
"Mungkin jika Allah mengizinkan,kita pasti akan bersatu lagi".
...
Mentari mulai memancarkan sinarnya kepenjuru bumi,ayam menyapa kehadiran pagi dengan kokokan yang membangunkan penduduk Bajo.
"Bu,Mauli pergi sebentar ya bu!". Pamitnya sembari mengecup punggung tangan ibu.
"Tak biasanya Mauli pergi sepagi ini. Dia kelihatan terlalu bersemangat. Dan kenapa aku terlalu mencurigainya ?. Biarlah mungkin dia ada urusan dengan temannya!". Aku berucap dalam batin.
Tak berapa lama setelah kepergiannya, aku teringat dengan Sang Pangeran Komodo. Aku segera berpamitan dengan ibu,dan mengecup keningnya.
"Bu,aku kerumah Vare ya buk!". Teriakku ketika beranjak melangkah meninggalkan rumah.
Sepanjang jalan aku hanya menghiasinya dengan lamunan-lamunan konyolku.
"Apa aku terima aja ya tawaran ibuk kemarin,buat kuliah di Fukuoka Institute of Technology?,ini impian terbesarku dalam hidupku. Kesempatanku tinggal tersisa lima hari lagi. Bagaimana bisa aku memyia-nyiakan kesempatan ini. Seharusnya,kalau aku tidak tau apa-apa tentang teknologi aku berusaha untuk mempelajari semua itu". Pikirku berkali-kali untuk mematangkan keputusan ini.
"Mungkin saja Vare bisa membantuku!". Tiba-tiba hal itu melintas difikiranku,meminta bantuan kepada Vare,Si Pangeran Komodo itu. Aku mempercepat langkah ku dan segera bergegas untuk menemui Sahabat kecilku itu.
Kini aku telah berada di depan pintu rumahnya. Namun mengapa aku tiba-tiba ragu untuk mengetuk pintu rumahnya?. Tak biasanya aku seperti ini. Sudahlah Fustuq,ingat semua akan baik-baik saja. All is well. Aku menghirup udara sedalam- dalamnya dan menghempaskannya perlahan.
"Var..". Belum sempat aku mendaratkan ayunan tanganku untuk mengetuk pintu rumahnya. Pintu itu sudah terbuka dan betapa terkejutnya aku,Vare sudah terbaring lemas dihadapanku.Aku tak tau apa yang telah menimpanya sehingga dia menjadi lemah seperti ini. Dia berubah,tak seperti Vare yang kukenal dulu,Vare yang kuat kini sirna. Dia mengeluh kesakitan.Aku bingung harus melakukan apa? Bagaimana bisa aku mengurus hal ini sendirian. Aku segera berlari mencari pertolongan didaerah setempat.
"Ya Allah,bantulah hamba. Kirimkan pertolonganmu melalui orang-orang yang berada di sekitar kami,Ya Allah". Bibirku tak henti-hentinya berdoa. Aku sangat khawatir dengan sahabatku,Pangeran Komodo bertahanlah.
"Begitu cepat kau mengijabah doa hamba-Mu,Ya Allah!. Betapa dekat Engkau dengan hamba-Mu,Ya Allah! Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah!". Pujian ini tak henti-hentinya kuucapkan.
Akhirnya aku menemukan orang yang bisa menolong kami.
"Ma..". Wajah panikku kian berubah menjadi wajah kosong. Sungguh terkejutnya diriku ini. Ternyata seseorang itu adalah Aslan.
" Tapi bagaimana ada seorang wanita bersamanya?. Siapa dirinya? Mengapa tiba-tiba dia bisa bersama Aslan? Apakah dia...?? Ah...tidak,tidak! Tidak baik berburuk sangka kepada orang lain selama belum ada bukti yang kuat". Kini fikiranku tak tentu arah. Mengapa aku jadi memikirkan hal itu. Sekarang tujuan kamu cuma satu Fustuq,yaitu cari pertolongan untuk sahabat mu.Vare bertahanlah.
