
"FUKUOKA". Bukankah itu yang ingin kau raih?.
Mengapa kini kau pergi menjauhinya? Keyakinanmu terhadap dirimu telah hilang dan sirna. Semua bisa kau gapai jika ada kemauan. Lalu mengapa kau menyerah begitu saja??. FUKUOKA telah lama menanti kehadiranmu. Tapi kau menghancurkan harapannya yang telah mengharapkan kehadiranmu. Apakah kau tau seberapa banyak kegagalan yang akan menghantarkanmu menuju keberhasilan.
Ingat...
ALL IS WELL
Semua akan baik-baik saja
...
"Kamu yakin udah gak papa??". Tanyaku khawatir.
"Aku gak papa,Fustuq. Cuman pusing biasa!". Jawabnya yakin. Tapi kenapa aku merasa Vare menyembunyikan sesuatu dariku. Lagian kenapa aku terlaku mencurigainya. Dokter juga bilang kalau dia gak papa.
"Dari kemarin jawabannya cuman pusing biasa,bohong!". Aku mencoba merayunya untuk jujur kepadaku tentang penyakitnya ini. Rayuanku gagal untuk membuka pintu rahasia penyakitnya. Ya sudahlah,mungkin memang tidak ada apa-apa.
"Bawa aku pulang ya,fustuq. Tempat ini hanya bisa membuatku semakin pusing". Kini permintaannya tak bisa aku menolaknya. Aku merasa kasihan dengannya sudah 3 hari terkurung di Rumah Sakit.
"Baiklah,aku akan membawamu pulang".
"Eeeitc...dengan syarat!".
"Apa syaratnya?".
" kamu gak boleh menyembunyikan apapun lagi dari aku".
"Janji??"
"Janji...!". Dengan pasti Vare mengucapkan janji itu sembari meletakkan telapak tangannya diatas dada.
Beberapa menit telah berlalu. Keduanya telah bersiap-siap untuk meninggalkan rumah sakit.
"Vare...Kamu tunggu disini bentar ya!". Titahku.
"Kamu mau kemana?". Dia bertanya dengan penasaran yang meluap.
"Eemm,aku mau ke toilet bentar ya. Sakit perut!". Aku mencoba untuk menyembunyikan tujuanku meninggalkan nya sebentar.
"Ohh,pergilah!". Akhirnya dia mempercayaiku.
Dengan segera aku berlari meninggalkan nya.
Aku segera menuju kantor administrasi. Vare gak boleh mengetahui apapun tentang ini. Dia lebih banyak telah membantuku. Bantuanku kini hnaya tak seberapa untuknya.
...
"Kenapa Fustuq pergi kesana ya? Bukannya dia bilang mau pergi ke kamar mandi?". Vare bertanya-tanya dengan rasa penasaran yang telah menguasai dirinya. Sebenarnya dia telah mencurigaiku dari awal. Tapi aku berusaha untuk menutupinya. Dia segera menyusulku. Tak ada satupun kamar mandi di daerah sini. Tapi dia malah melihatku di kantor administrasi.
"Dokter ini semua uang untuk membayar semua biaya pengobatannya!". Dia melihatku menyerahkan beberapa uang kepada sang dokter.
"Maaf,uang anda masih kurang".
Tak ada ekspresi apapun untuk menjawab perkataan sang dokter. Namun tak berapa lama,dia melihatku membuka kalungku. Dengan pasrah aku harus menyerahkan kalung pemberian ayah. Betapa terkejutnya Vare setelah melihat tindakan ku. Tapi dia tak bisa mencegahnya. Dia tak mau aku mengetahui kehadirannya. Setelah melihat ini,Vare kembali ketempatnya. Dan tak berapa lama aku datang menghampirinya dengan senyuman yang lebar.
"Maaf ya,agak lama soalnya toiletnya penuh semua!". Alasanku atas keterlambatan ku. Aku berusaha menutupi bantuanku.
"Tak apa,ayo pergi!". Aku merasa lega. Karna Vare tak mencurigai kepergianku.
"Aku tak mau langsung pulang. Kita pergi ke Pulau Rinca ya!". Lagi-lagi aku tak bisa menolak permintaannya. Hatiku luluh dengannya.
" Baiklah,aku fikir kamu butuh ketenangan yang bisa didapat dari Rinca". Kami segera menuju kearah Pulau Rinca.
Setibanya dibibir pantai,aku berlari menyusuri pantai dengan penuh kegembiraan yang menyelimuti kesedihanku. Tawa menghiasi pesisir pantai ini. Sementara Vare hanya menatap kegembiraanku.
"Bagaimana bisa kau masih tersenyum,Fustuq??. Setelah kau berikan pemberian terakhir dari ayahmu untukku. Aku tau betapa berharga kalung itu bagimu. Tindakanmu begitu bodoh. Kau bertindak tanpa berfikir. Kau tutupi kesedihanmu dengan senyuman indahmu. Senyuman itu seperti racun didalam madu". Batin Vare berkata-kata melihatku.
"Fustuq!! Jangan terlalu gembira. Kegembiraan itu akan membawa tangisan". Teriak Vare membawa tawa ku pergi menghilang.
"Kenapa tiba-tiba kau bilang seperti itu?".
"Karna kita gak tau apa yang akan terjadi setelah ini!"
"Apakah kau memiliki maksud lain dari perkataanmu ini?. Aku mohon jangan berbohong kepadaku!". Vare membuatku semakin mencurigainya.
"Aku gak mau kamu menitikkan air matamu lagi. Aku mohon jangan!". Dia membuatku semakin tegar untuk menghadapi masalah hidup.
"Aku janji!". Aku mencoba meyakinkan Vare bahwa aku takkan menangis lagi.
"Janjimu itu palsu,Fustuq. Bagaimana bisa kau tak menitikkan air matamu setelah kau korbankan kebahagiaanmu untuk orang lain". Kini Batin Vare merasakan keraguan yang hebat.
Awan mulai menghitam,sepertinya akan turun hujan yang cukup lebat sore ini. Kami harus meninggalkan pantai dengan segera. Dan aku juga harus pulang kerumah setelah beberapa hari meninggalkan rumah.
"Terimakasih telah merawatku". Ucap Vare dengan haru.
"Ah,kita kan sahabat. Itu kewajibanku untuk membantu sahabatku ini". Aku berusaha mengelakkan ucapan terimakasih itu. Seakan aku tak membantunya sedikitpun.
" Aku pulang dulu ya!". Pamitku dan segera pergi meninggalkannya.
...
Oh tuhan lelahnya diriku. Rasanya aku ingin menghempaskan tubuh ini keatas ranjangku.
Dan segera memejamkan mata ini dan mulai terbang ke alam mimpi.
"Kak". Oh tidak suara ini telah merusak semua ketenanganku. Mataku langsung terbelalak.
Siapa yang berani mengganggu istirahat ku.
Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan segera membukakan pintu untuk seseorang itu. Kali ini adikku yang sedang berdiri di daun pintu.
"Maaf kak, Mauli mengganggu. Tapi Mauli membawa tujuan yang besar kesini,kak". Kini dia membuatku luluh dengan alasannya. Tapi apa yang ingin sekali dia bicarakan padaku.
"Katakan!".
"Sebelumnya,Mauli minta maaf kepada kakak. Karna Mauli terlalu lancang mengurusi urusan kakak dan mengambil keputusan sendiri kak".
"Maksudnya ??"
"Akhir-akhir ini,Mauli harus memenuhi perjanjian Mauli dengan Tamis kak. Mauli menerima perjanjian ini karena Mauli tau kakak sangat merindukan Fukuoka. Dan Mauli siap melakukan apapun untuk kakak. Setelah Mauli memenuhi perjanjian ini, Tamis akan memberikan segala materi tentang teknologi. Bahkan Tamis merupakan salah-satu peraih beasiswa dari Fukuoka Institute of technology kak. Jadi apa salahnya kak? Kakak bisa memperoleh banyak pengetahuan darinya".
"Apa yang telah kau lakukan sehingga dia juga harus memenuhi perjanjian ini".
" Bagiku ini tidak terlalu rumit. Hanya mengajarkan dan melancarkan untuk berbahasa Indonesia."
"Untuk apa kau melakukan ini? Semua sudah terlambat. Tak ada waktu untuk mempelajari semua materi itu."
Tiba-tiba tangan halusnya menyentuh pundakku.
"Kak,keterlambatan itu bisa dikalahkan dengan kemauan. Dan didunia ini gak ada kata terlambat selagi kita mau berusaha. Bukankah ini impian kakak sejak kecil? Sekarang kesempatan terbuka lebar untuk kakak. Mungkin,Allah takkan bukakan lagi kesempatan itu kepada hambanya yang telah menyia-nyiakan nya".
"Tak mungkin aku mempelajari semua materi itu dalam waktu singkat. Sudahlah percuma saja kau melakukan semua itu untukku."
