
Setelah sholat subuh, aku segera melangkahkan kaki menuju pemakaman, tempat dimana Vare dikuburkan.
Sekarang, aku hanya bertatap wajah dengan tumpukan tanah. Vare, yang ceria dan sangat baik hati kini telah tertimbun dengan tanah. Sahabatku, aku benar-benar sangat merindukanmu.
Aku duduk terdiam disisi kanan kuburan ini. Tanpa kesadaran, air mata mengalir deras membasahi hamparan pipi merahku.
"Var, terimakasih karena mau menjadi sahabatku selama kepergian ayah. Dan kini kau pergi setelah ayah kembali lagi ke hidupku. Bukankah itu suatu kebetulan? Ketika ayah pergi, kau datang kehidupku. Begitu ayah kembali, kau pergi meninggalkanku. Bagaimana aku bisa tertawa disamping kesedihan ini?" ujarku masih dalam penyesalan.
Aku sungguh merasa sangat-sangat menyesal.
"Seharusnya, aku tak melangkahkan kaki untuk meraih impian. Seharusnya, aku tak meninggalkanmu. Seharusnya, aku berada disini saat kau meringis kesakitan. Seharusnya, —"
Seseorang dibelakangku langsung memotong perkataanku. "Seharusnya, kau tak berkata seperti itu!"
Aku teringat dengan kejadian yang sama dengan kejadian ini. Dengan ungkapan kata-kata yang sama. Dan selalu ada suara yang memotong perkataanku.
aku memalingkan wajah. Tak kusangka, aku akan bertemu dengannya lagi, Aslan.
Aku langsung beranjak dari posisi dudukku. Berdiri menatapnya dengan kebencian. "Tapi, kenapa aku harus membencinya? Apakah mungkin karena darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah yang sama dengan Tamis? Atau karena wajah mereka yang tak ada bedanya" ujar batinku.
"Aslan!" panggilku.
"Maaf, jika kehadiranku mengganggu ketenangan mu," ujarnya.
"Mau apa kau kesini?"
"aku ingin meminta maaf atas kesalahan kakakku, karena mungkin kehadirannya kedalam hidupmu telah menciptakan kekacauan dan selalu membuat kedua mata indahmu mengalirkan bulir-bulir air mata," serunya.
"Ini semua telah diatur oleh Sang Maha Kuasa. Justru, aku sangat bersyukur, karena kehadiran kalian aku bisa merasakan pahit manisnya hidup. Mungkin, jika kalian tak pernah hadir kedalam hidupku ini, aku takkan bisa menjadi sehebat ini!" Air mataku menitik. Tapi, inilah yang telah terjadi. Semuanya terasa sangat-sangat pahit.
Aku menghela napas dan menyeka bulir-bulir air mata yang telah membasahi pipi merahku. "Sudahlah! Aku telah menutup lembaran-lembaran yang menyedihkan itu. Sekarang adalah waktu untuk menitikkan tinta diatas hamparan lembar yang baru," ujarku.
"Aku tau, bagimu tak semudah itu untuk menutup lembaran ini. Tapi, jika itu kehendakmu, maka lakukanlah! Aku tak memaksa diriku untuk mendengar semua penjelasan dariku. Biarlah waktu yang menjelaskannya." Aslan menutup pertemuan kami dengan penggalan kalimat yang baru diuucapkannya. Dia pergi melangkahkan kakinya dan menjauhiku.
Mungkin, ini memang jalannya. Aku memang harus menjauhi dan meninggalkan mereka. Mungkin, kami harus berpisah untuk selamanya.
🥰🥰🥰
Kakiku melangkah tanpa tujuan arah yang pasti. Aku benar-benar kesepihan karena kepergian Vare. Kini, aku terdiam sesaat. Berdiri tepat di halaman rumah sang pangeran komodo. Hanya tinggal terdenagr suara burung yang saling bersiul-siulan. Disertai dedaunan kering yang berjatuhan diterpa angin. Rumah ini menjadi sangat sunyi tak berpenghuni.
Tanganku menggenggam gagang pintunya. Mungin, dengan membukanya aku bisa menyaksikan lagu masa-masa yang kurindukan bersama sahabatku, Vare.
Kubuka pintunya. Rumah yang sudah tak berpenghuni lagi. Sampah kertas berserakan di lantai. Seperti ada peperangan hebat yang baru berkecamuk di rumah ini.
Aku meneruskan langkah kaki. Berjalan menyusuri sudut demi sudut rumah ini. Kupungut salah satu bingkai yang berdiri tegap di atas meja putih peninggalan Vare. Foto ini mengingatkanku dengan seorang pangeran komodo.
