What If [BL]

What If [BL]
20



Arka termenung duduk di taman rumah sakit, sudah tiga hari ia dirawat, tubuhnya sudah baik baik saja, tapi ibunya itu meminta agar Arka masih dirawat, karena ibunya takut ia masih sakit. Secara fisik, Arka bisa mengatakan dia baik baik saja, tapi mentalnya? Arka tidak yakin dia masih waras saat ini.


Haekal setiap hari menunggunya di rumah sakit, masih menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padanya, Arka pun hanya bisa menjelaskan ia mendapat mimpi yang sangat aneh, menjelaskan bahwa Haekal akan mati karena bersamanya, Arka belum sanggup, untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Haekal.


“ Hallo, anak muda, nenek boleh duduk di sini?” Seorang nenek nenek menginterupsi lamunannya, Arka tersenyum tipis, menyilahkan nenek itu untuk duduk. Dari pakaian yang dipakai oleh nenek itu, sepertinya ia juga seorang pasien.


“ Ini, aku tadi membawanya lebih, makanlah…” Ucap nenek itu sambil memberikan Arka sebuah jeruk.


“ Terimakasih nek…” Ucapnya lagi tersenyum tipis


Arka menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, menatap langit sendu. Ia tidak tau, kenapa ia masih terjebak di dunia ini, apakah hidupnya akan berakhir seperti ini? Membusuk di dalam lingkaran setan ini?


“ Bagaimana permainannya? Apa menyenangkan?”


Tanya nenek itu tiba-tiba, Arka menelan air ludahnya kasar, tiba tiba saja dia merinding, seolah ada yang suatu energi besar yang menekan dan mengintimidasinya. Nafasnya memburu, menatap nenek itu takut, sedangkan nenek itu masih tersenyum ramah.


“ Tidak mengingat ku?” Tanyanya.


Arka mengerutkan keningnya, memang tidak begitu banyak orang yang hadir dalam kehidupannya, tapi ia benar benar tidak mengingat siapa nenek itu.


CLICK


Arka tersentak, ketika nenek itu menjentikkan tangannya ke depan wajahnya, tubuhnya seolah ditarik mundur menuju dasar bumi. Arka pun membuka matanya perlahan, ketika mendengar suara tawa anak anak.


" Itu....."


Cicitnya pelan ketika melihat seorang anak kecil yang tengah berlari menuju taman, Arka mengenal tubuh anak itu, rambut halus coklat itu, Arka mengenalnya.


“Hey awas!” Ucap Arka karena anak itu yang berlari cepat dan hampir tersandung, tapi sayangnya anak itu sudah terjatuh.


BRUK 


“ Dia tidak bisa melihat dan mendengarmu….” Ucap nenek itu menahan Arka kala ingin membantu anak itu yang sudah menangis tersungkur di tanah .


“ Huaaaa huhuhu…hiks….hiks…. Mama…..” Tangisnya, Arka hanya bisa menggigit bibirnya gugup, tidak tega melihat pria kecil itu menangis.


“ Kau itu bodoh atau bagaimana sih!” Teriak anak kecil lainnya.


Arka mengalihkan pandangannya, menatap ke sumber suara, itu dirinya.


“ Sudah ku bilang jangan berlari!” Ucap Arka kecil sambil membantu Haekal bangun, menepuk-nepuk pelan tubuh pria kecil itu, membersihkan debu yang menempel di bajunya.


Haekal meredakan isak tangisnya, mengusap air matanya, menatap temannya itu kesal.


“ Lihat! Lututmu luka lagi! Kau bisa berjalan?” Tanya Arka sedikit khawatir dan Haekal menggelengkan kepalanya


" Naiklah! Sebagai gantinya, pinjamkan aku konsol game mu" Ucap Arka sambil berjongkok, menyilahkan Haekal untuk naik ke punggunggnya.


" Ayo kita main mobil mobilan" Ucap Haekal semangat setelah naik ke punggung Arka. 


" Huh? Hey! Sakit ! Rambutku!" Kesal Arka karena Haekal yang menarik rambutnya, kemudian menggerakkannya layaknya stir mobil.


Arka terkekeh pelan melihatnya, Haekal itu pintar, tapi sangat ceroboh, dan terjatuh adalah kebiasan Haekal sejak kecil, karena itu Arka sejak kecil selalu menggendong anak itu kemana mana, dan kepalanya juga selalu dimainkan oleh Haekal. Melihat dua anak kecil itu yang saling tertawa, membuat hatinya sedikit ngilu, karena mereka tidak tau apa yang akan terjadi dengan mereka saat mereka dewasa nanti.


" Padahal kau bisa menurunkannya, kenapa membiarkan anak itu menarik rambutmu seperti itu?" Tanya nenek itu menyadarkan Arka yang sedari tadi menatap haru dirinya dimasa kecil. Arka hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


Itu juga pertanyaan yang sama muncul dikepalanya, kenapa ia mau susah payah menggendong Haekal, rambutnya ditarik seperti itu, apa sebenarnya rasa peduli dan sayang Arka pada Haekal, sudah muncul sejak itu?


