UHIBBUKA FUKUOKA

UHIBBUKA FUKUOKA
"Izinkan aku membangun memori itu lagi!"



Pagi yang sangat cerah. Hari ini adalah pertama kalinya aku menduduki bangku perkuliahan. Mendapatkan suasana baru.


Awal pertama aku memiliki seorang dosen.


"Hello! Good Morning!" sapa sang dosen, membuka pertemuan pertama di kelas yang sangat nyaman ini.


"Good Morning, Mrs!" Kami membalas salam pagi dengan hangat.


Beliau memiliki wajah yang sangat sejuk dipandang. Wajah yang tak asing, beliau sangat mirip dengan Aira, Adik kandung Tamis.


Nyonya dosen ini bak pinang yang dibelah dua dengan sosok Aira. Seperti ibu dan anak.


Ah, mungkin ini hanya khayalanku saja. Tak mungkin, bukankah ibu mereka ada di Fukuoka? Kenapa bisa sangat bersemangat mengajar di Universitas Jerman.


"Everyone listen, introduce! my name is Mrs. Marzia Shaqeena Mahren, I will teach you one full semester. I hope that we can understand and appreciate each other. Think of me as your own mother. I will try to provide the best education. Until you become a technology master with a noble heart, do not harm the children of the nation (Semua orang dengarkan, perkenalkan! nama saya Mrs. Marzia, saya akan mengajar Anda satu semester penuh. Saya berharap kita bisa saling memahami dan menghargai. Pikirkan aku sebagai ibumu sendiri. Saya akan berusaha memberikan pendidikan terbaik. Sampai Anda menjadi master teknologi dengan hati yang mulia, jangan membahayakan anak-anak bangsa)" ujarnya dengan penuh semangat. Tak sia-sia aku berkelana kesini. Aku bisa mendapatkan seorang dosen yang sangat ceria dan penuh semangat.


Pelajaranku hari ini sangat menyenangkan. Dosen ini sangat gemar bercerita. Aku sangat suka dengan Nyonya Marzia. Dia bercerita dari hati.


Matahari sudah membakar kulit kepala. Terasa sangat panas. Waktunya shalat dzuhur. Aku segera pergi ke Mesjid Koln.


Hari ini tak seperti biasanya, terlihat sangat ramai. Sepertinya ada acara yang akan digelar disini.


Aku segera berwudhu, lalu mengikuti shalat berjamaah.


Selesai sholat, semua orang duduk rapi dan siap untuk menyambut kedatangan orang spesial yang telah lama ditunggu. Karena penasaran, aku juga ingin melihatnya, Aku ikut menunggu bersama para jamaah.


***طلع البدر علينا


Tala’al Badru ‘alaina


من ثنيات الوداع


Min tsaniyatil wada’


وجب الشكر علينا


Wa jabassyukru ‘alaina


دعى لله داع  ما


Mada ‘a lillahida’


أيها المبعوث فينا


Ayyuhal mab ‘utsufina


جئت بالأمر المطاع


Ji’tabil amril muta’


جئت شرفت المدينة


Ji’ta syarraftal Madinah


يا خير داع مرحبا


Marhaban ya khairada’


نور خير المرسلين طلع النور المبين


Tala’annuril mubin nuru khairil mursalin


نور أمن وسلام نور حق ويقين


للعالمين ساقه الله تعالى رحمة


Saqahullahu ta’ala Rahmatan Lil’alamin


البحر شعاع فعلى البر شعاع وعلى


Fa ‘alal barrissyu’a wa ‘alal bahrissyu’a


طلع البدر علينا


من ثنيات الوداع


وجب الشكر علينا


ما دعى لله داع


المبعوث فينا أيها


جئت بالأمر المطاع


جئت شرفت المدينة


داع مرحبا يا خير


مرسل بالحق جاء نطقه وحي السماء


Mursalun bil haqqi ja’ nutquhu wahyussama’


قوله قول فصيح يتحدى البلغاء


Qaulu qaulun fashihun ya tahaddal bulagha’


فيه للروح دواء فيه للجسم شفاء


Fihililjismi syifa’un fihlluirruhi dawa’


أيها الهادي سلام ما وعى القرآن واع


Ayyuhal hadi salaman ma wa ‘al-qur’ana wa***’


Gema suara memenuhi seisi mesjid agung nan indah ini. Mereka melantunkannya dengan sangat merdu menyambut kedatangan ustadz besar yang akan mengisi acara.


Aku terharu menangis.


Tapi, aku tetap berusaha untuk melihat wajah beliau. Langkahnya semakin dekat.


Aku menyeka air mata yang telah menetes. Kini, beliau tepat dihadapan mataku.


Mataku tak berkedip.


Dia juga terus menatapku. "Ada apa ini? Hatiku bergetar saat pandangan kami berjumpa. Apakah hatinya juga bergetar?"


Aku langsung memalingkan wajah. Lalu segera pergi dan meninggalkan acara ini. Beliau pun begitu. Melanjutkan langkah kakinya.


Tamis


"Ditempat mulia ini kita berjumpa lagi! Izinkan aku membangun memori yang telah kau hapus, Fustuq! Aku yakin, cinta itu takkan pernah hilang. Meskipun seluruh memori itu telah kau hapus total. Pertemuan ini takkan berakhir disini. Besok, kita pasti akan bertemu lagi!" ucapnya dalam batin sembari melanjutkan langkahnya.


Fustuq


"Siapa lelaki itu? Kenapa hatiku sangat terasa delta dengannya? Hatiku juga bergetar hebat!" ucapku di dalam batin.