UHIBBUKA FUKUOKA

UHIBBUKA FUKUOKA
Kenyataan Yang Menyayat Hati



Air mataku tak henti-hentinya mengalir. aku akan membersihkan semua berkas-berkas, dan menyelesaikan urusanku yang ada di Fukuoka meski harus dengan mata yang basah.


Sekarang, Fukuoka tak bisa mengalahkan kehebatan persahabatan. Untuk memilih Fukuoka atau Vare dalam keadaan ini, aku lebih memilih tinggal di labuan bajo bersama seorang pangeran komodo.


Hari ini aku akan mengurus kuliahku. Bagiku, persahabatan telah mengalahkan segalanya. Bahkan mengalahkan wisuda yang akan akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Aku harus berhadapan dengan profesor besar pemilik universitas ini. Memberanikan diri demi sahabatku.


Aku mulai mengetuk pintu ruangan ini. Ruangan yang sangat jarang didatangi oleh para mahasiswa di sini. Karena, jika ingin melangkahkan kaki melewati pintu ini harus benar-benar dengan keberanian yang sangat besar.


"Masuk! " Seseorang yang ada di dalam ruangan itu menyuruhku untuk masuk. Aku mulai menarik gagang pintu ke bawah. Pintupun terbuka lebar. Langkah demi langkah, aku berhasil menatap wajah profesor ini dengan keberanian.


"Duduklah!" Profesor ini memerintahkanku untuk duduk di kursi yang ada di hadapannya.


"Apa yang membawamu ke sini?" tanyanya padaku.


"Saya Fustuq, peraih beasiswa FIT university yang berasal dari Indonesia setahun yang lalu, Pak. Lima hari lagi, wisuda kelulusan akan berlangsung. Tapi, sebelumnya saya minta maaf, Pak!" jelas ku tanpa berat hati, "saya harus meninggalkan negara ini sebelum wisuda itu berlangsung, Pak."


"Apa alasanmu?" tanyanya padaku


"Saya berhenti disini bukan berarti saya menyerah. Saya memutuskan untuk meninggalkan wisuda yang akan berlangsung lima hari lagi, bukan berarti saya sombong. Alasan saya hanya terdiri dari satu kata Pak, yaitu sahabat,"jelas ku.


"Ada apa dengan sahabat? " Beliau bertanya meminta kejelasan.


"Sahabatku sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit," jawabku dengan singkat.


"Hanya karena itu kau meninggalkan wisudamu?"


"Wisuda dan gelar bukanlah hal yang paling penting. Tanpa wisuda dan gelar sarjana aku masih bisa tersenyum. Namun, tanpa sahabat mungkin senyumku takkan pernah kembali," jelasku rinci.


"Baiklah, apapun alasanmu, aku terima! Kembalilah ke kampung halaman mu! Saya harap semua ilmu dan pendidikan yang kau dapat selama kau di universitas ini bisa bermanfaat untuk hidupmu, " ujarnya.


"Terima kasih, Pak! " Aku segera beranjak dari tempat duduk lalu pergi melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan.


"Oh ya, aku lupa!" Tiba-tiba saja langkahku terhenti. Teringat, aku ingin memberikan jasa terakhirku untuk universitas ini. Aku ingin keberadaanku selama setahun ini di FIT university dapat membekas di hati para dosen dan para mahasiswa di sini. Terutama terbekas dihati Fukuoka.


"Pak" Aku membalikkan wajahku untuk yang terakhir kalinya sebelum kepergian ku.


"Ada apa lagi, Nak? Apakah ada pesan terakhir yang ingin kamu sampaikan?" tanyanya.


"iya, Pak! saya ingin memberikan ini. " Aku mengulurkan tangan yang berisi sebuah alat canggih yang pertama kali kubuat untuk kelulusanku. Sebuah mesin hologram. Mesin yang bisa menghilangkan kerinduan kita kepada mereka yang berada jauh dari kita. Ketika menggunakan alat ini, mereka akan terasa berada di samping kita.