"Kak,jawabanmu itu penuh dengan keegoisan. Kapan kau akan merubah sikapmu kak. Ingat kak,penyesalan akan datang diakhir tindakan. Berfikirlah kak sebelum bertindak".
" Maafkan Mauli kak. Mauli bukan ingin mengatur hidup kakak. Tapi Mauli tau seberapa besar kerinduan kakak terhadap Fukuoka. Kak,jangan pernah mengecewakan mereka yang selalu memberikan dorongan untuk kakak". Ucapan Mauli sangat menghujam kelubuk hatiku.
Disinilah perjuangan hidupku bermula...
Perjuanganku untuk Fukuoka...
UHIBBUKA FUKUOKA
...
Setelah berfikir panjang,aku menerima kerja keras Mauli yang telah susah payah membantuku melepas rinduku kepada Fukuoka.
Matahari kini mulai menyingsing ke ufuk barat. Langit mulai menghitam. Rembulan kini yang menyinari bumi. Ditemani dengan hamparan bintang di langit yang membentang luas.
Sebaiknya aku berhenti dulu untuk menunaikan sholat maghrib . Tapi aku tak mendapati mesjid disekitarku. Itu tak masalah bagiku. Aku masih bisa berwudhu dengan air yang ada dipantai ini dan mungkin aku juga bisa sholat di pasir yang membentang luas dipesisir pantai ini. Karna sesungguhnya dasar atas segala sesuatu itu suci. Dan menjadi haram ketika ada sesuatu yang mencampurinya.
Seusai menunaikan sholat,aku menghanyutkan diri dalam doaku. Agar Allah terus membimbingku.
Aku terus menyusuri jalan ini,demi mendapatkan alamat rumah ini. Tak berapa lama aku menghentikan langkahku tepat didepan sebuah rumah sederhana. Rumah ini memancarkan sinar yang begitu terang. Tak ada rumah yang memiliki lampu secerah ini. Hatiku bergerak pada rumah ini. Aku sangat ingin bertemu dengan penghuni yang ada didalamnya
Aku mulai mendekat keambang pintu rumah itu. Dan mulai ingin mengayunkan tangan untuk mengetuk pintunya. Tindakanku berhenti seketika ketika aku mendengar suara merdu yang membuat hatiku sangat tersentuh.
Terdengar suara seorang lelaki yang sedang melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Suara yang begitu merdu.
قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَٰكِنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيد #قَالَ لَا تَخْتَصِمُوا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُمْ بِالْوَعِيدِ#مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ#يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُول هَلْ مْنَ مَزِيدٍ#وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ#هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ#مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ#ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ#لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ....
(صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ)
Diriku terpaku dengan bacaannya. Siapa pria yang menjadikan rumahnya bak surga ditengah dunia milenial ini?. Mungkin hanya beberapa dari mereka yang masih bisa dihitung keberadaannya.
Suara itu mengacaukan lamunanku. Ada seseorang yang membuka pintu rumah itu. Ah,tidak mungkin. Pria yang aku kagumi...ternyata itu seorang Tamis. Aku tidak percaya dengan hal ini. Bagaimana mungkin? Bukankah dia masih dalam keadaan kafir?.
"Apa tujuanmu mengunjungi rumahku?".
"Pertanyaan ini telah menjebakku. Diriku tertangkap telah mengintip rumahnya. Apa yang akan terjadi setelah ini?? Tidak,tidak... Semua akan baik-baik saja". Batinku berkata kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang telah ia ajukan kepadaku tadi.
"Apakah aku harus menunggu jawabanmu sampai fajar tiba? Kurasa aku tak punya waktu untuk hal sia-sia itu?". Aku merasa ada yang aneh dia sedikit berbeda,tak seperti pertama kali kami bertemu.Dia bertambah serius. Dan dia sangat dingin.Bahkan dia ingin meninggalkan ku didepan rumahnya dan menutup pintu rumahnya untukku.
"Oh...tidak,tidak! Tunggu ! Kedatanganku ke sini membawa tujuan besar.
"
Katakan!". Ucapnya dengan dingin.
"Aku....a...ku..aku ingin meminta kamu memenuhi janjimu".
"Janji apa yang telah kuikat dengan mu?"
"Bukan denganku. Tapi dengan adikku,Mauli! Bagaimanapun janji itu harus kau penuhi. Meskipun janji itu dibuat untukku!"
"Baiklah,aku takkan membuat janji dengan seseorang dengan janji yang tidak mempunyai nilai faedah sedikitpun."
"Lalu,apa yang akan dilakukan setelah ini?".
"Kembalilah kerumahmu! Tidak baik jika aku mengajarimu dan menyuruhmu masuk kedalam rumah ku di malam yang larut ini. Kamu seorang wanita sholehah dan mu'minah. Aku tak mau menciptakan fitnah diantara kita berdua". Sikapnya kepadaku menunjukkan bahwa dia sangat menghormati wanita.
"Baiklah aku akan kembali"
"Oh ya,aku akan menjemputmu besok pagi".
"Aku akan menunggumu!"
Rasanya aku tak sanggup untuk meninggalkan rumah itu. Suasana yang begitu tenang sangat mendamaikan fikiran dan hatiku.
...
" Kak, apakah kakak yakin tidak mau menerima tawaran Fukuoka institute of technology itu?"
"Aku sudah menerimanya!".
Seketika senyuman itu merekah dibibirnya bak mawar yang mekar di dinginnya malam.
"Kakak menerimanya?? ". Mauli segera merenggut tubuhku kedalam pelukannya. Rasanya bahagia melihatnya tersenyum selebar ini.
"Aku menghargai perjuanganmu untuk semua ini!!". Aku membalas pelukan nya dengan erat.
"Aku yakin ayah pasti sangat bahagia melihat kami". Batinku berkata dengan penuh kesenangan.
"Sudahlah! Aku berjanji takkan mengecewakan adikku ini!". Ucapku meyakinkan nya.
"Kembalilah ke kamarmu! Ini sudah larut malam. Aku juga ingin istirahat. Aku sangat lelah hari ini!".Titahku.
"Selamat Malam,kak!".Dia meninggalkan ku sembari menutup pintu kamarku.
"Ternyata Tamis .....dia orangnya sangat dingin,cuek,dan menyebalkan. Tapi...sikapnya yang seperti itu semakin membuatku ingin mendekatinya,bahkan lebih dekat. Mungkin ada hal tersembunyi dibalik sikapnya yang dingin itu". Oh Tuhan,Mengapa aku terus memikirkannya?. Setiap kali aku ingin memejamkan mata,ketika itu wajahnya terus menghantui malamku. Bahkan dia menjadi bunga mimpiku. Ah,sudahlah.
...
Mentari menyambutku dengan senyuman yang hangat. Aku bersiap untuk bergegas pergi menemui lelaki dingin itu.
"Bu,doain Ara ya bu! Ara pergi dulu ya!". Pamitku sembari menyiumi punggung tangannya.
"Iya,Nak!"
"Mauli,kakak pergi dulu ya! Doain kakak !". Aku segera berlari memulai langkahku.
Langkahku lagi-lagi terhenti ketika mataku menatap seseorang yang telah berdiri di depan rumah sepagi ini.
"Lelaki dingin ini...Bagaimana bisa dia berada disini sepagi ini". Batinku terus bertanya-tanya. Langkahku terus semakin mendekatinya.
"Apakah kamu sudah siap untuk memulai semua ini?". Pertanyaan ini mengacaukan lamunanku.
"Si...si..siap". Jawabku gugup. Oh tuhan,Mengapa lelaki ini membuatku sangat gugup berada didekatnya.
"Ayo!". Tanpa banyak berbicara,lelaki ini melangkahkan kakinya dengan cepat. Auch..aku tak sanggup mengikuti langkahnya. Dia berjalan begitu cepat. Nafasku kini sudah tak beraturan. Rasanya kakiku akan meninggalkan tungkainya.
Lebih baik dia meninggalkan ku daripada aku akan mati kelelahan untuk mengikuti langkahnya.
Kusandarkan tubuhku disebatang pohon yang rindang. Berkali-kali aku mengatur pernapasanku agar kembali pulih.
Tiba-tiba uluran tangan dengan sebotol air minum hadir tepat dihadapan wajahku. Lagi-lagi lelaki dingin ini semakin membuatku terpukau.
"Minumlah". Titahnya singkat lalu melemparkan botol air itu ke tanganku. Tamis menyenderkan tubuhnya membelakangiku di sebatang pohon tadi.
"Terimakasih airnya!". Aku memecahkan suasana hening ini. Aku tidak tau apa cara yang harus dilakukan agar lelaki dingin ini mau menjelaskan sebenarnya siapa dirinya ini.
