
Sepertinya, pengelasan di akhir tak ada gunanya. Orang yang sudah pergi takkan kembali untuk selamanya. Kini tinggal kenangan yang terbungkus rapi. Berharap, kami akan bertemu di surga-Mu nanti.
"Fustuq, sedang apa, nak?" Ayah menghampiriku lalu bertanya.
"Bisakah ayah membantuku?" Aku kembali melontarkan pertanyaan berbumbu harapan.
"Ayah akan membantumu sebisanya!" ujar ayah.
Aku berharap ayah bisa menyelesaikan proyek yang dulu kurencanakan bersama Tamis. Tapi, proyek itu belum tuntas. Masih banyak kekurangan yang harus ditutupi dari mesin itu. Meski, hakikatnya tak ada sesuatu apapun yang paling sempurna.
"Aku berencana ingin menyelesaikan proyek mesin penghapus memori yang tertunda," jelasku.
"Apa?" sontak ayah kaget.
"Kenapa kau ingin melakukannya? Ayah sudah menolaknya berkali-kali," bantahnya.
"Ayah menolaknya?" Aku bertanya-tanya. Apa yang terjadi pada ayah semasa dalam kurungan Tamis.
"Apakah dia menyiksa ayah selama dalam kurungan?" tanyaku mengkhawatirkan ayah.
"Tamis tidak akan mungkin menyiksa ayah. Dia anak yang baik. Percayalah pada ayah! Dia tak pernah menyentuh ayah sedikitpun. Dia menjaga ayah sebagaimana dia menyayangi ayahnya sendiri," ujar ayah.
"Ayahku memang sangat baik. Tapi, ayah tak perlu begitu memujinya. Tak perlu mencegahku untuk membencinya. Meskipun aku tak tau apa yang dilakukannya pada ayah semasa dalam kurungan," ujarku pada ayah.
"Apa mungkin tujuanmu menyelesaikan mesin ini adalah untuk menghapus semua memorimu tentangnya?" Ayah bertanya mencoba menebaknya.
"Sepertinya, aku harus benar-benar menghapusnya. Kenangan indah itu sangat menyayat hatiku!" seruku.
"Tapi, ayah tetap tidak akan membantumu! Mesin ini berbahaya, bisa membunuh penggunanya." Ayahku bersikeras pada jawabannya.
"Ayah, aku mohon! Aku akan menanggung semua risiko yang akan terjadi. Walaupun akan berujung kematian," jawabku mantap dengan penuh permohonan.
"Ayah akan membantumu. Sepertinya, jawabanmu sangat kuat. Ayah tak bisa menyanggahnya lagi!" Akhirnya, ayah setuju dengan permintaanku.
"Ayo kita mulai! Tunggu apa lagi?" ajak ayah dengan semangat.
Rasanya, mesin ini harus segera diselesaikan. Lebih cepat akan terasa lebih baik.
Kami memulainya dengan teliti. Rancangan yang sudah ada tak perlu dirombak lagi. Hanya saja, bagaimana. cara membuat mesin ini bisa menghapus memori secara permanen. Karena mengingatnya akan memberi sayatan yang membekas di hati.
"Ayah akan berusaha melindungimu agar mesin ini tak bisa melukaimu sedikitpun," ujar ayah di tengah pekerjaan.
Aku langsung menatapnya dalam. "Ayah, kau sangat mengkhawatirkanku. Bahkan, aku belum bisa menaruh perhatian lebih padamu," gumamku di dalam hati.
Lima jam berlalu
Kami masih bergelut di medan teknologi. Keringat ayah mengalir dari ujung pelipisnya. Perjuangan yang sangat besar. Aku terasa berada di samping seorang penemu hebat.
Alhasil, mesin ini berhasil dibuat. Menghapus memori secara permanen.
"Ayah, ayo lakukan uji coba!" pintaku.
"Kepada siapa akan kita lakukan?" tanya ayah sembari tertawa kecil.
