
"Berpetualang lah sejauh mata memandang,mengayuhlah sejauh lautan terbentang,bergurulah sejauh alam berkembang"
πΊπΊπΊ
Hari ini semua mata menaruh perhatian padaku. Ketika aku melangkahkan kaki untuk pertama kalinya memasuki FUKUOKA INSTITUTE OF TECHNOLOGY. Aku menabur sepanjang langkahku. Sampai aku meletakkan punggungku diatas kursi kelas yang sangat nyaman. Bola mataku terus mengitari sekeliling kelas,membuatku terasa berada di bumi 2030.
Kulihat para remaja duduk rapi,menunggu kedatangan Sang dosen. Suasana ini sangat berbeda dengan suasana belajar-mengajar di Indonesia,seperti yang kutau. Tapi...dikelas ini masih ada satu kursi yang belum diisi. Pemiliknya belum datang sampai sekarang. Bisa kutebak bahwa dia pasti seorang Mahasiswa yang malas.
Tak berapa lama,pria muda memasuki ruangan ini. Kedatangannya membuat para mahasiswa diruangan ini berdiri memberi penghormatan kepadanya. Dan yang tak kusangka,pria itu adalah Tamis. Kini dia duduk dikursi tempat para dosen biasanya duduk ketika mengajarkan mata kuliah.
Akupun sebagai salah-satu mahasiswi diruangan ini ikut berdiri memberi penghormatan kepadanya. Tapi,hatiku masih dilingkupi dengan tanda-tanya. "Siapa pria ini sebenarnya? Terkadang,dia menjadi begitu dingin. Terkadang,dia menjadi sahabat yang terlihat sangat ceria. Terkadang,dia terlihat seperti pria bengis. Terkadang,dia membuatku ketakutan"
ππππ
Kegiatan belajar-mengajar dikampus hari ini berjalan dengan lancar. Aku berjalan pulang menuju apartemen tempat aku tinggal,yang tak jauh dari gedung universitasku.
Tapi,aku masih bingung dengan semua yang terjadi hari ini."Kenapa Tamis bisa menjadi dosen di universitas itu?"
Sudahlah,itu tidak terlalu penting. Sekarang,yang terpenting adalah tujuan utamaku. Hidup bahagia bersama Sang Fukuoka.
"Tit....tit...!"
Suara klakson mobil mengejutkanku. Aku langsung berpaling menatap kearah mobil itu. Mencoba untuk menembus,siapa orang yang mengendarai mobil itu?
"Ayo,ikutlah denganku!"ajak pria yang sedang menyetir mobil itu.
"Tamis??" Lagi-lagi pria ini menimbulkan pertanyaan didalam benakku.
Ajakannya harus dipertimbangkan baik-baik. Masalahnya,sekarang posisi Tamis adalah sebagai salah-satu seorang dosen di kampusku. Tak sopan,jika aku bermain-main lagi dengan Tamis.
"Tak usah banyak berfikir,ayo naik!" Dia memaksaku untuk ikut dengannya.
Mungkin ini bisa menjadi kesempatan besar untuk menanyakan semua yang terganjal dihatiku.
Aku membuka pintu belakang. Dan menyenderkan punggungku dikursi yang sangat nyaman ini.
Sepanjang perjalanan,bibir hanya terbungkam. Tak satupun kata keluar dari bibirku maupun Tamis. Kami berdua fokus berada dalam fikiran masing-masing.
Sementara,aku harus menemukan jawaban dari semua pertanyaanku yang telah kusimpan selama ini.
Aku memecahkan keheningan ini.""Kenapa kamu bisa menjadi di dosen di universitas itu? Apa sebenarnya hubunganmu dengan universitas itu begitu juga dengan kota Fukuoka ini?"
"Dan kenapa kamu gak pernah menceritakannya kepadaku?".Pertanyaan demi pertanyaan terus menghujaninya."Begitukah seorang sahabat? Enggan berbagi dengan sahabatnya sendiri!"Aku agak sedikit marah.
Mobil ini berhenti secara mendadak. Membuat bibirku terbungkam rapat.