"Tidak perlu berterimakasih padaku! Hanya sebotol air,itu tak seberapa dengan ..." Dia berhenti di tengah-tengah perkataannya. Aku yang mendengarnya hanya menaruh rasa curiga padanya.
"Dengan apa....?". Aku berusaha untuk membuka rahasia yang disembunyikannya.
"Tak apa! Kita masih harus menempuh jarak yang jauh!". Dia berusaha menutupi pertanyaan ku tadi,dan langsung beranjak dari tempat duduknya.
Kami melanjutkan perjalanan. Sampai sekarang aku tidak tau kemana dia akan membawaku. Aku hanya bisa mengikuti langkah lelaki ini.
"Aku boleh bertanya, tidak?". Aku gugup untuk melontarkan pertanyaan ini.
"Silahkan". Tak kusangka,jawaban ini akhirnya keluar dari bibirnya. Aku mengira dia takkan mengizinkanku untuk bertanya apapun.
"Sebenarnya,kemana kita akan pergi?". Aku memberanikan diri untuk menanyakan hal ini.
"Kamu pasti akan mengetahui kemana kita akan pergi!". Ah,ini tak seperti dugaanku. Aku kira dia akan memberitahuku.
"Baiklah".
Tindakan yang dilakukan lelaki dingin ini semakin membuatku kebingungan. Kini dia berhenti disebuah rumah dipesisir pantai.
"Assalamualaikum,arifbillah".
"Waalaikumsalam"
"Ya syekh!!! Sudah lama kita berpisah. Dan akhirnya,Muridmu sangat senang bisa bertemu dengan syekh lagi!".
Mereka berdua saling sahut-menyahut tanpa melihat jelas siapa yang sedang berbicara.
Datanglah seorang pemuda yang diwajahnya terpancar sinar yang sangat terang. Anehnya,Mengapa Tamis memanggil pemuda yang masih belia ini dengan panggilan seorang Syekh?
"Tamis..! Apa kabar,Nak?".
"Alhamdulillah,Syekh!"
"Siapa yang kau bawa bersama mu,Nak?"
"Dia Fustuq,Syekh! Aku membawanya untuk menemukan jawaban yang ia cari selama ini darimu,Syekh!"
"Senang bertemu denganmu,Sy...syekh"
Seseorang yang kami panggil syekh itu masuk kedalam rumahnya yang sederhana dan meninggalkan kami dihalamannya.
"Mengapa kita memanggilnya dengan panggilan Syekh?"
"Kau akan segera menemukan jawabannya".
Lagi-lagi pria ini mengutarakan hal yang sama ketika aku menanyakan sesuatu kepadanya.
Aku harus mengumpulkan kesabaran yang besar untuk menghadapi lelaki ini.
Tamis melangkahkan kakinya,dan berjarak mendekatiku. Aku berusaha untuk mundur selangkah,aku takut dia akan menghantamkan kemarahannya."Aku ingin bersahabat denganmu!".Pintanya.
Aku hanya bisa meneguk ludahku."I-ya...sebelum kau memintanya,aku sudah menganggapmu sebagai sahabatku!".
Ujarku gugup.
"Oh ya,aku ingin mengatakan sesuatu padamu...."
"Sebaiknya,kita membuat sebuah perjanjian.
Pertama,kamu tidak boleh menanyakan hal-hal yang kamu anggap aneh.
Kedua,Jika kamu menanyakan hal itu kepada ku lagi. Maka kita harus berpisah dan tidak melanjutkan perjalanan ini.
Ketiga,Aku akan menjelaskan semua hal-hal yang telah kamu saksikan selama kamu berada disampingku diwaktu yang tepat".
"Sanggupkah dirimu memenuhi permintaanku?"
"Mungkin aku hanya bisa berserah diri kepada-Nya untuk semua ini"
"Perjanjian diterima mulai detik ini".
"Baiklah..!"
Seorang syekh itu keluar ditangan nya terlihat sebuah buku yang tebal.
"Fustuq,ambillah!"
Aku mulai membuka lembaran-lembaran buku kuno yang kini berada diatas telapak tangan ku.
Aku melihat tulisan yang terukir indah di halaman pertama .
"Berdasarkan pengalaman sejarah dan peradaban umat manusia, yang lebih penting bagi umat Islam saat ini tidak perlu lagi membahas kebesaran umat Islam di masa lalu, atau berdebat siapa pun yang pertama kali menemukan angka nol, termasuk angka, satu, dua, jumlah, dan seterusnya, sebagai kontribusi umat Islam dalam tulisan angka di era modern ini dan fondasi serta perkembangan peradaban di seluruh dunia. Tetapi bagaimana umat manusia akan mendapatkan kembali kepemimpinan dan kontrol sains dan teknologi, kepemimpinan kembali dan menjadi pemimpin di dunia sains dan peradaban, karena itu merupakan kemenangan nyata, "tutur pria bernama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie .
"Aku percaya padamu! Jagalah buku ini baik-baik! Buku ini milikku,namun aku belum mampu menyelesaikan alat ini. Dan belum ada seorangpun yang dapat menyelesaikannya. Aku sangat mempercayaimu akan hal ini. Aku harap kamulah yang dapat menyelesaikan alatku.Dan memgubah dunia dengan alat canggih ini".
"Syekh begitu yakin denganku"
"Pertama kali aku melihatmu,kedua matamu terpancar harapan yang besar. Ada harapan yang besar yang aku yakin bahwa kamu akan mengusahakannya sampai kamu meraihnya".
"Aku yakin kamu tidak akan mengecewakan,Syekh"
"Baiklah,jika kamu sangat meyakiniku".
...
Aku membolak-balikan lembaran lembaran buku ini. Berkali-kali aku memikirkan alat apa yang akan diciptakan Syekh ini.
"Alat apa yang ingin diciptakan Seorang Syekh muda sepertinya?".
"SubhanAllah!! Betapa canggih alat yang ingin ia ciptakan. Memungkinkan jika alat ini benar-benar hadir di dunia milenial ini,akan mengubah pandangan dunia akan islam".
"Mesin waktu??"
"Apakah seorang Syekh muda itu benar-benar yakin mengalihkan penyelesaian alat ini kepadaku?"
"Apa tujuan seorang Syekh Muda ini ingin menciptakan sebuah mesin waktu?"
"Apa bisa seseorang mewujudkan mesin waktu didunia ini?"
"Yang benar saja "
"Lebih baik,besok aku langsung menanyakannya kepada Syekh Muda".
Pikiranku kini terbang melayang-layang di angkasa teknologi. Sama sekali aku tak pernah menyentuh materi teknik mesin. Apakah aku sudah gila ?. Yah,sekarang aku menjadi gila. Gila akan mesin-mesin yang akan mengubah dunia.
...
"Tamis,kapan kita akan menemui Syekh ?"
"Kelihatannya...Kamu sangat menyukainya?"
"Bukan,bukan itu yang kumaksud !"
"Aku sudah tak sabar mendengar penjelasan
Syekh tentang teknologi"
"Jangan terlalu bersemangat!"
"Aku akan mengantarkanmu dan menemanimu untuk bertemu dengannya".
"Ayo,kita harus segera cepat menemuinya!"
"Jangan terburu-buru ! Kamu sudah hampir menyamai Syekh"
Langkahku terhenti seketika. Seorang Lelaki yang sangat dingin ternyata juga bisa mengeluarkan candanya.
"Kamu lebih baik begitu!"
"Apa yang baru kamu bilang?"
"Eeemmm...Tidak ada apa-apa,kita sudah hampir telat! Aku yakin syekh telah lama menunggu kita!"
Aku harus segera mengalihkan perhatiannya dari apa yang telah kukatakan tentangnya. Dengan segera membawanya lari kerumah Syekh Muda.
"Kamu semakin tergila-gila saja dengan teknologi. Baru saja sehari aku membawamu menemui Syekh,kelihatannya benih yang ditabur kini telah tumbuh dan mulai berkembang".
"Apakah menurutmu begitu?"
"Emmm,ya. Tapi bagiku itu sangat bagus untuk mengembangkan pengetahuanmu tentang teknologi".
"Baiklah,Syekh sudah datang. Aku menunggumu disini saja!"
"Baiklah,aku pergi dulu"
Melangkahkan kaki terasa berat bagiku untuk meninggalkannya. Tapi aku harus menjauhinya. Tak boleh terlalu terasa dekat dengannya. Tujuanku sekarang hanyalah FUKUOKA.
"Bagaimana dengan buku itu?"
"Apakah kamu sudah membacanya?"
"Buku ini bagus. Aku telah selesai membacanya. Dan aku ingin mengembalikannya kepadamu,Syekh!"
"Maksudmu...Apakah kamu menyerah sampai disini saja?"
Aku menghela nafas panjang.