"Aku minta bantuan kalian! Maukah kalian membantuku?". Aku berusaha untuk menyesuaikan keadaan yang ada.
Bagaimanapun aku sangat membutuhkan bantuan mereka.
"Apa yang terjadi padamu?". Tiba tiba wanita itu angkat suara. Suaranya begitu halus dan lembut bak sutra.
"Bukan aku,Tapi temanku!". Jawabku khawatir.
"Lebih baik kita segera cepat kesana!". Usul Aslan mencemaskan khekhawatiranku. Kami segera berlari menuju rumah Vare. Berlari,terus berlari. Aku yakin kamu kuat Vare.
Bertahanlah,bertahanlah,bertahanlah.
Akhirnya kami sampai diwaktu yang tepat. Vare masih sadarkan diri,dia masih berteriak kesakitan. Aku bisa merasakan sakit yang ia rasakan,sakit sungguh sakit.
Sampai akhirnya,ia tak sanggup lagi menahan rasa sakit ini dan ia harus pingsan dihadapan kami semua.
Tak berapa lama,Ambulance datang. Para perawat langsung membawanya kedalam Ambulance,aku tetap menyertainya. Dan sebelum kepergian kami aku tak lupa mengucapkan kepada mereka "Terimakasih atas bantuan kalian".
Sesampainya di rumah sakit,para perawat segera membawanya keruangan ICU. Aku bertambah khawatir. Sebenarnya apa yang telah disembunyikan Vare dariku.
...
Hatiku tak bisa tenang,detak jantungku semakin kencang.
"Ya Allah,bagaimanapun Vare adalah sahabatku. Aku mohon beri dia kesembuhan. Dan jadikan semua nya baik-baik saja". Aku berdoa di depan pintu ICU sembari menunggu dokter keluar dari ruangan tersebut.
Kegundahanku terbang seketika,karena kehadiran mereka. Ya...Aslan dan seorang wanita yang bersama Aslan tadi.
"Bagaimana keadaannya?". Wanita itu bertanya-tanya kepadaku dengan wajah yang cemas. Kecemasanya bahkan melebihi dari kecemasanku.
"Belum ada hasil pemeriksaan dari dokter!,tapi aku yakin dia pasti baik-baik saja". Aku mencoba menenangkan wanita ini,meskipun sebenarnya ada kecemasan di lubuk hatiku yang paling dalam.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka,kami segera menemui sang dokter.
"Apa yang terjadi dengan Vare,dokter?". Aku bertanya dengan kekhawatiran sembari menunggu jawaban dari sang dokter.
"Apakah kalian keluarga dari pasien?". Bukannya menjawab pertanyaan ku,dokter ini malah melontakan pertanyaan lagi pada kami.
"Kami bukan keluarganya,dokter! Tapi kami sahabatnya". Jawab wanita yang berada disamping Aslan.
"Baiklah, keadaan pasien baik-baik saja. Dia hanya mengalami pusing yang sangat menghujam kepalanya". Dokter itu menjawab pertanyaan dengan santai seakan Vare benar-benar telah pulih.
"Kalian bisa menemuinya di ruang rawat. Saya permisi dulu!". Dokter itu pergi meninggalkan kami.
Aku masih saja melamunkan pernyataan sang dokter.Aku masih tak percaya dengan pernyataan dokter tadi. Aku masih bertanya-tanya tentang penyakit Vare. Dengan jelas aku melihat dia sangat kesakitan waktu itu. Bagaimana mungkin semua baik-baik saja.
"Bolehkah aku menemuinya terlebih dulu!". Suara itu meledakkan lamunanku.
Wanita itu meminta izinku. Bagaimana mungkin,wanita ini ternyata sangat menghargai orang lain. Dan bagaimana bisa aku menolak permintaan wanita ini
"Tentu saja,kau boleh menemuinya!". Jawabku dengan pasti dengan lukisan lengkungan kecil di bibirku.
