, mencari dimana sumber suara itu. Tapi hanya sedetik saat Arka mengadahkan kepalanya, sebuah truk menghantam tubuhnya dengan kuat.
" Haekal..." Ucap Arka lirih mengangkat tangannya berusaha menggapai Haekal
" Jangan... per..gi...." Ucapnya lagi lirih kala Haekal menatapnya miring dan berbalik pergi, menghilang di antara kerumunan orang.
" Hae....kal..." Belum sempat Arka menyelesaikan katanya, pandangan sudah menghitam, tangannya terjatuh bebas dan Arka tidak bisa lagi merasakan apa apa
Arka membuka matanya. Arka sudah pasrah, pilihannya hanya dua, ia yang terbaring lemah di rumah sakit dengan gips dan infus dimana-mana, atau saat ini ia telah meninggal.
" Ini.. kamar gue..." Ucap Arka lirih ketika pandangannya sudah jelas. Ia pun mendudukkan tubuhnya, menatap dirinya sedikit heran karena tubuhnya baik baik saja saat ini.
" Apa itu mimpi...?" Ucap Arka memegangi kepalanya bingung, Arka dengan sangat yakin tadi ia pergi ke kantor polisi kemudian saat pulang ia ditabrak oleh truk.
Di tengah Arka yang kebingungan, tiba tiba Brian kakaknya, masuk ke dalam kamar.
" Kenapa lo? Kaget banget liat gue" Ucapnya kala masuk ke dalam kamar mereka berdua dan mendapati adiknya itu yang menatapnya kaget.
" Bu-Bukannya lo harusnya di Jepang ya? Kan lo kuliah... kok lo di sini?" Tanya Arka bingung
" Ya emang.. Ini gue mau ke bandara... baek baek lo ngga ada gue ya..." Ucap Brian yang mengelus pelan kepala Arka sedangkan Arka masih menatap kakaknya itu bingung.
" Kak... sekarang... tanggal berapa?"
" 2 Juli... kan lo ultah sekarang... lupa lo?" Ucap Brian lagi
" 2017?" Tanya Arka ragu ragu karna bisa saja Arka koma selama 1 tahun .
" 16 goblok... kan lo sweet 17th sekarang... lupa lo kemarin malam kita makan makan sama Haekal?"
Arka dengan cepat mengambil ponselnya, mengecek tanggal di sana dan ternyata benar tanggal 2 Juli 2016.
"Ini kan.... 6 bulan yang lalu"
Ucap Arka dalam hati.
" Kak tampar gue..."
" Hah? Apaan sih?"
" Ck.. tampar aj-Auch"
Arka dengan cepat memegang pipinya kala Brian menamparnya cukup keras.
" Sakit anjing!" Kesal Arka
" Kan elo yang nyuruh! Dah ah gue telat... jangan bandel kalau ngga ada gue..."
Arka masih diam memproses apa yang terjadi. Apa yang terjadi 6 bulan yang lalu itu sangat nyata, dan jika Arka hanya bermimpi rasanya tidak mungkin. Kemudian apa yang terjadi saat ini juga sangat nyata, tamparan itu Arka bisa merasakannya, kemudian ia masih bisa melihat jam tangannya yang berdetak, artinya ia tidak bermimpi. Hanya satu kemungkinan yang terjadi saat ini. Arka menatap dirinya di kaca, semuanya benar benar nyata, bahkan kantung matanya benar benar bengkak dan menghitam karena menangisi Haekal berhari hari. Sehingga apa yang terjadi saat itu dan saat ini benar benar nyata dan benar benar terjadi.
Dirinya kembali ke masa lalu.
Hanya itu kemungkinan yang terjadi. Arka dengan cepat berlari keluar kamarnya, mengabaikan Ayah dan Ibunya yang meneriaki namanya.