"Buku ini sangat hebat. Dan pemiliknya juga pasti lebih hebat dari buku ini. Sedangkan diriku sangat tak pantas membawa nya dalam genggaman jari- jemariku. Dan aku takkan pantas untuk menyelesaikan teknologi yang sedang kamu rancang"
Dan aku menghela nafas untuk sekian kalinya.
"Mengembalikan buku ini bukan berarti bendera kekalahan berkibar. Aku belum menyerah sedikitpun. Tapi aku hanya tak mampu memenuhi permintaanmu untuk menyelesaikan teknologi canggih itu".
"Ya...Mesin waktu. Teknologi canggih ini memang rancanganku yang terbaru. Aku ingin menghadirkan alat ini di dunia milenial".
"Dan aku...aku memang mengatakan padamu agar kamu menyelesaikan teknologi ini. Menyelesaikan juga bukan berarti kamu benar-benar mewujudkan impianku untuk menghadirkan teknologi canggih ini. Menyelesaikan memiliki arti lain,hanya hati yang bisa mengartikan kata itu. Maka tanyakan hatimu,semua bersumber dari sini"
Syekh meletakkan telapak tangannya diatas dada . Aku masih merasa bingung dengan ucapan seorang syekh muda.
"Kamu tetap harus menyelesaikannya. Tak ada waktu lama untuk hal ini. Tertinggal 3 hari untuk menyelesaikan teknologi ini. Aku tak berdaya untuk mengajarimu. Tanyakan apa saja yang belum kamu ketahui.Tapi aku merasa kamu sudah menguasai pengetahuan yang lebih dari diriku".Syekh Muda ini mengembalikan lagi buku yang barusan kukembalikan padanya.
"Baiklah,aku akan membuktikan kepadamu seberapa besar kemampuanku. Dan aku meminta maaf jika nanti aku mengecewakanmu. Aku pulang dulu".
Tak ada tanggapan darinya. Lebih baik aku segera meninggalkannya.
"3 hari kedepan temui aku lagi disini".
Teriakkan itu menghentikan langkahku. Membuatku berkali-kali berfikir "Dapatkah aku menyelesaikan semua ini?". Sementara aku, sedikitpun belum dicurahi pengetahuan tentang mesin.
...
Kuhampiri lelaki dingin ini dengan wajah yang sedikit kesal.
"Bagaimana pelajaranmu hari ini?"
"Tidak begitu baik"
"Ada apa dengan kalian?"
"Tidak apa-apa. Hanya ada sedikit kekacauan dalam menentukan topik yang akan kubawakan nanti. Sekarang aku hanya bisa menanti hari itu tiba. Hari...dimana hari itu menjadi penentu. Apakah aku bisa melihat Fukuoka lagi atau hanya bisa menjadi mimpi yang kekal?"
"Apakah kamu tidak mau memberi tahuku sedikit dari apa yang kamu alami?"
"Maaf,aku tidak bisa menceritakannya padamu"
"Baiklah,jika itu yang kamu mau. Aku tidak akan memaksa kehendak ku".
"Ayo kita pulang! Aku sudah tidak tahan berlama-lama disini".
Mungkin lelaki ini bertanya-tanya apa yang telah mengubah perasaanku menjadi tak enak. Bagaimanapun juga Tamis tidak boleh mengetahui apapun tentang hal ini. Bagiku, menemaniku berguru dengan Syekh Muda itu lebih dari cukup.
...
Kini malamku tak pernah tenang. Selalu dihantui teknologi yang tidak akan mungkin pernah hadir didunia nyata dengan pemikiran Al-quran.
Aku putuskan kontak dengan semua orang yang ada disekitarku.
Dua hari telah aku lalui. Hanya dengan duduk diatas meja kecilku sembari memutar-mutar pena biru milikku dan membolak-balik bola mataku. Berfikir dengan pancaran sinar lampu yang cukup membantuku.
Hari yang ku nanti-nanti kini tiba. Hari yang menentukan,apakah aku bisa menapakkan kakiku lagi diatas hamparan tanah FUKUOKA.
Aku harus mempersiapkan diri dengan persiapan yang matang. Rasanya jantungku tak henti-hentinya berdegup kencang.
Dengan semangat pejuang,aku pergi sebelum mentari menyapa bumi.Ibu dan Mauli juga masih hanyut dalam mimpi mereka. Aku tak tega membangunkan keduanya. Kuselipkan selembar surat dibantal ibu.
Assalamualaikum...
"Bu,Fustuq hanya minta doa ibu dan Mauli. Fustuq tidak akan pulang sebelum Fustuq bisa Membawa Fukuoka di tangan Fustuq. Yakinlah bu,Fustuq akan baik-baik saja. Ibu dan Mauli jaga kesehatan ya...
Salam : Fustuq Chahera.
Dan ternyata....ada seseorang yang lebih memiliki semangat yang lebih dari seorang pejuang. Kuhempaskan nafas yang dalam ketika melihatnya berdiri menunggu di halaman rumahku.
"Mentari saja belum menghampari bumi. Mengapa sikapmu melebihi seorang mentari".
"Karena aku memiliki keyakinan yang kuat pada dirimu. Aku ingin menyaksikan keberhasilanmu"
"Bukankah sebaiknya kamu tidak usah ikut dengan ku?"
"Aku tidak lupa dengan perjanjianku dengan Mauli. Aku akan bersamamu sampai tiba di Fukuoka".
"Terimakasih !"
"Sudahlah. Aku tak terbiasa dengan ucapan itu. Aku melakukan semua nya karena-Nya".
"Ayo,Kita harus sampai lebih awal sebelum Syekh membuka jendelanya".
Rasa takutku sirna seketika. Dia memang selalu membuatku kesal ketika berada disampingnya.
Tapi semakin besar rasa kesal ini padanya,semakin besar pula rasa ingin terus berada di dekatnya.
Kami tiba dihalaman rumah Syekh Muda. Tak seperti yang kami pikirkan. Ternyata Syekh Muda telah lebih lama menunggu kami. Kami segera berlari menghampirinya.
"Syekh,maafkan kami atas keterlambatan ini"
Owh...Kenapa pria dingin ini sangat menghormatinya. Kecurigaanku terhadap pria ini semakin bertambah besar. Tapi aku harus bersabar bersamanya. Tidak boleh mengeluarkan sepatah kata komentar apapun terhadap kelakuannya.
Aku hanya bisa mengikuti tingkah aneh yang dilakukannya dihadapan mataku. Mungkin dengan bersimpuh untuk meminta maaf bisa mendapatkan jawabannya.
"Iya Syekh,tolong maafkan kami. Keterlambatan ini adalah aku. Syekh bisa menghukumku dengan hukuman apa saja. Aku menerimanya Syekh".
"Tidak,tidak Syekh. Akulah penyebab keterlambatan ini,Syekh".
"Hei Tamis,biarkan aku saja yang berbicara!". Bisikku.
"Sudah,sudah. Aku takkan menyalahkan siapapun. Bahkan aku belum menyatakan bahwa kalian terlambat"
"Terimakasih,Syekh!". Dengan kekompakan yang tak terencana kami berterimakasih atas kebaikan Syekh Muda ini.
"Ayo kita berangkat ! Lokasi nya cukup jauh dari sini. Hanya dengan pesawat kita bisa kesana. Acaranya akan dimulai pukul 09.00.Kemungkinan kita akan terlambat beberapa menit dikarenakan kemacetan menuju ke lokasi."
"Pesawat?? Ta.."
"Tenanglah. Aku sudah menyiapkan tiket untuk kalian berdua"
"Yang benar saja"
Mereka membuat kecurigaanku semakin memuncak. Ayolah Fustuq! Kau harus bisa bersabar menghadapi semua ini.
Mobil melaju dengan sangat kencang. Sepertinya kami harus mengejar penerbangan.
Alhamdulillah,akhirnya kami tiba di Bandar Udara Komodo.
"Perhatian, para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA328 tujuan Kupang dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12.
Kami segera menaiki pesawat tersebut karena penerbangan akan tak membutuhkan waktu lama lagi. Sementara jam ditanganku masih menunjukkan pukul 05.59 a.m.
Tak akan kusangka Syekh Muda menghampiriku dan duduk disampingku.
"Kamu tidak akan mengecewakanku kan?"
"InsyaAllah,aku akan melakukan apa yang aku kehendaki. Dan itu bersumber dari hati kecilku. Permintaanku hanya satu padamu, duduklah dikursi depan bersama Tamis !".
"Tak usah mengkhawatirkan itu. Aku akan menyaksikanmu"
"Aku agak sedikit khawatir,karena sampai sekarang aku belum mengetahui identitas guruku ini. Sementara kita sudah berkenalan cukup lama".
"Tak perlu dikhawatirkan,dan itu tak terlalu penting bagimu. Yang terpenting hanyalah memikirkan bagaimana kamu akan menyelesaikan teknologi ini".
"Aku tau". Jawabku singkat.