"Ada aku? Lakukanlah padaku! Aku ingin segera menggunakannya," pintaku.
"Bagaimana jika mesin ini ternyata gagal? Ayah akan kehilanganmu!" tukasnya.
Aku memeluknya erat. "Yah, Semua itu terjadi berdasarkan pemikiran seseorang. Yakinlah, mesin ini berhasil. Lakukanlah padaku, ayah tidak akan kehilangan aku!" Aku mencoba meyakinkannya.
Dengan segera aku menurutinya.
"Sekarang, tutuplah matamu! Ingat kembali masa-masa indah bersama Tamis sampai menjadi kenangan yang begitu menyayat hati," ujarnya
Aku mulai menutup mata. Mengulang kembali masa-masa itu. Pertemuan yang sangat indah di Goa Rangko. Dia menghangatkanku di bawah rintikan hujan yang disertai terpaan angin.
Air mataku mengalir. "Sanggupkah aku mengulang semua ini?" tanyaku dalam batin dengan keraguan.
Dibalik perjuanganku untuk menghapus memoriku tentangnya.
"Kak!" panngil Aira menghampiri Tamis yang tengah duduk termenung.
"Mau apa kau kesini? Pergilah, tak ada lagi yang perlu dibicarakan! Semua rencana kita telah hancur," bentak Tamis dalam kesedihan.
"Kak, kenapa masih berdiam disini? Ayo pergi! Selamatkan Fustuq!" Aira menarik paksa tangan Tamis.
"Fustuq kenapa?" tanyanya kaget.
"Fustuq berhasil membuat mesin penghapus memori itu! Dia akan segera melakukan uji coba dengan menghapus memorinya tentangmu," seru Aira dengan penyesalan karena tak bisa menghentikan kehendakku.
Tanpa basa-basi, Tamis segera berlari sekencang-kencangnya. Mengendarai mobilnya dengan sangat laju.
"Fustuq, aku mohon hentikan!" gumam Tamis di dalam hati.
"Tamis, kita harus hentikan semua ini! Maafkan aku! Aku terlalu mencintaimu, hingga sangat sulit untuk membencimu!" seruku.
"Kenapa kau ingin menghapusku, Fustuq?" tanya Tamis.
kini, kami berbicara dengan batin.
"Tamis, cinta yang membuatku begini! Aku benar-benar tak bisa membencimu. Sebaiknya, aku menghilangkanmu dari hidupku," uajrku.
"Benci saja aku! Aku mohon, jangan hapus kenangan indah itu! Aku benar-benar sangat mencintaimu!"
"Untuk apa cinta itu? Cinta yang telah dikhianati tak bisa dibangun kembali. Aku salah meletakkan rasa cinta ini. Semua ini salahku! Aku berhak menghukum diriku sendiri!" ujarku lagi.
"Tidak, Fustuq! Jangan hukum dirimu! Itu salahku, aku yang tak menyadari rasa cinta di hatiku! Aku terlalu lama untuk menyadarinya!"
"Maaf, aku benar-benar harus menghukum kesalahanku!"
"Fustuq, tunggu kedatanganku! Aku akan membawamu! Jangan lakukan itu!"
"Maaf, aku harus menghapusku dari memoriku!"
Tamis berlari ke laboratorium. Berlari dengan sangat kencang.
Tapi, semua telah terlambat. Laboratorium itu sengaja dikunci. Aku tak mau kehendakku digagalkan.
Aku bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Sebelum aku menghapus semua memori ini.
Kulihat wajah itu. Tamis berusaha membuka pintu, berteriak dari luar.
"Aku sangat mencintaimu, tapi dulu. Biarkan aku memulai hidupku yang baru," gumamku dalam hati sebelum benar-benar menutup mata.
"Fustuq ...!" Teriakan itu mengiringiku untuk menutup mata.
Semua menjadi gelap gulita. Aku terbawa arus mimpi yang sangat indah. Tak ingin bangun. Tak sadarkan diri, aku pingsan selama beberapa hari.