"Terimakasih! Kalau begitu aku permisi dulu! Assalamualaikum". Wanita itu melangkahkan kaki nya dan meninggalkan ku bersama Aslan di depan ruang ICU. Aku hanya bisa diam terpaku dihadapannya. Tak berani bibir ini meluncurkan sepatah kata pun.
"Itu adikku,yang kuberitahu padamu waktu itu bahwa aku punya seorang adik perempuan yang masih membutuhkan ASI". Aslan memecahkan suasana yang ada. Aku tak habis fikir,bagaimana dia bisa tau kalau aku memiliki pertanyaan tentang itu.
" Sekarang dia tumbuh menjadi gadis yang hebat,gadis yang kuat,gadis yang mungkin bisa meluluhkan hati siapapun yang memandangnya. Dia sangat mirip dengan ibuku. Sangat mirip. Sampai aku merasakan kehadiran ibu disetiap hariku. Dan sekarang adikku bilang,bahwa temanmu itu telah menemukan cincin pemberian ibuku yang hilang di Sawah kemarin,jadi adikku merasa bahwa dia masih belum bisa membalas atas kebaikan temanmu itu. Lalu adikku menyuruhku untuk mengikuti Ambulance yang membawa kalian ke rumah sakit ini". Tanpa kusadari kisahnya membawa kami berada diluar rumah sakit. Aku hanyut bersamanya didalam ceritanya.
"Maaf,jika sebelumnya aku sudah berprasangka buruk tentang adikmu". Aku menundukkan kepalaku karna aku merasa bersalah .
Tiba-tiba handphoneku berdering.
"Sebentar !". Lalu aku membuka hpku dan tertulis sebuah nama "Mauli". Aku mencoba untuk menjauhi Aslan. Lalu kuterima telfon itu.
"Assalamualaikum!". Ucapku untuk mengawali percakapan ini.
"Waalaikumsalam,kak". Jawabnya.
"Ada apa,Mauli??". Tanyaku yang masih heran mengapa Mauli menghubungiku.
"Mauli ingin memberitahukan sesuatu kepada kakak". Jawabnya seperti menyembunyikan sesuatu.
"Kakak tidak bisa pulang sekarang". Seruku menolak permintaannya.
"Baiklah,kakak dimana ?? Aku akan menyusul kakak!". Dia bersikap keras tetap ingin menemuiku. Aku bingung,apakah aku biarkan saja dia kesini. Mungkin hal itu sangat penting.
"Kakak di Rumah Sakit Siloam". Akupun memberitahu keberadaanku padanya. Aku berharap dia tidak panik mendengar kata "Rumah Sakit".
"Rumah Sakit? Bagaimana bisa kakak ada disana?". Sudah kuduga,dia bertanya-tanya tentang sebab yang mengantarkanku ke Rumah Sakit Siloam ini.
"Sudahlah,ceritanya panjang! Cepatlah datang !". Aku berusaha untuk menenangkan pikiran Mauli. Aku tak ingin dia mengkhawatirkan ku.
"Aku segera datang kak! Aku tutup telfonnya ya kak,Assalamualaikum!". Mauli mengakhiri percakapan ini.
"Waalaikumsalam!". Kujawab salamnya.
"Tut...tut...tut..". Panggilan pun berakhir.Aku kembali menemui Aslan lagi setelah beberapa menit bertelfonan dengan Mauli.
"Maaf ya! Adikku menelfon!". Aku berusaha menjelaskan kepadanya dengan gugup.
"it's okey!". Jawabnya singkat seolah itu tak masalah baginya.
Setelah beberapa saat,aku mendengar teriakan yang memanggilku.
"Kakak". Teriak seseorang dari kejauhan,tak lain dan tak bukan dia adikku,Mauli.Tak berapa lama dia sampai dihadapanku. Tapi mengapa dia bersama seorang lelaki?. Dan laki-laki ini tak asing bagiku. Dia menatap Aslan dengan tatapan yang dalam.Aku langsung mengalihkan pandanganku kearah Aslan.