Aku tersenyum sembari memandang foto itu. "Var, kenapa kau begitu cepat meninggalkanku?" ujarku sembari meletakkan bingkai itu ke tempat semula.
Tak sengaja, bola mataku menatap buku yang terletak di samping bingkai itu. Kubuka pita yang melilit tiap sisi buku itu.
Aku mulai membuka lembaran pertama.
'Ter-untuk kamu' Begitulah kalimat yang tertulis di halaman pertama.
Aku langsung menyenderkan badan di punggung kursi.
Jari jemariku membolak-balik lembar tiap lembar buku ini.
"Sejak bertemu denganmu, aku mulai memasuki duniamu, aku semakin merasa yakin bahwa namaku menjadi sebagian dari takdirku. Varanus Kmodoensis. Diambil dari bahasa latin "komodo". Begitu juga dengan dirimu, kau aneh. Berteman dengan seekor komodo. Hahahha, aku jadi teringat dengan Zeeba si komodo cantik." Halaman 3.
Kini aku tertawa kecil melihat kalimat yang dituliskannya di halaman kedua.
Ketika aku membalikkan buku ini, terjatuh sepucuk surat dari dalamnya. Sepucuk surat yang berwana biru langit.
Tadinya aku enggan membukanya. Namun, setelah kubaca tulisan yang tertera di surat itu 'Fustuq, Sang Ratu Komodo'. Kelihatannya kalimat itu menarik hatiku.
Aku membukanya. Mungkin saja, surat ini memang tertuju untukku.
"*Sahabatku, Fustuq
*Ketika membaca surat ini, itu artinya aku telah tiada.
Fustuq, aku berharap setelah aku pergi kau baik-baik saja. Tak terluka sedikitpun.
Aku juga berharap kau takkan membenci Tamis. Membencinya sama dengan kau menyiksa dirimu.
Aira telah menjelaskan semuanya padaku. Namun, aku tak bisa menjelaskan hal ini padamu.
Biarlah kalian yang menyelesaikannya.
Mengenai syekh muda, aku yang menyuruhnya datang untuk melindungimu disana. Aira bilang, paman akan membahayakanmu. Dia tak bilang bahwa Tamis akan melukaimu. Aku tak pernah mengkhawatirkanmu dengan Tamis. Hanya saja, pamannya mungkin akan mencelakaimu*."
"Kenapa kau begitu membela Tamis? Kau tak tau, bahwa dialah dalang dibalik semua ini," gumamku*.
Surat ini membalas pertanyaanku. "**Kau pasti akan bertanya 'Kenapa aku terlalu percaya dengan Tamis'. Aku mempercayainya bukan karena Aira dan bukan karena apapun.
Tapi, kamulah yang membuatku sangat percaya dengannya. Cinta kalian menghadang semua dendam yang ingin dilampiaskannya padamu. Meskipun aku tak tau apa yang terjadi setelah kepergianku.
Sebenarnya, aku tak ingin meninggalkanmu. Sendirian mengahadapi yang terjadi. Namun, aku yakin. Tamis akan melindungimu."
"Kau bilang, dia akan melindungiku? Dugaanmu salah, sangat salah. Dia sama sekali tak melindungiku. Dia bahkan menembak dada guruku. Aku tak tau apakah guruku akan selamat atau tidak?" gumamku lagi.
Lagi-lagi surat ini menjawab pertanyaanku. "Dia melindungimu, Fustuq. Hanya saja, keburukannya telah menutupi matamu untuk melihat kebaikan yang diberikannya untukmu.
Biarlah waktu yang menjelaskan bahwa dia sangat mencintaimu. Bahkan, cintanya lebih besar dari cintamu untuknya. Percayalah pada sahabatmu ini!
Mengenai gurumu, dia baik-baik saja. Bahkan, sangat baik. Aku sudah melihatnya. Bahkan, dia sudah kembali ke Labuan Bajo. Dia sangat berterimakasih padamu. Dia tak pernah menemui wanita hebat sepertimu!"
"Kau sudah melihatnya? Bahkan, aku belum melihatnya. Kalian juga berbincang-bincang? Apa yang tidak ku ketahui?" Aku bertanya-tanya.
Balas surat ini, "Waktuku tak banyak untuk menulis surat ini. Aku harap kau membacanya. Aku juga berharap, kau takkan membenci Tamis!"
Surat ini berakhir begitu saja. Bahkan, dia belum menjawab pertanyaanku.
"Ah, apa tidak ada sambungan surat ini?" Aku bertanya sembari membolak-balik buku ini. Ingin mencari kelanjutan dari surat yang terputus begitu saja.
Berkali-kali aku membolak-balik halaman buku ini. Berharap ada surat yang terselip. Namun, tetap saja tak kutemukan.