UHIBBUKA FUKUOKA

UHIBBUKA FUKUOKA
Rahasia Penyakit Vare



"Maaf!" Aku menghampiri pria dingin ini. Dia membalikkan tubuhnya yang sedang berdiri tegak di depan jendela ruang kerja, menikmati pemandangan orang-orang yang sedang berlalu lalang untuk menenangkan pikirannya.


"Ini bukan salahmu!" ujarnya singkat.


"Tapi ... tapi kericuhan ini timbul karenaku. Semua persentaseku bersumber dari suasana hatiku. Aku hanya mengarang semua kata-kata yang kuutarakan ketika mempresentasikannya,"ujarku.


"Ini ... tetap bukan kesalahanmu titik bukan!" Kamis tetap menyatakan bahwa ini bukan kesalahanku.


"Jangan menutupi kesalahan ku titik biarkan aku yang..."


tamis dengan segera memotong perkataanku. "Jadilah seorang penghangat bagiku!"


ucapannya membuat jantungku terasa ingin menanggalkan tempatnya.


"apa? Bagaimana bisa aku menjadi seorang penghangat di dalam hidupnya?" Batinku bertanya-tanya.


"Fustuq, ayo kendalikan semua ini! kendalikan detak jantungmu. kendalikan tingkahmu dihadapannya!" Lagi-lagi aku berkata dalam batin.


"kalau kau sudah memaafkanku, aku harus pergi dulu. Masih banyak pekerjaan yang belum kuselesaikan!"


Dengan tingkah yang gugup, aku segera melangkahkan kaki dan pergi meninggalkannya.


"Maukah kamu menikah denganku? Apakah kamu bersedia menjadi istriku?"


pertanyaannya seakan-akan menghentikan ruang dan waktu. "Kenapa tamis dengan tiba-tiba menanyakan hal ini?"


"Aku, aku ... aku harus pergi. Direktur perusahaan memanggilku." Aku berusaha untuk terlepas dari genggamannya.


"Jangan berbohong! Presiden perusahaan telah berdiri di hadapanmu," ujarnya membuatku semakin kaget.


"Apa? kau ... kau presiden perusahaan ini?"


"Maaf... aku harus menyembunyikan identitas ini darimu! Sekarang, jawablah pertanyaanku! Bersediakah kamu menikah denganku?" Pria ini terus saja menanyakan hal itu.


"Maaf juga, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu sekarang. Aku butuh waktu sampai aku menyelesaikan wisudaku."


Aku meninggalkannya begitu saja. Sepertinya, aku harus benar-benar pergi jauh darinya. Aku harus pergi menjauhinya.


🥰🥰


"Kenapa meja ini kosong? Kemana dia?" Tamis bertanya kepada salah satu pegawai perusahaan.


"Hari ini Fustuq tidak bekerja, Pak!" serunya.


"Siapa yang mengizinkannya untuk tidak bekerja?" Tamis sepertinya mulai tampak marah.


"Saya tidak tahu, Pak!" ujarnya singkat.


Sudah seminggu lebih, aku masih menjadi seperti buronan yang terus bersembunyi. Aku meninggalkan kampus, perusahaan, dan segala aktivitas rutinku.


Kuhabiskan waktu 24 jam jam di dalam ruangan yang terkekang dengan ribuan buku. Dari satu buku ke buku lainnya telah habis kusantap. kini aku terkena penyakit kelaparan, sangat lapar. jadi, aku harus memakan semua buku yang ada di ruangan ini.


Aku akan beritahu sesuatu tentang ruangan ini kepada kalian.


Ini adalah ruangan milik profesor besar Indonesia yang terlahir dari rahim Fukuoka Institute of Teknology. Ini adalah peninggalan terakhirnya untuk pelajar-pelajar Indonesia yang giat sepertinya. salah seorang dosen di FIT university memberikan kunci ruangan ini kepadaku agar bisa kumanfaatkan sekaligus untuk bersembunyi dari pria dingin itu. Tempat ini sangat nyaman, dan membuat pikiran pikiranku menjadi sangat tenang.


Aku menghabiskan waktu di sini untuk menyelesaikan kuliahku secepatnya. Aku harus pulang. Aku rindu ibu, Mauli, dan sahabatku, Vare.


Kusandarkan punggungku di atas sofa lembut yang ada di ruangan itu sembari menatap lukisan yang dilukis Vare untukku. Bibirku menyungging ke atas setelah menatap lukisan ini. "Andai kamu ada disini, Var!"


"kerinduan ini mungkin bisa terobati dengan menelponnya," ujarku sembari mengeluarkan ponsel.


Ku tunggu jawaban dari panggilan. Nadanya menunjukkan bahwa panggilannya telah masuk. Aku tak sabar ingin mendengar suara Vare lagi.


"Assalamualaikum," ucapku.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


Suara ini terlalu lembut dan halus bak gumpalan kapas. Suara yang juga tak asing bagiku. Suara seorang bidadari yang berhasil memikat hati sahabatku.


"Sebelumnya maaf, Kak! saya lancang untuk mengambil alih ponsel Vare. Tapi, saya rasa kakak ada kepentingan mendesak. Jadi, saya terpaksa mengangkat teleponnya," jelasnya.


"Vare nya mana?" Lagi-lagi aku bertanya padanya. Perasaanku terasa tak enak.


Wanita itu menjawabku dengan nada sedih. "Kak, Vare berada di rumah sakit," jawabnya singkat.


Aku sangat terkejut mendengar jawaban atas keberadaan Vare. "Vare kenapa?" tanyaku, "apakah dia baik-baik saja?"


"Sedang tidak baik, Kak! Vare koma! Selama ini, Vare mengendap penyakit kanker otak. Tapi, aku yakin dia akan baik-baik saja, kak. Kakak jangan terlalu khawatir!"


Aira mencoba menenangkanku.


Air mataku menitik deras. Aku tak sanggup mendengar semua ini. "Kenapa Vare harus menyembunyikan penyakitnya dariku?" Batinku bertanya-tanya. " Dikala Vare terbaring lemah aku juga tak ada disampingnya. Sahabat macam apa diriku ini?" sambungku.


"Kak," panggil Aira membuyarkan lamunanku.


"Iya, hari ini juga aku akan pulang ke rumah!" ujarku, "terimakasih, Assalamualaikum!" Aku menutup ponselnya lalu pergi untuk menyiapkan koper-koperku.


Aira tak sempat membalas salam dariku.


Aku harus pulang secepatnya. Pasti Vare sedang menantikan kehadiranku. Sahabat adalah segalanya bagiku. Aku harus membawa Vare bangun dari komanya. Kami harus bermain seperti dulu lagi. Tertawa melepas kesedihan bersama-sama.