"Kak Tamis". Aslan segera merenggut tubuh kakaknya. Dia memeluknya dengan erat,sangat erat. Kerinduan yang begitu besar terlihat di mata keduanya.
"Aku sangat merindukanmu,kak! Bagaimana kau bisa ada disini ? Apakah kau membawa ibu? Apakah ibu ada bersamamu,kak?". Aslan lagi-lagi bertanya tentang ibunya. Keduanya meluapkan muara air mata dihadapanku dan adikku,Mauli.
"Ibu ada disini!". Kakaknya meletakkan telapak tangannya diatas dadanya. Apa maksud dari semua isyarat ini?. Aku terkejut ketika ia berbahasa indonesia. Bagaimana bisa??
"Kak,beritahu aku apa yang terjadi kak!". Aslan memaksa kakaknya untuk memberitahukan keadaan ibunya sekarang. Kini dia dihantui oleh rasa penasaran.
"Ibu pergi mencari ayah. Aku berharap ibu baik-baik saja". Tamis menitikkan air matanya.
"Bagaimana mungkin?? Ayah juga sedang mencari ibu!!". Aslan kini merasakan kekhawatiran terhadap keduanya.
"Meskipun ibu dan ayah tak ada di sekitar kita. Tapi mereka selalu ada disini". Tamis kembali meletakkan telapak tangannya diatas dadanya.
"Kenapa kakak tak menghalangi ibu untuk tidak menyusul ayah?".
"Cinta ibu kepada ayahlah yang menghalangi ku untuk mencegah kepergiannya".
" Ibu kabur dari tahanan kakek. Ibu hanya meninggalkan selembar kertas dikamar nya. Dan atas kehendak-Nya hanya aku yang menemukan kertas itu"
"Ketika itu aku membuka kertas itu,tertulis didalamnya...
Anakku,Tamis
Anakku,Tamis
Kau bak akar yang menguatkan keluarga ini. Kau bak sinar rembulan yang meluluhkan hati bagi mereka yang melihatnya. Ibu yakin kau bisa meyakinkan kakekmu akan hal ini. Ibu tau anakku, kau memiliki impian dalam hidupmu. Tapi kau enggan untuk meluapkannya. Bangkitlah nak....
Anakku,Tamis
Ibu tau kamu merindukan saudaramu. Ibu tau kau ingin bersama mereka. Ibu tau kau merasa kesepihan. Pergilah nak...
Adik-adikmu merindukanmu juga. Carilah mereka. Ibu yakin,ayah tak mungkin menyembunyikan mereka. Pergilah nak...
Ayah pernah berjanji kepada ibu,suatu saat ayah akan membawa kita ke Negri yang memiliki Gunung pelangi selain di tempat tinggal ayah,China. Carilah mereka ....Mereka membutuhkanmu.
Anakku,Tamis
Ingatlah pesan ayah. Jangan pernah merubah aqidahmu. Tetaplah beribadah kepada Allah,meskipun kau melakukannya dalam keadaan bersembunyi-sembunyi.
Ingat! Ayah pernah bilang :" Kita boleh mengaku kafir jika dalam keadaan terpaksa" . Ini demi menyelamatkan mu,Nak.
Anakku,Tamis
Mungkin ibu pergi dalam waktu yang cukup lama. Ibu akan pulang bersama ayah. Kamu adalah alasan ibu untuk menjadi lebih kuat. Maka jangan kecewakan ibu ,Nak.
Bisakah kau merahasiakan kepergian ibu,Nak? Tapi berjanjilah pada ibu,Jangan pernah berbohong untuk ini. Jangan kecewakan kakekmu,Nak. Tapi buatlah hatinya luluh. Sehingga kakek bisa menerima kehadiran ayah lagi.
