
"Aku ingin mengundurkan diri!". Celetukku sembari melemparkan surat pengunduran diri diatas meja Tamis.
Tamis heran dengan kelakuanku."Kenapa kau memberikan surat pengunduran diri padaku? Ajukan suratmu kepada CEO perusahaan!". Tukasnya, seakan-akan dia tak ada sangkut pautnya dengan perusahaan milik kakeknya.
"Aku sudah tau semuanya, aku hanya ingin keluar dari perusahaan ini". Tamis beranjak dari tempat duduknya.
"Apa yang kau tau?"
"Apapun yang aku tau itu tak penting! Yang terpenting, kamu adalah CEO dari perusahaan tempat aku bekerja". Jawabku lantang.
"Kau tidak akan pernah lepas dari genggaman perusahaan ini. Yang masuk takkan pernah bisa keluar. Karena kau masih memiliki hutang-hutang yang belum terlunaskan!"
Aku terkejut mendengar pernyataannya."Hah, hutang ? Sejak kapan aku membuka buku hutangmu?"
"Sejak kericuhan terjadi pada saat acara "teknologi menggenggam dunia" yang timbul akibat rekanmu, Mert".
Aku bertanya-tanya dalam batin. "Kenapa kericuhan yang terjadi menjadi hutangku?"
"Apa hubungan kericuhan itu dengan hutang-hutang ku?" Aku bertanya bingung.
"Sebenarnya, itu bukan hutangmu. Hanya saja temanmu yang begitu bodoh mengacaukan semuanya. Apa kau tega jika aku memecatnya?"
"Pria ini mempermainkanku!". Ketus batinku.
Aku menatapnya dengan malas."Baiklah! Aku yang akan membayarnya. Asalkan, kau tak boleh memecatnya"
Permainan yang dimainkannya terlalu berbahaya. Aku harus mengalah dalam hal ini. Takkan kubiarkan Tamis memecat Mert dari perusahaan ini. Lebih baik, aku menderita untuk melunasi hutang ini daripada harus melihat kepergian Mert dari perusahaan ini.
Tamis melukiskan senyuman sinis dibibirnya. "Aku mau, kamu membantuku untuk menyelesaikan proyek terakhir ku!". Pintanya.
"Kau bisa mengangkat kaki dari perusahaan ini setelah menyelesaikan proyek itu!". Sambungnya tegas.
"Baiklah, aku setuju!". Jawabku mantap.
"Sekarang, pulanglah! Besok pagi, aku akan menjemputmu". Titahnya.
Tanpa basa-basi lagi, aku segera beranjak dari ruangan ini. Rasanya aku tak sanggup membendung air mata, kubiarkan mengalir deras, membasahi pipiku. "Kenapa kau tega membuat air mataku jatuh? Apakah kau tau, semakin dekat denganmu, maka hatiku akan semakin merasakan kepedihan yang mendalam"
♥️Apakah kau tau, bahwa aku mencintaimu dalam diam ku ini? Mencoba mengubur rasa ini sedalam-dalamnya!♥️