Pesawat ini menimbulkan inspirasi yang bisa kugunakan nanti. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa merasakan detak jantung yang begitu kencang. Rasanya aku ingin mati saja.
Akhirnya pesawat melakukan lepas landas. Semakin dekat dengan lokasi semakin kencang pula jantungku berdetak.
Waktu yang ditempuh agar sampai ditempat lokasi juga tidak begitu jauh. Walaupun begitu kami juga harus cepat dan tiba di tempat pada waktu yang tepat.
SubhanAllah gedung ini benar-benar berbentuk seperti komodo. Dengan desain kepala komodo seperti robot.
Tetapi...apapun itu,ini hanyalah ciptaan tangan manusia,yang apabila Allah menyentuh bangunan itu dengan kukunya tidak dalam hitungan detik bangunan ini akan roboh.
"Hei Fustuq,ayo ...kita sudah telat. Aku berharap kamu sudah siap untuk berdiri dihadapan para profesor yang ahli dalam bidang teknologi dari berbagai negara".
"Benarkah ucapanmu?"
"Tentu saja. Ini adalah seleksi awal dan akhir. Tak ada lagi pengujian setelah ini. Kamu hanya memiliki satu kesempatan. Jangan disia-siakan !"
Aku hanya bisa merundukkan kepala di sepanjang jalan menuju aula pertemuan. Rasanya,apakah aku bisa melalui semua ini dengan sukses?
Kini aku tiba di ruangan ini. Yang tak pernah kubayangkan sedikitpun. Aku hanya bisa terdiam membungkam bibir.
"Fustuq...Kita berpisah disini. Pergilah ! Dan kembalilah dengan keberhasilan !"
Lelaki dingin ini membuatku bangkit. Aku menitikkan air mata diluar kesadaranku. Aku tak sanggup menahannya.
"Hapuslah air matamu ! Tak ada gunanya mengeluarkan air mata sekarang"
"Aku ...aku takut !"
"Ingat Fustuq, Allah bersamamu,bahkan lebih dekat dari urat nadimu".
"ALL IS WELL".Ujar Tamis sembari mendekap tangannya diatas dada.
Aku pun mempraktikan seperti yang Tamis lakukan. Dia selalu mengatakn bahwa semua akan baik-baik saja .Tak ada yang perlu ditakutkan.
Mereka memalingkan wajahnya dariku dan pergi meninggalkanku.
Fustuq,kamu wanita hebat. Kamu pasti bisa. Ingat,Ayah mempercayakan mu akan hal ini. Renggut kembali hak milik ayah dalam teknologi. Ayo Fustuq...Lakukanlah semuanya dari hati. Jadikan hati dan fikiran sebagai sumbernya.
BISMILLAH....
FUKUOKA,I 'M COOMING...
Kulangkahkan kakiku untuk bergabung dengan para peserta lainnya. Tak ada satupun dari mereka yang kukenali identitasnya. Mungkin aku terlalu tertutup di Labuan Bajo.
Duduk berdiam mungkin dapat menenangkan fikiranku. Berkali-kali menghela nafas.
"Hay".
Suara itu menghilangkan konsentrasiku. Aku membuka mataku secara perlahan dan melirik ke samping tempat dudukku. Kulihat ada seorang bidadari surga yang SubhanAllah cantik parasnya.
"Hay juga..!
"Nama kamu siapa?"
"Aku...Fustuq Chahera,dari Nusa Tenggara Timur. Kamu?"
"Namaku Syafira Aulia,dari Jakarta !
"Ooo..kamu orang Jakarta ya !"
"Ya begitulah, aku hanya tinggal di Jakarta. Tapi aku kelahiran Jerman. Ayah dan ibuku asli berdarahkan Jerman. Sejak umurku 2 tahun, ayahku berpindah kerja ke Jakarta".
"Ooo... "
"Oh ya,kamu ikut penyeleksian ini?"
"Iya,aku hanya sekedar mencoba saja!"
"Baiklah,apa salahnya kita mencoba"
Oh Tuhan,acaranya sudah dimulai. Tenangkanlah diriku. Aku yakin,aku pasti bisa.
"Selamat pagi,pemuda-pemudi Indonesia. Para pembangun jiwa bangsa. Yang akan mengubah pandangan dunia akan Negeri ini"
" Kita akan membuka Fukuoka institute of technology selection ini dalam hitungan ketiga. Tandanya,gong ini akan berbunyi setelah dipukul oleh pemilik Fukuoka institute of technology itu sendiri"
"Mari kita hitung bersama-sama"
"Satu"
"Dua"
"Tiga"
Gong terbesar didunia akhirnya berbunyi setelah dipukul oleh pemilik Fukuoka institute of technology. Aku tak bisa bernafas lagi. Aku semakin takut. Tetapi aku masih bersyukur karena nomor peserta ku berangka 100 dari 100 peserta.
"Baiklah,peserta akan dipanggil berdasarkan nomor urut yang diambil acak oleh Bapak Gubernur Nusa Tenggara Timur ,Bapak Viktor Laiskodat"
Owh tidak,Kenapa harus diambil secara acak?
Aku mohon,jangan berangka seratus.
"Baiklah,nomor peserta yang disebutkan diharapkan untuk segera menaiki podium yang telah disediakan"
"Nomor urut 79"
Semua orang yang menghadiri aula pertemuan ini bertepuk tangan dengan gemuruh. Aku sangat penasaran dengan pemilik nomor ini. Bagiku dia sangat hebat,menjadi orang pertama yang mengutarakan penjelasannya. Dan tak disangka orang itu,dia yang duduk disampingku. Kini dia berdiri.
"Doain aku ya,Fustuq!"
Aku hanya bisa menganggukkan kepala dengan kekaguman yang memuncak. Betapa hebat Syafira,dia berani untuk menjadi orang yang pertama memulai acara ini.
Aku tak bisa menutup mulutku ketika ia menjelaskan alat yang telah ia ciptakan. Wow,bagiku dia wanita yang sangat cerdas. Bahkan dia bisa menghadirkan sebuah mesin pelipat pakaian.
"Perkenalkan saya peserta nomor 79. Saya Syafira Aulia,saya datang dari Jakarta. Saya ingin memperkenalkan teknologi canggih yang telah tercipta 2018 silam. Sebuah mesin pelipat pakaian.Berkat sebuah perusahaan yang bernama Seven dreamers, kita sekarang dapat melangkah lebih dekat ke dunia yang lebih futuristik. Saya akan menjelaskan alat ini"
"Ini hanyalah sebuah mesin. Yang telah mengakhiri pekerjaan kita untuk mencuci bahkan menyetrika . Tapi kita tak boleh menghilangkan kemampuan itu sebagai seorang wanita. "
Terbitlah sebuah gambar dilayar yang disediakan dibalik podium tempat Syafira berdiri sekarang.
"Inilah sebuah mesin.Mesin canggih yang mampu menyetrika dan melipat pakaian dalam waktu beberapa detik saja menggunakan sensor cerdas yang menggunakan otomatis jenis pakaian yang ada di sini untuk menentukan pola yang disesuaikan jenis / jenis yang harus dilakukan".
"Saya belum mampu menciptakan sebuah alat canggih. Saya hanya bisa mempelajari teknologi yang sudah tercipta dan menciptakan sejenisnya".
"Baiklah,hanya itu yang dapat saya sampaikan tentang teknologi terbaru 2018. Sebuah mesin pelipat pakaian".
"Terimakasih"
Orang-orang yang menghadiri acara ini lagi-lagi memberikan tepuk tangan yang bergemuruh. Dia terlalu cantik untuk menjadi seorang wanita teknologi. Aku sangat iri hati dengan kecerdasannya. Tapi inilah aku. Aku harus menjadi diriku sendiri. Tak perlu menjadi orang lain untuk menjadi hebat.
"Baiklah,untuk peserta kedua ini. Kita ambil acak lagi. "
"Yap,kita dapat nomor yang familiar. Nomor peserta terakhir. Ya...yang berangka 100".
Aku tak bisa menyangkalnya. Aku??. Bisakah aku berbicara seperti Syafira dan menyelesaikan teknologi ini.
Aku teringat dengan ucapan ayah.
"Jika kau berani memulai,maka kau harus berani menyelesaikannya".
"Bismillah. Semua akan berjalan lancar".
Aku mulai beranjak dari tempat duduk ku.
"Bismillahirrahmanirrahim"
Melangkahkan kaki. Langkah demi langkah ku dihiasi dengan tepuk tangan yang gemuruh. Tak kalah dengan tepukan tangan yang diberikan kepada Syafira.
Kini aku berdiri diatas podium yang tak pernah ada dalam catatan impianku. Berdiri dengan batin yang berkata-kata.
"Fustuq,kamu pasti bisa. Wujudkan mimpimu.
Jangan hilangkan kesempatan ini.