Anakku,Tamis
Titipkan salam rindu dan sayang dari ibu untuk adik-adikmu,kala engkau telah berada di sisi mereka.
Untuk putri tercinta ibu,Aira Alanza Arfaidha.Katakan padanya ibu sangat sangat merindukannya. Katakan kebenaran hidup yang menjadi haknya. Jangan sembunyikan apa-apa lagi darinya.Carilah Aira dengan foto ini.Ibu hanya memiliki satu foto ini. Mungkin dengan ini kau bisa menemukannya.
Kau bisa mengenalinya dari sepasang mata indahnya. Katakan padanya"Maafkan ibu,karna tidak bisa memberikan kasih sayang yang lebih kepadanya" .
Anakku,Tamis
Ibu yakin kau bisa melaksankannya tanpa hambatan. Gunakan kebijakan dan kecerdasanmu untuk ini.
Ibu menyayangi kalian..
Air mata menghujani surat itu. Aku tak pernah melihatnya sesedih ini.
"Kakak mengapa menangis,kak??". Suara lembut itu lagi-lagi memecahkan keheningan.
Aku tak sanggup melihat pertemuan mereka. Tak sanggup melihat wanita itu meneteskan air matanya. Tak sanggup melihat wanita itu menahan kerinduan kepada ibunya. Tak sanggup melihat dia terluka mendengar kepergian ibunya untuk menemukan ayahnya.
Pria ini angkat suara.
"Aku bahagia jika kau bahagia,tersenyumlah!".
"Apakah kakak menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Tidak,Tenanglah!"
Lalu pria ini merenggut tubuh adiknya kedalam pelukannya. Sementara air mata terus berlinang tanpa henti.
Tiba-tiba wanita itu melepaskan pelukannya setelah melihat pria yang berdiri dihadapannya.
Kini dirinya diselimuti dengan tanda tanya.
"Siapa pria ini? Bagaimana bisa wajahnya mirip sekali dengan kakakku? Bagaimana ?? Bagai..bagaimana bisa??". Batinnya terus bertanya-tanya sembari menatap dua wajah pria ini.
"Kakak?".
"Aira,kakak bisa jelasin ini semua".
"Bagaimana bisa ?". Aira masih tidak mempercayai apa yang ada dihadapannya.
"Permisi!". Wanita itu segera beranjak dari tempat nya. Dia mempercepat langkahnya dan pergi menjauh dari rumah sakit ini.
"Aira!". Aslan mencoba untuk mencegah kepergiannya. Namun sia-sia,dia pergi dengan kekecewaan.
Aslan ingin mengejarnya,namun ada tangan yang menahannya untuk tetap ditempatnya.
"Biarkan aku yang menjelaskan semua". Tamis mencoba meyakinkan Aslan.
"Baiklah,kembalikan kebahagiannya kak!.
"Aku janji!"
Lalu Tamis pergi,berlari secepatnya agar dia tidak kehilangan jejak adiknya. Dia sudah terlalu jauh,namun pria ini tak akan menyerah. Dia sudah berjanji kepada Aslan untuk menjelaskan semuanya kepada Aira. Dia terus berlari lagi. Dia menanyakan kepada orang-orang sekitar apakah mereka melihata Aira. Dan kalaupun mereka melihatnya. Kemana adiknya itu pergi. Langkahnya membawanya ke sebuah pantai.
Dan tak berapa jauh,terlihat seorang wanita yang sedang ia cari.
"Apa yang membawamu kesini?". Pertanyaan itu mengejutkan Aira.
"Siapa kamu? Mengapa kamu mengikuti sampai kesini?".
"Aku kakakmu!". Jawab Tamis dengan keberatan hati. Dia tau tak mudah bagi Aira untuk menerima kenyataan ini.
"Aku hanya memiliki seorang kakak. Kakakku,Aslan". Wanita ini tetap saja mengeluarkan pernyataan yang menyanggah kata-kata ku.