CLICK


Arka kembali tersentak ketika mendengar suara jentikan jari, kini ia sudah berada di tempat yang berbeda, dan ia bisa melihat Arka kecil, yang tengah cemberut, sambil mememperhatikan kerumunan anak anak yang tengah bermain.


" Ck! menyebalkan!" Ucap Arka kecil, menghentakkan kakinya dan memilih untuk pergi keluar dari taman, entah dorongan dariman, Arka pun mengikuti dirinya yang tampak kecewa berjalan menjauh dari taman.


" Biar aku bantu Nek...."  Ucap Arka ketika ia baru saja keluar dari taman, dan melihat seorang nenek nenek yang tengah memungut buah buahannya yang terjatuh dari kantong belanjannya.


" Sudah Nek...." Ucap Arka sambil membawa satu kantong yang sudah penuh dengan buah buahan.


" Terimakasih Nak... Aku sangat terbantu...." Ucap Nenek itu sambil mengelus pelan kepala Arka. 


" Nenek mau kemana? Biar aku bantu "  Ucap Arka lagi sambil menggandeng tangan Nenek itu 


" Aku ingin duduk di taman itu... terimakasih nak...."


Setetelah itu mereka duduk di kursi yang ada di taman, Arka pun kembali menatap kesal Haekal yang tengah bermain bersama anak-anak yang lain.


" Kenapa kau tidak bermain bersama mereka? Apa kau tidak diajak?" Tanya Nenek itu pelan.


" Aku tidak suka mereka bermain bersama Haekal! Hanya aku yang boleh bermain bersama Haekal! Dia teman ku!"  Ucapnya kesal


" Hahaha... kau tidak mau temanmu direbut ya? Kau senang bermain bersamanya? Kau sayang padanya?"


Arka menganggukkan kepalanya, menatap sedih Haekal yang tengah tertawa sambil bermain bola.


" Tapi kau tidak boleh eogis seperti itu, Kau tidak bisa bersama sama dengan temanmu terus" Ucap Nenek itu sambil mengelus pelan kepala Arka 


" Tapi aku ingin terus bersamanya! Aku ingin menjaganya.. dia itu ceroboh... cengeng... kesepian...walaupun dia mengusili ku, tapi dia sangat baik padaku... dia teman terbaikku, aku ingin dia bersama dengan ku terus, aku bisa menjaganya, aku tidak ingin dia menangis sendiri, aku tidan ingin melihatnya terluka saat terjatuh."


Arka tertegun mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya saat kecil itu, saat itu ia hanya berusia sembilan tahun, apa yang dimengerti oleh anak kecil akan cinta dan sayang, tapi kalimat itu, Arka bisa merasakan, betapa berartinya Haekal dalam hidupnya, dan betapa sayangnya ia pada sahabatnya itu. Ternyata disinilah semua bermula, sebuah benang merah yang menginkatnya, akan sebuah cinta terlarang.


" Tapi kau tidak bisa bersama dengannya terus....dia pasti akan hidup bersama dengan orang lain" Ucap Nenek itu


Arka pun menundukkan kepalanya, dan matanya mulai berkaca kaca


" Tapi aku ingin bersamanya...." Ucapnya menahan air matanya


Nenek itu tersenyum tipis, mengusak pelan kepala Arka 


" Bagaimana jika kita bermain, jika kau menang, aku akan mengabulkan permintaan mu, kau bisa hidup dan bersama dengan teman mu itu selamanya" Ucap Nenek itu menghibur Arka 


" Permainan?" Tanya nya penasaran


" Eung... tidak sulit kok, kau hanya tidak boleh mengatakan kata terlarang... hanya itu" Ucap Nenek itu


" Apa itu?"


" Aku mencintai mu, kau tidak boleh mengatakan itu pada teman mu itu" 


" Kenapa aku tidak boleh mengatakannya?" Tanyanya penasaran


" Itu peraturannya, bagaimana? Ingin bermain?"


" Bagaimana jika aku mengucapkannya"


" Kau akan dihukum dan dikutuk..." Ucap Nenek itu lagi


Arka diam sebentar, menatap temannya itu yang masih bermain dengan anak anak yang lain.


" Aku benar benar bisa hidup dengannya selamanya? Dia akan berada di dekat ku terus? Dia akan bermain bersama ku terus? Dia tidak akan meninggalkan ku?"


" Eung..." Ucap Nenek itu sambil mengangukkan kepalanya.


" Baiklah aku mau.." Ucapnya mengangguk semangat


" Oke, kita mulai bermain hari ini ya, ingat kau tidak boleh mengatakan kata terlarang itu, janji" Ucap Nenek itu mengarahkan jari kelingkingnya


" Oke, janji" Ucap Arka dan mengaitkan kelingkingnya


Arka menghela nafasnya panjang, air matanya mengalir begitu saja. Ternyata selama ini, ia yang memulai semuanya, ia yang memulai duluan menaruh benih cinta itu antara dirinya dan Haekal. Arka saat itu masih kecil, ia pikir hanya bertemu dengan seorang nenek nenek, dan permain itu, hanya sebuah permainan untuk menghiburnya hingga terlupakan begitu saja, tapi siapa sangka, Arka bertemu dengan sesosok dewa atau tuhan yang bisa memainkan takdir seseorang.