"Bismillah"
Kata demi kata mulai kurajut dengan hati-hati. Jangan sampai melukai ide para penemu. Kuhela nafas panjang sebelum memulai.
Tubuhku kini bergetar,sepasang bola mataku kini mencari dua orang pemuda yang membuatku bangkit. Kini aku menatap mereka. Mereka memberikan isyarat bahwa aku tetap harus menyelesaikan apa yang telah aku mulai.
"Salam hangat pemuda-pemudi Indonesia. Senang bisa bertatap wajah dengan kalian. Sekilas aku ingin mengutarakan tujuan besar ku mengikuti ajang besar ini dihadapan kalian semua".
"Aku hanyalah seorang gadis kecil bajo. Seorang gadis kecil yang merindukan pelukan ayah. Merindukan Fukuoka. Itulah tujuan besar aku mengikuti ajang ini. Aku ingin menapakkan kaki diatas tanah Fukuoka. Untuk yang terakhir kalinya jika ajal menjemputku"
"Disini aku sedang berjuang. Untuk ayah dan untuk Fukuoka. Untuk mereka yang sedang menatap menyaksikan keberhasilanku. Aku takkan mengecewakan mereka"
Sekali lagi aku menghela nafas panjang. Mataku kini berkaca-kaca. Rasanya aku tak sanggup memulai semuanya.
"Hari ini,saya telah menyelesaikan suatu mesin teknologi yang tercipta berbagai ide untuk menghadirkan teknologi ini didunia milenial"
"Inilah sebuah mesin waktu"
Lagi-lagi aku menarik nafas dan menghempaskannya secara perlahan. Untuk menetralkan kondisiku.
"Banyak ide yang menyatakan tentang sebuah mesin waktu. Bagiku ini hanya sebuah khayalan belaka"
"Terkadang kita terlalu egois dengan kata "coba waktu bisa diulang" atau "coba gue bisa balik lagi ke waktu dulu?". Yang berikut ini adalah dua kata penyesalan terhadap apa yang telah dilakukan dan berakhir dengan kesalahan atau penyesalan. Sehingga dari penyesalan yang disertai kata berikut muncullah khayalan tingkat tinggi tentang adanya mesin waktu. Yang mana dengan mesin waktu itu orang yang menyesal itu bisa mengulang waktunya di masa lalu untuk mengubah apa yang terjadi dimasa sekarangnya"
"Jikalau mesin waktu ini benar-benar hadir dihadapanku. Aku hanya akan melakukan satu hal. Aku ingin memutar waktu dimana Ayah akan pergi ke Fukuoka dan menahannya"
"Maka dari itu,aku ingin menyelesaikan teknologi ini. Karena mungkin,teknologi ini tidak akan pernah hadir didunia.Yang demikian itu tidak mungkin ada. Kenapa? . karena jelas jika ada mesin waktu banyak sejarah akan berubah. Bahkan banyak manusia akan mati. Contohnya jika pasukan Rusia sudah menonton film "samurai commando" mereka dari masa sekarang akan membawa nuklir mereka ke masa lalu untuk menghabisi Amerika Serikat di masa Amerika baru merdeka (tidak memiliki nuklir)."
Dengan mengucapkan kata-kata ini akhirnya aku bernafas lega. Dan aku harus tetap melanjutkan penjelasanku hingga akhir.
"Otomatis, sejarah yang berubah adalah seluruh orang Amerika yang di masa sekarang akan menhilang tiba - tiba karena kakek dan nenek mereka di masa lalu telah terbunuh karena bom nuklir rusia dari masa depan. Bayangkan saja jika kakek anda terbunuh dimasa lalu, mungkinkah akan lahir ayah dan ibu anda yang akan melahirkan anda? It is impossible. Dan sejarah lainnya adalah tidak akan pernah ada yang namya Rusia. Karena tidak kalah perang dari Amerika. Sehingga mereka utuh menjadi Uni Soviet. Atau mereka menjadi Rusia tapi tidak ada negara yang melakukan pemisahan diri dari Uni Soviet yang hancur akibat ulah agen CIA".
"Alasan kedua adalah bagaimana mungkin alat secanggih mesin waktu ada. Sehingga orang bisa seenaknya mengendalikan waktu. Dan alat canggih itu harus ada contohnya. Misal, sempoa - calculator - mainframe - komputer - laptop. Semua itu ada alat pengolah angka dan tulisan. Tapi alat pengolah waktu apa mungkin ada? Yang ada alat menunjukkan waktu. Yaitu jam yang terinspirasi dari bayangan matahari dan alat penunggu pasir. Yang demikian ini sudah dijelaskan dari al - qur'an tidak akan bisa seseorang itu pergi ke masa lalu atau masa depan. Dan penyesalan manusia terhadap masa (waktu) lalunya itu juga telah dijelaskan dalam surat al - 'ashr ayat 1 - 2"
"Menurut Albert Einstein, waktu bukanlah sesuatu yang konstan."
"Untuk melintasi waktu, diperlukan kecepatan yang hampir menyamai kecepatan cahaya yaitu 299.000.000 meter/detik. Bila pun kita akhirnya mampu menciptakan pesawat dengan kecepatan sedasyat itu, tubuh kita belum tentu mampu menghadapinya. Kecepatan sedemikian akan menimbulkan gaya sentrifugal yang akan mencabik tubuh manusia. Sebelum merubah sejarah, kita sudah akan mati duluan"
"Disini saya tidak menentang tentang kehadiran mesin waktu dan tidak pula mengatakan bahwa mesin waktu tak akan hadir didunia ini. Tapi ini adalah salah satu sudut pandang saya mengenai mesin ini. Alhamdulillah saya berhasil menyelesaikan mesin ini".
"Terimakasih telah memberikan saya waktu untuk mengutarakan pendapat saya. Hanya inilah yang bisa saya sampaikan. Dan yang terakhir saya ucapkan "Salam hangat Pemuda pemudi Indonesia".
Semua bertepuk tangan dengan gemuruh. Aku tak memyangka sanggup menyelesaikan semua ini. Akhirnya aku bisa benar-benar bernafas dengan lega. Dan bisa menangis haru sekuat-kuatnya dibalik acara ini.
Aku berlari untuk bersembunyi. Aku tak ingin mereka melihatku meneteskan air mata ini. Biarkan aku meluapkan nya sendirian.
Aku menangis karena aku takut jika para juri dan orang-orang yang hadir diacara itu menghakimi persentase ku yang hanya sebuah bentuk tipuan akal bulusku. Kata-kata yang meluncur dari bibirku saat persentase itu hanyalah sebuah rekayasa."Tapi kenapa mereka memberi tepukan tangan yang sangat meriah?".
Tiba-tiba uluran tangan dengan beberapa helai tisu mengejutkanku. Aku melirik ke arah si pemiliknya. Yang tak lain dan tak bukan,dia adalah seorang lelaki yang berdarah dingin.
"Tamis..."
Dengan segera aku menghapus air mata ini. Aku tak ingin dia melihatku meneteskan air mata.
"Menangislah...Aku takkan mengejek air matamu itu.Mungkin air mata itu dapat menenangkan hatimu !"
"Aku tidak yakin bisa lolos dari ajang beasiswa ini. Mungkin aku tidak akan bisa menginjakkan kakiku lagi di Fukuoka".
Mataku menatap seseorang yang berdiri dihadapan ku.Tak lain dia adalah Syekh Muda.Sementara aku masih bingung memikirkan cara agar aku bisa tetap disini. Kenapa mereka berdua menghampiri ku?.
"Kamu hebat...Aku berharap semoga kesulitanmu hari ini dapat menjadi penebus kebahagiaan yang akan kamu temui di masa yang akan datang".
"Aku belum melakukan apapun"
"Untuk apa selalu berbicara seperti itu,seakan dirimu tak berguna didunia ini"
"Jadilah orang yang bermanfaat bagi semua orang yang ada didunia".
"Terimakasih atas dukungan kalian".
Aku masih dalam lautan kegelisahan. Berkali-kali aku berfikir, bagaimana caranya agar aku tidak masuk lagi ke dalam aula itu. Aku takut jika para juri itu memergoki ku karena semua penjelasan dari persentase yang telah aku sampaikan hanyalah rangkaian dari pemikiran ku, alias karangan yang ku buat-buat. Dan aku juga tidak tau,apakah penjelasan dari persentase itu benar atau tidak.
"Aku gak usah masuk lagi ke dalam ya! Aku tunggu disini aja. Kalau acara nya sudah selesai kalian kabarin aku aja. Lagianpun kita gak perlu nunggu acara ini sampai selesai. Aku sudah pasti tidak akan bisa lolos dengan persentase kampungan kayak tadi!". Ujarku.