"Aku terlahir kembar dengan Aslan. Mungkin Aslan tak sanggup memberitahumu tentang kebenaran hidup yang selama ini kita rasakan. Karna dibalik semua ini ada rahasia yang tersirat. Yang mungkin akan menyayat-nyayat hatimu. Jika kau tau bahwa ibu sangat sangat merindukanmu. Ibu memberi amanat kepadaku agar aku menceritakan semua kebenaran ini kepadamu. "
"Apakah ucapanmu ini bisa kupercaya?"
"Apakah kamu yakin bahwa ibu sangat merindukan putrinya ini?".
"Dimana ibu? jika dia merindukanku pasti sekarang dia disini dan memeluk erat tubuhku".
"Ibu pergi untuk mencari ayah.Semua ini ibu lakukan untuk kita. Itu semua ibu lakukan karna cinta,ibu sangat mencintai kita semua".
"Mengapa kau biarkan ibu pergi sendirian mencari ayah?".
"Apakah ibu tau ayah ada dimana?"
"Aku tak terlalu khawatir tentang itu,karna hati tau kemana dia akan pergi"
"Dan bagaimana aku tak khawatir,kak! Ayah juga sedang mencari ayah".
"Dan ibu...Ibu pergi tanpa sepengetahuanku dan hanya meninggalkan selembar kertas ini". Tamis menyerahkan surat itu kepada Aira. Dengan sigap Aira membaca surat itu,mengalirlah air mata dengan deras dari muaranya.
"Maafkan aku! Jika aku tak mempercayaimu". Dengan air mata yang tak bisa dibendung lagi,Tamis merangkul Aira kedalam pelukannya. Betapa besar kerinduan yang tertanam dilubuk hatinya yang paling dalam.
Keduanya hanyut dalam kerinduan. Syukur tiada henti terucap dibibir keduanya. Ini adalah awal dari sebuah cerita kita.
Aku sudah menemukan hakikat hidupku,disini Nusa Tenggara Timur menjadi saksi bisu kehidupanku.
Ternyata benar...
Semua akan baik baik saja. Selama keyakinan kepada-Nya selalu menyelimuti hati. Hidup akan sempurna jika kita bisa menerima segala takdir yang telah Allah tuliskan untuk kita.
Ternyata benar...
Mereka yang pergi dari hidup kita akan diganti dengan mereka yang baru kita jumpai. Kedatangan mereka akan merubah segala tabiat yang kita miliki. Maka ambilah sisi positif dari mereka.
Ternyata benar...
Tak selamanya kita bisa hidup dengan mereka,yang kita cintai. Adakalanya kita hidup sendiri. Merajut mimpi dengan kedua tangan kita sendiri. Tanpa kita sadari,ternyata kita sedang melukiskan lengkungan indah dibibir mereka yang kita cintai.
Ternyata benar...
Hakikat hidup manusia akan terpancar jika ia mengenali dirinya sendiri. Dia takkan bisa mengenali penciptanya jika ia tak mengenali dirinya sendiri.
Ternyata benar...
Allah punya alasan dalam menciptakan rindu.
Sebab Allah mengajarkan kita agar selalu menghargai sesuatu yang ada sebelum ia menjauh.
Ternyata benar...
Allah mempunyai susunan skenario yang sangat mengharukan. Kadang kita bisa diatas dan kadang kita dibawah. Terkadang air mata bisa mengalir karna kebahagiaan dan terkadang karn kesedihan.
Ternyata benar...
Sesuatu yang keras tak harus dilunakkan dengan kekerasan. Lunakkan lah dengan kelembutan. Sama seperti meluruskan hati yang telah menyimpang,semua itu hanya bisa dengan sentuhan lembut yang menghujam masuk kedalamnya.
Kini permata yang hilang telah kembali bersinar bersama dua permata lainnya. Aku yakin kekuatan merekalah yang dapat mempersatukan mereka kembali bersama sang ayah dan ibu tercinta.