
Sekarang aku terombang-ambing dalam lautan kebingungan. Sebaiknya aku menyelidiki kebenaran dari perkataan Nyonya Jeean.
Bagaimana ini? Sementara, aku harus segera pulang ke Labuan Bajo tercinta. Karena pesawat akan membawaku terbang besok pagi.
Barang-barang telah kubereskan. Tak akan kubiarkan tertinggal satu barangpun tertinggal di negri ini. Begitupun kenangan. Aku tak ingin kenanganku membekas di sini.
Sebaiknya aku takkan kembali lagi ke sini. Biarlah kuhabiskan sisa hidupku di Labuan Bajo. Aku rasa, kebahagiaanku hanya bisa di dapat di Labuan Bajo.
"Var, tunggu aku! Aku akan membawamu pergi dari ranjang yang memaksamu untuk tidur sepanjang hari," ujarku sebelum menutup mata. Aku hanyut dalam tidurku.
🥰🥰
Fukuoka, 25 Juli 2031
Pagi ini, aku diselimuti dengan semangat yang menggelegak.
Sehabis sholat subuh aku langsung meninggalkan apartemen. Karena pesawat akan terbang pukul 9 pagi tepat.
Suasana di jalan masih sangat sunyi. Orang-orang masih lelap dalam tidurnya. Kulangkahkan kaki dengan cepat untuk menjaga keamanan diri.
Aku tertegun setelah mendengar sayup-sayup suara yang sangat tak asing bagiku.
"Kenapa kau ingin bersembunyi dariku? Kenapa kau begitu egois sampai kau tega meninggalkanku tanpa berpamitan?"
Kubalikkan tubuhku. Tamis telah berdiri di hadapanku dengan sekelompok orang yang menatapku dengan sinis.
"Ayah?" ucapku setelah melihat lelaki yang kurindukan tengah berdiri diantara mereka.
"Apakah benar itu ayah?" gumamku bertanya.
Aku segera berlari ingin memeluknya. Sampailah aku dihadapannya.
Tiba-tiba saja seorang lelaki paruh baya mengarahkan pistol dari belakangku.
"Paman, Apa yang kau lakukan? hentikan!" jerit Tamis sembari berlari ingin menghadang peluru yang akan menuju ke arahku.
Mendengar jeritannya aku mengalihkan pandangan. Ingin menghindar dari sasarannya.
Tapi, semua terlambat. Peluru telah lepas dari cangkangnya. Tubuhku siap untuk menerimanya.
Hanya saja, tubuh lelaki itu tumbang sembari memelukku. Aku mencoba melihat wajahnya.
"Syekh Muda?" Betapa kagetnya aku setelah mengetahui orang yang menghadang peluru itu dengan tubuhnya. Guruku sendiri.
Darah terus mengalir dari bagian dada kirinya. Peluru itu menembus tubuhnya.
Semua orang ricuh. Bubar ketakutan. Namun, tak satupun orang ingin membantu Syekh Muda. Aku berusaha menahan darahnya dengan merobek sisi pakaianku. membalut lukanya agar darah yang keluar tak terlalu banyak.
Sementara Tamis, berdiri menatapku dengan penyesalan.
"Maafkan aku!" Ucapan itu dengan mudah keluar dari bibirnya.
Aku menitikkan air mata. Kini, aku sangat membencinya.
"Aku memaafkanmu! Tapi, aku mohon untuk setelah ini jangan ganggu keluargaku lagi! Cukup kita mengenal sampai disini. Lupakanlah masa lalu yang kita alami bersama. Semua itu palsu," ujarku dengan penuh kebencian, "Terimakasih telah menjaga ayahku dengan baik, begitu juga kau mempertemukanku dengannya. Aku rasa, kita sudah setimpal."
"Fustuq, dengarkan aku! Aku ingin mengatakan yang sebenarnya." Tamis berteriak dengan seluruh volume suara yang dia miliki.
Aku mengacuhkannya. Betapa mudahnya dia membuat hatiku hancur berkeping-keping. Aku menghapus air mataku. Berjalan dengan cepat menuju rumah sakit untuk segera menangani luka di dada kiri Syekh Muda.
"Ya, Allah! Lindungilah kedua orang ini, Vare dan Syekh Muda. Aku tak ingin kehilangan keduanya. Vare, aku janji, aku akan segera pulang. Aku akan membawamu keluar dari rumah sakit," ujar batinku dengan penuh kegelisahan.
Ayah menghampiriku, aku langsung memeluknya lalu menangis dalam pelukan hangat itu.
"Ingat! Jangan pernah membenci seseorang karena kejadian ini. Jangan pula membenci-Nya karena telah merancang peristiwa in." Ayah menasehatiku.
"Ayah, aku harus bagaimana? Vare membutuhkanku. Aku sudah berjanji padanya akan segera pulang. Tapi, bagaimana dengan Syekh Muda yang telah menyelamatkanku?" tanyaku meminta pendapat.
"Pulanglah! Vare memanggilmu bukan? Jangan khawatirkan Syekh Muda, dia ikhlas menolongmu! Tersenyumlah, bergegaslah pulang. Bukankah penerbangannya jam 9? Kau masih punya waktu 15 menit lagi. Jangan terlalu banyak berpikir! Ayah akan baik-baik saja disini!"
Ayah, satu-satunya orang yang dapat menenangkan hatiku. Lenteraku di dalam kegelapan.
"Baiklah, Yah! Fustuq akan pulang lebih dulu. Sampai jumpa, Ayah!" pamitku.
Ayah membalasku dengan senyuman.