"Tetaplah ditempatmu dan jadilah seorang pecundang ! Pergilah kedalam, jika kau masih menghargai usahamu ! Aku sedikit kecewa dengan sikapmu yang terlalu pesimis". Syekh Muda ini berkata tanpa memikirkan perasaan orang yang mendengarnya. Perkataannya bak jarum yang menusuk tajam kedalam hatiku.
"Maaf jika perkataan ku menyayat hatimu ! Tapi aku gak mau sahabatku terus-terusan merendah diri seperti ini!" . Usahaku dalam membujuk kali ini gagal total. Tak ada hasilnya.
Kedua pria ini menghiraukan permintaanku. Lalu keduanya kembali ke aula untuk menyaksikan acara ini sampai selesai. Mereka meninggalkanku sendirian disini.
Kali ini,sepertinya aku harus benar-benar memikirkan ulang perkataan syekh Muda tadi.
Tanpa sengaja,pesan ayah melintasi orbit pemikiranku."Jika kau berani untuk memulai sesuatu,maka kau harus berani untuk menyelesaikannya".
Pesan Ayah terus mendorongku untuk berani menghadiri ruangna itu lagi. Apapun resiko dan hasilnya. Baik itu menyenangkan maupun menyedihkan aku harus menerimanya karena aku sendiri yang telah memulainya.
... ... ... ... ...
Aku mulai berjalan menuju aula.
Ketika kulangkahkan kaki untuk memasuki ruangan ini,tiba tiba saja semua lampu yang ada di ruangan kerap menjadi gelap. Suara didalam hanya terdengar sayup-sayup ditelingaku. Aku mencoba untuk mempercepat langkah kakiku.
Kini aku terpaku di ambang pintu masuk. Langkahku terhenti didepan pintu masuk itu. Telingaku terus memaksa untuk mendengarkan apa yang telah diucapkan oleh pembawa acara.
"Ditahun ini,kami telah mendapatkan seorang peserta yang sangat unik. Dia telah berhasil memikat hati para juri dan penemu hebat yang kian hadir bersama kita hari ini. Pemikirannya lah yang membuat para juri sangat terpikat dengannya. Inilah peserta terbaik tahun ini yang akan menjadi keluarga baru Fukuoka institute of technologi......
"Mari bergabung bersama kami,yang akan menjadi seorang Mrs techonology 2029..."
Jantungku berdetak kencang. Tapi tak mungkin aku. Tak mungkin bagimu untuk menjadi peserta terbaik tahun ini. Sudah tak ada harapan untuk itu. Aku melanjutkan langkah kaki ku yang sempat terhenti diambang pintu. Dan berjalan menuju tempat dudukku.
"Ananda Fustuq Chahera dari Labuan Bano,Nusa Tenggara Timur".
Aku tercengang. Nyawaku seakan melayang ke udara. Aku belum mempercayai bahwa ini adalah sebuah kenyataan.
Ruang dan waktu seakan terhenti untuk menyambutku. Air mata kebahagiaan ini tak dapat aku bendung. Tapi aku berusaha untuk menahannya agar tidak jatuh.
Kini semua mata tertuju padaku. Begitu pula lampu sorot yang ada diruangan itu tak henti-hentinya mengikuti langkahku.
Langkah demi langkah akhirnya aku dapat berdiri diatas panggung megah ini. Bibirku terus membungkam. Kedua mataku terus menatap kearah dua orang pemuda yang duduk dikursi depan. Keduanya memberikan senyuman bangga kepadaku.
"Selamat atas kerja keras Anda yang tak sia-sia ini"
Pembawa acara itu memberikan beberapa bingkisan dan sertifikat serta perunggu emas kepadaku. Aku hanya tercengang melihat semua yang terjadi hari ini padaku.
"Mungkin ada beberapa kata yang ingin anda sampaikan atas keberhasilan anda ini?"
Aku naik ke atas podium yang ada dipanggung itu. Kini aku benar-benar berada dalam keharuan tingkat tinggi aku tak bisa membendung air mataku. Kubiarkan air mata ini mengalir, karena ini setiap bulirnya menyimpan kebahagiaan.
"Pertama, saya ingin mengucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah yang telah memberikan setiap langkah hidupku"
Tetes demi tetes telah membasahi kedua mataku berkali-kali aku menghapusnya dari hamparan pipi merahku.
Kelanjutan perkataanku...
"Terimakasih untuk ayah yang selalu mengingatkanku untuk menyelesaikan segala sesuatu yang telah aku mulai. Dan Ayah lah yang menjadi sebab aku berdiri diatas panggung megah ini Fustuq ingin ayah bisa tersenyum di surga Allah."
"Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk pondokku,kyai-kyai,dan para ustadz-ustadzah. Aku hanyalah sebatas seorang santriwati. Disini aku ingin mengubah pandangan dunia tentang SANTRI.Aku akan mengubah pandangan dunia terhadap kata" SANTRI DICEKAM TEKHNOLOGI"Menjadi "SANTRI MENGGENGGAMTEKNOLOGI DUNIA". Saya ingin menyelamatkan NKRI dari jajahan teknologi yang menjadikan para generasi kita terlena dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Bacharudin Yusuf Habibie pernah berkata,untuk apa Indonesia merdeka! Jika tidak memiliki integrasi.74 tahun yang lalu,kita telah merdeka.Tapi,apakah kita benar-benar telah merdeka? Kita bisa melihat kenyataannya. Saya sebagai seorang santri,yang sangat cinta NKRI. Tanah kelahiranku tercinta. Berawal dari perkataan pak Habibie,dimana indonesia harus memiliki integritas denagndarah,keringat,kecerdasaan dan air mata para kyai dan santri. Denagan semangat dan jiwa ksatria melawan penjajah,akhirnya Indonesia bisa merdeka. Santri yang akan menjadi kyai dan pahlawan dimasa depan,harus memiliki bekal yang cukup sehingga mereka bisa tumbuh menjadi pahlawan bangsa dengan etika dan moral.Mereka akan berjuang untuk mendapatkan integritas bangsa ini"
"Dari sini,pintu dunia telah terbuka. Saya akan berusaha membawa santri lainnya yang biasa hanya dikenal ahli ngaji,memakai sarung dan peci.Mereka akan menjadi ilmuwan di era modern ini dengan tetap berjiwa sebagai seorang santri. Saya juga akan mendidik para santri menjadi seorang pemimpin masa depan,yang akan mengukir bangsa ini dengan tinta emas dan dengan menanamkan kedalam jiwa mereka 5 panca jiwa; KEIKHLASAN,KESEDERHANAAN,BERDIKARI,UKHUWAH ISLAMIYYAH SERTA KEBEBASAN.Dan juga terpatri dalam jiwaku,untuk menjadi bekal yang sangat berguna untuk membangunkan macan Asia yang sedang tidur,dan menemukan pulau atlantis yang telah lama menghilang. Sebagai generasi muda kita harus berjuang bersama. Kita juga harus mengembangkan diri dengan mengekspolari ilmu pengetahuan dan pengalaman.Salah-satunya dengan mengikuti program beasiswa Fukuoka Institute of technologi ini. Bukan hanya sampai disitu, setelah saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman.Saya akan tuangkan untuk para santri yang kelak akan menjadi pemuda harapan bangsa,yang terlahir dari rahim yang sama. Yaitu dari pondok pesantren di Indonesia.
"Terimakasih untuk adikku, mauli! Aku berharap kamu dapat melihatku kini berdiri diatas panggung megah ini karena doronganmu."
"Terimakasih syekh Muda".
Kutatap dia dengan penuh hormat yang diselimuti dengan ucapan terimakasih sembari ku tundukkan punggungku.
"Kepercayaanmu padaku terlalu besar sehingga membuatku bertambah yakin bahwa aku bisa menyelesaikan semua ini".
"Terimakasih, Tamis! Mungkin tanpamu aku tak bisa seberani ini"
Tamis hanya membalas dengan senyuman malu.
"Dan terimakasih untuk para juri dan semua yang ada disini Karena Telah mempercayaiku untuk memegang Beasiswa dari FUKUOKA INSTITUTE OF TECHNOLOGI ini. Aku berjanji takkan mengecewakan kalian sekali lagi terimakasih.
Acara ini berjalan lancar para peserta yang terpilih kini memasuki ruangan khusus untuk melakukan tahap selanjutnya.
Sementara tamis dan syekh Muda, mereka keluar dari gedung megah ini hanya duduk menungguku di halaman sekitar gedung.
"Wanita hebat!" Tamis berkali-kali memujiku. Dia merasa bangga dengan keberhasilanku.
"Aku harap kehebatannya tak mengantarkannya kedalam lubang bencana! "Ujar syekh Muda itu.
"Kenapa kau berfikir seperti itu?"
"Aku takut wanita ini memiliki takdir seperti seorang profesor yang menghilang beberapa tahun lalu tak ada yang tau tentang keberadaannya. Yang tak lain,profesor itu adalah ayahnya sendiri". Sindir Syekh muda dengan tawa yang sinis
"Lalu apa hubungannya dengan hal ini"
"Aku takut karena kecerdasan dan kehebatan Fustuq, banyak yang ingin mencelakainya"
"Apa maksudmu?"