"Kalaulah aku egois, pasti aku bisa menggenggam dunia ini hanya dalam sedetik, Pak! Tapi, masih ada sahabat yang lebih besar dibanding dunia dan seisinya. Biarlah aku miskin dengan sahabat daripada kaya dengan harta yang fana," ucapku sedih.


Profesor sangat terharu denganku. Tak henti-hentinya, air mata mengucur dari pelipis matanya. "Nak, siapapun dirimu itu tak penting! Kebesaran hatimu membuatmu menjadi sangat penting bagi dunia ini. Kalaupun kau tak bisa wisuda nanti, aku akan menunggumu sampai kau siap untuk diwisuda, aku yang akan melangsungkan wisuda itu sendiri," ujarnya.


"Pak, saya janji tak akan pernah melupakan FIT university! saya pergi dulu, Pak ! Senang bisa mengenal anda, Pak! sampai jumpa, Pak!"


Kulangkahkan kaki dan bergegas keluar dari ruangan ini. Betapa terkejutnya aku setelah membuka pintu. "Nyonya Jeean?" Batinku bertanya, "apakah dia sudah lama menunggu di depan ruangan ini?"


Sebaiknya aku tak harus berlama-lama di sini, aku segera pergi melangkahkan kaki.


"Nyonya jeean, aku pergi dulu! sampai jumpa! "


Aku tak terlalu mempedulikannya lalu segera pergi dari hadapannya.


"Aku dengar kau akan menunda kelulusanmu! " celetuknya dengan jeritan.


Aku segera menghentikan langkah kakiku. Terdengar suara langkah kakinya menghampiri posisiku.


"Apakah kau yakin ingin meninggalkan Tamis?" tanyanya, "bukankah kau sangat mencintainya? "


"Maaf, saya tak ada hubungan apapun dengan Tamis! "seruku, "saya harus segera pergi."


Aku menghiraukannya. Tak ingin membuka masalah dengan wanita ini. Bagaimanapun juga, Jeean adalah seorang dosen yang memberikan ilmu padaku di kampus.


"Apakah kau yakin akan pergi? Apakah kau tak ingin menemui ayahmu dulu?" Lagi-lagi ucapannya menghentikan langkahku.


Air mataku menitik setelah mendengar pernyataannya. "Ayah?" Batinku bertanya. Aku kembali menghampirinya.


"Apa maksud anda mengenai perihal ayahku? Ayahku sudah meninggal. Bagaimana mungkin dia... dia... dia ada di sini?" Ribuan pertanyaan aku lontarkan kepadanya.


"Ayahmu tidak meninggal, dan tak ada luka apapun yang menyakitinya. Berita kecelakaan pesawat itu hanya sebuah rekayasa yang disiarkan dari pemilik perusahaan mirip Tgroup of technology. Perusahaannya berhasil menggelapkan kebenaran berita tentang ayahmu," jelasnya lagi padaku.


"Aku tidak akan pernah mempercayai kata-katamu ini! jangan melibatkan Tamis dengan kematian ayahku!" Aku masih menahan diri antara ingin mempercayai perkataan Jeean atau tidak.


"Huh! " Jeean menghela napas. "Terserah padamu! Tamislah yang bermain di balik kesedihanmu. Ayahmu dikurung di perusahaan Tamis, tempat kau bekerja selama ini. Pernahkah kau mengetahui sebuah ruangan rahasia yang terletak di ujung perusahaan. Disanalah ayahmu berada. Aku hanya ingin mengembalikan kebahagiaanmu dan juga kebahagiaanku!" Wanita ini pergi meninggalkanku dengan perkataan yang membekas di hati dan selalu terngiang di telingaku.


'Ayahmj dikurung di ruangan rahasia yang terletak di ujung perusahaan milik Tamis" Kalimat yang selalu terngiang-ngiang di telingaku. Apakah aku harus mempercayai perkataan wanita ini atau aku harus menanyakannya langsung kepada Tamis?