Tamis menatap mataku dengan tatapan yang tajam."Apakah kamu lupa dengan perjanjian kita? Jangan tanyakan apapun lagi yang kamu pandang aneh dariku! Diwaktu yang tepat,aku akan menjelaskan semuanya padamu!"
Tamis dengan segera turun dari mobil dan meninggalkanku yang sedang terpaku melihat gedung kokoh yang telah berada di hadapanku dengan nyata.
Tadinya,aku mengira bahwa dia akan mengantarkanku pulang. Tapi,dia malah membawaku ke gedung yang sangat mewah ini.
Setelah puas tercengang dengan kemegahan gedung ini,aku langsung turun dan berlari menyusul Tamis.
Aku berhasil melewati pintu gedung ini. Dalamnya tak kalah megah dengan luarnya. Perusahaan ini hebat. Alat-alat canggih ikut berperan dalam bekerja di perusahaan ini. Bermacam-macam alat,ada di dalam perusahaan ini."Bagaimana bisa aku menemukan Tamis di perusahaan sebesar ini?"
Semua yang ada di perusahaan ini membuatku terlena. Aku lupa tujuanku. Untuk apa aku masuk kedalam perusahaan ini?.Untuk mencari Tamis.
Karena terpedaya dengan kemewahan gedung dan kecanggihan teknologi yang menghiasi ruangan ini,kakiku terus melangkah tanpa arah. Mengelilingi perusahaan ini.
Aku tersadar setelah kakiku menabrak benda bulat yang agak sedikit aneh. Benda ini adalah salah satu robot yang ada di perusahaan ini. Tapi dia berbeda dari yang lain. Kalian bisa membayangkan robot ini seperti ochobot yang ada di film kartun Boboiboy. Dia sangat imut. Aku ingin menyentuhnya dan meletakkannya kedalam pelukanku sebagai permintaan maaf. Namun,dia pergi begitu saja. Aku berusaha mengejarnya. Dia membawaku ke suatu tempat yang sangat sunyi. Jauh dari keramaian.Benda ini lenyap didalam satu ruangan yang terletak dipojok perusahaan ini. Langkahku terhenti saat robot itu tenggelam dari pandanganku.
Rasa penasaran mendorongku untuk memasuki ruangan itu. "Ada apa didalamnya? Siapa pemilik robot imut itu?"
"Hei" Tiba-tiba saja lengan bajuku ditarik. Aku takut. Apakah aku terlihat seperti pencuri yang tertangkap basah dan harus menghabisi masa mudaku dibalik jeruji besi?
"Maaf,aku mohon lepaskan aku ! Aku tak mengambil apapun dari perusahaan ini! Aku bersedia untuk diperiksa!". Ujarku ketakutan.
Mataku tak berani melihat wajah orang yang menangkap ku. Berkali-kali kukatakan bahwa aku tak mengambil apapun dari perusahaan. Bahkan,aku tak berani menyentuh apapun di perusahaan ini.
"Woi,ini aku Tamis! Apa yang kamu lakukan disini?"
Aku menghela nafas lega,setelah mengetahui bahwa Tamis yang menangkap ku. Dia hanya bisa mengejutkanku.
"Tadi,aku mau nyusul kamu. Jadi aku masuk kedalam. Setelah melihat isi perusahaan ini,aku terkagum-kagum. Aku terus melangkahkan kaki menikmati suasana di perusahaan ini!".
"Kamu bukan kagum,tapi kampungan . Karena gak pernah liat ginian di Labuan Bajo!" Dia meledekku.
"Gak ya...!" Ucapku kesal.
"Oh ya,Ingat! Ketika kamu berada di perusahaan ini,maka kamu harus selalu berada di sampingku. Karena pasti kamu akan selalu tersesat. Dan satu lagi,jangan pernah datang ke perusahaan ini tanpa izin dariku!"
Ujarnya marah.
"Baiklah,aku berjanji!"
βοΈβοΈβοΈ
Semakin jauh aku melangkahkan kaki
Semakin banyak keanehan-keanehan yang mengusik
Fikiranku