"Bukankah ini tujuanmu,ingin melenyapkan musuh ayahmu sampai ke keturunannya. Apakah kau sudah senang,kini dia telah masuk kedalam perangkapmu. Dia hanya seorang wanita lugu,polos,dan begitu bersih. Ternyata kau juga tega untuk menghancurkannya".
"Itu urusanku,kau tak perlu ikut campur!"
"Aku tidak akan ikut campur,jika kau tidak mencelakainya. Tapi, jika kau berani mengeluarkan pedang dari sarungnya untuk menyakitinya. Maka,akulah orang pertama yang akan berdiri di depan untuk menghalangimu"
Tamis tertawa bengis."Sok jadi pahlawan lu!"
"Aku gak akan biarkan orang yang menyakiti sahabatku. Sekalipun itu kamu. Tamis,persahabatan kita lebih lama daripada persahabatanku dengan Fustuq. Aku sangat mengenalmu.Aku tau segala tabiatmu,sifatmu,hatimu,dan fikiranmu. Karena aku sahabatmu. Kau menjadi dingin setelah kepergian ayahmu. Aku tau itu tak mudah bagi seorang anak. Aku juga sama sepertimu. Menjadi seorang yatim piatu di usia yang sangat muda. Diusia yang sulit untuk menerima suatu kenyataan.Usia yang belum bisa berfikir dewasa. Tapi sekarang,kau sudah beranjak dewasa. Namun,pemikiranmu masih kelapa muda. Seperti anak kecil"
"Aku kehilangan ayahku karena ulah robot yang tercipta dari tangan ayah Fustuq. Aku tak bisa memaafkan mereka.Aku ingin Fustuq juga merasakan kepedihan yang aku rasakan sekarang". Tamis tetap bulat dengan keputusannya. Dia akan tetap membalaskan dendamnya.
Mendengar ungakapan yang keluar dari bibir Tamis,Syekh Muda menanam rasa kecewa yang besar didalam hatinya."KAU EGOIS,TAMIS. BAHKAN KINI HATIMU TELAH MENJADI BATU". Ujar Syekh Muda dengan kemarahan.
Aku melihat kedua pria ini sedang bercengkrama dengan raut wajah yang sangat serius,aku segera menghampiri keduanya.
"Ternyata kalian berdua disini! Aku sudah lelah mencari disetiap sudut gedung ini"
Keduanya terlihat kaget.Bahkan,Tamis segera berdiri dari tempat duduknya."Maaf,Tadi kami kekurangan udara segar. Jadi kami memutuskan untuk menunggu diluar sembari menghirup oksigen yang segar."
"Tapi, Kenapa aku merasa kalau mereka sedang menyembunyikan sesuatu ya". Ujar batinku.
"Oh ya,dari kejauhan aku liat kalian sedang membicarakan sesuatu. Kalian membahas perihal apa? Kelihatannya cukup serius!".
"Kami sedang merancang jadwal yang akan kita gunakan nanti.Jadi kami harus membahasnya dengan serius agar tak ada kegaduhan antara jadwal satu dengan jadwal lainnya". Jawab Syekh Muda dengan enteng.
Aku menghela nafas lega."Tak ada rahasia didalam persahabatan". Seruku.
Keduanya hanya membalasku dengan senyuman. Aku harap mereka tidak sedang merahasiakan sesuatu dariku".
"Loh,pertemuannya udah selesai? Apa hasilnya?". Sepertinya Tamis sedang berusaha mengubah keadaan.
"YA...pertemuannya sudah selesai sejak 1 jam yang lalu. Dan satu jam itu kuhabiskan untuk mencari kalian didalam gedung sebesar ini".
"Sekali lagi,mohon maafkan kami". Bujuk Tamis.
"Baiklah!"
"Oh ya, kapan kamu akan pergi ke FUKUOKA?"
"Masih ada waktu satu minggu untuk menghabiskan waktu di Labuan Bajo!"
"Apakah sebaiknya kita langsung saja berangkat ke Fukuoka?". Saran Syekh Muda.
"Ayolah Syekh,aku harus bertemu dengan ibu,Mauli,dan para santri di pondok sebelum kepergianku. Aku janji,setelah aku meraih kesuksesan aku akan segera mengganti seluruh uangmu!". Bujukku.
Syekh Muda tertawa setelah mendengar perkataanku."Baiklah,tapi aku tak berharap agar kau mengganti seluruh uangku. Semua ini aku keluarkan dengan ikhlas,untuk mereka yang bersungguh-sungguh dalam berjuang di jalan Allah".
Hatiku bergetar setelah mengetahui niatnya yang sangat mulia. Sekarang,aku berjanji tidak akan mengecewakannya.
Kini tak ada lagi yang ku fikirkan selain ingin menyampaikan kabar gembira ini kepada ibu,Mauli,dan seluruh warga pondok.TAMAN BAHAGIA.
...... ........
DI BANDAR UDARA KOMODO,KUPANG.
tiba-tiba Syekh Muda menghampiriku."Aku boleh tanya sesuatu gak?"
Aku hanya membalasnya dengan senyuman sembari menganggukkan kepala.
"Selama apa kamu telah mengenal seorang Tamis?"Tanyanya.
"Belum lama! Tapi,aku yakin dia baik. Dia rela meninggalkan adik-adiknya hanya untuk mengantarkanku ke tanah Fukuoka".
"Kamu terlalu cepat mempercayai orang. Padahal kamu mengenalnya baru beberapa detik"
"Maksudmu?"
"Tidak,tidak. itu tak terlalu penting". Syekh Muda mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan." Oh ya,apa alasanmu mengikuti program ini?". Tanyanya lagi.
"Bukankah aku telah menjelaskan perihal itu ketika aku berdiri diatas podium tadi?"
"Iya,aku mengerti! Tapi, jika hanya ingin mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang teknologi tak harus pergi jauh-jauh ke fukuoka. Indonesia juga banyak memiliki universitas dengan fakultas teknologi yang berkualitas!" Jelasnya padaku.
"Merantaulah…-
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)."
"Apakah kau yakin,tak ada alasan lain ?"
Sebaiknya aku berkata lebih jujur lagi padanya.Kutarik nafas dengan dalam untuk menahan kesedihan yang akan memuncak."Ayahku berdarahkan Jepang,orang asli Fukuoka. Sedangkan ibuku adalah seorang gadis Bajo yang setia mendampingi ayahku sampai akhir hayatnya. Meskipun ayah telah pergi lebih dulu meninggalkan ibuku untuk selamanya.Ayahku, dia menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat saat ingin pulang ke Indonesia dari jepang. Yang aku tau, ayahku adalah seorang profesor yang terlahir dari salah satu rahim universitas yang ada di Jepang. Tapi,aku kurang tau pasti apa nama universitasnya. Kepergian ayah meninggalkan satu pondok yang harus ku tanggung jawabi. Aku takka membuat pondok ini lenyap karena kepergian ayahku.Aku harus menjadikan pondok ini agar lebih berkembang."
Air mata ku menitik diujung pelipis mata."Aku tak bisa menceritakan semuanya kepadamu!"
"Tak apa". Kurasa dia merasa prihatin atas kesedihan yang terus mengalir saat aku menceritakan kisahku. "Tapi,apakah kamu tidak mau mencari kebenaran berita kematian ayahmu?"
"Kematian tidak dapat dihindari.Dimanapun dan kapanpun,kematian pasti akan tetap merenggut nyawa dari setiap siapapun yang memilikinya. Meskipun kita sudahbersembunyi dari Sang maut,dan aku harus menerima kenyataan yang berada dihadapanku sekarang ". Jawabku pasrah.
"Bagaimana kalau ayahmu masih berada di FUKUOKA?"
"Tidak...tidak mungkin ayah meninggalkan kami tanpa alasan. Ayahku adalah orang yang bertanggung jawab".
"Aku tak mengatakan bahwa ayahmu adalah orang yang tak bertanggung jawab. Mungkin ada seseorang yang memaksanya untuk tidak kembali menemui kalian"
"Apakah maksudmu....ayahku ditahan?"
"Aku tak ingin membuatmu berburuk sangka terlalu panjang dalam hal ini. Jika kemungkinan begitu,aku bersedia membantumu untuk mencari kebenaran berita kecelakaan pesawat itu!"
Aku tersenyum kecil,merasa senang ketika mengdengar bahwaaa seseorang yang bersedia membantuku untuk mencari ayah.
Suasana kini kian menghening.Tanpa kami sadari,ternyata Tamis tengah berdiri dibelakang kami dan mendengar semua perbincangan antara aku dan Syekh Muda.
....... .................. ..........